Dero.desa.id - Sangkan Paraning Dumadi merupakan suatu ajaran yang berasal dari leluhur orang Jawa. Ajaran ini mengingatkan seorang manusia tentang dari mana ia berasal dan ke mana dia akan kembali. Tujuan utama Sangkan Paraning Dumadi ialah agar seorang manusia dapat mengenali dirinya sendiri.
Dero.desa.id - Sangkan Paraning Dumadi is a teaching that comes from Javanese ancestors. This teaching reminds a person of where he came from and where he will return. The main aim of Sangkan Paraning Dumadi is so that a human being can recognize himself.
Sumbu Filosofi Yogyakarta merupakan sebuah gagasan perencanaan tata ruang yang memiliki makna mendalam. Hal ini berbeda dengan kompleks candi atau situs warisan dunia lain yang dapat dengan mudah dikenali berdasarkan bentuk fisiknya.
Sumbu Filosofi Yogyakarta diakui sebagai warisan dunia karena dianggap memiliki makna yang berlaku secara universal. Sidang ke-45 Komite Warisan Dunia atau World Heritage Committee (WHC) yang diselenggarakan di Riyadh, Arab Saudi, telah mengesahkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai salah satu warisan budaya dunia pada tanggal 18 September yang lalu.
Keputusan ini didasarkan pada dokumen resmi WHC 2345.COM 8B. 39. Dengan resmi diterima oleh Komite Warisan Dunia, Sumbu Filosofi Yogyakarta sekarang telah menjadi bagian dari Warisan Budaya Dunia dengan judul “the Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks
PramukaDIY
The Yogyakarta Philosophy Axis is a spatial planning idea that has deep meaning. This is different from temple complexes or other world heritage sites which can be easily recognized based on their physical form.
The Yogyakarta Philosophy Axis is recognized as a world heritage because it is considered to have universal meaning. The 45th session of the World Heritage Committee (WHC) which was held in Riyadh, Saudi Arabia, approved the Yogyakarta Philosophy Axis as one of the world's cultural heritages on 18 September.
This decision is based on the official document WHC 2345.COM 8B. 39. Officially accepted by the World Heritage Committee, the Yogyakarta Philosophical Axis has now become part of the World Cultural Heritage with the title “the Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks
...sampai menjadi dewasa dari sisi Panggung Rakyat sampai ke Kraton, Yogyakarta.
Nah, ini Panggung Rakyat.
Itulah kenapa bentuknya kotak seperti meja.
Karena ini adalah menyimbolkan Yoni.
Perempuan.
Mohon maaf, bapak, ibu, teman-teman.
Kita lahir dari rahim seorang ibu, ya?
Iya, kan?
Lahir dari rahim seorang ibu.
Ada yang di-download?
Nggak ada, ya?
Nggak ada.
Di-print itu, kan?
Nggak ada.
Semua lahir dari rahim seorang ibu.
Yang digambarkan dengan namanya Panggung Rakyat.
Nah, kemudian tadi udah dijelasin sama Mbak Ayu...
...kenapa tadi di Panggung Rakyat ada jeruji.
Karena apa?
Biar para gendangan pengemis itu nggak masuk.
Di masa lalu nggak ada jerujinya.
Jadi area terbuka.
Nggak ada sotong, nggak ada jalan, nggak ada yang warung-warungnya.
Karena ini simbol dari rahim seorang ibu.
Kemudian jalan D.I. Panjaitan, yang sekarang namanya D.I. Panjaitan...
...lalu namanya jalan Gebayana.
Itu adalah gambaran bahwa...
...dari Panggung Rakyat, manusia akan lahir...
...dan berproses menjadi bayi dan anak-anak.
Makanya disebut Gebayana.
Mungkin ada yang masih punya anak kecil...
...atau ponakan kecil...
...atau tetangga yang masih kecil.
Bapaknya anak kecil.
Dia itu disimbolkan dengan adanya Pohon Asam.
Pohon Asam itu maknanya sama seperti di Jalan Malioboro...
...yang artinya ngesemake atau menyenangkan.
Gambaran bahwa anak-anak itu nyenengin.
Kedua, ada yang namanya Pohon Tanjung.
Yang bunganya putih tadi ya.
Tanjung itu berasal dari bahasa Jawa sanjung.
Artinya puji ya.
Jadi bayi dan anak-anak itu selain menyenangkan juga...
...pasti akan disanjung-sanjung.
Aduh anakku yang paling cantik, paling ganteng...
...paling pinter dan seterusnya, pasti akan disanjung-sanjung.
Maka ada gambaran Pohon Asam dan Pohon Tanjung.
Yang akan menghubungkan kita ke sini.
Ini namanya apa?
Pelengkong.
Pelengkong Garding atau Pelengkong Garding.
Inilah disebut sebagai pelengkong.
Dan bapak-ibu teman-teman, karena di masa lalu...
...benteng ini dilindungi yang namanya jagan atau pare.
Maka untuk masuk melalui pelengkong harus ada jembatan.
Jembatan kayu yang bisa diturun, naik, turun...
...itu ada di depan pelengkong.
Dan dibuka tutup pada waktu tertentu.
Setelah sholat subuh, pasti akan dibuka.
Nanti kemudian jam 8 malam atau setelah isya...
...pasti akan ditutup.
Sehingga kalau dulu kita tinggal di dalam keraton...
...kemudian nongkrong sama teman-teman gitu ya...
...selepas jam 8 malam kita gak bisa pulang.
Pelengkongnya udah tutup gitu ya.
Gitu.
Buktinya bisa dilihat di sini.
Di sini seperti ada sudut dari jembatan.
Kelihatan ya foto lamanya.
Kalau bahasa Jawa dikenal dengan nama bu...
...atau ujung jembatan.
Masih ada, tapi sekarang gak ada.
Jadi ruko-ruko sama rumah tadi.
Karena sudah dihuni oleh masyarakat.
Gitu.
Ada yang pernah buka puasa di Jogja?
Merasakan buka puasa di Jogja akan menemukan...
...bahwa sebelum azan mahrif itu pasti terdengar suara sirine.
Sirine tadi adalah sirine ini.
Ada di atas pelengkong gadik.
Tadi kita juga lihat.
Namanya adalah sirine go.
Sirine go ini adalah sirine yang sama Belanda dibuat...
...untuk peringatan jika pesawat Jepang tiba-tiba datang.
Karena saat itu perang dunia.
Tapi kemudian setelah Indonesia merdeka...
...malah identik dengan sirine berbuka puasa.
Karena di masa lalu sirine ini selalu dibunyikan ketika berbuka.
Kemudian karena ini sudah mulai rusak atau mulai tua...
...maka direkam sama radio.
Dan sebelum azan mahrif radio itu pasti akan memutar suara sirine go.
Ini sebagai pertanda masuk azan mahrif.
Sehingga orang Jogja, anak-anak khususnya...
...yang ditunggu hubungan azan mahrif.
Tapi suara.
Mas, udah ngob belum?
Karena suara go itu ngob.
Mas, ngob belum?
Sudah ngob belum?
Ini mengenai suara go.
Kalau di sini, bapak, ibu, teman-teman pasti pernah main ke sini ya.
Ada yang masih inget area ini namanya apa?
Alun-alun mana?
Gitul. Alkit atau alun-alun selatan.
Pernah main di sini ya?
Biasanya ngapain di sini?
Jajan cilok ya.
Apalagi perang bulan jadul.
Kemudian yang lainnya ya.
Karena memang ini adalah area hiburan.
Area hiburan masyarakat Jogja.
Karena apa? Alun-alun utara ditutup.
Maka semua yang ada di alun-alun utara pindah ke selatan.
Nah, alun-alun selatan ini simbol dari remaja.
Itulah kenapa banyak remaja main ke sini juga.
Ada yang main masangin.
Ada itu masangin.
Masangin itu pakai penutup mata.
Kita lewat di tengah-tengah diantara pohon beringin.
Yang karena dapat mengabulkan permintaan.
Kita juga bisa main apalagi?
Odong-odong.
Mobil dikayu. Masih ya?
Macem-macem.
Melukis Dora, melukis Marsa juga ada.
Lengkap. Karena itu adalah pusat hiburan.
Tapi tahu nggak? Sebenarnya alun-alun selatan ini simbol dari fasa remaja.
Kalau kebayangan ini anak-anak,
maka alun-alun selatan ini adalah simbol dari remaja.
Sehingga, sama keraton,
itu sebenarnya diingatkan para remaja ini dengan ditanamnya
dua pohon di sekeliling luar.
Bukan di alun-alunnya, tapi di sekeliling luar yang biasa dipakai jualan.
Sekeliling luar dari alun-alun selatan,
itu ada dua pohon yang ditanam bergantian.
Pohon yang pertama namanya adalah pohon kweni.
Ada yang tahu pohon kweni?
Kweni itu mangga yang wangi.
Yang kweni dalam budaya Jawa.
Nah, kweni dan satu lagi namanya buah pakel.
Kalau pekel tahu pakel.
Sebenarnya mangga di Jogja itu penyebutannya banyak.
Ada mangga biasa, pelem.
Bahasa Jawanya.
Mangga yang wangi itu kweni.
Mangga yang masam dan banyak serabutnya itu pakel.
Tidak beda.
Baik, kalau pohon kweni itu berasal dari bahasa Jawa kwani.
Atau berani.
Jadi Sultan Hamengkubwono I itu memperingatkan kepada perempuan.