DR TIFA : "INDONESIA SEKARAT, PARA PEJABAT BERKHIANAT?"

Dr Tifa Channel
41 pengikut
FAKTA:
Korupsi merajalela, oligarki semakin kuat, dan rakyat makin menderita! Negara ini seperti bom waktu yang siap meledak!
Apakah Indonesia masih bisa diselamatkan? Atau satu-satunya jalan adalah membubarkannya dan membangun negara baru dari nol?
Bagikan video ini dan bangun kesadaran sebelum semuanya terlambat!
#IndonesiaHancur? #NegaraBubar #RevolusiSistem #IndonesiaBaru #NegaraGagal #KorupsiMerajalela #OligarkiHarusRuntuh #KebangkitanRakyat #BangunUlangNegara #SaatnyaBerubah @drtifa
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat Dr. Tifa, dimanapun Anda berada, jumpa kembali dengan channel
yang mengantar Anda memasuki peradaban baru manusia
dan insyaAllah membekali Anda dengan keimanan, kecerdasan, dan kebenaran.
Amin.
Hari ini, teman-teman, saya akan mengajak Anda untuk bahas
Indonesia ini sekarang lagi sekarat karena pejabatnya banyak yang berkhianat.
Saya akan bahas fenomena pejabat yang berani korupsi,
tidak takut dosa, dan tetap melakukan tindakan
yang menghancurkan negara serta menyengsarakan rakyat.
Itu kenapa sih?
Yuk kita bahas dengan mendalam.
Kenapa pejabat itu berani korupsi?
Korupsi itu bukan hanya masalah individu,
tapi juga sistem yang memungkinkan dan menorongnya.
Ada beberapa alasan utama.
Pertama, kenapa pejabat berani melakukan korupsi?
Karena lingkungannya memfasilitasi korupsi.
Budaya di lingkungan dia menjabat itu sudah permisif
karena korupsi sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa di negara ini,
bukan sebuah kejahatan serius.
Maka seseorang pejabat akan lebih mudah terboda untuk melakukannya
ketika ada kesempatan dan peluang.
Kemudian sistemnya sendiri sudah korup.
Dari level atas hingga level bawah,
sistem Indonesia sudah korup.
Maka kalau ada pejabat yang menolak untuk korupsi,
malah bisa-bisa dia dikucilkan atau bahkan dihancurkan karirnya.
Berikutnya lagi, lemahnya penegakan hukum.
Tahu sendiri hukum Indonesia seperti apa.
Jadi kalau misalnya ada koruptor ditangkap,
mereka itu seperti kita tahu,
hukumannya tidak setimpal.
Sehingga mereka tidak mendapatkan efek jerah dari hukuman itu.
Kemudian karena korupsi ini sudah sistemik,
sistemnya pun sudah korup,
menimbulkan sebuah delusi kekebalan.
Jadi pejabat itu sering merasa bahwa mereka terlalu kuat untuk jatuh atau tertangkap.
Kemudian karena dilingkungan pejabat pada melakukan korupsi,
sehingga korupsi ini dianggap sebagai sebuah hal yang normal-normal saja.
Jadi sebuah normalisasi kejahatan.
Dan yang terakhir, mental yang kemudian jadi virus, jadi kanker,
yang menular.
Mentalitas mumpung berkuasa atau ajim mumpung.
Banyak pejabat berpikir bahwa masa jabatan mereka singkat,
sehingga mereka harus memanfaatkan kesempatan yang singkat itu
untuk korupsi sehabis-habisnya, sebanyak-banyaknya.
Lagian, ada lagi, pejabat merasa gaji yang mereka terima tidak cukup.
Karena mereka kemudian ketularan, sifat rakus, dan hidup yang hedonis.
Karena mereka melihat pirikanan depan-belakangnya pada bergaya hidup elit semua.
Dan mereka bergaul juga rata-rata dengan oligarki.
Jadi mereka juga pengen hidup kayak oligarki, padahal mereka pejabat.
Pengen punya jet pribadi, pengen punya rumah mewah,
pengen berfoya-foya tanpa batas.
Dan dalam lingkungan tertentu, kemewahannya di antara mereka ini,
di antara para pejabat korup di Indonesia ini,
kemewahan itu dianggap sebagai simbol kesuksesan.
Mereka bergaulnya dengan pejabat-pejabat korup yang kaya raya,
bergaulnya dengan oligarki yang kaya raya,
bergaul dengan artis-artis influencer yang kaya raya.
Sehingga kemewahan itu menjadi sebuah doktrin.
Kalau tidak hidup mewah, artinya kamu tidak sukses.
Sebagai sebuah simbol kesuksesan,
maka pejabat ramai-ramai korup.
Pejabat merasa perlu mempertahankan citra tersebut
dengan cara apapun, termasuk dengan korupsi,
apalagi kalau tidak korupsi.
Terus ada sebuah pertanyaan naif,
mengapa koruptor tidak takut dosa?
Ini pertanyaan naif, tapi penting.
Jadi rupanya, bagi banyak orang,
ancaman dosa dan hukuman Tuhan itu
sudah tidak mempan,
karena koruptor itu memiliki berbagai mekanisme
psikologi dan sosial
yang membuat mereka tidak takut dosa.
Jadi mereka itu mendokterin dirinya
bahwa semua orang melakukannya kok.
Jadi ini adalah sebuah rasionalisasi
dan justifikasi moral.
Koruptor itu sering berpikir begitu,
bahwa mereka itu tidak sendirian.
Semuanya pada korup.
Sehingga mereka kehilangan rasa bersalah.
Kemudian, para koruptor juga melakukan
sebuah delusi bahwa
dia benar kok melakukan korupsi
karena saya juga sudah kerja keras.
Jadi mereka berpikir bahwa mereka sudah
kerja keras dan layak mendapat
lebih banyak uang dari gaji
yang mereka terima.
Dan dokterin yang berikutnya lagi adalah
saya tidak merugikan siapapun secara langsung kok.
Jadi mereka itu mengabaikan fakta
bahwa uang yang mereka curi
dari korupsi itu,
kan itu adalah uang yang seharusnya
untuk kesejahteraan rakyat,
tapi mereka sudah mendokterin dari mereka sendiri.
Terus, yang aneh dan menarik lagi,
ternyata mereka itu,
koruptor-koruptor itu,
melakukan penyalahgunaan agama.
Jadi mereka mencuci dosa
melalui amal dan berbuat baik
kepada para tokoh agama, para ulama.
Banyak koruptor berdonasi ke masjid,
pesantren, kegiatan sosial,
memberikan banyak uang untuk tokoh-tokoh agama
karena berpikir bahwa ini bisa
menutupi dosa mereka.
Mereka memanfaatkan ulama atau tokoh agama
sebagai sarana pencucian dosa.
Kasihlah pesantren itu hebat,
kasihlah bangun masjid,
bangun rumahnya buat tokoh agama,
buat ulama itu yang luar biasa.
Jadi mereka menggunakan tokoh-tokoh agama
untuk mendapatkan legitimasi moral.
Habis itu ada yang aneh lagi,
tahayil tentang ampunan.
Jadi mereka berpikir bahwa
ketika mereka hidup,
mereka akan selalu mudah untuk minta ampun.
Sholat obat, sholat obat, sholat obat.
Dan berpikir bahwa walaupun mereka korupsi,
tapi mereka sudah minta ampun sama Allah,
mereka tetap bisa masuk surga.
Jadi keyakinan mereka
atas ajaran agamanya itu kabur.
Dan sampai-sampai mereka
benar-benar percaya bahwa
tidak ada akhirat.
Banyak loh pejabat yang secara
normatif beragama,
tapi secara praktis tidak benar-benar
percaya pada hari pembalasan.
Mereka lebih percaya pada
kekuatan uang dan koneksi mereka
dibanding Tuhan dan keadilannya.
Pertanyaan naif yang kedua,
apa yang dipikiran mereka ya
ketika membuat negara
bangkrut dan rakyat menderita?
Koruptor itu tidak selalu
melihat dampak besar dari
tindakan mereka secara langsung.
Mereka yang dilihat itu
cuma peluang saja.
Mereka memiliki cara berpikir yang membuat
mereka bisa tetap tidur nyenyak,
walaupun tahu bahwa negara mereka itu
hancur gara-gara perbuatan mereka.
Dan itulah yang namanya itu
sudah ketidakpedulian dan dehumanisasi.
Karena koruptor itu lihat rakyat itu
sudah bukan orang lagi,
cuma sebatas angka saja di statistik.
Bukan sebagai manusia yang menderita
karena perbuatan mereka, enggak.
Mereka tidak pernah benar-benar
merasakan kesengsaraan rakyat
karena hidup dalam lingkungan yang nyaman
selama mereka menjadi pejabat koruptor.
Bahkan mereka
sebagiannya itu
menganggap rakyat itu sebagai beban.
Orang bodoh yang tidak pantas
dapat uang negara.
Dan mereka itu sudah punya
sebuah mentalitas bahwa
aku itu hanya mengambil sebagian kecil saja.
Kok dari total anggaran?
Jadi mereka membandingkan diri mereka
dengan pejabat lain yang lebih korup.
Sehingga mereka yang mengambilnya
cuma sedikit itu merasa masih lebih baik.
Yang buat mereka
lebih besar itu yang sampai seribu triliun.
Mereka mengambil satu triliun itu mereka merasa
sedikit dan tidak berdosa.
Kalaupun dosa, dosa kecil saja.
Karena ada yang mengambil seribu triliun kok.
Terus ada
sebuah keyakinan yang aneh pada mereka bahwa
kalau saya tidak mengambil
sekarang, maka orang lain yang akan mengambil itu.
Jadi benar-benar
pemikiran mereka itu benar-benar jangka
pendek banget.
Mereka itu cuma fokus pada keuntungan pribadi
selama mereka menjabat
tanpa peduli pada dampaknya
jangka panjang.
Jadi mereka itu sudah punya mentalitas menikmati
sekarang urusan belakangan.
Mereka lebih peduli tentang
bagaimana mempertahankan posisi dan
kekuasaan daripada memikirkan
masa depan negara.
Dan mereka itu merasa mereka itu
punya jejari, punya koneksi yang kuat.
Mungkin dengan kepolisian,
mungkin dengan pengadilan.
Sehingga mereka
tidak akan terkena konsekuensi yang serius.
Mereka percaya bahwa
sistem hukum Indonesia itu sudah kadung,
bisa dibeli atau dimanipulasi.
Jadi mereka aman-aman aja selama mereka masih
pegang uang banyak untuk bayarin,
bayarin hakim, bayarin jaksa,
bayarin segala macam.
Mereka yakin mereka bisa kembali
berkuasa meskipun pernah tertangkap.
Karena memang begitu kan keadaan di Indonesia.
Ada pejabat yang jelas-jelas korupsi
sudah dihukum, dipenjara bertahun-tahun.
Balik lagi, bisa nyalon lagi kok.
Jadi itu membuat
sebuah stigma
yang menormalisasi kejahatan
korupsi itu.
Itu kan serem sekali. Itu segimana?
Kalau sistem ini
masih tetap ada, ya korupsi akan terus ada.
Kalau mentalitas
rakus, hedonis ini masih
tetap ada, korupsi tidak akan
mati. Itu yang membuat saya
hopeless. Saya tidak tahu ya.
Anda suka nggak sih
apa yang saya rasakan gitu?
Hopeless gitu. Lihat kondisi
Indonesia itu hopeless.
Perasaan hopeless terhadap kondisi Indonesia
yang kita lihat bersama ini bisa dipahami
sih. Apalagi kalau
Anda pelajari pola sejarah
dimana selama ini
peradaban-peradaban besar di masa lalu itu
hancur karena korupsi yang dilakukan oleh
elit-elitnya. Dan terjadinya
ketidakadilan sosial pada
akhirnya. Dulu
zamannya
zaman dulu banget ya sebelum
Eropa modern ini
ada kekaisaran
Romawi kan ya. Kemudian
kalau di dalam peradaban Islam itu
ada sampai dinasti Abasyia
sampai negara modern Indonesia Soviet.
Itu semuanya mengalami
kemunduran dan kehancuran akibat
elit yang rakus dan korup
serta pemerintahan yang gagal
menjalankan keadilan tuh.
Sekarang nih,
coba pikirkan baik-baik
apakah Indonesia mengarah ke situasi
yang sama? Lihat indikator
indikatornya ya. Korupsi
sudah sistemik. Dari level bawah
banget sampai level atas
mentok. Hukum tebang pilih
hanya rakyat kecil yang dihukum
sementara elit sering lolos.
Oligarkis semakin kuat.
Ekonomi dan politik
negara dikuasai segelintir orang.
Lalu kesenjangan
sosial makin meningkat.
Rakyat makin sulit hidup
sementara elit semakin kaya.
Berikutnya adalah indikator
yang lain. Moral dan idealisme.
Pejabat runtuh. Politik itu
jadi sekedar alat mencari uang.
Udah terpenuhi semuanya kan?
Yaudah, jika
dibiarkan terus, situasi ini bukan
hanya mirip dengan negara yang hancur di masa lalu
tapi bisa lebih buruk
karena kita alami sekarang.
Itulah yang terjadi ya kita ini.
Nah,
sekarang nih kalau coba
kita renungkan bersama-sama
terus gimana nih?
Kalau memang negara ini
udah otw hancur gitu
apa yang harus kita lakukan?
Saya bertanya sama Anda
apakah solusi realistis?
Bagi Indonesia itu
negara bubarin aja lalu bentuk negara baru
realistis nggak menurut Anda?
Coba ya kita berpikir ya.
Sesuai analisis saya.
Gagasan dengan
adanya situasi yang sudah hancur
seperti ini, korupsi yang sudah
sangat sistemik seperti ini,
rakyat udah semakin menderita,
perampokan negara dilakukan
setiap hari bahkan mungkin setiap jam
tanpa ada gejala
akan berhenti.
Yang Indonesia mungkin kayak lebih baik bubar dulu deh
dan kemudian
membentuk negara baru.
Memang terdengar radikal ya.
Tapi kalau kita lihat sejarah,
banyak negara yang berubah bentuk atau mengalami
restrukturisasi besar karena
korupsi, ketidakadilan,
kegagalan sistemik, persis
dengan apa yang terjadi pada Indonesia saat ini.
Memang bubarnya negara
itu bukan solusi instan ya?
Karena ada negara yang
malah jadi tambah kacau.
Kekacauan jadi makin besar.
Kenapa? Karena nggak ada strategi yang matang.
Nah kita harus
memahami kapan sebuah
negara benar-benar harus bubar
dan bagaimana cara
membentuk sesuatu yang lebih baik setelahnya
di tanah air yang sama.
Nih ya, kita pelajari dulu
sejarah negara yang bubar dan yang
berhasil membangun sistem baru
setelah mereka memubarkan diri.
Kasus yang berhasil ya, Uni Soviet.
Uni Soviet kan menjadi
Rusia dan negara-negara baru.
Kenapa sih Uni Soviet waktu itu bubar?
Ya karena korupsi.
Ekonomi collapse, propresi politik
luar biasa. Pokoknya ancur deh.
Gara-gara korupsi.
Gara-gara mentalitas pejabatnya.
Akhirnya pecah.
Negara-negara pecahannya, Rusia,
Estonia, Latvia,
berhasil membangun negara
baru yang jauh lebih baik.
Jauh lebih bersih tata pemerintahnya.
Minimal sekali korupsinya.
Nah kalau Rusia,
sebagian negara terbesar pecahan
dari Uni Soviet, sampai dengan
hari ini, tetap banyak sisa sistem
lama yang korup. Jadi nggak
semua berhasil ya ketika
Uni Soviet pecah. Kemudian
ada Jerman Timur dan ada Jerman
Barat. Itu dua negara yang
kemudian hancur dua-duanya
karena menyatakan bersatu, menjadi
Jerman modern, Jerman sekarang.
Dulu Jerman Timur
korup sekali dan represif. Sementara
Jerman Barat lebih maju.
Nah ketika kemudian mereka bersepakat,
tembok Berlin itu runtuh, diruntuhkan oleh
mereka. Mereka bubar,
Jerman Timur bubar, Jerman Barat bubar,
tapi menyatukan diri dengan sistem yang
lebih baik. Namanya Jerman,
Jerman bersatu.
Hasilnya sampai sekarang Jerman menjadi
kekuatan ekonomi dan politik Eropa.
Kemudian Amerika Serikat
sendiri. Ada sejarahnya Amerika Serikat
itu kan. Mulai dari
kolonisasi sampai menjadi negara
baru yang sangat kuat dan maju.
Amerika dulu itu kan koloni
Eropa, terutama Inggris.
Ada Perancis dan sebagainya.
Eksploitasi luar biasa.
Nah mereka tidak berontak, tapi
tokoh-tokohnya bersepakat untuk
membangun sistem baru berdasarkan
meritokrasi dan hukum yang
lebih adil. Maka setelah
Amerika Serikat terbentuk,
dalam 200 tahun
setelah terbentuk mereka
menjadi super power dunia.
Sampai dengan hari ini.
Nah bagaimana dengan kasus negara bubar tapi
gagal? Satu itu Yugoslavia.
Ini legend ya. Karena
memang Yugoslavia ini kan bubaringnya itu
bukan sekedar korupsi tapi konflik
etnis. Hasilnya itu perang
saudara. Dan
membentuk negara-negara pecahan
yang lemah.
Jadi nggak jadi apa-apa
Yugoslavia itu.
Karena perang saudaranya sangat brutal.
Konflik etnis
instead of korupsi yang dilakukan pejabat-pejabatnya.
Lalu ada lagi
nggak negara yang gagal?
Digagalkan sih tepatnya.
Itu Libya sama Irak.
Diktator tumbang tapi jadi negara gagal.
Kenapa? Karena
memang digagalkan kalau Libya dan Irak.
Afghanistan
gimana? Afghanistan
juga negara yang digagalkan.
Jadi
ada yang berhasil
jadi negara baru
yang maju. Ada yang gagal.
Sekarang
coba ya. Kita kan boleh
membuat sebuah
hipotesis ya.
Kalau memang jalan
terbaik Indonesia bubar dulu
seperti Presiden Prabowo waktu itu juga bilang kan
Indonesia bubar tahun 2030.
Artinya kan
sebuah ide atau gegasan Indonesia bubar itu
kan ada. Nah sekarang
kita hipotesiskan.
Kalau Indonesia bubar, bagaimana strateginya?
Kan harus ada
strateginya. Jadi
jangan sampai bukan sekedar bubar
tapi udah harus membentuk blueprint
dan sistem yang baru yang
pastikan sistem itu juga
bersih. Jangan sampai kemudian
ketika bubar membentuk negara baru, eh korupsi
lagi pejabatnya. Jangan sampai.
Jadi negara baru ini
harus punya fondasi yang jauh lebih baik.
Ekonominya, hukumnya,
sistem pemerintahnya,
kesejahteraan rakyatnya,
lalu siapa yang memimpin,
bagaimana transasinya,
bagaimana
di masa Indonesia
lama yang mau bubar dengan
Indonesia baru. Ini harus jelas
dulu. Jadi kalau mau
bubar, bubarnya terencana.
Bukan malah akhirnya jadi ditunggangi oleh
kekuatan-kekuatan lain, akhirnya
bikin perang saudara, bikin chaos.
Jadi kalau Indonesia
itu mau bubar, harus
miru Cekoslovakia.
Cekoslovakia itu pecahnya
damai. Antara Ceko
dengan Slovakia. Enggak kayak
Yugoslavia, negara tetangga sama-sama
Eropa Timur yang berdarah-darah.
Cekoslovakia itu jadi Ceko
dan Slovakia. Dan mereka damai.
Dan hasilnya bagus.
Jadi Indonesia kalau mau bubar itu
jangan cuma sekedar ganti nama.
Republik Indonesia menjadi
United States of Indonesia.
Tapi nama bahasa Inggrisnya.
Tapi harus reformasi total.
Kalau hasilnya
sama saja kalau sistem yang rusak
dipelihara terus, kayak Rusia.
Untung Rusia itu kaya dan punya
Putin. Jadi nggak pecah.
Itu kira-kira kalau nggak kaya dan
nggak punya Putin, pecah juga tuh Rusia.
Lalu karena sekarang era digital
ya negara baru itu harus
dibangun dengan dasar negara digital.
Ya.
Estonia itu negara terbaik
di dalam melaksanakan model smart
governance. Hampir
semua layanan publiknya sudah digital dan
transparan. Itu Estonia.
Apakah ini realistis?
Bubar. Bisa
jadi opsi. Tapi harus dengan
strategi yang matang. Karena
saya udah nggak kuat lagi ngasih makan
pejabat-pejabat korup, ngasih makan
dengan uang pajak saya di korup.
Jadi yang ada
masalah kita dengan dewasa,
kita dengan arif bijaksana, kita memikirkan
yang terbaik bagi negara ini apa.
Kalau ternyata yang terbaik adalah
bubar, ya kita pikirkan dengan baik.
Jangan sampai berhasil
bubar, tapi nggak berhasil bikin negara baru
dengan sistem baru yang bagus.
Nggak ada malah kacau.
Kalau negara tetap bertahan,
kok saya nggak yakin ya,
bakalan ada terjadi reformasi,
kita ada reformasi
udah lebih dari 20 tahun, 25
tahun bahkannya. Tapi apa yang terjadi?
Makin korup. Jadi
ada nggak kekuatan yang
mampu mengarahkan perubahan
untuk bubar, tapi nggak bikin
negara jatuh dalam kekacauan total?
Masalahnya kan sekarang
kalau kita lihat tokoh-tokoh yang ada,
pepanatas, syirkalaannya
Indonesia itu masih sibuk
bahas masalah.
Tanpa menawarkan solusi konkrit
dan visi besar. Harusnya kan itu.
Jadi duduk bersama
memikirkan solusi konkrit atau visi besar.
Mau bubar, bubarnya gimana?
Nanti blueprint-nya yang bikin siapa?
Kalau nggak bubar,
gimana reformasinya? Walaupun saya
abstain di situ ya,
udah tahu bahwa bakal bubar lagi
kalau kayak gitu. Yang bikin reformasi
adalah tokoh-tokoh koruptor.
Jadi gimana?
Jadi tokoh-tokoh ini
lebih fokus juga pada kepentingan
yang ngepede. Popularitas,
konten yang banyak,
eh konten yang banyak,
subscriber yang banyak,
bikin konten sebanyak mungkin,
kekuasaan,
atau sekedar pertahanan dalam sistem.
Jadi sekarang itu
harusanya tokoh-tokoh bangsa
yang memang
menginginkan perjuangan bagi bangsa
itu memikirkan solusi konkrit dan visi besar
Anda kata Indonesia bubar.
Jangan nunggu Indonesia bubar.
Karena Indonesia ini saat ini udah benar-benar
seperti kapal besar yang sudah bocor.
Bocor, bocor.
Kayak Prabowo bilang bocor,
bocor, bocor, bocor.
Padahal masalahnya bukan hanya sekedar
kebocoran kan, tapi kaptennya,
kapalnya ini nggak peduli.
Semua peduli sama urusannya masing-masing.
Mereka lebih sibuk
mengembangkan posisi daripada
benar-benar memperbaiki kapal.
Kenapa sih?
Karena elit-elit politik yang pada jadi pejabat itu
sudah terkunci dalam sistem
oligarki.
Kekuasaan dikuasai segelintir orang
dan dikendalikan oleh oligarki.
Jadi mereka malah
nggak mau kalau ada perubahan besar,
nanti kenyamanan mereka akan terambil.
Karena apa?
Sistem ini menguntungkan mereka,
sehingga mereka bertahan mati-matian
dengan ilusi, halusinasi
bahwa keadaan negara itu baik-baik aja
dan sebagainya.
Dan apa yang terjadi pada masyarakat?
Kenapa rakyat Indonesia diam aja?
Karena rakyat Indonesia sudah 10 tahun
dikondisikan untuk tidak berpikir besar.
Dari mana mereka dibonsai?
Pendidikannya dibonsai, media yang mereka
baca dibonsai,
budaya populer dengan segala
macam apa yang
dipertontonkan di TikTok,
di Instagram, di mana-mana.
Itu mendesain
untuk membuat rakyat tetap sibuk
dengan masalah-masalah kecil.
Percaraan artis,
kemudian
gugatan-gugatan
skincare, terus aja gitu.
Jadi masyarakat disibukkan
dengan hal-hal yang raca-raca seperti itu
sampai nggak mampu melihat gambaran besar.
Terus kalau ada
drama-drama politik kecil, itu kan
dilihat cuma masalah aja.
Nggak mencari apa sih sesungguhnya yang terjadi
dan bagaimana kita bisa keluar dari hal seperti itu.
Memang sih,
sistemnya cukup mematikan ya,
sehingga tokoh-tokoh alternatif itu menjadi sulit
muncul sekarang. Jadi
orang-orang yang mencoba berpikir besar
dan menawarkan solusi dihambat atau diserang.
Coba anda lihat tuh komentar-komentar yang ada
di channel saya itu.
Boazernya kan banyak banget. Begitu juga
dengan yang di X, di Twitter.
Bertahun-tahun kemarin saya dihujat,
dirisakkan. Kan begitu tuh.
Jadi cuma orang-orang
yang mau main aman aja yang bisa bertahan
dalam sistem yang sangat korup seperti sekarang.
Sebenernya banyak kok yang
tahu sistem ini udah rusak.
Udah rungkat. Tapi karena
nggak ada yang menawarkan desain konkret
tentang sistem yang lebih baik. Ya udah.
Ya adanya cuma
protes aja gitu. Tapi nggak ngasih
sebuah solusi juga.
Karena pengen
ada perubahan. Kalau boleh malah
se-estrim negara itu dibubarin dan kemudian dibikin
negara baru. Tapi pada bingung
juga harus mulai dari mana gitu.
Jadi ya ini
saya nggak tahu siapa yang akan mulai
tapi kurang lebih kisih-kisihnya ya.
Kalau memang
nggak ada toko besar dengan visi besar,
yaudah ayo kita semua menciptakan visi itu sendiri.
Bangun blueprint
peradaban baru.
Negara baru yang super kuat.
Harus ada model konkret bagaimana
negara dan sistem baru akan berjalan.
Kita lihat di Jerman. Kita lihat di Estonia.
Menjadi benchmark.
Jadi idenya
nggak abstrak. Tapi dengan konsep yang
jelas. Ekonomi, politik, sosial.
Kemudian
blockchain governance. Ekonomi
berbasis komunitas. Sistem
meritokrasi islami. Semua
itu harus diuji dan diperdebatkan
oleh toko-toko.
Oleh orang-orang yang mau berpikir. Oleh orang yang
mau cerdas. Nah
kemudian oligarki kan sekarang bertahan
karena sistemnya makin lama makin centralized.
Mereka bisa mengontrol
sumber daya dan informasi kan.
Nah ini harus dibuat sebuah sistem
alternatif yang menggunakan
teknologi yang desentralisasi.
Sehingga semua bisa dilewati. Ikut digital
ikut. Tapi punya sistem sendiri.
Jadi lebih baik
bikin gerakan intelektual yang kritis
dan visioner. Dan
tidak usah terlalu reaktif dengan isu-isu kecil.
Tapi
gerakan ini harus membangun kesadaran
masyarakat tentang perubahan besar.
Butuh media, pendidikan, dan
komunitas yang bisa mendorong cara berpikir baru.
Jika sistem tidak bisa
langsung dihancurkan, ya harus di-hack
dari dalam. Sambil itu
buat sistem alternatif di luar
yang bisa berkembang secara mandiri.
Jadi
sebenarnya saya mau memberikan underline
aja. Kalau negara ini
tetap berjalan di jalur yang sama seperti
sekarang, ya kehancuran tinggal
menunggu waktu dan mungkin gak nyampe
2030. Sekarang
solusinya kalau mau diambil bubar
tapi harus bikin dulu blueprint
yang benar-benar bisa
dieksekusi.
Maka pertanyaan saya, take home
message-nya ya,
apakah kita hanya menunggu kehancuran Indonesia
atau mulai membangun solusi
dari sekarang? Jadi
kalau mau hancur ya terus gimana?
Lalu
bagaimana saran Anda? Tulis ya
pendapat Anda di kolom komentar ya.
Silahkan like, subscribe, dan bantu
share video ini agar makin
banyak rakyat Indonesia bertambah
cerdas dan kritis melihat keadaan yang terjadi.
Sampai jumpa di video berikutnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam Kebenaran.
