Kesempatan selalu ada dimana saja, hanya saja, kita sering kali gagal melihat bahwa kesempatan itu ada di sekeliling kita, karena kita terlalu sibuk mencarinya di luar sana.
Impian seorang petani
Ada seorang petani yang suka bekerja keras.
Dia memiliki tanah seluas satu hektare
dan tanahnya dialiri sebuah sungai.
Setiap hari dia akan bekerja di sawahnya dengan giat dan penuh semangat
agar tanah pertaniannya menjadi semakin luas.
Suatu hari, ada seorang pengembara yang datang
dan dia berkata pada si petani,
Eh petani, tahukah kamu?
Saya sedang mencari suatu tempat di sekitar sini
yang saya dengar dipenuhi dengan berlian.
Apakah kamu tahu di mana tempat itu?
Petani itu tidak pernah mendengar soal hal ini sebelumnya.
Ia pun menggelengkan kepalanya.
Si pengembara kembali berkata,
Sayang sekali.
Saya dengar ada batu berlian besar-besar di daerah itu
dan harganya sangat mahal.
Pastinya kamu bisa membeli lahan pertanian
yang jauh lebih luas dengan berlian sebesar itu.
Setelah berkata demikian,
si pengembara pun melanjutkan perjalanannya.
Si petani yang telah mendengar hal ini menjadi gelisah.
Walaupun ia suka bekerja keras,
tetapi alangkah senangnya jika bisa mendapatkan
tanah pertanian yang lebih luas lagi
dengan batu-batu berlian itu.
Malamnya, ia terus memikirkan tentang hal itu.
Beberapa hari kemudian,
ia membulatkan tekadnya untuk menjual tanah pertaniannya.
Dan dengan uang hasil penjualan,
ia mulai mengembara untuk mencari tanah
dengan batu berlian yang dimaksud.
Setelah berbulan-bulan berkeliling,
ia pun mengalami kelelahan fisik dan mental.
Semua uangnya habis,
dan dalam keputusasaannya,
ia menjadi gelandangan.
Ia pun memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya.
Sesampainya di desa asalnya,
ia melihat bahwa tanah pertanian yang telah ia jual
ternyata telah dijadikan tempat peternakan ikan
oleh pemilik barunya.
Pemilik baru memanfaatkan aliran sungai di tanah
untuk tempat peternak ikan.
Kelelahan,
ia duduk termenung di samping sungai di sana,
menyesali dirinya sendiri
saat tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang berkilauan di dasar sungai.
Ia pun memungut bendah berkilauan itu dari dasar sungai
yang ternyata adalah sebuah batu berkilauan yang sangat indah.
Terkagum-kagum,
ia memandangi batu itu di tangannya.
Namun tiba-tiba dari belakang munculah si peternak ikan,
pemilik tanah yang dialiri sungai itu.
Ia tidak mengenali si petani yang berpakaian lusuh seperti gelandangan,
jadi ia menghardiknya.
Hei, pergi kamu gelandangan,
sedang apa kamu di tanah saya?
Si petani menoleh dengan kaget.
Ia pun lalu berkata pada si peternak ikan.
Hai, peternak ikan,
kamu lupa ya,
saya adalah petani yang menjual tanah ini kepadamu.
Saya tidak bermaksud apa-apa,
saya hanya melihat ada batu berkilauan di dasar sungaimu.
Saya sangat terpesona karenanya,
bolehkah saya menyimpannya?
Si peternak ikan pun kaget melihat keadaan si petani yang sudah seperti gelandangan.
Sikapnya melunak,
dan ia pun bertanya.
Batu apa yang kau pegang itu, kawan?
Bentuknya memang sangat indah.
Jangan-jangan itu batu berlian.
Si peternak ikan memandangi dasar sungai itu baik-baik
dan memperhatikan bahwa batu-batu itu terhampar di sana dengan jumlah yang banyak.
Mereka akhirnya mengambil beberapa,
lalu mengirim batu itu untuk dianalisa.
Hasilnya menunjukkan bahwa batu-batuan itu memang benar adalah berlian asli.
Dan kisah mengenai wilayah yang dipenuhi berlian,
sesungguhnya adalah tanah pertanian tersebut.
Kesempatan selalu ada di mana saja.
Hanya saja, kita seringkali gagal melihat bahwa kesempatan itu ada di sekeliling kita
karena kita terlalu sibuk mencarinya di luar sana.