Seberapa Besar Alam Semesta yang Dapat Diamati? 10 Menit tentang Jawaban Alam Semesta yang Misterius

Mata Ketiga
670 pengikut
252 Tayangan video·22 Okt 2022
Hari ini mata ketiga akan membahas topik tentang apa yang ada di luar alam semesta? Karena ingin tahu apa yang ada di luar alam semesta. Pertama-tama perlu diketahui dulu seberapa besar alam semesta yang dapat diamati oleh manusia saat ini, mana yang dimaksud di luar alam semesta itu ? Kita bedah selapis demi selapis, kemudian menyusunnya dari yang kecil hingga besar.
Salam Pemirsa, jumpa lagi di channel Mata Ketiga.
Terima kasih untuk Anda Pemirsa Setia yang mengikuti dan menonton Inspirasi Mata Ketiga.
Mata Ketiga akan membawa Anda memandang dunia.
Hari ini kami akan menghadirkan informasi tentang alam semesta yang kita tempati saat ini.
Muncul pertanyaan, seberapa besarkah alam semesta yang bisa kita amati?
Mari simak tayangan berikut ini.
Hari ini Mata Ketiga akan membahas topik tentang apa yang ada di luar alam semesta.
Karena ingin tahu apa yang ada di luar alam semesta,
pertama-tama perlu diketahui dulu seberapa besar alam semesta yang dapat diamati oleh manusia saat ini.
Mana yang dimaksud di luar alam semesta itu?
Kita bedah selapis demi selapis, kemudian menyusunnya dari yang kecil hingga besar.
Pertama, ini adalah bumi. Kita semua tinggal di sini.
Diameter rata-rata bulatan bumi adalah 12.742 km.
Lalu ada tata surya. Diameter tata surya 80 AU, Astronomical Unit atau Satuan Astronomi.
AU adalah satuan astronomi yang menandakan jarak antara bumi dan matahari.
1 AU sekitar 149,5 juta km.
Ngomong-ngomong soal angka ini mungkin bagi kita yang bukan bidang yang merasa awam.
Baiklah, coba lihat foto Voyager 1.
Wahana antriksa nirawak yang diluncurkan pada 5 September 1977 oleh NASA.
Sebelum keluar dari tata surya, Voyager 1 mengarahkan lensanya ke bumi dan mengambil gambar.
Jadi, dilihat dari sisi ekstrim matahari, titik kecil yang biasa-biasa saja ini adalah bumi,
yaitu tempat tinggal kita.
Kemudian lensa kamera diarahkan ke titik yang lebih jauh, adalah bimah sakti.
Diameter dari segenap bimah sakti dikisaran antara 100.000 tahun cahaya hingga 180.000 tahun cahaya.
Di dalam bimah sakti ini setidaknya ada 100 miliar planet dan 100 miliar bintang.
Selanjutnya, lensa kamera diarahkan ke titik yang lebih jauh lagi,
adalah grup galaksi lokal berdiameter sekitar 10 juta tahun cahaya.
Selain itu juga ada 54 galaksi berbeda dalam grup galaksi.
Kemudian lensa kamera diarahkan ke titik yang lebih jauh lagi,
di sini kita bisa melihat Super Gugus Virgo.
Di sini grup galaksi lokal hampir tidak terlihat saking kecilnya.
Super Gugus Virgo berisi setidaknya 100 grup galaksi,
diameternya sekitar 110 juta tahun cahaya.
Oke, kita arahkan kamera ke titik yang lebih jauh lagi,
ke Super Gugus Laniakea atau Super Gugus Lokal.
Super Gugus Virgo yang disebutkan sebelumnya itu,
hanyalah sebagian dari Super Gugus Laniakea atau Super Gugus Lokal.
Diameter Super Gugus Laniakea atau Super Gugus Lokal adalah 520 juta tahun cahaya
dan berisi 100 ribu galaksi.
Alam semesta terakhir yang bisa teramati adalah lingkup alam semesta
yang dapat kita amati dan ketahui saat ini,
yang berisi setidaknya 2 triliun galaksi yang berbeda.
Dari perkiraan kasarnya,
jumlah galaksi yang dapat diamati di alam semesta ini,
jauh lebih banyak daripada semua pasir di bumi.
Jarak antara bumi dan alam semesta yang dapat diamati adalah 46,5 miliar tahun cahaya.
Jadi area alam semesta yang diketahui manusia saat ini,
adalah 93 miliar tahun cahaya.
Sampai di sini pertanyaannya adalah,
apa yang ada di luar dari 93 miliar tahun cahaya itu?
Jawaban atas pertanyaan ini adalah tidak tahu.
Perhatikan, maksud dari tidak tahu di sini,
bukan berarti sekarang tidak tahu,
tapi mungkin akan tahu di masa mendatang,
atau manusia tidak akan pernah tahu.
Jadi apa sebenarnya di luar dari 93 miliar tahun cahaya itu?
Menurut hukum Hubble,
beberapa wilayah yang cukup jauh di alam semesta menjauh dari bumi
dengan pengembangannya yang melampaui kecepatan cahaya.
Sederhananya,
kecepatan pengembangan alam semesta di wilayah tersebut jauh lebih cepat dari kecepatan cahaya.
Kecepatan cahaya tidak bisa lebih cepat dari kecepatan pengembangan alam semesta.
Seperti contoh dalam kehidupan sehari-hari kita,
itu sama dengan kecepatan menghasilkan uang,
tidak bisa mengikuti kecepatan inflasi,
uang yang diperoleh terdevaluasi.
Tingkat atau kecepatan devaluasi uang saat ini,
kira-kira seperti devaluasi kecil dalam 3 tahun,
devaluasi besar dalam 5 tahun,
dan menyusut setengah dalam 8 tahun.
Jika ada spekulasi saham,
itu juga dapat dipahami sebagai perdagangan saham yang sering,
tetapi hasilnya mungkin tidak sebesar dari naiknya indeks saham.
Jadi manusia tidak pernah tahu bagian dari area itu.
Seluruh alam semesta yang diketahui manusia saat ini jauh lebih besar
Jadi, seberapa besar sebenarnya alam semesta itu?
Jika diasumsikan alam semesta itu terbatas,
maka ada metafora liar di sini.
Kisaran atau ruang lingkup alam semesta yang dapat diamati manusia saat ini,
seperti sebuah bola lampu.
Sementara seluruh alam semesta sebesar planet Pluto,
kita hanya bisa melihat bola lampu ini,
tapi tidak tahu eksistensi Pluto.
Jadi bagi segenap alam semesta,
manusia dan bumi itu sangat-sangat dan sangat kecil.
Pada dasarnya bisa diabaikan,
walaupun tadi hanya menggunakan Pluto sebagai contoh,
tapi bukan berarti seluruh alam semesta itu berbentuk bulat.
Alam semesta bisa saja memiliki bentuk lain,
seperti melengkung misalnya.
Jika alam semesta itu melengkung,
itu artinya bisa menggembung tanpa batas.
Namun bentuknya bisa juga datar.
Jika alam semesta itu datar,
maka pengembangannya akan berhenti suatu saat nanti.
Terkait pengembangan alam-alam semesta ini,
lalu bagaimana awalnya manusia tahu bahwa alam semesta itu menggembung?
Terkait hal itu,
astronom terkenal Edwin Hubble menemukan semua galaksi dan benda langit
sedang bergerak ketika mengamati alam semesta.
Namun kecepatan galaksi dan benda langit tersebut sebanding dengan jaraknya dari bumi.
Dengan kata lain,
semakin jauh jaraknya dari bumi,
semakin cepat galaksi dan benda langit itu bergerak.
Berikut adalah fenomena efek Doppler lainnya.
Misalnya saat sebuah ambulans mendekati kita,
Anda akan mendengar sirine ambulans yang melengking dengan frekuensi tinggi.
Tetapi ketika ambulans menjauh dari kita,
sirinenya akan menjadi lebih rendah atau terpendam dari yang terdengar sebelumnya
dengan frekuensi yang semakin rendah.
Jadi arah pergerakan suatu benda dapat ditentukan dari suara,
demikian juga dengan cahaya.
Hubble menemukan bahwa benda langit yang jauh dari bima sakti
memancarkan cahaya dengan frekuensi rendah
yang dalam astronomi disebut pergeseran merah.
Semakin cepat benda angkasa meninggalkan bima sakti,
semakin besar pula pergeseran merahnya.
Sebaliknya jika benda angkasa itu dekat dengan bima sakti,
akan terjadi pergeseran biru.
Oleh karena itu, Hubble menyempulkan bahwa
alam semesta menggembung melalui kecepatan dan arah.
Sama seperti roti yang kita makan dengan kismis di atasnya.
Dengan asumsi roti adalah alam semesta
dan kismis adalah benda langit.
Ukuran kismis tetap sama saat roti terus menggembung,
tetapi jarak antar kismis meluas.
Kita tahu alam semesta terbentuk pada 13,8 miliar tahun yang lampau.
Ada pun terkait proses kelahirannya.
Pada umumnya hanya bisa dianggap setelah Big Bang.
Lalu seperti apakah alam semesta itu sebelum Big Bang?
Sekarang ada pandangan yang mengatakan
bahwa jika memang ada Big Bang atau ledakan besar,
maka pasti ada keruntuhan besar.
Alam semesta yang kita lihat sekarang adalah
alam semesta sebelumnya yang terus-menerus meledak,
runtuh, meledak dan runtuh lagi.
Akibat dari ledakan dan keruntuhan
telah melalui siklus perputaran yang tak terhitung jumlahnya
dan akan terus berputar di masa depan.
Lubang hitam selalu mengalami bug atau error di alam semesta
yang akan terus menelan segala sesuatu yang ada di dekatnya.
Saat kepadatan lubang hitam mencapai batas tertentu,
lubang hitam akan meledak.
Ibaratnya lubang hitam terlalu rakus,
makan terlalu banyak dan mengalami gangguan pencernaan
sehingga muntah.
Saat lubang hitam meledak,
ia akan mengeluarkan sejumlah materi
dan membentuk galaksi atau benda langit setelah materinya mendingin.
Ini sebenarnya mirip dengan Big Bang yang disebutkan di atas.
Tetapi inti dari teori ini adalah
kita sebenarnya tinggal di lubang hitam
dan lubang hitam lain yang teramati di alam semesta kita
mungkin juga mengandung alam semesta lain di dalamnya.
Pada intinya,
jadi apa sebenarnya yang ada di luar alam semesta
yang dapat diamati itu?
Ini harus dibahas secara terpisah.
Apakah seluruh alam semesta itu terbatas atau tidak,
berujung atau tidak, atau tak bertepi?
Jika alam semesta itu tak terbatas,
maka tidak ada apapun di luar alam semesta
karena tidak ada konsep luar dan dalam juga tidak ada arah.
Suatu hari, kita mengira telah mencapai ujung alam semesta
tetapi jika kita melangkah lebih jauh,
kita akan menemukan kembali ke asal saat keluar dari sisi lain.
Ini seperti sebuah permainan.
Di depan layar tampak pemain utamanya berjalan ke suatu arah
kemudian keluar dari sisi lain.
Jadi seluruh alam semesta itu bagaikan sebuah permainan
yang terus berputar tanpa akhir.
Sementara kita hanyalah pemain dalam permainan itu,
seperti semut yang merayap di atas balon.
Kemanapun arahnya, mereka akan kembali ke asalnya
karena alam semesta itu tidak terbatas,
tidak ada ujungnya.
Jadi pengembangan alam semesta yang disebutkan di atas
juga tidak memiliki arah,
tidak menggembung ke segala arah.
Alam semesta secara diam-diam menggembung.
Sebaliknya, jika alam semesta berujung dan terbatas,
maka ada beberapa kemungkinan
untuk mengamati apa yang ada di luar alam semesta,
misalnya alam semesta paralel.
Alam semesta kita terbentuk melalui Big Bang.
Terlepas dari itu Big Bang atau bukan,
atau ledakan besar lubang hitam,
maka tidak tertutup kemungkinan
ada banyak Big Bang di seluruh alam semesta
yang menghasilkan 1, 2, 3, dan 4 alam semesta lainnya.
Contoh misalnya,
segenap alam semesta itu seperti sebuah hotel
dengan banyak kamar di dalamnya
dan setiap kamar adalah alam semesta yang meledak.
Alasan mengapa kita tidak mengetahui
keberadaan alam semesta masing-masing
karena ada tembok yang menghalanginya.
Disinilah kita tidak bisa mengamati,
jadi kita tidak pernah tahu apa sisi lainnya.
Alam semesta tetangga kita dan alam semesta kita ini
mungkin adalah dunia yang persis sama.
Disana ada bumi dan juga ada Anda.
Meskipun tidak bisa mengamatinya,
tetapi bisa merasakannya.
Misalnya efek Mandela,
setiap kali kita membuat pilihan,
alam semesta paralel lain akan terbentuk.
Jadi, di seluruh alam semesta itu
sebenarnya ada Anda yang tak terhitung jumlahnya.
Hanya saja semua Anda-Anda ini masing-masing
berada di kamar Anda sendiri,
tidak mengetahui keberadaan satu sama lain.
Dan jika kalian ingin terhubung,
mungkin harus melalui mimpi.
Kedua adalah Dark Flow atau aliran gelap.
Pada tahun 2008,
dari data wahana NASA menemukan
bahwa di area yang berjarak
2,5 miliar tahun cahaya dari kita,
terdapat lebih dari seribu galaksi
yang bergerak ke arah yang sama
dengan kecepatan 3,6 juta kilometer per jam.
Bintang yang begitu banyaknya ini
menyatu menjadi sungai dan bergerak
ke arah yang sama secara diam-diam.
Ilmuwan menyebut fenomena ini
sebagai Dark Flow atau aliran gelap.
Dalam astrofisika,
Dark Flow atau aliran gelap
adalah komponen teoritis non-acak
dari kecepatan khusus gugus galaksi.
Namun belakangan,
penelitian selanjutnya menunjukkan
bahwa penyebab aliran gelap bukanlah alam semesta.
Materi gelap yang kita ketahui
mungkin adalah lubang hitam.
Jadi ada spekulasi
bahwa mungkin ada gaya gravitasi
yang sangat besar di luar alam semesta
yang dapat diamati,
menyebabkan galaksi-galaksi ini
bergerak ke arah yang sama.
Singkatnya di luar alam semesta
yang dapat diamati,
ada alam semesta yang lebih besar
dari alam semesta kita.
Misalnya Matryoshka,
yakni boneka khas Rusia
yang dapat diisi dengan bentuk boneka-boneka
yang lebih kecil.
Dengan kata lain,
di luar alam semesta kita
terdapat alam semesta yang lebih besar
dan di luar alam semesta yang lebih besar
Meskipun pemahaman tentang
alam semesta terus-menerus direvisi
seperti ratusan tahun yang lalu
dimana orang-orang mengira bahwa
bumi adalah pusat alam semesta.
Meskipun kesimpulan ini
telah digulingkan,
namun pada saat yang sama,
pemahaman kita tentang alam semesta saat ini
mungkin juga akan digulingkan
oleh manusia pada ratusan tahun kemudian.
Satu demi satu
digulingkan oleh generasi demi generasi
berikutnya.
Bahkan mungkin seandainya umat manusia
punah, kita tidak akan pernah
bisa benar-benar memahami alam semesta.
Tetapi pertanyaan
yang tidak pernah ada jawabannya ini
sebenarnya cukup menarik juga
jika dipikirkan.
Karena dapat membuat orang berpikir tentang
masalah dari berbagai sudut.
Misalnya galaksi yang kita amati
sekarang itu sedang bergerak.
Tetapi mungkinkah galaksi itu
tidak bergerak sama sekali yang bergerak
adalah alam semesta itu sendiri?
Jadi menurut Anda,
apa sebenarnya yang ada
di luar alam semesta itu?
Terakhir izinkan berbicara
pemikiran terkait alam semesta.
Katakanlah meskipun
manusia dapat hidup selamanya
atau suatu hari perkembangan teknologi tinggi
mencapai tingkat tertentu,
kita tidak pernah benar-benar bisa memahami
alam semesta karena manusia itu
terlalu kecil. Sementara
alam semesta terlalu pelik dan kompleks
selalu ada sebagian yang tidak
diketahui.
Jika Anda menyukai video ini,
jangan lupa klik like, subscribe, dan share.
Jangan lupa kunjungi selalu
channel Mata Ketiga untuk mengetahui
informasi tentang peristiwa misterius lainnya.
Jika Anda punya
usul dan pendapat silahkan tinggalkan
komentar. Terima kasih dan
sampai jumpa lagi di episode berikutnya.
Salam!
