TERUNGKAP! Markas Alien Tersembunyi di Dasar Laut & Hangar Misterius: Fakta atau Konspirasi Besar?

Mata Ketiga
670 pengikut
Ketika mendengar kata “alien,” kebanyakan orang akan langsung membayangkan UFO dan peradaban di luar angkasa. Padahal, berbagai bukti menunjukkan bahwa makhluk luar angkasa ini telah lama tinggal di Bumi. Demi menyamarkan keberadaan mereka, sebagian memilih bersembunyi di kedalaman lautan. Mungkin saja beragam objek berperforma tinggi yang kadang melaju di bawah air itu tak lain adalah kapal patroli mereka, yang kerap disebut USO (Unidentified Submersible Object).
#markasalien
#ufo
#alien
#uso
#lautdalam
Intro
Salam sehat sejahtera, jumpa lagi di channel Mata Ketiga.
Ketika mendengar kata alien, kebanyakan orang akan langsung membayangkan UFO dan peradaban di luar angkasa.
Padahal, berbagai bukti menunjukkan bahwa mahluk luar angkasa ini telah lama tinggal di bumi.
Demi menyamarkan keberadaan mereka, sebagian memilih bersembunyi di kedalaman lautan.
Mungkin saja beragam objek berforma tinggi yang kadang melaju di bawah air itu,
tak lain adalah kapal patroli mereka, yang kerap disebut Yusso,
a non-identifiable submersible object, menyembunyikan jejak di lautan.
Jika alien ingin memantau umat manusia dari jarak dekat namun tetap aman,
mendirikan markas di dasar lautan dalam adalah pilihan cerdas.
Toh kita lebih mengenal permukaan bulan daripada isi lautan di planet kita sendiri.
Baru pada kedalaman seribu meter saja, kapal selam nuklir tercanggih pun sudah mencapai ambang batas.
Memang, wahana riset laut dalam mampu menyelam sampai lebih dari 10.000 meter,
tetapi hanya di titik tertentu dan dalam waktu terbatas.
Belum lagi, area laut dalam yang belum terpetakan jauh lebih luas dibanding permukaan daratan di seluruh bumi.
Mencari markas alien di palung-palung laut dalam ibarat berburu jarum ditumpukan jerami.
Saksi mata sejak era Kolumbus
Sebenarnya, catatan penampakan UFO sudah ada sejak zaman Kolumbus.
Dalam buku harian pelayarannya,
tertanggal 11 Oktober 1492,
Kolumbus menulis bahwa sekitar pukul 10 malam,
ia melihat cahaya terang berkilauan di tengah lautan.
Cahaya itu berkelap-kelip layaknya nyala lilin,
naik turun di langit malam dan terus berada di atas garis cakra wala.
Pedro Guterres yang ikut menyaksikan pun tak memahami apa itu.
Menariknya, beberapa jam setelah melihat cahaya misterus tersebut,
armada Kolumbus menemukan benua baru.
Kisah Faradi diundang ke markas bawah laut.
Cerita menakjubkan juga datang dari sosok pemuda bernama Faradi
yang konon pernah diajak mengunjungi markas alien di bawah laut pada suatu malam di bulan Agustus 1956.
Ketika laut sedang tenang dan ia asyik memancing di pantai berbatu,
tiba-tiba muncul makhluk humanoid setinggi sekitar 2,5 meter berkulit pucat
mengenakan pakaian ketat dan berambut rapi.
Rasa takut sempat muncul di hati Faradi.
Namun sosok tersebut rupanya bisa berkomunikasi lewat gelombang otak
menenangkan sekaligus mengundangnya berkunjung ke markas mereka.
Di antara rasa penasaran dan ketakutan, Faradi akhirnya setuju.
Makhluk itu lalu mengeluarkan sebuah kotak bercahaya.
Seketika, sebuah pesawat berbentuk piring terbang meluncur di atas permukaan laut
dan berhenti tepat di depan mereka.
Pintu pesawat terbuka menurunkan semacam tangga kecil,
lalu seorang humanoid lain yang bentuk fisiknya serupa memberikan isyarat
agar Faradi cepat naik.
Dalam kecamuk rasa cemas dan penasaran, Faradi menaiki pesawat tersebut.
Di dalam pesawat, Faradi kaget menemukan gadis kecil manusia
berusia sekitar 10 tahun bernama Elena.
Gadis itu mengaku awalnya sedang tidur di rumah,
lalu mendadak terbangun karena suara aneh dan terserut ke dalam pesawat.
Ia sempat panik, tetapi makhluk-makhluk ini tampaknya tak berniat jahat
dan berjanji akan memulangkannya.
Tak lama, melalui telepati, Faradi diminta mengganti pakaian
karena bakteri manusia berpotensi membahayakan para humanoid.
Elena sendiri dibawa ke ruangan lain, di mana ia diberi instruksi
agar menempel pada salah satu makhluk humanoid perempuan
untuk mempermudah proses adaptasi.
Begitu Faradi selesai mengenakan semacam pakaian khusus,
pesawat menyelam ke dasar laut dan akhirnya tiba di teluk Samborombon,
Argentina sebelum kembali naik ke permukaan.
Menurut humanoid, mereka sengaja menempuh jalur bawah laut
agar tidak terdeteksi radar manusia.
Pesawat terus melaju di atas air hingga perairan dekat Afrika,
lalu tiba-tiba melesat menuju ruang angkasa.
Dari luar angkasa, Faradi menyaksikan penampakan bumi dan bulan
dengan sangat jelas, suatu hal yang di era 1950-an belum dikenal luas.
Para humanoid menyebut bahwa mereka menggunakan jalur terprojeksi
untuk melakukan perjalanan jarak jauh dan bisa memasuki bumi dalam sekejap.
Namun tanpa diduga, pesawat lalu mendarat kembali di bawah laut,
kali ini di perairan teluk Meksiko.
Ketika keluar, Faradi dan Elena mendapati diri mereka
berada dalam bangunan berkubah kaca besar di dasar laut
seperti sebuah kota bawah air lengkap dengan bangunan-bangunan lain
dan deretan pesawat serupa.
Para humanoid menjelaskan bahwa tempat itu adalah
pusat perbaikan pesawat mereka.
Faradi dan Elena diajak berkeliling,
diberi cairan aneh tak berasa yang membuat mereka tertidur.
Saat bangun, keduanya menyadari bahwa walau tanpa bicara,
mereka bisa saling memahami pikiran, efek telepati sementara dari cairan tadi.
Yang paling mengejutkan, para humanoid menyebut bahwa manusia adalah ras asli bumi
karena memiliki kelenjar pineal mirip milik mereka yang belum diaktifkan.
Sebagian besar makhluk lain di bumi diyakini sebagai ras campuran dari peradaban alien kuno.
Jika kelenjar pineal manusia diaktifkan,
manusia dapat mendengar pikiran satu sama lain.
Konon, di masa depan,
para humanoid ini mungkin akan meminta bantuan umat manusia.
Tak lama setelah penjelasan itu,
Faraday dan Elena kehilangan kesadaran.
Saat sadar, mereka sudah kembali ke tempat awal.
Kisah ini kian menumbuhkan teori astronot kuno.
Mengingat di peninggalan Sumeria dan Maya,
terdapat pola yang menyerupai roket atau piring terbang.
Siapa tahu pada masa silam,
manusia memang sudah berinteraksi dengan teknologi maju dari luar bumi,
bahkan sempat diajak menjelajah antariksa seperti Faraday.
Kejadian lain juga pernah dilaporkan di pesisir Barat Amerika Serikat
pada dini hari di tahun 1957.
Kaiho, seorang sopir truk,
mendapati truknya mendadak mogok di jalan pesisir Playa Del Rey, Los Angeles.
Ternyata, ada tiga truk lain yang juga mati mesin secara bersamaan.
Saat mereka kebingungan,
muncul benda bulat di selubungi kabut biru di atas permukaan laut.
Benda itu bergerak turun hingga hanya beberapa meter di atas air,
lalu berubah warna menjadi putih susu dengan dua lingkaran logam di sekitar tubuhnya,
mirip cincin Saturnus.
Tak lama, benda itu melesat cepat ke dalam laut dan lenyap.
Secara kebetulan, hari itu sekitar pukul 3.50 sore,
Markas Penerbangan Los Angeles mendapat laporan enam objek tak dikenal
yang terbang di ketinggian 2.000 meter.
Sedikitnya 13 personel melihat ukuran objek-objek itu kadang membesar, kadang mengecil.
Bersamaan, kantor polisi Long Beach kebenciran telepon dari warga
yang melihat fenomena aneh tersebut.
Anehnya, laporan tentang Yusso, UFO yang masuk ke laut di Samudera Pasifik dekat Kalifornia
terus bermunculan selama 40 tahun berikutnya.
Kabar yang beredar, mungkin ada pangkalan alien di dasar laut dekat wilayah itu,
apalagi area tersebut berada di cona armada ketiga angkatan laut AIS.
Salah satu alasan masuk akal, mengapa dasar laut menjadi tempat yang ideal?
Minimnya kemampuan manusia untuk menyelam terlalu dalam
dan terbatasnya jarak pandang di perairan gelap,
membuat laut lebih sulit dieksplorasi ketimbang permukaan bulan atau bahkan Mars.
Hangar nomor 18 di pangkalan Wright, pusat penelitian UFO.
Misteri lain muncul di Wright-Rutherson Air Force Base, Ohio, khususnya hangar nomor 18.
Pangkalan seluas sekitar 100 km persegi ini merupakan kantor komando perlengkapan AU,
Wing Angkatan Udara 445 dan Akademi Teknologi AU.
Berbagai pesawat tempur legendaris AIS juga dikembangkan di sini,
seperti U-2, SR-71 Blackbird dan F-117 Nighthawk.
Dari dokumen FBI yang dideklasifikasi,
terungkap bahwa setiap peruntuhan piring terbang yang jatuh di berbagai insiden di bawah kepangkalan ini,
tepatnya ke hangar nomor 18 yang paling dirahasiakan.
Konon, ketika insiden Roswell terjadi,
serpihan UFO dan kemungkinan jasad makhluk non-manusia turut tiba-tiba di hangar tersebut.
Para personel yang masuk hangar 18 pun kabarnya wajib menanatangani perjanjian kerahasiaan ketat.
Dua narasumber yang pernah berkaitan dengan pangkalan ini,
yakni Marion Blackmag McWooder, pahlawan perang dunia 2 sekaligus siswa akademik tempur AU,
dan John Corian, pengetik dinas intelijen,
membebirkan informasi yang sama-sama mengejutkan menjelang akhir hidup mereka.
Blackmag mengaku pernah melihat logam lentur yang ringan namun tak bisa dipotong mesin biasa,
serta sempat menyaksikan mayat alien berukuran kecil, berkepala besar, lengan panjang, dan hanya 4 jari.
Sedangkan Corian mengaku kerap mengetik laporan rahasia terkait tiga insiden jatuhnya UFO
yang membawa total 30 jasad makhluk non-manusia.
Mereka disimpan di gudang bersuhu minus 120 derajat.
Salah satu insiden tersebut melibatkan Roswell yang menyumbang dua jasad alien.
Meski pengawasan ketat membuat Corian tak pernah melihat langsung,
ia tahu setapangkalan menyebut makhluk itu si hijau kecil.
Dokumen lain yang dideklasifikasi mengungkap proyek Silverbug,
ratusan halaman rancangan pesawat berbentuk cakram
yang mampu lepas landas dan mendarat vertikal.
Meskipun tak dijelaskan detail keberhasilannya,
hal ini membuktikan angkatan udara di pangkalan Wright memang pernah meneliti piring terbang.
Banyak yang berspekulasi desain itu terinspirasi dari reruntuhan UFO
sehingga pemerintah AS mulai mengembangkan teknologi serupa.
Insiden Roswell Fakta atau Fiksi
Insiden Roswell tahun 1947 tetap menjadi sorotan utama dalam teori konspirasi UFO.
Pada dokumen yang telah dideklasifikasi memang terlihat banyak ringkasan penyelidikan,
namun mayoritas membahas balon cuaca dan laporan penampakan.
Tak ada berkas terkait mayat alien atau Hangar 18.
Meski begitu, saksi-saksi kunci seperti Mayor Marshall,
petugas pengumpul serpihan dan putranya menceritakan adanya lembaran logam super ringan
yang kembali ke bentuk semula jika ditekuk, lengkap dengan simbol berwarna ungu.
Bagi banyak orang, ini cukup meyakinkan bahwa peristiwa Roswell bukan isapan jempol.
Ada kemungkinan sisa teknologi yang memicu pembangunan pesawat aneh ala piring terbang.
Area 51 menjadi ikon teori konspirasi.
Tak hanya Raik Vettersen, pangkalan Area 51 di Nevada juga lekat dengan rumor alien dan pesawat misterius.
Pemerintah AS bahkan lama tidak mengekui kehadiran Area 51.
Tempat ini dilindungi aturan ketat, larangan melintas di udara hingga radius 40 km,
personel penjaga bersenjata, dan denda besar bagi penyusu.
Beberapa titik pandang gunung yang dulu bisa digunakan untuk mengintip,
seperti Raik Point dan Ticabo Peak, akhirnya ditutup pemerintah sekitar tahun 1995.
Dalam catatan CIA yang kemudian dideklasifikasi, terungkap bahwa Area 51 awalnya digunakan
untuk uji coba rahasia pesawat mata-mata U-2 pada 1955.
Pesawat ini sanggup terbang di ketinggian 18.288 meter melampaui batas normal.
Waktu itu, orang-orang yang melihatnya tentu kebingungan karena belum pernah menyaksikan
pesawat terbang setinggi itu sehingga tak heran mereka melaporkannya sebagai UFO.
Walau dokumen CIA mengurai banyak hal soal U-2, banyak bagian tetap disensor sehingga teori
mengenai riset alien di Area 51 tetap sulit dibuktikan.
Bisa saja, informasi rahasia lain masih tersimpan rapi.
Misteri yang terus berlanjut
Dari markas bawah laut di Palung Laut Dalam hingga hangar superrahasia seperti hangar 18
di Pangkalan Raik atau Area 51 di Nevada, setiap keping informasi menuntun kita pada
pertanyaan yang sama. Apakah memang ada kerjasama rahasia antara militer AS dan
makhluk luar angkasa? Atau semua ini hanya rangkaian riset senjata dan teknologi futuristik
semata? Fakta-fakta yang terungkap sejauh ini memang menegangkan, menyentuh rasa penasaran
kita tentang apa yang sesungguhnya terjadi di balik tirai rahasia tersebut.
Pada akhirnya, topik tentang alien dan UFO akan selalu mengundang banyak pertanyaan dan spekulasi.
Adakah markas bawah laut yang benar-benar eksis? Apakah Area 51 menyimpan bukti otentik
keberadaan alien? Hingga kini, kita belum punya jawaban pasti.
Namun, seiring semakin terbukanya akses informasi dan teknologi pemetaan,
mungkin suatu saat pertanyaan ini akan terjawab. Entah itu menyingkap realitas makhluk lain yang
telah lama mengamati kita, atau sekadar membuktikan kreativitas manusia dalam menciptakan
teknologi mutakhir, kisah-kisah ini akan terus hidup dalam imajinasi dan perburuan
kebenaran umat manusia. Cukup sekian dulu. Terima kasih atas perhatiannya.
