Pemerintah China terus mengklaim bahwa negaranya memiliki 1,4 miliar penduduk.
Pasar domestik disebut sangat besar. Konsumsi dikatakan kuat. Ekonomi disebut “tangguh”. Tetapi di lapangan, ceritanya berbeda. Video dan kesaksian warga menunjukkan jalan-jalan utama kota besar yang lengang, Pusat perbelanjaan sepi, Restoran tutup lebih awal. Stasiun dan transportasi publik tidak lagi penuh, bahkan di jam sibuk.
Ini bukan terjadi di satu kota. Bukan pula hanya sementara. Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen— kota-kota yang dulu tak pernah tidur— hari ini kehilangan denyut manusianya.
Lalu kita bertanya dengan jujur: Jika penduduknya tetap 1,4 miliar, mengapa kota-kota ini terasa kosong?
Apakah kita mau hidup di negara yang sibuk menjaga angka
atau negara yang berani menjaga manusia?
Salam Patriot, di Suara Patriot bersama Chandra Tua.
Hai, para sahabat.
Ada sebuah pertanyaan.
Kalau China benar-benar punya 1,4 miliar penduduk,
kenapa banyak kota besarnya terasa seperti kehilangan manusia?
Coba bayangkan ini, Beijing, Shanghai, Shenzhen.
Kota yang dulu tidak pernah tidur, sekarang mal sepi.
Restoran tutup lebih cepat.
Transportasi publik lenggang bahkan di jam sibuk.
Aneh? Ya, aneh.
Kenapa ya? Katanya pasar terbesar di dunia.
Katanya konsumsinya kuat.
Katanya ekonomi tangguh.
Tapi kalau begitu ke mana perginya manusia-manusia itu?
Mari kita bicara jujur.
Seperti orang waras berbincang di warung kopi.
Di desa-desa, sekolah dasar yang dulu penuh murid, sekarang tinggal beberapa anak.
Rumah-rumah kosong yang tersisa lansia tanpa generasi penulus.
Di kota, anak muda menganggur.
Usaha kecil, banyak gulung tikar.
Orang menunda menikah, menunda punya anak.
Karena hidup terasa terlalu mahal dan terlalu tidak pasti.
Kalau penduduknya benar-benar besar dan ekonominya benar-benar kuat,
kenapa kehidupan sehari-hari terasa makin sempit?
Pemerintah China tetap berkata semua baik-baik saja.
Statistik ditampilkan, grafik ditunjukkan.
Tapi anehnya, banyak data penting tiba-tiba berhenti dipublikasikan.
Data pengangguran anak muda disembunyikan.
Data konsumsi dipersempit.
Data kependudukan disederhanakan.
Kalau semuanya baik-baik saja, kenapa justru datanya yang menghilang?
Ini bukan soal teknis statistik, ini soal kejujuran.
Negara yang sehat berani berkata,
kami sedang bermasalah, mari kita perbaiki bersama.
Negara yang takut akan berkata, angkanya bagus,
jangan bertanya terlalu banyak.
Dan disini kita melihat pola yang sama seperti episode 700 juta kamera.
Yang dijaga bukan kebenaran, tetapi citra.
Yang dibangun bukan kepercayaan, tetapi kontrol.
Bukankah ini ironis?
Negara yang mengklaim punya 1,4 miliar penduduk,
justru takut pada pertanyaan dari rakyatnya sendiri.
Mari kita bandingkan dengan dunia bebas.
Di negara demokratis, data boleh dikritik, media boleh bertanya,
dan pemerintah wajib menjawab.
Di China, pertanyaan dianggap ancaman,
diskusi dianggap gangguan stabilitas,
dan kenyataan dianggap masalah yang harus ditutup.
Akibatnya apa?
Statistik tumbuh di atas kertas, tapi kehidupan menyusut di bawah.
Kota kosong bukan karena manusia tiba-tiba hilang,
tetapi karena harapan ikut menghilang.
Dan disinilah pertanyaan penting untuk kita semua.
Apakah kita mau hidup di negara yang sibuk menjaga angka,
atau negara yang berani menjaga manusia?
Karena bangsa yang besar bukan diukur dari berapa miliar penduduknya,
tetapi dari berapa banyak warganya yang merasa dilindungi
didengar dan dihargai.
Indonesia harus belajar dari ini.
Bukan untuk meniru sistemnya,
tetapi untuk menghindari kesalahannya.
Data harus melayani kebenaran,
pembangunan harus terasa di kehidupan nyata,
dan negara harus berani dikritik.
Karena kritik adalah tanda masih adanya kepedulian.
Pertanyaannya tinggal satu, kita mau membangun negara berbasis propaganda?
Atau negara berbasis kepercayaan?
Mari kita jaga akal sehat kita bersama,
kemanusiaan, keadilan harus tetap dijaga bersama.
Suara Patriot, untuk Indonesia berdaulat!