Apa yang Sedang Ditunggu Tuhan!!! Bencana Kiamat Berulang Kali Ditunda?

Mata Ketiga
670 pengikut
Di tengah gejolak Perang Dunia II, umat manusia tidak hanya terseret dalam pusaran konflik dan penderitaan, tetapi juga menyaksikan kelahiran sebuah karya nubuat luar biasa yang mengisahkan tentang bencana besar, peperangan antara kebaikan dan kejahatan, serta harapan akan dunia baru. Kitab suci Nichigetsu Shinjii ini ditulis oleh seorang master perantau spiritual asal Jepang, Okamoto Tenmei. Kisah hidup dan perjalanan spiritualnya, penuh dengan pertanda mistis dan peristiwa luar biasa, hingga hari ini masih menggugah hati banyak orang dan mengundang pemikiran mendalam akan makna kehidupan serta akhir zaman.
#bencanakiamat
#kiamat
#bencana
#tuhan
#ramalan
#perangdunia
Salam Sehat Sejahtera, jumpa lagi di channel Mata Ketiga.
Di tengah gejolak Perang Dunia II,
umat manusia tidak hanya terseret dalam pusaran konflik dan penderitaan,
tetapi juga menyaksikan kelahiran sebuah karya nubuat luar biasa
yang menisahkan tentang bencana besar,
peperangan antara kebaikan dan kejahatan,
serta harapan akan dunia baru.
Kitab Suci Nejigetsu Shinchi ini ditulis oleh seorang master perantau spiritual asal Jepang,
Okamoto Tenmei.
Kisah hidup dan perjalanan spiritualnya,
penuh dengan pertanda mistis dan peristiwa luar biasa,
hingga hari ini masih menggugah hati banyak orang
dan mengundang pemikiran mendalam akan makna kehidupan serta akhir jaman.
Awal Kehidupan, Bakat Luar Biasa dan Kejatuhan Keluarga
Pada tanggal 4 Desember 1847,
di tengah gemerlap kemakmuran sebuah keluarga terpandang di Jepang,
lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian dikenal dengan nama Okamoto Tenmei.
Seolah dilahirkan dengan kunci emas,
sejak kecil ia memperlihatkan bakat luar biasa terutama dalam bidang seni lukis.
Pada usia 17 tahun saja,
Tenmei sudah sukses menggelar pameran lukisan pribadinya yang mendapat perhatian luas.
Namun karisma dan keahlian yang dimiliki tidak hanya terbatas pada dunia seni,
Tenmei juga menunjukkan kemampuan perantauan spiritual,
suatu keistimewaan untuk melihat hal-hal yang tersembunyi dari mata manusia biasa
serta mendengar suara-suara gaib yang tak terdengar oleh telinga normal.
Bakat inilah yang kelak menuntunnya ke jalan perantauan spiritual.
Sayangnya, di tengah berkah tersebut,
nasib keluarga yang tadinya makmur mulai mengalami kemunduran akibat kegagalan usaha.
Kondisi ekonomi yang semakin terpuruk memaksa Tenmei untuk mengandalkan
penjualan karya seni sebagai sumber penghidupan.
Kehidupan yang penuh liku mendorong Tenmei untuk menemukan jalan baru ketika seorang pendeta
di sebuah kuil menemukan bakat luar biasa anak muda itu dalam berkomunikasi dengan alam roh.
Tanpa sengaja, pendeta tersebut menyadari kemampuan yang tersembunyi dalam diri Tenmei
sehingga diizinkan untuk tinggal di kuil dan menggantikan peran pendeta dalam upacara pemanggilan roh.
Meskipun masih dianggap pemula dalam dunia peramalan,
persona dan kemampuan spiritual Tenmei kian meningkat.
Setiap kali ada upacara pemanggilan roh, namanya selalu diminta untuk memimpin.
Menunjukkan bahwa takdir telah memilihnya sebagai perantara antara dunia manusia dan alam gaib.
Memasuki tahun-tahun kelam Perang Dunia II,
di mana Jepang mengerahkan segala sumber daya untuk menyerang Tiongkok,
penderitaan dan tekanan perang semakin membebani rakyat.
Menjelang tahun 1944, konflik yang telah berlangsung selama tujuh tahun
membuat banyak jiwa lelah dan terperuk dalam keputus asaan.
Dalam suasana tersebut, pada bulan April 1944,
sekelompok peneliti sejarah kuno mengadakan sebuah upacara pemanggilan roh
yang bertujuan mencari petunjuk dari alam gaib mengenai arah perjuangan dan kemungkinan akhir perang.
Disinilah Okamoto Tenmei kembali dipanggil untuk memimpin ritual mistis tersebut.
Saat diminta untuk menyampaikan pesan tentang akhir peperangan,
ia menuliskan dengan cepat sebuah kalimat misterius.
Tulisan tersebut pada awalnya menimbulkan kebingungan di antara para peserta upacara
karena tampak tak berkaitan langsung dengan pertanyaan yang diajukan.
Namun tanda mistis itu segera mendapatkan makna tersendiri
ketika suatu kesempatan membawa Okamoto dan dua rekannya
untuk berziarah ke kuil Ten-Nichigetsu di prefektur Chiba.
Kunjungan itu membuka mata Tenmei
karena ia menemukan kemiripan antara tulisan di atas kertas dengan nama kuil tersebut.
Sejak momen itulah, jalan hidupnya mulai tersulam oleh rangkaian peristiwa mistis yang tak terduga.
Lahirnya kitab nubuat, proses penulisan otomatis dan fenomena gaib.
Setelah peristiwa ziarah tersebut, perubahan aneh mulai terjadi dalam diri Okamoto Tenmei.
Tanpa diduga, lengan kanannya kerap kali merasakan sakit yang luar biasa
seakan didorong oleh kekuatan misterius untuk menuliskan pesan-pesan dari alam gaib.
Tak lama kemudian, ia menulis dua bab pertama dari jilid pertama Nichigetsu Shinchi,
sebuah karya nubuat yang kemudian berkembang menjadi kumpulan ramalan sebanyak 52 jilid
dalam kurun waktu 17 tahun.
Hingga saat ini, 39 jilid dari karya monumental ini
telah diterbitkan dan disusun dengan bantuan para perantau spiritual
dari berbagai kalangan di Jepang.
Salah satu pesan yang menarik perhatian dalam kitab ini adalah rangkaian angka dan simbol.
Contohnya, simbol swastika, 19, 8, ada 76, ada 4, tak ada 5.
Masing-masing karakter dan angka tersebut, bila diurahkan secara terpisah,
terkesan memiliki makna tersendiri.
Misalnya, swastika sebagai lambang yang kerap dihubungkan dengan agama Buddha
dan angka yang jika dikaitkan dengan simbol dalam tradisi Kristen.
Namun jika disatukan, pesan tersebut terasa samar dan penuh tekat tegi.
Karena kebingungan itulah, Okamoto meminta bantuan ahli simbol dan perantau spiritual lain
untuk memecahkan kode tersebut.
Hasil tafsir menunjukkan bahwa rangkaian itu bermakna.
Makuta dan Kristus jelas akan menolong segalanya
dan sebuah dunia di mana kamu tak perlu menghadapi kesulitan yang berat akan segera tiba.
Pesan tersebut mengandung nubuat bahwa Tuhan sejati akan turun ke bumi,
menyatakan kekuatan ilahi untuk menyelamatkan seluruh umat manusia,
serta membangun kembali dunia dengan wansa keadilan, kedamaian dan kebahagiaan.
Akan tetapi, untuk mencapai titik itu,
umat manusia harus melewati ujian dan bencana yang mengguncang seluruh peradaban.
Pesan yang sangat luas jangkauannya ini,
membuat Okamoto merasa sangat terkejut bukan hanya untuk Jepang,
melainkan untuk seluruh umat manusia.
Pada suatu hari yang mencekam di masa perang,
ketika Okamoto tengah menetap di dalam kuil,
terdengar sebuah suara jelas yang memerintahkannya,
Tenmei, tinggalkan tempat ini.
Suara itu terulang tiga kali, sehingga jelas merupakan peringatan dari para dewa.
Menyadari adanya ancaman yang nyata,
Tenmei segera meninggalkan kuil.
Beberapa hari berikutnya,
sebuah bom pembakar jatuh tepat di kuil yang baru saja ia tinggalkan.
Sebuah kejadian yang semakin mempertegas
bahwa alam roh sedang memberikan tanda-tanda peringatan keras kepada dunia.
Kejadian mistis dan ketepatan ramalan Okamoto
mulai menyebar di kalangan militer.
Beberapa perwira menyusun ramalan-ramalan beliau
ke dalam selebaran yang kemudian diedarkan di lingkungan militer.
Berkat penyebaran informasi itu,
banyak tentara dan perwira mampu menghindari bencana
atau mengambil tindakan preventif yang justru menyelamatkan nyawa mereka.
Di tengah kekecohan dan propaganda resmi,
nubuat ini menjadi sumber kekuatan dan penghiburan,
suatu petunjuk bahwa di balik kehancuran yang tampak,
tersimpan harapan untuk rekonstruksi dan kebangkitan.
Salah satu bagian dari Nichigetsu Shinchi yang paling menggugah adalah
RAMALAN MENGENAI AKHIR JAMAN
Dalam jilid pertama bab 4, tanggal 13 Juni 1944,
Okamoto meramalkan bahwa Jerman dan Italia tidak dapat dipercaya
dan seluruh dunia telah bersatu mendekati Jepang.
Ramalan inilah yang kemudian terbukti kebenarannya
ketika pada bulan April 1945,
Mussolini dijatuhkan dan Hitler mengakhiri hidupnya sendiri.
Bahkan ketika pemerintah Jepang tetap menyembunyikan kebenaran dari rakyat,
ramalan tersebut dengan cepat tersebar di kalangan prajurit dan rakyat
membuka mata bahwa propaganda resmi hanyalah kepingan dari realitas
yang tersembunyi oleh kekuatan alam roh.
Dalam kisah ramalan tersebut,
tersirat bahwa meskipun perang mengerikan dan kehancuran besar sedang menanti,
bencana itu bukanlah akhir dari segala sesuatu.
Sebaliknya, ia merupakan awal dari sebuah era baru,
sebuah kerajaan suci yang akan lahir dari abu kehancuran.
Nubuat itu menyatakan,
kalian tahu bahwa tangan penyelamatan berasal dari timur.
Pada arah yang sekarang,
tangan penyelamatan akan muncul dari timur laut.
Dengan penggambaran yang dramatis dan penuh simbolisme,
ramalan Okamoto mengajak kita
untuk menyadari adanya pertempuran antara dua kekuatan besar.
Pertarungan Antara Kekuatan Kebenaran dan Kekuatan Kegelapan
Di dalam Nichigetsu Shinchi,
tersaji pertarungan epik antara dua kekuatan.
Kekuatan Kebenaran
Dipimpin oleh Maitreya,
kekuatan ini berupaya membangun kembali seluruh alam semesta
yang terbagi dalam 3.000 dunia.
Maitreya menjadi simbol harapan bagi umat manusia,
menawarkan jalan untuk menuju penyelamatan dan rekonstruksi.
Kekuatan Kegelapan
Diwakili oleh dewa-dewa jahat
yang berusaha menghambat evolusi alam
dan memusnahkan usaha Maitreya untuk menyelamatkan dunia.
Dewa-dewa ini digambarkan sebagai penghalang terbesar
dalam upaya manusia mencapai kehidupan yang ideal.
Rangkaian Ramalan dalam jirid emas Nichigetsu Shinchi
menyampaikan betapa pentingnya
agar manusia memahami dua kutub kekuatan ini.
Pesan tersebut sejalan dengan kisah klasik
yang terdapat dalam novel Fengshen Yanyi
yang menggambarkan pergolakan antara kekuatan ilahi dan kekuatan jahat
di mana kebaikan dan kejahatan bertarung untuk menentukan nasib dunia.
Refleksi Terhadap Masyarakat Modern
Tak hanya meramalkan bencana dan pertempuran antar kekuatan supranatural,
Nichigetsu Shinchi juga memberikan kritik tajam terhadap kondisi masyarakat modern.
Kitab ini menyeroti beberapa fenomena
antara lain
Ketergantungan pada uang dan ilmu pengetahuan
dalam masyarakat yang semakin materialistis.
Uang dan ilmu mulai menggantikan nilai-nilai moral dan spiritual.
Ramalan tersebut memperingatkan
bahwa dengan mengandalkan kekayaan secara berlebihan,
manusia semakin jauh dari esensi keimanan dan kebenaran.
Penyimpangan moral dan sosial
Kitab ini mencatat
bahwa hubungan antara pria dan wanita yang tidak seimbang
serta distorsi dalam nilai-nilai keluarga
turut menyumbang kekecohan sosial.
Pesan ini dipandang sebagai sindiran terhadap nilai-nilai budaya modern
yang cenderung mengedepankan kebebasan tanpa batas atas biaya moral.
Penyalahgunaan ideologi dan indoktrinasi dini
Beberapa negara barat maupun timur
menurut ramalan tersebut
telah mengembaikan nilai-nilai keimanan sejak usia dini.
Indoktrinasi politik dan penyebaran ideologi
tertentu sejak taman kanak-kanak
dianggap sebagai akar dari perpecahan dalam masyarakat.
Pesan-pesan tersebut menguatkan bahwa
apabila manusia tidak kembali kepada jalan asli
atau prinsip-prinsip moral dasar
maka kehancuran akan menjadi keniscayaan.
Kitab ini dengan tegas menyatakan
bahwa kebebasan dan komunisme pun
akhirnya akan runtuh jika nilai keimanan dan moralitas tidak ditegakkan.
Akhir Perang dan Rekonstruksi Bangsa
Perjalanan sejarah Perang Dunia II
dan dampak membuat Okamoto Tenmei
tidak hanya berhenti pada ramalan mengenai kehancuran.
Setelah Jepang akhirnya mengumumkan penyerahan pada tanggal 15 Agustus 1945
menjadi negara terakhir di antara kekuatan poros
dampak ramalan itu mulai terlihat secara nyata.
Para pemimpin militer dan politik
termasuk Hideki Tojo
akhirnya ditangkap dan dihukum.
Namun dalam situasi yang mencekam itu
banyak prajurit mulai mengambil keputusan yang berbeda.
Ramalan yang tertuang dalam Nichigetsu Shinji
membawa mereka pada pemahaman bahwa kekalahan bukanlah akhir segalanya.
Mereka berpikir
mengapa kita harus terus maju ke garis depan
dan mengorbankan nyawa kita
sedangkan nubuat ilahi sudah menegaskan
bahwa meskipun kita kalah
bangsa kita akan bangkit kembali dengan kekuatan rekonstruksi.
Realitas sejarah menyaksikan kebenaran ramalan tersebut.
Setelah perang
Jepang perlahan-lahan memasuki era rekonstruksi
yang tidak hanya membangun kembali infrastruktur
tetapi juga memperbaiki moral dan keimanan rakyatnya.
Beberapa peristiwa besar di Jepang pasca perang
seperti pertumbuhan ekonomi,
gelombang ekonomi di akhir 1980-an,
krisis keuangan global
dan bahkan bencana alam seperti gempa dasyat 11 Maret pada tahun 2011
kemudian diinterpretasikan oleh sebagian kalangan
sebagai bagian dari rangkaian ramalan
yang telah tertuang dalam Nichigetsu Shinji.
Pesan Harapan Menuju Dunia Baru
Di balik gambaran yang suram tentang bencana,
kehancuran dan peperangan
tersemat satu pesan penghiburan dalam Nichigetsu Shinji.
Kitab ini menegaskan bahwa setelah terjadinya bencana besar
ketika alam kembali tenang dan kehancuran mulai memudar
pintu-pintu surga akan terbuka lebar.
Umat manusia yang telah melalui penderitaan berat
akan dipertemukan kembali dengan Tuhan dan para dewa
dalam suasana penuh keindahan dan kasih sayang.
Dalam penggambaran akhir jaman,
Okamoto Tenmei menuliskan bahwa serangan yang datang dari utara
merupakan tanda awal akhir kiamat.
Namun, kiamat itu sendiri bukan berarti seluruh umat manusia akan musnah,
melainkan merupakan proses pembersihan dunia dari kejahatan yang telah menguasai.
Setelah bencana meredah,
Tuhan akan menghimpun seluruh umatnya
dan membawa mereka ke dalam dunia baru
yang dijiwai nilai-nilai keimanan, moral, dan keindahan yang sejati.
Pertanyaan penting yang ia sampaikan pun menggugah hati setiap insan.
Di ambang evolusi dunia,
ketika kita dihadapkan pada akhir sejarah umat manusia,
pilihan apakah yang akan Anda ambil?
Pesan tersebut mengajak setiap individu untuk merenung
bahwa di tengah kesulitan,
satu-satunya harapan adalah kembali kepada kepercayaan kepada Tuhan,
memperbaiki moral,
dan membangun kembali dunia
berdasarkan prinsip-prinsip keimanan yang telah ditetapkan oleh kekuatan ilahi.
Mulai dari peringatan keras mengenai kehancuran dunia
akibat ketidakseimbangan antara kekuatan uang,
sains, dan moral,
hingga harapan besar akan kebangkitan umat manusia di era yang baru.
Kitab ini mengingatkan kita bahwa bencana besar,
apakah yang berasal dari alam, peperangan, atau kegelapan moral,
adalah bagian dari ujian terbesar yang harus dihadapi umat manusia.
Namun pada akhirnya,
Tuhan dengan penuh belas kasih
akan menyelamatkan jiwa-jiwa yang masih mau bertobat
dan kembali ke jalan asli.
Pesan terakhir yang ingin disampaikan melalui Ramalan Okamoto Tenmei adalah sebagai berikut.
Tanpa fondasi keimanan dan moral yang kuat,
kemajuan di dunia modern hanyalah Fata Morgana
yang akhirnya membawa kehancuran.
Jangan terperangkap dalam materialisme.
Ketergantungan berlebihan pada uang dan teknologi
bisa mengikis nilai-nilai kemanusiaan yang sejati.
Siapkan diri untuk ujian ilahi.
Bencana dan peperangan bukanlah hukuman semata,
tetapi panggilan agar manusia menyadari kelemahan diri
dan kembali kepada nilai-nilai dasar yang telah ditetapkan Tuhan.
Dalam tradisi cerita rakyat,
baik di timur maupun barat,
hari kiamat telah lama diwarnai oleh peringatan-peringatan simbolis.
Di dalam Nichigetsu Shinji,
dewa-dewa seperti dewa gempa, dewa hujan,
dewa badai dan dewa perang
digambarkan akan berkumpul dan memainkan peran mereka masing-masing
pada waktu yang telah ditentukan.
Peperangan antara kebaikan dan kejahatan pun
akan berlangsung sangat sengit
sehingga persediaan makanan habis,
tempat berlindung tak tersisa,
dan penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak dikenal semakin merajalela.
Namun begitu gegelapan menyelubungi bumi,
cahaya pengampunan dan rekonstruksi pun perlahan muncul
mengantar umat manusia menuju era baru.
Kesimpulan
Kisah Nichigetsu Shinji
dan perjalanan spiritual Okamoto Tenmei
merupakan peringatan sekaligus harapan
yang disampaikan lewat tangan ilahi.
Dari awal kehidupan penuh berkah,
kejatuhan dan pencarian spiritual,
hingga munculnya ramalan yang meramalkan
kehancuran dunia serta janji kebangkitan,
semua itu menyatu dalam pesan yang mendalam dan menggugah.
Pesan dari nubuat tersebut adalah ajakan bagi setiap manusia
untuk selalu memperbaiki diri dengan mengasah keimanan,
meningkatkan kualitas rohani,
dan menjaga nilai-nilai moral
agar dapat bertahan dalam menghadapi ujian hidup yang semakin berat.
Akhirnya, ketika bencana besar telah berlalu,
akan lahir dunia baru,
sebuah era di mana Tuhan hadir dengan kasih sayang yang tak terhingga
untuk menghimpun seluruh umatnya ke dalam negeri
yang penuh kedamaian dan keimanan.
Di ambang sejarah yang semakin berubah,
pertanyaannya tetap menggantung.
Ketika ujian dan bencana sudah menghampiri,
langkah apa yang akan Anda ambil untuk menyelamatkan diri
dan memujudkan dunia yang lebih baik?
Melalui Nichigetsu Shinji,
Okamoto Tenmei menyampaikan bahwa
pilihan itu ada di tangan setiap individu.
Marilah kita bersama-sama merenung dan mengambil langkah tepat
agar ketika akhirnya era kehancuran berlalu,
kita pun siap memasuki babak baru yang penuh harapan dan keindahan ilahi.
Cukup sekian dulu.
Terima kasih atas perhatiannya.
