Lamine Yamal dan Suka Duka Jadi Pemain Hebat di Usia 16 Tahun

Lamine Yamal
3 pengikut
49 Tayangan video·12 Okt 2024
Layaknya bocah yang sedang berdiri di panggung Pentaseni,
Lamin Yamal yang memang masih bocah jadi sorotan di panggung Euro 2024.
Di usia yang belum cukup untuk mendapat KTP itu,
Yamal sudah menjadi pemain kunci di Squad Spanyol.
Menjadi bintang lapangan di usia muda memang sebuah cita-cita bagi anak-anak seusianya.
Namun, untuk menjadi seorang Lamin Yamal ternyata tak semudah yang kita kira.
Ada suka-duka yang menyertai langkah bocah 16 tahun itu.
Lantas, apa saja suka dan duka menjadi pemain hebat di usia 16 tahun?
Sebelum kita bahas bersama,
kalian bisa subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu
agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven.
Setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan sepak bola di La Masia,
Lamin Yamal akhirnya mencatatkan menit pertamanya di Squad Utama Barcelona
pada April tahun 2023,
tepatnya di Laga Contra Real Betis.
Kala itu Yamal mencatatkan debutnya di usia 15 tahun.
Itu jadi rekor baru sebagai pemain termuda Barsa yang debut di La Liga.
Dirinya juga menjadi pemain termuda di beberapa hal lain,
seperti pemain termuda yang tampil di Liga Champions,
mengalahkan Celestin Babayaro dari Anderlecht.
Yamal juga mencatatkan rekor sebagai pemain termuda
yang mampu mencetak gol di La Liga dengan usia 16 tahun 87 hari.
Selain itu, ia juga menjadi pemain termuda yang mencatatkan asis di La Liga,
pemain termuda yang bermain di El Clasico,
pemain termuda yang tampil dan mencetak gol di Piala Superspanyol,
serta belasan rekor lain yang sudah dicatat rapi.
Tak cuma di level klub bersama tim naspanyol,
Yamal pun mencatatkan rekor fantastis.
Yamal sudah panen dua rekor sekaligus di Laga Pembuka melawan Kroasia.
Yang pertama dirinya tercatat sebagai pemain termuda
yang pernah tampil di Euro dengan usia 16 tahun 338 hari.
Di Laga yang sama,
wonderkid Barcelona itu juga menjadi pemain termuda yang menorehkan asis di Euro.
Kemunculan Namin Yamal di sepak bola adalah salah satu anugerah
yang sangat disyukuri oleh Spanyol.
Dirinya langsung dibanding-bandingkan dengan Lionel Messi.
Bahkan mantan pemain tim naspanyol, Fernando Llorente,
menyebut bahwa di usia yang sama,
Messi tidak akan mampu melakukan hal yang sama seperti Yamal.
Namun sorotan berlebih justru jadi pisau bermata dua bagi Yamal.
Banyaknya dukungan memang bagus untuk memotivasi,
tapi di sisi lain hal itu justru mendatangkan ekspektasi yang tinggi.
Agaknya terlalu dini apabila mengharapkan Yamal untuk mencapai level yang sama seperti Messi.
Di usianya yang masih muda,
Yamal harusnya lebih fokus pada pengembangan diri dan pendidikan
ketimbang membangun reputasi di sepak bola karena sudah kadung mendapat sorotan.
Peran orang tua sangat penting untuk menjaga Yamal tetap pada jalurnya.
Tak sedikit pemain muda yang keblinger lantaran mendapat sorotan yang berlebih di usia muda.
Contohnya seperti Mario Balotelli, Alen Halilovic, Rafael Morrison, hingga Mason Greenwood.
Manajemen emosi juga sangat penting dalam perkembangan karir lamin Yamal.
Jika Yamal tak bisa mengendalikan ekspektasi dan tekanan yang datang dari fans,
maka tidak menutup kemungkinan mentalnya akan terganggu.
Karena di usia Yamal yang cukup rentan untuk mencapai titik frustasi ketika menemui kegagalan.
Apalagi memulai karir profesional lebih awal tak menjamin usia karirnya akan lebih panjang.
Usia 13-16 tahun menjadi rentang usia yang paling penting dalam perkembangan pemain.
Mereka akan mengalami perkembangan dari segi postur tubuh, kekuatan tulang, dan kekuatan otot.
Maka dari itu memainkannya di squad utama sangat tidak direkomendasikan.
Jika tujuannya untuk melatih mental, sesekali tidak apa.
Tapi jika pemain berusia di bawah 17 tahun justru dipaksa untuk terus bermain dengan para pemain dewasa,
benturan akan berakibat buruk pada tulang dan otot sang pemain yang belum terbentuk sempurna.
Sedangkan di musim ini Yamal justru sudah tampil lebih dari 50 laga dan mencatatkan lebih dari 3.000 menit bermain di semua ajang,
baik dengan Spanyol maupun Barcelona.
Oke lah, Yamal adalah pemain penting bagi Barsa dan Spanyol,
tapi itu jumlah laga yang sangat banyak untuk pemain seumurnya.
Ini jadi tugas Barcelona untuk mengatur menit bermain Yamal.
Jika La Blaugrana kembali teledor dalam mengurus menit bermain talenta mudanya,
maka jangan kaget jika Lamin Yamal akan bernasib sama seperti Ansofati atau Pedri,
yang sering bermasalah dengan cedera otot.
Di luar itu, menjadi pemain hebat di usia belia membuat Lamin Yamal tak lepas dari fitnah dan prasangka buruk dari haters.
Yang paling menggemparkan jagat media sosial adalah soal isu memalsukan umur.
Beberapa media mengabarkan bahwa Yamal berusia 19 tahun, bukan 16 tahun.
Isu ini muncul pada Maret 2024 saat itu ada diskusi di media online yang menimbulkan keraguan mengenai usia Yamal.
Perdebatan ini dipicu oleh sebuah foto surat kabar yang diduga berasal dari tahun 2015.
Surat kabar itu mengklaim Yamal sudah berusia 10 tahun pada tahun 2015.
Jelas ini menimbulkan tanda tanya mengingat Yamal dilaporkan lahir tahun 2007.
Penyelidikan pun sempat dilakukan oleh pihak Laliga.
Hasilnya ditemukan bahwa foto yang menampilkan Lamin Yamal menggunakan jersi Barcelona musim 2015-2016 itu
berasal dari tahun 2017, bukan 2015.
Sehingga kabar burung itu pun dapat terbantahkan.
Lamin Yamal pun hanya tersenyum getir saat ditanyai soal kasus ini.
Meski tuduhan itu tidak benar, berusia 16 tahun tetap saja menghadirkan masalah bagi Lamin Yamal.
Bild menyebut bahwa Spanyol bisa mendapat denda sebesar 30 ribu euro apabila memainkan Lamin Yamal di lagam malam hari.
Itu karena adanya peraturan yang mengatur tentang jam kerja.
Spanyol disebut bisa melanggar peraturan negara Jerman yang tidak memperbolehkan anak di bawah usia 18 tahun,
baik warga lokal atau asing, untuk bekerja setelah pukul 20.00.
Aturan itu memuat pengecualian untuk atlet muda yang diperbolehkan bekerja sampai pukul 23.00 waktu setempat.
Sementara Yamal selalu dimainkan di tiga laga penyisihan grup,
tak terkecuali di laga melawan Albania yang dimainkan pada jam 21.00 waktu setempat.
Yamal memang tidak bermain penuh, tapi apabila ditambah waktu bersih-bersih dan kewajiban menemui media,
Yamal bekerja untuk Spanyol sampai lewat jam 23.00.
Namun tenang, menurut Football Espana, otoritas Jerman tidak akan menindak Spanyol dengan alasan tersebut,
sebab regulasi tersebut dimaksudkan untuk mengatur keselamatan dan kesejahteraan tenaga kerja yang masih di bawah umur.
Nah, keberadaan Yamal di squad Spanyol pada laga malam hari di Euro 2024
dirasa tidak akan mengancam keselamatan jebolan akademi lama sia itu.
Soal jam malam, Yamal bisa lepas dari sanksi dan tetap bisa bermain untuk laroha kapanpun,
tapi statusnya sebagai murid sekolah menengah atas tak bisa ditinggalkan begitu saja.
Yamal saat ini berada di tahun keempatnya di ESO,
sekolah menengah di Spanyol yang diperuntukkan untuk anak di usia 12 tahun hingga 16 tahun.
Bersamaan dengan Euro, sekolah Yamal belum memasuki waktu libur.
Maka dari itu Yamal masih terikat sebagai siswa yang harus hadir di kelas daring dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Cukup ribet ya, memela tim nasional tapi sambil sekolah.
Terlihatnya seperti itu, tapi Yamal berusaha profesional.
Sebagai seorang pelajar dan pesepak bola, Yamal berusaha untuk tetap menyeimbangkan kedua hal tersebut.
Dia pun membawa PR ke Jerman agar bisa lulus dengan nilai yang baik.
Selain itu, di sela-sela sesi latihan pun Yamal sering melipir untuk mengikuti kelas daring.
Semua dilakukan demi tidak mendapat teguran dari sang guru.
Ada-ada saja ya, di usia 16 tahun kalian sudah ngapain aja guys?
