Sering kali, sikap kita mudah terpengaruh oleh tindakan orang lain kepada kita. Jika mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Untuk berbuat baik pun, kita menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu. Dalam hidup ini, jadilah “Pemenang Kehidupan”, yang selalu memegang kendali atas hidup dan sikap Anda sendiri. Jadilah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil walaupun telah menjadi besar, dan yang tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.
Pemenang kehidupan
Suatu hari, ada dua orang sahabat bernama Joko dan Toni
sedang berjalan santai di pinggiran kota.
Mereka melihat ada sebuah lapak
yang menjual banyak buku-buku dan majalah.
Lalu mereka menghampirinya.
Joko yang tertarik dengan sebuah buku
yang dipajang di lapak tersebut
langsung bertanya pada si penjual.
Bu, berapakah harga buku ini?
Si penjual buku pun berkata dengan nada ketus.
50 ribu?
Joko terkejut dan langsung terdiam mendengar nada ketus ini.
Diam-diam, hatinya menjadi kesal.
Ia tidak menduga akan mendapat pelayanan
yang begitu buruk dari penjual tersebut.
Namun berbeda dengan Toni.
Dia masih bisa menikmati layanan
dari sang penjual yang tidak ramah itu
dan tetap bersikap sopan kepada penjual tersebut.
Akhirnya setelah selesai membeli buku,
mereka berdua melanjutkan perjalanannya.
Joko segera membahas si penjual buku yang ketus tadi.
Ih, penjual buku macam apa itu?
Taruhan, pasti gak ada yang mau beli bukunya
kalau sikapnya sama pembeli kayak gitu.
Heran, Ton.
Kok kamu masih bisa sih bersikap sopan sama dia?
Orang kayak gitu gak pantas dibaikin gitu.
Toni tertawa dan menjawab.
Iya, memang tadi aku juga merasa dia ketus.
Tapi ya biarkan saja, mungkin dia ada masalah.
Bisa jadi anaknya bandel atau orang tuanya sakit.
Kita kan tidak tahu.
Yang penting aku tidak mengizinkan dia
mengatur caraku dalam bertindak.
Kita lah penentu dalam sikap kita, bukan orang lain.
Joko yang masih merasa kesal terhadap sikap si penjual
lalu berkata lagi.
Tapi kan dia sudah melayani kita dengan sangat buruk.
Toni menjawab.
Ya itu masalah dia, kawan.
Dia mau bad mood, tidak sopan,
melayani dengan buruk, dan lain-lainnya.
Tuh, itu gak ada kaitannya dengan kita, bukan?
Kalau kita sampai terpengaruh
dan membalas dengan sikap yang buruk juga
berarti kita membiarkan dia mengatur hidup kita.
Joko mendengar penjelasan sahabatnya itu dengan terdiam.
Wah, aku gak menyangka temanku Toni ini bijaksana banget.
Betul juga ya, kawan.
Seharusnya kita tidak ikut terpengaruh.
Seringkali, sikap kita mudah terpengaruh
oleh tindakan orang lain kepada kita.
Jika mereka melakukan hal yang buruk,
kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi.
Untuk berbuat baik pun,
kita menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu.
Dalam hidup ini, jadilah pemenang kehidupan
yang selalu memegang kendali atas hidup dan sikap Anda sendiri.
Jadilah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas,
yang tetap manis di tempat yang sangat pahit,
yang tetap merasa kecil walaupun telah menjadi besar,
dan yang tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.