ORASI_EVITA NAILA SA'ADAH_MAN 3 BANYUWANGI_PERAN PEMUDA DALAM
Evita Naila S
40 pengikut
📚[IYLF #3 - Indonesian Youth Literacy Festival]
Berkarya dan Berbahasa: Generasi Literasi, Generasi Prestasi
Salam Cendekiawan Muda!
Saya Evita Naila Sa'adah dari MAN 3 Banyuwangi siap berkontribusi dan menjadi bagian dari IYLF dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 2025 yang diselenggarakan oleh UKM Riset, Pengabdian dan Bahasa Politeknik Negeri Banyuwangi.
Yuk, kita bangun semangat literasi melalui karya dan bahasa yang membawa perubahan positif untuk generasi bangsa.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Bapak Ibu Dewan Curi, serta rekan-rekan pemuda yang saya banggakan.
Marilah, kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karena berkat rahmat dan karunianya, kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat pada kesempatan yang berbahagia ini.
Sebelumnya, izinkan saya, Evita Naila Saadah, untuk menyampaikan orasi kebangsaan dengan tema
Peran pemuda dalam meningkatkan literasi di era digital.
Saudara-saudara, kita semua tahu era digital memberi kita akses yang luar biasa.
Informasi dari berbagai belahan dunia bisa kita dapatkan hanya dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan ini ibarat pedang bermata dua.
Di satu sisi memberikan manfaat, di sisi lain membawa ancaman.
Ancaman itu adalah banjir informasi yang tidak semuanya benar, alias hoax.
Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh sebuah demonstrasi besar yang sempat heboh.
Banyak massa turun ke jalan menyuarakan aspirasi dengan semangat membara.
Sayangnya, tidak sedikit dari peserta maupun pendukung aksi itu terprovokasi
oleh berita-berita palsu yang beredar di media sosial.
Akibatnya, bukan solusi yang melahir, justru kericuhan yang terjadi.
Peristiwa itu mengajarkan kepada kita bahwa rendahnya literasi digital masyarakat dapat berakibat fatal.
Salah faham, mudah terprovokasi, bahkan bisa memecah belah bangsa.
Saudara-saudara sekalian, disinilah peran pemuda menjadi sangat penting.
Pemuda adalah generasi yang paling dekat dengan teknologi.
Hampir setiap hari kita bersentuhan dengan ponsel pintar, media sosial, dan internet.
Karena itu, pemuda punya tanggung jawab moral untuk tidak hanya menjadi pemuda pasif,
tetapi juga agen literasi digital.
Kita perlu belajar dari sejarah.
97 tahun lalu, para pemuda Indonesia berkumpul dan mengikrarkan sumpah pemuda.
Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Saat itu, pemuda menjadi simbol persatuan dan kekuatan bangsa.
Sekarang, di era digital, sumpah itu harus kita hidupkan kembali.
Dengan satu komitmen untuk melawan hoax, satu tekad untuk menyebarkan ilmu, dan satu semangat untuk memperkuat literasi.
Ada beberapa langkah nyata yang bisa kita lakukan.
Pertama, menjadi penyari, bukan sekedar penyebar informasi.
Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada akal sehat kita.
Sebelum membagikan sebuah berita, pastikan kebenarannya dari sumber terpercaya.
Kedua, membangun budaya membaca dan menulis di ruang digital.
Pemuda bisa memanfaatkan blog, podcast, atau media sosial untuk menyebarkan pengetahuan, bukan sekedar hiburan kosong.
Ketiga, mengajak lingkungan sekitar lebih cerdas digital.
Literasi bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga kolektif.
Pemuda bisa membuat komunitas literasi, diskusi online, atau sekedar mengedukasi teman dan keluarga tentang bahaya hoax.
Saudara-saudara, jika pemuda hari ini sibuk dengan literasi,
maka bangsa besok akan terhindar dari manipulasi.
Sebaliknya, jika pemuda hari ini lalai, maka bangsa esok akan mudah terpecah oleh berita palsu.
Bung Karno pernah berkata,
Beri aku sepuluh pemuda, miscaya akan kukencangkan dunia.
Maka, di era digital ini, beri Indonesia sepuluh pemuda yang melek literasi.
Miscaya, kita akan menciptakan bangsa yang kuat, cerdas, dan bermartabat.
Saudara-saudara, marilah kita jadikan momentum ini untuk berkomitmen bersama.
Pemuda bukan hanya penerus bangsa, tetapi juga penentu arah bangsa.
Dengan literasi yang kuat, kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengendali masa depan.
Atas nama siswa Indonesia, mari kita bersatu memperjuangkan kebangkitan negeri.
Bukan hanya bangkit dalam kata, melainkan bangkit dengan nyata.
Bersama, kita menjadi generasi literasi yang sanggup menggali potensi diri dan menegakkan kejayaan bangsa.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
