00:00 Trump Minta Bantuan China Amankan Selat Hormuz 02:07 Negara Sekutu AS Tanggapi Permintaan Trump Amankan Selat Hormuz 03:27 China Kembali Tekan Militer Taiwan Setelah Sempat Vakum
Trump tunda kunjungan ke China untuk menunggu respon Beijing terkait bantuan pengamanan Selat Hormuz demi melindungi pasokan energi mereka sendiri. ---------------- Trump meminta sekutu amankan Selat Hormuz. Inggris dan Eropa tolak keterlibatan NATO, sementara Jepang serta Korea Selatan masih mempertimbangkan langkah. ---------------- China kembali menekan militer Taiwan lewat aktivitas militer skala besar setelah sempat terhenti selama dua minggu sejak perang di Iran.
Presiden Trump memberi sinyal penundaan perjalanan ke China.
Itu setelah ia meminta Beijing membantu menjaga selat hormus tetap terbuka,
berkata China lebih membutuhkannya daripada AS.
Berikut pernyataan Presiden Trump hari minggu.
Kami berbicara dengan negara-negara tentang mengawasi selat.
Mereka lah yang bertanggung jawab.
Kita tidak mendapatkan minyak, sangat sedikit, 1-2%.
Sementara China misalnya, mendapatkan 90% kebutuhannya dari sana.
Itu tempat di mana mereka mendapatkan energi.
Mereka harus datang dan membantu kita melindunginya.
Mungkin bahkan kita tidak perlu ada di sana sama sekali karena kita tidak butuh.
Kita punya banyak minyak.
Sehari setelah menyuruhkan permintaan bantuan ke selat hormus,
Trump berkata ia ingin mendengar tanggapan Beijing sebelum perjalanannya ke China
yang semula dijadwalkan akhir bulan.
Trump mengisyaratkan ia mungkin akan menunda kunjungannya,
namun tidak mengatakan berapa lama.
Yang ingin saya uraikan, ada narasi palsu di luar sana bahwa jika pertemuan ditunda,
itu bukan karena Presiden menuntut agar China mengamankan selat hormus.
Itu sepenuhnya salah.
Jika karena suatu alasan tertentu pertemuan tersebut dijadwalkan ulang,
itu terjadi karena masalah logistik.
Presiden tetap ingin menjadi bagian dari NDC untuk mengkoordinasikan upaya perang.
Sekretaris Pers Gedung Putih Caroline Levitt mendukung pernyataan Besen
dengan berkata Presiden Trump berharap dapat mengunjungi China meski tanggal perjalanan ditunda.
Ia menekankan bahwa prioritas Trump saat ini adalah memastikan keberhasilan operasi Epic Fury.
China menanggapi keesokan harinya menyuruhkan ke semua pihak agar menghentikan operasi militer,
namun tidak mengatakan apakah akan mengirim pasukan.
Menurut data resmi, sekitar 45 persen minyak China melewati selat hormus.
Gangguan di jalur air ini telah menaikkan harga gas China,
meskipun negara itu memiliki cadangan minyak yang besar.
Militer Iran telah menutup selat hormus di tengah operasi militernya
dan mengancau akan menyerang kapal apapun yang mencoba menyebrang.
Negara-negara sekutu menanggapi seruan Presiden Trump untuk mengamankan selat hormus.
Pada hari Senin, Perdana Menteri Inggris Kirstarmer berkata,
upaya membuka jalur air tersebut bukanlah misi NATO,
melainkan harus melibatkan aliansi luas dari mitra teluk, negara-negara Eropa dan AS.
Pada akhirnya, kita harus membuka kembali selat hormus untuk memastikan stabilitas di pasar.
Itu bukan tugas yang mudah.
Kami bekerja sama dengan semua sekutu termasuk mitra Eropa kami
untuk menyusun rencana kolektif layak yang dapat memulihkan kebebasan navigasi di kawasan tersebut secepat mungkin.
Kirstarmer berkata Inggris tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di Iran.
Ia membahas selat hormus dalam panggilan telepon dengan Trump malam sebelumnya.
Perdana Menteri Inggris juga bertemu dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney untuk membahas masalah tersebut.
Menlu Jerman mengatakan NATO tidak memiliki tanggung jawab terkait selat hormus.
Para menlu Uni Eropa akan membahas penguatan misi Angkatan Laut di kawasan tersebut,
namun tidak meluas hingga ke selat.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berkata Jepang juga tidak berencana mengirim kapal Angkatan Lautnya.
Ia berencana mengunjungi Washington minggu ini untuk berbicara dengan Presiden Trump terkait konflik Iran.
Sementara itu, Korea Selatan mengatakan akan berkonsultasi erat dengan AS sebelum mengambil keputusan.
Di tengah aksi militer AS di Iran, situasi geopolitik di Pasifik Barat juga ikut berubah.
China telah melakukan aktivitas militer rutin di sekitar Taiwan,
namun aktivitas sempat terhenti selama dua minggu, memicu spekulasi di Taipei.
Pada hari minggu, Taiwan kembali melaporkan adanya aktivitas Angkatan Udara China dalam skala besar di wilayahnya.
Sabtu lalu, Taiwan mendeteksi 26 pesawat dan 7 kapal militer China di sekitar wilayah mereka
dengan 11 pesawat melintasi garis median selat Taiwan.
Padahal sejak 27 Februari, aktivitas militer China sempat menurun drastis
dan hanya terjadi sesekali dalam skala kecil.
Pihak Beijing tidak memberikan penjelasan terkait penurunan aktivitas ini,
sehingga memicu berbagai spekulasi di Taipei tentang maksud dan tujuan Beijing.
Saat saya masih di militer, sebelum latihan besar atau pengarahan pasukan,
kami biasanya menghentikan kegiatan sementara untuk berfokus memperbaiki semua persenjataan dan aluti staff.
Hanya pesawat yang baru selesai diperbaiki yang boleh uji terbang,
sisanya tidak boleh karena kami sedang bersiap untuk latihan tempur atau persiapan perang.
Pengurangan aktivitas militer China ini bersifat politis
karena berkenaan dengan pertemuan penting pemerintah China dan evaluasi anggaran pertahanan Taiwan.
China menangguhkan semua aktivitas guna memberi kesan
seolah Taiwan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pertahanan.
Sejumlah ahli menilai berkurangnya aktivitas militer ini bisa jadi taktik Beijing
untuk menyusun ulang siasat terhadap Taiwan,
jelang rencana kunjungan Presiden Trump pada 31 Maret
atau akibat pembersihan personel oleh Xi Jinping.