BAB 12 - Cermin Tarzah | Audiobook Indonesia Harry Potter Dan Batu Bertuah

Generasi Z
10 pengikut
1 Tayangan video·20 Jan 2026
Harry Potter dan Batu Bertuah
Bab 12
Cermin Tarsah
Natal hampir tiba.
Suatu pagi di pertengahan Desember,
Hogwarts terbangun dalam keadaan sudah berselimut salju setebal kira-kira 1 meter.
Danau sudah keras membeku.
Dan si kembar Weasley dihukum karena menyihir beberapa bola salju untuk mengikuti Quirrell
dan memantul-mantul dari bagian belakang turbannya.
Sedikit burung hantu yang berhasil menembus langit berbadai salju untuk mengantar surat
harus dirawat Hagrid sampai sehat betul sebelum mereka bisa terbang lagi.
Semua sudah tersabar menunggu datangnya liburan.
Walaupun ruang rekreasi Gryffindor dan aula besar punya perapian yang menyala-nyala,
koridor-koridor yang biasa berangin telah menjadi sedingin es,
dan angin dingin kencang menerpa jendela-jendela kelas sampai bergetar.
Yang paling parah, kelas Profesor Snape di ruang bawah tanah.
Di dalam ruang itu napas mereka langsung berubah jadi kabut di depan mata,
dan mereka berusaha berada sedekat mungkin dengan kuali-kuali panas mereka.
Aku sungguh kasihan, kata Draco Malfoy dalam salah satu pelajaran ramuan,
pada semua anak yang terpaksa tinggal di Hogwarts selama liburan Natal
karena mereka tidak diinginkan di rumahnya.
Dia bicara begitu sambil menoleh memandang Harry.
Gryff dan Goyle tertawa-tawa kecil.
Harry yang sedang menakar bubuk tulang punggung ikan lepu tidak memedulikan mereka.
Malfoy menjadi semakin menyebalkan sejak pertandingan Quidditch yang lalu.
Kesal karena Slytherin kalah,
dia mencoba membuat lelucon dengan mengatakan kodok bermulut besar
akan menggantikan Harry sebagai Seeker dalam pertandingan berikutnya.
Kemudian disadarinya bahwa tak seorang pun menganggap ini lucu,
karena anak-anak amat terkesan dengan bagaimana Harry bisa bertahan di atas sapunya yang menggila.
Maka Malfoy yang iri dan marah,
kembali mengejek Harry dengan mengungkit-ungkit bahwa Harry tak punya keluarga.
Memang betul, Harry tidak akan pulang ke Priset Drive Natal ini.
Profesor McGonagall telah berkeliling minggu sebelumnya
mencatat nama anak-anak yang akan tinggal di Hogwarts selama liburan
dan Harry langsung mendaftar.
Dia sendiri sama sekali tidak berkecil hati.
Mungkin ini bahkan akan jadi Natal paling menyenangkan baginya.
Ron dan kakak-kakaknya juga akan tinggal
karena Mister dan Mrs. Weasley akan ke rumah Nia untuk menengok Charlie.
Ketika meninggalkan ruang bawah tanah pada akhir pelajaran ramuan,
mereka melihat pohon cemara besar memblokir koridor di depan.
Dua kaki raksasa yang muncul di bagian bawahnya
dan napas keras tersengal-sengal memberitahu mereka
Hagrid ada di belakang pohon itu.
Hai, Hagrid. Perlu bantuan?
Ron bertanya, seraya menjulurkan kepalanya di antara dahan-dahan.
Tidak, aku tak apa. Terima kasih, Ron.
Minggir! Terdengar geram dingin Malfoy dari belakang mereka.
Apa kau mencoba cari uang tambahan, Weasley?
Kepingin jadi pengawas binatang liar juga setelah meninggalkan Hogwarts rupanya.
Gubuk Hagrid pastilah seperti istana dibanding rumah keluargamu.
Ron menerjang Malfoy tepat ketika Snape menaiki tangga.
Weasley!
Ron melepas bagian depan jubah Malfoy.
Dia diprovokasi, Profesor Snape?
Kata Hagrid seraya melongokkan wajah yang besar berbulu dari balik pohon.
Malfoy menghina keluarganya.
Kalaupun betul begitu, berkelahi dilarang di Hogwarts, Hagrid, Tukas Snape.
Lima angka dipotong dari Gryffindor, Weasley, dan berterima kasihlah tidak lebih dari itu.
Ayo, semua jalan terus.
Malfoy, Crepe, dan Goyle menerobos kasar melewati pohon sambil menyeringai
membuat daun-daun cemara rontok berhamburan.
Akanku beri dia pelajaran, kata Ron sambil mengertak gigi di balik punggung Malfoy.
Suatu hari nanti, ku beri dia pelajaran.
Aku benci mereka berdua, kata Harry, Malfoy, dan Snape.
Ayo, bergembiralah, sudah hampir Natal, kata Hagrid.
Begini saja, ikut aku dan lihat aula besar.
Bagus sekali!
Maka Harry, Ron, dan Hermione mengikuti Hagrid dan pohon cemaranya ke aula besar.
Profesor McGonagall dan Profesor Flitwick sedang sibuk menangani dekorasi Natal.
Ah, Hagrid, pohon terakhir, taruh saja di sudut paling jauh.
Aula itu tampak spektakuler.
Rangkaian Holy dan Mistletoe bergantungan di sepanjang dinding
dan tak kurang dari dua belas pohon Natal menjulang tinggi di sekeliling ruangan.
Beberapa berkilau dengan untayan air yang membeku,
yang lain berkelap-kelip dengan ratusan lilin.
Berapa hari lagi sebelum kalian libur, tanya Hagrid.
Tinggal satu hari, kata Hermione.
Dan aku jadi ingat,
Harry, Ron, kita punya waktu setengah jam sebelum makan siang.
Kita harusnya ada di perpustakaan.
Oh yeah, kau benar, kata Ron,
dengan susah payah mengelihkan pandangannya dari Profesor Flitwick
yang membuat gelembung-gelembung emas bermunculan dari ujung tongkatnya
dan menggantungkannya di dahan-dahan pohon baru tadi.
Perpustakaan, kata Hagrid, mengikuti mereka meninggalkan aula.
Sehari sebelum liburan, rajin amat.
Oh, kami tidak belajar, kata Harry Riang.
Sejak kau menyebut Nicholas Flamel, kami berusaha mencari tahu siapa dia.
Apa?
Dengar, sudah aku bilang, lupakan.
Tidak ada hubungannya dengan yang dijaga anjing itu.
Kami ingin tahu siapa Nicholas Flamel, cuma itu, kata Hermione.
Kecuali, kau mau memberitahu kami, jadi kami tak perlu repot-repot.
Kami sudah membuka-buka lebih dari seratus buku,
dan kami tidak bisa menemukannya di mana-mana.
Coba beri kami petunjuk.
Rasanya aku sudah pernah membaca nama itu entah di mana.
Aku tak mau bilang apa-apa, kata Hagrid Datar.
Kalau begitu, ya kami cari sendiri, kata Ron.
Mereka lalu meninggalkan Hagrid yang tidak puas dan bergegas menuju perpustakaan.
Mereka memang sudah mencari-cari nama Flamel di buku sejak Hagrid keceplosan.
Sebab, kalau tidak, bagaimana mereka bisa tahu apa yang ingin dicuri snip?
Sulitnya, susah sekali mengetahui dari mana mereka harus mulai.
Karena tak tahu apa yang pernah dilakukan Flamel yang membuat namanya layak disebut di buku.
Dia tidak ada dalam buku penyihir besar abad 20,
atau nama-nama terkenal di dunia sihir masa kini.
Namanya juga tak disebut dalam penemuan-penemuan penting sihir modern,
dan perkembangan terakhir dalam dunia sihir.
Dan tentu saja harus diingat, betapa besarnya perpustakaan itu.
Berpuluh-puluh ribu buku, beribu-ribu rak, beratus-ratus deret sempit.
Hermione mengeluarkan sederet topik dan judul yang telah diputuskannya akan ia cari,
sementara Ron berjalan menyusuri deretan buku,
dan mulai menarik beberapa di antaranya secara acak.
Harry berjalan ke seksi terlarang.
Selama beberapa waktu, dia telah berpikir, jangan-jangan nama Flamel ada di sana.
Sayangnya kau perlu surat keterangan yang ditandatangani salah satu guru
untuk bisa meminjam salah satu buku terlarang itu,
dan Harry tahu dia tak akan memperoleh surat semacam itu.
Yang ada di bagian ini adalah buku-buku berisi sihir hitam manjur
yang tak pernah diajarkan di Hogwarts,
dan hanya dibaca oleh murid-murid kelas lebih tinggi
yang pelajarannya tentang pertahanan terhadap ilmu hitam sudah jauh lebih maju.
Kau cari apa, nak?
Tidak cari apa-apa, jawab Harry.
Madame Pins, petugas perpustakaan,
mengacungkan pembersih yang terbuat dari bulu ayam pada Harry.
Kalau begitu, lebih baik kau keluar.
Ayo, keluar.
Harry menyesal tidak sedikit lebih cepat memikirkan alasan.
Harry meninggalkan perpustakaan.
Bersama Ron dan Hermione,
ketiganya sudah sepakat tidak akan bertanya kepada Madame Pins
di mana mereka bisa menemukan Flamel.
Mereka yakin Madame Pins akan bisa memberitahu mereka,
tetapi mereka tak mau mengambil resiko Snape mendengar apa yang mereka lakukan.
Harry menunggu di koridor.
Kalo-kalo kedua temannya menemukan sesuatu,
tetapi dia tak terlalu berharap.
Mereka memang sudah mencari selama dua minggu,
tetapi karena hanya mencari pada waktu-waktu di antara pelajaran,
tidaklah mengenarkan mereka belum menemukan apa-apa.
Yang mereka butuhkan adalah pencarian panjang
tanpa Madame Pins mencurigai mereka.
Lima menit kemudian, Ron dan Hermione bergabung dengannya,
menggelengkan kepala.
Mereka pergi makan siang.
Kalian akan terus mencari selama aku tak adakan, kata Hermione,
dan kirim burung hantu padaku kalau kalian menemukan sesuatu.
Dan kau bisa bertanya kepada orang tuamu,
kalo-kalo mereka tahu siapa Flamel, kata Ron.
Aman bertanya kepada mereka.
Sangat aman karena mereka berdua dokter gigi, kata Hermione.
Begitu liburan mulai, Ron dan Harry kelewat senang
sehingga tak sempat memikirkan Flamel.
Kamar mereka hanya berisi mereka berdua
dan ruang rekreasi jauh lebih kosong daripada biasanya.
Jadi mereka bisa duduk di kursi berlengan nyaman dikat perapian.
Mereka duduk lama sekali sambil makan segala macam
yang bisa mereka tusuk dengan garpu panggang roti,
kue, manisan, dan merencanakan cara-cara
membuat Malfoy dikeluarkan.
Asik sekali membicarakan itu,
walaupun jelas tidak akan terjadi.
Ron juga mengajar Harry main catur sihir.
Sebetulnya persis seperti catur mugel,
hanya saja bidak-bidaknya hidup,
sehingga memainkannya serasa memimpin pasukan tentara dalam pertempuran.
Set permainan catur Ron sudah tua dan bocel-bocel.
Seperti semua benda lainnya yang dimilikinya,
papan catur itu dulunya milik orang lain dalam keluarganya,
dalam hal ini kakeknya.
Meskipun demikian,
bidak catur tua sama sekali bukan hambatan.
Ron sudah kenal baik semuanya,
sehingga dia tak pernah punya kesulitan
menyuruh mereka melakukan apa yang diinginkannya.
Harry bermain dengan buah-buah catur yang dipinjamkan Samus Finnegan,
dan mereka sama sekali tidak mau menurut kepadanya.
Dia belum pandai bermain,
dan bidak-bidak itu terus-menerus meneriakan saran-saran kepadanya,
membuatnya bingung.
Jangan suruh aku ke sana,
apa kau tidak melihat perwira itu?
Kirim dia saja,
kalau kehilangan dia sih tidak apa-apa.
Pada malam Natal,
Harry pergi tidur dengan gembira,
menantikan hari berikutnya,
mengharapkan makanan dan kegembiraan,
tetapi sama sekali tidak mengharapkan hadiah.
Meskipun demikian,
ketika pagi-pagi dia bangun,
yang pertama kali dilihatnya adalah
tumpukan kecil bungkusan di kaki tempat tidurnya.
Selamat Natal,
kata Ron masih mengantuk ketika Harry turun dari tempat tidur
dan memakai jas kamarnya.
Selamat Natal juga,
kata Harry.
Coba lihat ini,
aku dapat hadiah.
Tentu saja,
memangnya kau mengharap dapat apa?
Lobak?
Kata Ron,
menoleh memandang tumpukan hadiahnya
yang jauh lebih banyak daripada hadiah Harry.
Harry mengambil bungkusan paling atas.
Hadiah ini terbungkus kertas coklat tebal
dan di atasnya ada tulisan
Untuk Harry,
dari Hagrid.
Di dalamnya ada seruling kayu yang buatannya kasar.
Jelas Hagrid membuatnya sendiri.
Harry meniupnya.
Kedengarannya agak mirip bunyi burung hantu.
Yang kedua amplop kecil berisi surat pendek.
Kami menerima pesanmu
dan terlampir hadiah Natalmu
dari Paman Vernon dan Bidipetunia.
Tertempel di surat itu dengan selotip
adalah sekeping uang logam 50 pensi.
Wah, mereka baik,
kata Harry.
Ron terpesona melihat keping 50 pensi itu.
Aneh,
bentuknya aja ajib.
Ini uang.
Boleh buatmu,
kata Harry.
Dia tertawa melihat betapa gembiranya Ron.
Hagrid dan Bibi dan Pamanku,
jadi siapa yang mengirim ini?
Kurasa aku tahu yang itu dari siapa,
kata Ron.
Wajahnya agak memerah.
Sraya menunjuk bungkusan yang bentuknya tak beraturan.
Ibuku,
aku bilang padanya kau tidak berharap mendapat hadiah
dan oh tidak,
dia mengeluh.
Dia membuatkanmu rompi wisli.
Harry sudah merobek bungkusan itu
dan menemukan sweater rajutan tanpa lengan
berwarna hijau zamrut
dan satu kotak besar bonbon lunak buatan sendiri.
Setiap tahun dia membuatkan kami rompi,
kata Ron.
Sraya membuka bungkusannya sendiri
dan rompiku selalu merah tua.
Ibumu baik sekali,
kata Harry.
Dia mencoba bonbonnya yang ternyata enak sekali.
Hadiahnya berikutnya juga berisi makanan kecil,
sekotak coklat kodok dari Hermione.
Tinggal satu hadiah lagi.
Harry mengambilnya dan menimbangnya.
Ringan sekali.
Dibukanya bungkus hadiah itu.
Sesuatu yang licin berwarna abu-abu keperakan
meluncur ke lantai,
teronggok berkilauan.
Ron kaget sekali.
Aku sudah mendengar tentang itu.
Katanya terpesona.
Kotak kacang segala rasa yang didapatnya
dari Hermione sampai terjatuh.
Kalau itu betul seperti dugaanku,
itu sangat langka dan sangat berharga.
Apa ini?
Harry memungut kain berkilau keperakan itu dari lantai.
Rasanya aneh,
seperti air yang ditenun menjadi kain.
Ini jubah gaib,
kata Ron.
Wajahnya tampak agum.
Aku yakin ini jubah gaib.
Coba pakai.
Harry menyampirkan jubah itu di sekeliling bahunya
dan Ron langsung memekik.
Betul.
Lihat ke bawah.
Harry memandang ke bawah ke kakinya,
tapi ternyata tak ada.
Dia berlari ke depan cermin.
Memang bayangannya memandang kepadanya,
tapi hanya kepalanya yang melayang di udara.
Seluruh tubuhnya sama sekali lenyap.
Ditariknya jubah itu menutupi kepalanya
dan bayangannya lenyap seluruhnya.
Ada suratnya,
kata Ron tiba-tiba.
Ada surat yang jatuh dari jubah itu.
Harry melepas jubahnya dan menyambar suratnya.
Tertulis dalam huruf-huruf ramping berliuk
yang belum pernah dia lihatnya,
kata-kata berikut ini.
Ayahmu menditipkannya kepadaku sebelum dia meninggal.
Sudah waktunya ini dikembalikan kepadamu.
Gunakan baik-baik.
Selamat hari Natal yang menyenangkan untukmu.
Tak ada tanda tangan.
Harry bengong memandang surat itu.
Ron sibuk mengagumi jubah itu.
Katanya,
aku rela memberikan apa saja untuk mendapatkan ini.
Apa saja.
Ada apa?
Tidak apa-apa, kata Harry.
Dia merasa sangat aneh.
Siapa yang mengirim jubah ini?
Betulkah ini dulu milik ayahnya?
Sebelum dia bisa berkata atau berpikir apa-apa lagi,
pintu kamar menjeblak terbuka keras
dan Fred dan George Weasley melompat masuk.
Harry cepat-cepat menyingkirkan jubah itu.
Dia belum rela membagikannya dengan orang lain.
Selamat Natal!
Hei, lihat!
Harry dapat rompi Weasley juga.
Fred dan George memakai rompi biru,
yang satu dengan huruf B besar kuning,
satunya lagi dengan huruf G besar kuning.
Tapi rompi Harry lebih bagus daripada punya kita,
kata Fred seraya mengangkat rompi Harry.
Jelas Mam berusaha lebih keras
kalau membuatkan sesuatu bukan untuk keluarga.
Kenapa milikmu tidak kau pakai, Ron?
George mempertanyakan.
Ayo pakai, rompinya kan dagus dan hangat.
Aku benci merah.
Ron mengeluh setengah hati
sambil menarik rompinya melewati kepalanya.
Punyamu tidak ada hurufnya.
George baru sadar.
Rupanya Mam mengira kau tidak akan melupakan namamu.
Tetapi kami tidak bodoh.
Kami tahu nama kami Great dan Forge.
Ada apa sih ribut amat?
Persi Weasley menjulurkan kepalanya ke dalam kamar.
Kelihatan tidak senang.
Rupanya dia juga baru membuka hadiahnya,
karena dia juga membawa rompi yang tersampir di tangannya.
Fred segera menyambar rompi itu.
P untuk prefek.
Pakailah persi, ayo.
Kami semua memakai rompi kami.
Bahkan Harry juga.
Aku tak mau, kata persi,
sementara si kembar memaksakan rompi itu melewati kepalanya,
membuat kacamatanya miring.
Dan hari ini kau kan tidak bersama para prefek lainnya,
kata George.
Kalau Natal kan waktu untuk keluarga.
Mereka menggiring persi keluar ruangan.
Rompinya menjepit lengannya.
Seumur hidup belum pernah Harry mengalami jamuan Natal seperti itu.
100 kalkun panggang gemuk,
segunung kentang panggang dan rebus,
berpiring-piring chipolata berminyak,
bermangkuk-mangkuk kacang polong bermentega,
bermacam-macam saus lezat,
dan bertumpuk-tumpuk petasan sihir di setiap jarak 1 meter di sepanjang meja.
Petasan luar biasa ini sama sekali lain daripada petasan magel
yang sering dibeli keluarga Dursley.
Di dalamnya ada hadiah mainan plastik kecil-kecil
dan topi kertas tipis.
Bersama Fred, Harry menarik sebuah petasan sihir.
Dan petasan itu tidak cuma meletus,
melainkan menggeligar seperti bunyi meriam
dan menyelubungi mereka semua dengan asap biru.
Sementara dari dalamnya meletup topi laksamana berwarna merah
bersama beberapa ekor tikus putih hidup.
Di meja tinggi,
Dumbledore telah menukar topi runcingnya dengan topi berbunga-bunga
dan sedang tertawa-tawa mendengar lelucon yang dibacakan Profesor Flitwick.
Puding natal menyala dihidangkan setelah kalkun panggang.
Gigi persi nyaris patah ketika dia menggigit sikel perak
yang terselip di potongan pudingnya.
Harry memandang Hagrid yang wajahnya makin lama makin merah
sementara dia terus-menerus minta tambah anggur
dan akhirnya mencium pipi Profesor MacDonald.
Betapa tercengangnya Harry melihat Profesor MacDonald terkikik
dan mukanya merah, topinya miring.
Ketika Harry akhirnya meninggalkan meja perjamuan,
dia membawa banyak hadiah dari petasan sihir
termasuk satu pak balon menyala anti pecah,
seperangkat alat untuk menumbuhkan tahil alatmu sendiri
dan set permainan catur sihir barunya.
Tikus-tikus putihnya telah menghilang
dan Harry punya perasaan tak enak mereka akan berakhir sebagai santapan natal Mrs. Norris.
Harry dan Weasley bersaudara melewatkan sore menyenangkan
dengan perang bola salju seru di halaman.
Setelah itu, kedinginan, basah kuyub, dan terengah kehabisan nafas,
mereka kembali ke depan perapian di ruang rekreasi Gryffindor.
Di tempat itu, Harry pertama kali memainkan set catur barunya
dengan hasil kalah telak dari Ron.
Dia merasa tidak akan kalah separah itu
jika Percy tidak mencoba membantunya terus-menerus.
Setelah acara minum teh sore dengan sajian sandwich kalkun,
kue-kue manis, dan kue tar natal,
semua merasa terlalu kenyang dan mengantuk untuk melakukan sesuatu sebelum tidur.
Jadi mereka duduk saja,
menonton Percy mengejar Fred dan George mengitari menara Gryffindor
karena mereka telah mencuri rencana priveknya.
Hari itu merupakan natal paling indah bagi Harry.
Meskipun demikian, ada yang mengganggu pikirannya sepanjang hari.
Sebelum dia naik ke tempat tidurnya,
dia tak bebas memikirkannya.
Jubah gaib dan pengirimnya yang entah siapa.
Ron, kekenyangan kalkun dan kue tar,
dan tanpa ada hal misterius yang mengganggunya,
langsung tertidur begitu dia menarik ke lambu tempat tidurnya.
Harry membungkuk ke sisi tempat tidurnya
dan menarik keluar jubah gaib dari bawahnya.
Milik ayahnya, ini dulu milik ayahnya.
Dibiarkannya kain itu meluncur di tangannya,
lebih halus dari sutra, seringan udara.
Gunakan baik-baik, begitu kata suratnya.
Dia harus mencoba jubah ini sekarang.
Dia turun dari tempat tidurnya dan menyampirkan jubah itu ke tubuhnya.
Memandang ke bawah ke kakinya,
dia hanya melihat cahaya bulan dan bayang-bayang.
Gunakan baik-baik.
Mendadak, kantuk Harry lenyap.
Seluruh Hogwarts terbuka untuknya kalau dia memakai jubah ini.
Ketegangan menyenangkan mengaliri tubuhnya
saat dia berdiri dalam kegelapan dan kesunyian.
Dia bisa pergi kemanapun dengan jubah ini,
kemanapun dan Filch tidak akan tahu.
Ron mengigau dalam tidurnya.
Haruskah Harry membangunkannya?
Ada yang menahannya, jubah ayahnya.
Dia merasa bahwa kali ini,
untuk pertama kalinya, dia ingin menggunakannya sendiri.
Dia berjinjit meninggalkan kamarnya,
menuruni tangga,
menyeberangi ruang rekreasi dan memanjat keluar dari lubang lukisan.
Siapa itu?
Lengkik sinyunya gemuk.
Harry tidak menjawab.
Dia berjalan cepat-cepat sepanjang koridor.
Kemana sebaiknya?
Harry berhenti, jantungnya berdegup kencang,
dan dia berpikir.
Dan dia mendapat ide.
Seksi terlarang di perpustakaan.
Dia akan bisa membaca selama dia mau,
selama yang dibutuhkan untuk menemukan siapa Flamel.
Dia ke perpustakaan,
menarik jubah gayapnya semakin rapat
sementara dia melangkah.
Perpustakaan gelap gulita dan suasananya mengerikan.
Harry menyalakan lampu agar bisa berjalan sepanjang deretan rak-rak buku.
Lampunya seperti terbang di udara,
dan meskipun...
Harry bisa merasakan tangannya memegangi lampu itu.
Pemandangan aneh ini membuatnya ngeri.
Seksi terlarang terletak di bagian paling belakang.
Melangkah hati-hati melewati tali
yang memisahkan buku-buku ini dari buku-buku lainnya di perpustakaan,
Harry mengangkat lampunya agar bisa membaca judul-judulnya.
Judul-judul itu tidak banyak membantunya.
Huruf-huruf masnya yang sudah mengelupas
membentuk kata-kata dalam bahasa yang tidak bisa dipahami Harry.
Beberapa buku bahkan tidak ada judulnya sama sekali.
Satu buku bernoda gelap yang kelihatan mirip sekali darah.
Bulu kuduk Harry berdiri.
Mungkin itu cuma perasaannya.
Mungkin juga tidak.
Tetapi Harry merasa bisikan samar terdengar dari buku-buku itu
seakan mereka tahu ada orang yang seharusnya tidak berada di situ.
Dia tuh harus mulai.
Setelah meletakkan lampunya dengan hati-hati di lantai,
dia mencari buku yang tampilannya menarik di rak paling bawah.
Sebuah buku besar hitam perak menarik perhatiannya.
Ditariknya keluar dengan susah payah
karena buku itu sangat berat.
Harry meletakkannya di atas lututnya dan membukanya.
Jeritan melengking membekukan darah memecah kesunyian.
Buku itu menjerit.
Harry cepat-cepat menutupnya kembali.
Tetapi jeritan itu terus terdengar.
Jerit melengking panjang yang memekahkan telinga.
Harry terhuyang ke belakang dan menabrak lampunya,
yang langsung padam.
Panik mendengar langkah-langkah kaki mendekat di koridor di luar.
Dijajalkannya kembali buku menjerit itu keraknya,
lalu dia lari.
Dia berpapasan dengan Vilge di dekat pintu.
Mata Vilge yang pucat dan lebar memandang menembusnya.
Dan Harry menyelusup di bawah lengan Vilge yang terentang
dan berlari sepanjang koridor.
Jeritan si buku masih melengking di telinganya.
Dia berhenti mendadak di depan seperangkat baju zirah tinggi.
Dia terlalu sibuk kabur dari perpustakaan
sampai tidak memperhatikan arah larinya.
Mungkin karena gelap,
dia sama sekali tidak mengenali keadaan sekelilingnya.
Ada baju zirah di dekat dapur, dia tahu.
Tetapi dia pasti berada lima lantai di atas dapur.
Kau memintaku untuk langsung menemuimu, Profesor,
jika ada yang berkeliaran di malam hari
dan baru saja ada orang di perpustakaan seksi terlarang.
Harry merasa wajahnya memucat.
Dimanapun dia saat itu,
Vilge pastilah tahu jalan pintas
karena suaranya yang lembut dan lancar terdengar dekat.
Dan betapa kagetnya Harry,
karena ternyata Snape lah yang menjawab.
Seksi terlarang?
Yah, mereka pasti belum jauh.
Kita akan menangkap mereka.
Harry terpaku di tempatnya ketika Vilge dan Snape
muncul di sudut di depan.
Mereka tak bisa melihatnya tentu,
tetapi koridor itu menyempit
dan jika mereka lebih mendekat lagi,
mereka akan menabraknya.
Jubah itu tidak membuatnya menjadi tidak padat.
Dia mundur sepelan mungkin.
Ada pintu terbuka sedikit di sebelah kiri.
Itu satu-satunya harapan.
Dia menyelinap masuk,
menahan nafas,
berusaha tidak menyenggol pintu.
Dan betapa leganya ketika dia berhasil masuk
tanpa Snape dan Vilge menyadari.
Mereka berjalan terus
dan Harry bersandar ke dinding,
menarik nafas dalam-dalam,
mendengar langkah-langkah mereka yang semakin jauh.
Nyaris saja.
Sangat nyaris.
Baru beberapa detik kemudian
dia memperhatikan ruang tempatnya bersembunyi.
Kelihatannya itu ruang kelas yang sudah tidak terpakai.
Meja dan kursi bertumpuk di salah satu dinding.
Juga tempat sampah terbuka.
Tetapi, bersandar pada dinding,
menghadap ke arahnya,
ada sesuatu yang tampaknya tidak layak berada di situ.
Sesuatu yang kelihatannya sengaja disembunyikan di situ.
Benda itu cermin luar biasa.
Setinggi langit-langit,
dengan bingkai imas terukir.
Berdiri di atas dua cakar.
Ada tulisan terukir di bagian atasnya.
Kepanikannya mulai luntur
setelah tak terdengar lagi suara Vilge dan Snape.
Harry bergerak mendekati cermin itu,
ingin memandang dirinya,
tetapi tak melihat bayangan apapun.
Dia melangkah sampai ke depan cermin.
Dia harus menutup mulutnya dengan tangan
untuk mencegahnya menjerit.
Buru-buru dia membalik.
Jantungnya berdegup jauh lebih kencang
daripada ketika buku tadi menjerit.
Karena dia tak hanya melihat dirinya di cermin,
serombongan orang lain berdiri di belakangnya.
Tetapi ruangan itu kosong.
Dengan napas memburu,
perlahan dia menoleh kembali ke cermin.
Itu dia, terpantul di cermin,
pucat dan ketakutan.
Dan di sana, di belakangnya,
ada paling sedikit sepuluh orang lain.
Harry menoleh lewat bahunya,
tetap saja tak ada orang.
Apakah mereka semua juga tidak tampak?
Apakah sebetulnya dia berada di ruangan penuh
dengan orang-orang yang tidak tampak?
Dan keajaiban cermin itu justru
memperlihatkan semua orang itu,
yang tampak maupun yang tidak.
Kembali Harry memandang cermin.
Seorang wanita yang berdiri tepat di belakang bayangannya
tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan.
Harry mengulurkan tangan
dan merasakan udara kosong di belakangnya.
Jika wanita itu benar-benar ada di sana,
dia akan bisa menyentuhnya.
Bayangan mereka sangat berdekatan.
Tetapi dia hanya merasakan udara.
Wanita itu dan yang lain hanya ada di dalam cermin.
Wanita itu sangat cantik.
Rambutnya merah degelap dan matanya?
Matanya persis mataku,
pikir Harry beringsut mendekat ke cermin.
Hijau terang, bentuknya persis sama.
Tetapi kemudian Harry melihat wanita itu menangis,
tersenyum tetapi pada saat bersamaan menangis.
Laki-laki jangkung kurus berambut hitam
di sebelahnya memeluknya.
Laki-laki itu memakai kacamata
dan rambutnya berantakan sekali.
Rambutnya mencuat di bagian belakang,
persis seperti rambut Harry.
Harry berada dekat sekali dengan cermin sekarang
sehingga hidungnya nyaris menyentuh hidung bayangannya.
Mom?
Bisik Harry.
Dad?
Mereka hanya memandangnya, tersenyum.
Dan perlahan-lahan,
Harry memandang wajah orang-orang lain di dalam cermin
dan melihat mata-mata hijau lain seperti matanya.
Hidung lain seperti hidungnya,
bahkan seorang laki-laki tua kecil
yang lututnya menonjol seperti Harry.
Harry sedang memandang keluarganya
untuk pertama kali dalam hidupnya.
Keluarga Potter tersenyum dan melambai
dan Harry balik menatap mereka dengan tak puas-puasnya.
Kedua tangannya menekan kaca,
seakan dia berharap terjatuh ke dalamnya
dan bergabung dengan mereka.
Hatinya terasa sakit, setengah bahagia, setengah berduka.
Berapa lama dia berdiri di sana, dia tidak tahu.
Bayangan orang-orang itu tidak menghilang
dan Harry memandang terus sampai suara di kejauhan membuatnya sadar.
Dia tak bisa terus berada di sini.
Dia harus kembali ke asramanya.
Dengan amat enggan,
dia berpaling dari wajah ibunya,
berbisik.
Aku akan kembali
dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
Kau seharusnya membangunkan aku.
Kataron marah.
Kau boleh ikut malam ini.
Aku akan ke sana lagi.
Aku ingin menunjukkan cermin itu kepadamu.
Aku ingin lihat ibu dan ayahmu.
Kataron bersemangat.
Dan aku ingin melihat semua keluargamu.
Kau akan bisa menunjukkan dua kakakmu yang paling besar
dan keluargamu yang lain.
Kau bisa melihat mereka kapan saja, Kataron.
Ikutlah ke rumahku musim panas ini.
Lagipula,
mungkin cermin itu cuma menunjukkan orang-orang yang sudah meninggal.
Sayang sekali kau tidak menemukan Flamel.
Makan daging asap ini.
Atau apalah.
Kenapa kau tidak makan apa-apa?
Harry tak bisa makan.
Dia sudah melihat orang tuanya
dan akan melihat mereka lagi malam ini.
Dia sudah hampir melupakan Flamel.
Flamel kelihatannya tak begitu penting lagi.
Siapa yang peduli apa yang dijaga anjing berkepala tiga itu?
Sebetulnya,
peduli apa kalau Snape mencurinya?
Kau tak apa-apa,
tanya Ron.
Kau tampak aneh.
Yang paling ditakuti Harry adalah
dia tak bisa lagi menemukan ruang cermin itu.
Berselubung jubah,
bersama Ron,
mereka harus berjalan jauh lebih pelan pada malam berikutnya.
Mereka mencoba napak tilas rute Harry dari perpustakaan,
berputar-putar di lorong-lorong gelap selama hampir satu jam.
Aku kedinginan,
kata Ron.
Ayo kita lupakan saja dan balik ke kamar.
Tidak,
this is Harry.
Aku tahu ruang itu ada di sekitar sini.
Mereka berpapasan dengan hantu penyihir jangkung yang melayang ke arah berlawanan,
tetapi tidak bertemu siapa-siapa.
Tepat ketika Ron mulai mengeluh kakinya beku kedinginan,
Harry melihat baju zirah itu.
Itu ruangannya,
di sini,
ya.
Mereka mendorong pintunya.
Harry menjatuhkan jubah dari bahunya
dan berlari ke cermin.
Itu dia mereka.
Ayah dan ibunya tersenyum melihatnya.
Lihat,
Harry berbisik.
Aku tidak melihat apa-apa.
Lihat,
lihat mereka semua.
Kan banyak itu.
Aku cuma bisa melihatmu.
Lihat baik-baik.
Sini,
berdiri di tempatku.
Harry minggir,
tetapi dengan Ron di depan cermin,
dia tak bisa lagi melihat keluarganya,
hanya melihat Ron yang memakai piyama.
Ron, sebaliknya,
terpaku menatap bayangannya.
Lihat aku,
katanya.
Apakah kau bisa melihat semua keluargamu mengelilingimu?
Tidak,
aku sendirian,
tetapi aku berbeda.
Aku kelihatan lebih tua,
dan aku ketua murid.
Apa?
Aku,
aku memakai lenca seperti yang dulu dipakai Bill.
Dan aku memegang piyala asrama dan piyala quidditch.
Aku juga kapten quidditch.
Ron memalingkan wajah dari pemandangan luar biasa ini
untuk menatap Harry dengan bergairah.
Apakah menurutmu cermin ini memperlihatkan masa depan?
Mana bisa,
semua keluargaku sudah meninggal.
Coba aku lihat lagi.
Kau kan sudah puas melihat semalam,
beri aku kesempatan sedikit lagi.
Kau cuma memegang piyala quidditch,
apa menariknya?
Aku ingin melihat orangtuaku.
Jangan mendorongku.
Mendadak terdengar suara di koridor
mengakhiri perdebatan mereka.
Mereka tidak sadar telah bicara keras-keras.
Cepat,
Ron menyampirkan jubah ke tubuh mereka
ketika mata berkilau Mrs. Norris muncul dari balik pintu.
Ron dan Harry berdiri diam-diam,
keduanya memikirkan hal yang sama.
Apakah jubah ini berlaku untuk kucing juga?
Setelah rasanya lama sekali,
kucing iru berbalik dan pergi.
Sudah tidak aman,
siapa tahu dia menemui filch.
Pasti tadi dia mendengar kita.
Ayo!
Dan Ron menarik Harry meninggalkan ruangan itu.
Salju masih belum mencair ke esokan harinya.
Mau main catur, Harry?
Tanya Ron.
Tidak.
Bagaimana kalau kita mengunjungi Hagrid?
Tidak, kau saja.
Aku tahu apa yang kau pikirkan, Harry.
Cermin itu.
Jangan kembali ke sana malam ini.
Kenapa tidak?
Aku tak tahu, cuma perasaanku tidak enak.
Lagipula kau sudah nyaris ketahuan beberapa kali.
Filch, Snape, dan Mrs Norris berkeliaran.
Memang mereka tidak bisa melihatmu,
tapi bagaimana kalau mereka menabrakmu?
Bagaimana kalau kau menabrak sesuatu?
Kau jadi seperti Hermione.
Aku serius, Harry.
Jangan pergi.
Tapi Harry cuma memikirkan satu hal saja,
yaitu kembali ke depan cermin.
Dan Ron tak bisa menghalanginya.
Malam ketiga, dia menemukan kamar itu lebih cepat daripada sebelumnya.
Dia berjalan sangat cepat.
Dia tahu itu tidak bijaksana,
sebab dia membuat suara,
tetapi dia tidak bertemu siapa-siapa.
Dan ayah dan ibunya tersenyum lagi kepadanya.
Dan salah satu kakeknya mengangguk-angguk senang.
Harry merosot duduk di depan cermin.
Tak ada yang bisa mencegahnya tinggal di sini semalam suntuk bersama keluarganya.
Tak ada.
Kecuali?
Wah, kembali lagi, Harry.
Harry merasa seakan organ-organ tubuhnya telah berubah jadi es.
Dia menoleh ke belakang.
Duduk di salah satu meja dekat dinding.
Tak lain dan tak bukan adalah Albus Dumbledore.
Harry pastilah tadi melewatinya.
Begitu bersemangat ingin segera ke cermin sampai dia tidak melihatnya.
Saya, saya tidak melihat Anda, Sir.
Aneh, bagaimana tidak kelihatan membuatmu rabun, kata Dumbledore.
Dan Harry lega melihatnya tersenyum.
Jadi, kata Dumbledore, turun dari meja untuk duduk di lantai bersama Harry.
Kau, seperti beratus-ratus orang lainnya sebelum kau,
telah menemukan kesenangan yang bisa didapat dari cermin tarsah.
Saya tak tahu namanya begitu, Sir.
Tapi kurasa sekarang kau sudah menyadari apa yang dilakukan cermin itu.
Cermin itu, cermin itu memperlihatkan keluarga saya.
Dan memperlihatkan kepada Ron dirinya sebagai ketua murid.
Bagaimana Anda tahu?
Aku tak memerlukan jubah agar bisa tidak kelihatan, kata Dumbledore lembut.
Nah, sekarang, bisakah kau pikirkan apa yang ditunjukkan cermin tarsah kepada kita semua?
Harry menggeleng.
Biar ku jelaskan.
Orang yang paling bahagia di dunia bisa menggunakan cermin tarsah seperti cermin biasa.
Yaitu kalau dia memandang cermin itu, dia hanya melihat dirinya seperti apa adanya.
Apakah ini membantu?
Harry berpikir.
Kemudian dia berkata perlahan.
Cermin itu memperlihatkan kepada kita apa yang kita inginkan.
Apa saja yang kita inginkan.
Ya dan tidak, kata Dumbledore pelan.
Cermin itu hanya menunjukkan hasrat hati kita yang paling mendalam.
Kau, yang tidak pernah kenal keluargamu, melihat mereka berdiri mengelilingimu.
Ronald Weasley yang selalu merasa minder dengan kesuksesan kakak-kakaknya,
melihat dirinya berdiri sendiri menjadi yang terbaik di antara mereka.
Bagaimanapun juga, cermin ini tidak memberi kita baik pengetahuan maupun kebenaran.
Banyak orang sudah tersiasia di depan cermin ini.
Terpesona oleh apa yang mereka lihat atau jadi gila karenanya.
Karena tak tahu apakah yang diperlihatkan cermin itu real atau bahkan mungkin.
Besok cermin ini akan dipindahkan ke tempat baru, Harry.
Dan aku memintamu agar tidak mencarinya lagi.
Jika suatu kali nanti kau kebetulan melihatnya lagi, kau sudah siap.
Tak ada gunanya memikirkan impian berlama-lama sampai lupa hidup.
Ingat itu.
Nah, sekarang bagaimana kalau kau pakai lagi jubah istimewa itu dan pergi tidur?
Harry bangkit.
Sir, Profesor Dumbledore, boleh saya bertanya sesuatu?
Jelas, kau baru saja bertanya.
Dumbledore tersenyum.
Tapi kau boleh tanya satu hal lagi.
Apa yang anda lihat kalau anda memandang cermin itu?
Aku.
Aku melihat diriku memegang sepasang kaos kaki wall tebal.
Harry melongong.
Semua orang selalu membutuhkan kaos kaki baru.
Natal sudah lewat lagi dan aku tak dapat kaos kaki sepasang pun.
Orang-orang bersikeras memberiku buku.
Baru ketika dia sudah kembali di tempat tidurnya, terlintas di benak Harry bahwa Dumbledore mungkin tidak sepenuhnya jujur.
Tetapi, pikir Harry seraya mendorong skebers dari bantalnya, pertanyaannya tadi cukup pribadi.
