“Ramalan Newton yang Terlupakan: Apakah Dunia Akan Hancur di Tahun 2060?”

Mata Ketiga
670 pengikut
23 Februari 2003 tercatat sebagai salah satu hari paling mengejutkan dalam sejarah ilmu pengetahuan modern. Bukan karena adanya penemuan baru atau peluncuran misi luar angkasa, melainkan karena sosok legendaris yang telah meninggal lebih dari 300 tahun lalu — Isaac Newton — tiba-tiba menjadi pusat perbincangan dunia.
Apakah Newton bangkit dari kubur? Tentu tidak.
Namun, sebuah berita utama dari surat kabar ternama Inggris, The Daily Telegraph, telah mengguncang dunia: Newton pernah membuat sebuah perhitungan yang sangat mendetail dan mengungkap bahwa akhir zaman akan terjadi pada tahun 2060.
#ramalanmewton
#isaacnewton
#ramalan
#mataketiga
Intro
Salam sehat sejahtera, jumpa lagi di channel Mata Ketiga
22 Februari 2003
tercatat sebagai salah satu hari paling mengejutkan
dalam sejarah ilmu pengetahuan modern.
Bukan karena adanya penemuan baru atau peluncuran misi luar angkasa,
Melainkan karena sosok legendaris yang telah meninggal lebih dari 300 tahun lalu,
Isaac Newton tiba-tiba menjadi pusat perbincangan dunia.
Apakah Newton bangkit dari kubur?
Tentu tidak.
Namun sebuah berita utama dari surat kabar ternama Inggris,
The Daily Telegraph, telah mengguncang dunia.
Newton pernah membuat sebuah perhitungan yang sangat mendetail dan mengungkap bahwa
Berita ini langsung menyebar luas.
Dunia akademik terguncang,
masyarakat awam panik,
dan komunitas spiritual serta religius pun
mulai mendiskusikannya dengan penuh gairah.
Jika benar perhitungan itu berasal dari Newton,
sosok jenius paling berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan,
maka artinya
kita hanya memiliki 57 tahun sebelum dunia yang kita kenal ini berakhir.
Banyak yang meragukan berita ini.
Namun The Daily Telegraph bukanlah media sensasional.
Ini adalah institusi press yang memiliki sejarah panjang dan kredibilitas tinggi.
Bahkan mereka menegaskan bahwa laporan ini
akan dibahas lebih lanjut dalam sebuah dokumenter yang segera ditayangkan oleh BBC,
menggali misi tersembunyi dari sosok Newton
yang selama ini luput dari perhatian publik.
Newton, ilmuwan brilian dengan ketertarikan mendalam pada teologi dan misteri.
Isaac Newton dikenal dunia sebagai jenius di bidang fisika dan matematika.
Ia bukan hanya penemu hukum gravitasi universal,
tetapi juga pencetus teori gerak, pelopor kalkulus,
serta peneliti optik yang berhasil memecahkan cahaya putih menjadi spektrum tujuh warna.
Namun dibalik ketenarannya sebagai ilmuwan,
tersimpan sisi gelap dan misterus dari Newton yang jarang diungkapkan.
Minat mendalamnya terhadap teologi, nubuatan akhir jaman, dan alkimia.
Banyak orang tidak tahu bahwa lebih dari 80% tulisan-tulisan Newton
bukan tentang fisika atau matematika,
tetapi tentang tafsir kitab suci, prediksi masa depan, dan eksperimen spiritual.
Newton menulis lebih dari 1,4 juta kata mengenai tafsir alkitab dan nubuatan,
sebuah jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan karya ilmiahnya.
Ia bahkan percaya bahwa dirinya adalah salah satu dari sedikit orang yang dipilih Tuhan
untuk membongkar rahasia tersembunyi dalam kitab suci, khususnya dalam kitab Daniel dan Wahyu.
William Stokely, salah satu teman sekaligus penulis biografi Newton,
menulis,
nyaris tidak ada seorang pun di Inggris yang membaca alkitab sedalam dan setekun Newton.
Salah satu titik awal obsesinya dimulai dari percobaan optik yang terkenal.
Saat Newton memecah cahaya putih dari matahari menggunakan prisma,
ia menemukan bahwa cahaya itu membentuk tujuh warna utama,
merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.
Bagi Newton, angka tujuh bukan sembarang angka.
Ia percaya bahwa angka ini mengandung makna spiritual dan simbolik yang dalam.
Dalam kitab kejadian, Tuhan menciptakan dunia dalam tujuh hari.
Setelah banjir besar,
Tuhan membuat perjanjian dengan umat manusia dengan pelangi sebagai simbolnya,
dan pelangi juga terdiri dari tujuh warna.
Simbolisme angka tujuh terus muncul di berbagai tradisi kuno,
termasuk dalam filsafat Aristoteles dan dalam ilmu alkimia
yang berkembang pesat di Eropa abad pertengahan.
Dalam alkimia, dipercaya bahwa semua logam berasal dari tujuh elemen dasar,
emas, perak, tembaga, besi, timah, timbal dan raksa.
Newton menemukan bahwa simbolisme ini terlalu berulang dan presisi untuk dianggap kebetulan.
Dunia rahasia alkimia, eksperimen Newton yang tersembunyi.
Newton bukan hanya mempelajari alkimia dari buku,
ia juga mempraktekannya secara langsung.
Di laboratoriumnya di Universitas Cambridge,
ditemukan ratusan manuskrip dan catatan eksperimen alkimia,
termasuk rumus-rumus rumit yang hingga kini masih membingungkan para ilmuwan.
Tujuan Newton dalam alkimia bukanlah untuk menciptakan emas atau mencari kekayaan,
tetapi lebih kepada mencari formula untuk transformasi materi,
dan lebih penting lagi, transformasi spiritual manusia.
Ia percaya bahwa dengan memahami hakikat materi,
manusia bisa memperbarui tubuhnya sendiri bahkan mencapai keabadian.
Beberapa catatan menunjukkan bahwa Newton
memiliki keyakinan bahwa tubuh manusia bisa diubah,
entah dengan ritual tertentu atau zat tertentu,
agar selasalnya tidak rusak, tidak menua, bahkan bisa menjadi abadi.
Ia juga menunjukkan ketertarikan terhadap tubuh-tubuh suci para bhiksu Buddha
dan santo kristen yang tidak membusuk setelah wafat.
Menurutnya, bahwa transformasi tubuh adalah hal yang mungkin.
Penemuan Yang Disembunyikan Manuskrip Terkunci 200 Tahun
Sayangnya, pemikiran Newton tentang alkimia dan teologi
dianggap menyimpang oleh masyarakat Inggris
yang mayoritas beragama kristen konservatif.
Setelah kematiannya,
banyak manuskrip pribadinya dikunci di loteng rumah keluarganya
selama lebih dari 200 tahun.
Baru pada tahun 1936,
manuskrip-manuskrip itu dilelang oleh rumah lelang ternama Satebis
dan kemudian disumbangkan ke Perpustakaan Nasional Israel.
Ironisnya, perpustakaan pun awalnya tidak tertarik pada isinya,
dan manuskrip-manuskrip itu hanya disimpan tanpa dieksplorasi lebih jauh.
Hingga era digitalisasi tiba pada 1990-an,
para peneliti mulai memindai dan mengaksibkan ribuan halaman tulisan tentang Newton.
Di antara tumpukan kertas tua itu,
seorang peneliti menemukan sebuah catatan kecil,
tampaknya tidak penting.
Namun di dalamnya tertulis satu angka yang mengguncang dunia,
2060, dengan label akhir jaman.
Newton menggunakan kitab Daniel
salah satu kitab nubuatan dalam Alkitab
sebagai dasar perhitungannya.
Dalam pasal ke-9,
disebutkan tentang 70 minggu yang sering ditafsirkan oleh para ahli
sebagai 70 x 7 sama dengan 490 tahun.
Newton membagi periode ini menjadi 3 fase utama.
1. 7 Minggu 49 Tahun,
dimulai dari perintah untuk membangun kembali Yerusalem.
2. 62 Minggu,
434 Tahun,
hingga kedatangan dan kematian Yesus Kristus.
3. Satu Minggu Terakhir,
7 Tahun,
masa menjelang kedatangan kedua Sang Mesias.
Dalam kitab Daniel Pasal 12,
muncul angka simbolik
waktu,
dua waktu,
dan setengah waktu.
Newton menafsirkannya sebagai 3,5 tahun
sama dengan 1260 hari,
dan berdasarkan prinsip satu hari
sama dengan satu tahun.
Maka angka itu mewakili 1260 tahun.
Newton memilih tahun 800 Masehi
sebagai titik awal hitungan.
Karena pada tahun itu,
Syaromen dinobatkan sebagai Kaisar Romawi Barat.
Maka 800 ditambah 1260
sama dengan 2060.
Kode Alkitab dan Bukti Lain Dari Era Modern
Pada tahun 1994,
Eliyahu Rips dan Doron Widstum,
dua ilmuwan Israel,
menggunakan komputer untuk mencari pola tersembunyi
dalam teks Ibrani Alkitab.
Mereka menemukan Bible Code,
metode untuk mencari huruf-huruf tersembunyi
yang membentuk kata atau frasa.
Dalam salah satu eksperimennya,
mereka menemukan kata Kennedy,
berdekatan dengan Dallas,
dan pembunuhan.
Lalu kata Hitler dengan Holocaust,
dan Edison dengan Lampu.
Bahkan nama Yitzhak Rabin
ditemukan berdekatan dengan kata pembunuh,
Amir, dan Tel Aviv.
Benar saja,
Rabin dibunuh di Tel Aviv
oleh seorang bernama Yigal Amir,
tepat seperti yang tercantum dalam kod.
Ketika mereka mencari nama Isaac Newton,
kode-kode yang muncul di sekitarnya
mencakup gravitasi dan Bible Code.
Apakah ini pertanda bahwa Newton
memang dipilih untuk menyampaikan
pesan besar dari masa lalu
untuk generasi masa kini?
Menariknya,
nubuatan tentang tahun 2060
bukan hanya datang dari Newton.
Di Tiongkok kuno,
seorang biksu dari dinasti Tang
bernama Huang Po menulis
puisi nubuatan yang dikenal sebagai
puisi nasional.
Dalam Baid ke-13,
ia menulis tentang kedatangan red rat
yang akan memakan anak-anak
dan munculnya golden steak
yang diakini oleh banyak penafsir modern
sebagai simbol perubahan besar dunia.
Menurut sistem kalender Tiongkok,
tahun 2061 adalah tahun ular emas,
sementara tahun 2060 adalah tahun naga emas.
Dalam tradisi astrologi Tiongkok,
naga emas menandakan munculnya
pemimpin besar zaman kemakmuran
atau kehancuran yang dibarengi
kelahiran dunia baru.
Jika semua tanda,
nubuatan dan fenomena ini menuju
satu titik waktu yang sama,
tahun 2060 maka kita patut merenung.
Isaac Newton menulis,
Tuhan yang maha kuasa adalah
pemilik segalanya.
Ia adalah kekekalan, keabadian
dan kesempurnaan mutlak.
Bagi Newton,
akhir zaman bukanlah kehancuran mutlak,
melainkan pergantian zaman
dari dunia lama yang penuh kerusakan
menuju dunia baru yang suci
dan penuh harapan.
Pertanyaannya bukan lagi
apakah kita percaya atau tidak,
tetapi apa yang akan kita lakukan
dengan waktu yang tersisa?
Apakah kita akan mengabaikan
pesan-pesan dari masa lalu?
Ataukah kita akan mulai
mempersiapkan diri bukan dengan
rasa takut, tapi dengan kesadaran,
pemahaman dan perubahan?
Karena bisa jadi,
masa depan umat manusia memang
ditentukan oleh pilihan yang kita
buat hari ini.
Cukup sekian dulu.
Terima kasih atas perhatiannya.
