Harry Potter Dan Kamar Rahasia | BAB 4 - DI FLOURISH AND BLOTTS | (Audiobook Indonesia)

Generasi Z
10 pengikut
1 Tayangan video·14 Apr 2026
Harry Potter dan Kamar Rahasia
Hidup di The Borough sama sekali berbeda dengan hidup di Private Drive.
Keluarga Dursley menghendaki segalanya rapi dan teratur.
Rumah keluarga Weasley penuh dengan hal-hal aneh dan tak terduga.
Harry kaget sekali ketika pertama kali dia melihat ke dalam cermin di atas tungku di dapur,
dan cermin itu berteriat.
Masukkan ke mejamu, yang rapi.
Hantu di loteng melolong dan menjatuhkan pipa setiap kali dia merasa suasana terlalu sepi,
dan ledakan-ledakan kecil dari kamar Fred dan George dianggap normal.
Meskipun demitian, yang bagi Harry luar biasa tentang hidup di rumah keluargaron bukanlah cermin yang bisa bicara
ataupun si hantu bising,
melainkan kenyataan bahwa semua orang di rumah itu tampaknya menyukainya.
Nyonya Weasley meributkan kaos kaki Harry dan berusaha memaksanya tambah tiga kali setiap makan.
Tuan Weasley ingin Harry duduk di sebelahnya di meja makan,
supaya dia bisa membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup bersama Muggle,
memintanya menjelaskan bagaimana bekerjanya hal-hal seperti steker listrik atau sistem pos.
Mengagumkan, katanya setelah Harry menjelaskan bagaimana menggunakan telpon.
Cerdik betul, berapa banyak cara yang telah ditemukan Muggle untuk bisa hidup tanpa sihir.
Harry mendapat berita dari Hogwarts pada suatu hari yang cerah,
kira-kira seminggu setelah dia tiba di The Borough.
Ketika dia dan Ron turun untuk sarapan,
Tuan dan Nyonya Weasley serta Ginny sudah duduk di meja dapur.
Begitu melihat Harry, Ginny tak sengaja menjatuhkan mangkuk buburnya ke lantai,
menimbulkan bunyi berkelontang yang keras.
Ginny kelihatannya jadi sangat mudah menjatuhkan barang-barang setiap kali Harry memasuki ruangan.
Dia menyusup ke bawah meja untuk mengambil mangkuknya
dan muncul lagi dengan wajah berpendar merah seperti matahari yang sedang terbenam.
Berpura-pura tidak melihat semua ini,
Harry duduk dan mengambil roki panggang yang ditawarkan Nyonya Weasley.
Surat dari sekolah.
Kata Tuan Weasley menyerahkan amplop perkamen kekuningan yang sama kepada Harry dan Ron
yang alamatnya ditulis dengan tinta hijau.
Dumbledore sudah tahu kau di sini, Harry.
Orang itu tahu segalanya.
Kalian berdua dapat surat juga.
Katanya menambahkan ketika Fred dan George muncul masih memakai pyama.
Selama beberapa menit suasana sunyi ketika mereka semua membaca surat mereka.
Surat Harry memberi tahunya agar naik Hogwarts Express seperti biasanya
dari stasiun King's Cross pada tanggal 1 September.
Juga ada daftar buku-buku baru yang diperlukannya untuk tahun ajaran berikutnya.
Murid kelas 2 membutuhkan kitab mantra standar tingkat 2 oleh Miranda Goshawk,
Duel dengan Dracula oleh Gilderoy Lockhart,
Gaul dengan Goblin oleh Gilderoy Lockhart,
Heboh dengan Hantu oleh Gilderoy Lockhart,
Tamasha dengan Troll oleh Gilderoy Lockhart,
Vakansi dengan Vampir oleh Gilderoy Lockhart,
Mengembara dengan Manusia Serigala oleh Gilderoy Lockhart,
Yakin dengan Yeti oleh Gilderoy Lockhart.
Fred yang sudah selesai membaca daftarnya sendiri melonggok daftar Harry.
Kau disuruh beli semua buku Lockhart juga, katanya.
Guru baru pertahanan terhadap ilmu hitam pastilah fansnya.
Taruhan, pasti penyihir wanita.
Setelah berkata begitu, tertatap olehnya mata ibunya
dan Fred cepat-cepat menyibukkan diri dengan selai.
Buku-buku itu tidak murah, kata George sekilas memandang orang tuanya.
Buku-buku Lockhart benar-benar mahal.
Bisa kita beli, katanya Wisley.
Tetapi dia kelihatan cemas.
Ku rasa kita bisa membeli banyak keperluan Ginny dari yang bekas pakai.
Oh, kau sudah masuk Hogwarts tahun ini?
Bertanya Harry kepada Ginny.
Ginny mengangguk.
Rona merah menjalar sampai ke akar rambutnya yang merah menyala
dan sikunya masuk ke mangkuk mentega.
Untunglah tak seorang pun melihat, kecuali Harry,
karena tepat saat itu, kakak Ron yang nomor tiga, persih, masuk.
Dia sudah berpakaian.
Lencana prefek Hogwartsnya disematkan ke baju rajutannya.
Selamat pagi semua, kata persih cepat.
Hari yang indah.
Dia duduk di satu-satunya kursi yang tersisa,
tetapi langsung melompat berdiri lagi,
menarik dari bawahnya ke moceng yang bulu abu-abunya sudah lusuh.
Paling tidak, semula Harry menyangka itu kemoceng,
sampai dilihatnya kemoceng itu bernafas.
Erol, kata Ron, mengambil burung hantu yang lemas itu dari tangan persih
dan menarik keluar sepujuk surat dari balik sayapnya.
Akhirnya dia membawa balasan Hermione.
Aku menulis padanya memberitahu kami akan mencoba membebaskanmu dari keluarga Dursley.
Ron membawa Erol ke tempat hinggap di dekat pintu belakang
dan mencoba menenggerakannya di situ,
tetapi Erol langsung terpuruk lagi.
Akhirnya Ron membaringkannya di atas papan pengering,
seraya bergumam.
Kasihan.
Kemudian dirobeknya sampul surat Hermione
dan dibacanya suratnya keras-keras.
Halo Ron dan Harry, kalau kau ada.
Kuharap segalanya berjalan lancar
dan Harry baik-baik saja.
Dan kau tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum untuk membebaskannya, Ron.
Karena itu akan menyulitkan Harry juga.
Aku cemas sekali.
Dan kalau Harry tak apa-apa,
tolong segera beritahu aku.
Tapi mungkin lebih baik kau gunakan burung hantu yang lain.
Karena kalau sekali lagi disuruh mengirim surat,
kurasa burung hantu yang ini lewat deh.
Aku sibuk sekali belajar.
Tentu saja.
Bagaimana mungkin?
Kata Ron ngeri.
Kita kan sedang libur.
Dan kami akan ke London Rabu Depan untuk membeli buku-buku baruku.
Bagaimana kalau kita bertemu di Diagonal Alley?
Beritahu aku apa yang terjadi begitu kau sempat.
Salam hangat dari Hermione.
Wah, kita bisa sekalian pergi dan membeli semua kebutuhan kalian kalau begitu,
katanya Wesley, mulai membereskan meja.
Apa yang akan kalian lakukan hari ini?
Harry, Ron, Fred, dan George sudah merencanakan akan kelapangan terbuka kecil milik keluarga Wesley.
Tempat itu dikelilingi pepohonan sehingga tidak kelihatan dari desa di bawah.
Itu berarti mereka bisa berlatih quidditch di sana,
asal mereka tidak terbang terlalu tinggi.
Mereka tidak bisa memakai bola quidditch yang sesungguhnya,
karena akan sulit menjelaskannya kalau bola itu lolos dan terbang di atas desa.
Sebagai gantinya, mereka saling melempar apel untuk ditangkap.
Mereka bergiliran menaiki Nimbus 2000 Harry, sapu yang sangat hebat.
Sapu Tuaron, binang jatuh sering sekali dilewati kupu-kupu yang lewat.
Lima menit kemudian, mereka mendaki bukit dengan sapu di atas bahu.
Mereka mengajak Percy kalau-kalau dia mau ikut.
Tetapi Percy mengatakan dia sibuk.
Sejauh ini, Harry cuma bertemu Percy pada waktu makan.
Dia berkurung terus di kamarnya.
Pingin tahu deh dia sebetulnya ngapain, kata Fred sampai mengerutkan kening.
Tidak biasanya dia begitu.
Hasil ujiannya keluar sehari sebelum hasil kalian diumumkan.
12 OEL dan dia nyaris tidak kelihatan senang.
George menjelaskan, melihat wajah kebingungan Harry.
Bill dapat 12 juga.
Kalau tidak hati-hati kita akan punya ketua murid satu lagi dalam keluarga.
Malu betul kita.
Bill adalah putra sulung keluarga Wesley.
Dia dan adiknya Charlie sudah lulus dari Hogwarts.
Harry belum pernah menemukan mereka berdua.
Tetapi dia tahu Charlie ada di Rumania mempelajari naga.
Dan Bill di Mesir bekerja untuk bank penyihir, Gringotts.
Entah bagaimana mam dan dad akan bisa membelikan semua keperluan sekolah kita tahun ini,
kata George setelah diam sesaat.
Lima set buku-buku Lockhart, dan gini perlu jubah dan tongkat dan macam-macam lagi.
Harry diam saja, dia merasa agak tidak enak.
Tersimpan di dalam ruangan besi bawah tanah di Gringotts di London,
ada sejumlah harta peninggalan orang tuanya.
Tentu saja, hanya di dunia sihir dia punya uang.
Kau tidak bisa menggunakan galleon, sickle, dan knut di toko muggle.
Dia tak pernah menyebut-nyebut simpanannya di Gringotts kepada keluarga Dursley.
Dia memperkirakan penolakan mereka terhadap segala sesuatu yang ada hubungannya dengan sihir,
tidak mencakup setumpuk besar emas.
Nyonya Weasley membangunkan mereka semua pagi-pagi rabu berikutnya.
Setelah dengan cepat melahap sarapan berupa enam sandwich daging asap untuk masing-masing,
mereka memakai mantel,
dan Nyonya Weasley mengambil vas bunga dari rak di atas tungku dapur,
lalu mengintip ke dalamnya.
Sudah hampir habis, Arthur.
Katanya menghala napas.
Kita harus beli lagi hari ini.
Ah, tamu lebih dulu.
Kau duluan, Harry.
Dan dia menyodorkan vas itu kepada Harry.
Harry bingung memandang mereka semua mengawasinya.
Apa yang harus kulakukan?
Katanya tergagap.
Dia belum pernah berpergian dengan bubuk flow,
kata Ron tiba-tiba.
Sorry, Harry. Aku lupa.
Belum pernah, kata Tuan Weasley.
Jadi bagaimana kau sampai di Diagon Alley untuk membeli keperluan sekolahmu tahun lalu?
Aku naik kereta bawah tanah.
Oh ya, kata Tuan Weasley ingin tahu.
Apa ada eskalator?
Bagaimana caranya?
Tidak sekarang, Arthur, katanyanya Weasley.
Bubuk flow jauh lebih cepat, nak.
Tapi entahlah kalau kau belum pernah.
Tidak apa-apa, Mam, kata Fred.
Harry, lihat kami dulu.
Fred mengambil sejumput bubuk berkilau dari vas bunga,
melangkah ke perapian,
dan menaburkan bubuk itu kenyala api.
Dengan deru keras, api berubah menjadi hijau jamrut
dan menjulang lebih tinggi dari Fred
yang melangkah ke dalamnya sambil berteriak,
Diagon Alley,
dan langsung menghilang.
Ngomongnya harus jelas, nak,
nyonya Weasley memberitahu Harry ketika George memasukkan tangan ke dalam vas
dan keluarnya harus di perapian yang benar.
Di mana?
Tanya Harry gugup ketika api menderu dan melenyapkan George dari pandangan juga.
Ya, ada banyak perapian penyihir yang bisa dipilihkan,
tapi asal kau ngomongnya jelas.
Dia akan baik-baik saja, Molly.
Jangan terlalu cemas,
kata Tuan Weasley sambil menjumput bubuk flow juga.
Tapi, kalau dia tersesat,
bagaimana kita harus menjelaskan kepada Bibi dan Pamannya?
Mereka tidak akan keberatan,
kata Harry menenangkannya.
Dudley akan menganggapnya lucu sekali kalau aku tersesat di cerobong asap.
Jangan khawatir.
Baiklah, kalau begitu kau berangkat sesudah Arthur,
kata nyonya Weasley.
Setelah masuk perapian,
katakan ke mana tujuanmu.
Dan rapatkan sikumu,
kata Ron menasihati.
Dan pejamkan matamu,
kata nyonya Weasley.
Bagusnya,
jangan gelisah dan bergerak-gerak,
kata Ron.
Nanti kau bisa jatuh ke perapian yang salah.
Tapi jangan panik dan buru-buru keluar juga.
Tunggu sampai kau melihat Fred dan George.
Sambil berusaha keras mengingat semua ini,
Harry mengambil sejumput bubuk flow
dan berjalan ke perapian.
Dia menarik nafas dalam-dalam,
menaburkan bubuk kenyala api
dan melangkah masuk.
Apinya terasa bagai angin hangat.
Harry membuka mulut
dan langsung tertelan olehnya banyak abu panas.
Rasanya seakan Harry tersedot lubang yang besar sekali.
Dia seperti berpusar sangat cepat,
deru keras memekakan telinganya.
Dia berusaha agar matanya tetap terbuka,
tetapi pusaran api hijau membuatnya pusing.
Sesuatu yang keras menyodok sikunya
dan Harry segera merapatkannya ke tubuhnya.
Masih terus berpusar, terus.
Sekarang rasanya ada tangan-tangan dingin menampar mukanya.
Mengintip lewat kacamatanya,
dilihatnya samar-samar serangkaian perapian
dan sekilas-sekilas tampak ruangan di baliknya.
Sandwich daging asapnya bergolak di dalam perutnya.
Dia memejamkan lagi matanya,
berharap pusaran ini segera berhenti.
Dan kemudian, Harry jatuh terjerimbap
di lantai batu yang dingin dan kacamatanya pecah.
Pusing dan memar, berlumur angus,
Harry dengan amat hati-hati bangun,
memegangi kacamata ke depan matanya.
Dia sendirian, tetapi di mana dia,
dia sama sekali tak tahu.
Yang dia tahu hanyalah dia berdiri di perapian baru,
di tempat yang kelihatannya toko sihir besar
dengan penerangan remang-remang.
Tetapi tak satupun barang-barang yang dijual di sini
akan masuk dalam daftar sekolah Hogwarts.
Sebuah kota kaca di dekat Harry
berisi tangan keriput di atas bantal.
Satu pakartu bernomoda darah
dan sebuah mata kaca mendelik.
Topeng-topeng menyeramkan menyeringai dari dinding.
Tulang-tulang manusia berbagai bentuk
dan ukuran bertebaran di meja pajangan.
Dan peralatan berpaku tajam berkarat
bergantungan dari langit-langit.
Yang lebih parah lagi, jalan sempit
yang bisa dilihat Harry lewat kaca toko yang berdebu
jelas bukan diagonal alley.
Lebih cepat dia meninggalkan tempat ini lebih baik.
Dengan hidung masih perih gara-gara jatuh
menghantam lantai perapian tadi,
Harry berjalan cepat tanpa suara menuju pintu.
Tetapi belum lagi separuh jalan,
dua orang muncul di balik kaca.
Dan salah satunya orang terakhir yang ingin
ditemui Harry saat dia sedang tersesat,
berlumur angus dan kacamatanya pecah.
Draco Malfoy.
Harry cepat-cepat memandang berkeliling
dan melihat lemari besar hitam di sebelah kirinya.
Dia melesat masuk dan menarik pintunya
sampai tinggal celah sedikit untuk mengintip.
Beberapa detik kemudian,
bel berdentang dan Malfoy masuk ke dalam toko.
Laki-laki yang masuk di belakangnya pastilah ayahnya.
Wajahnya sama,
pucat dan runcing dan matanya pun sama,
abu-abu dingin.
Tuan Malfoy menyeberangi ruangan,
melihat barang-barang yang dipamerkan
dan membunyikan bel di meja pajangan
sebelum menoleh kepada anaknya dan berkata,
jangan sentuh apa-apa Draco.
Malfoy yang sudah tiba di mata kaca berkata,
katanya aku akan dibelikan hadiah.
Aku bilang aku akan membelikanmu sapu balap.
Kata ayahnya,
mengetuk-netukan jari di atas meja pajangan.
Apa gunanya sapu kalau aku tidak masuk tim asrama?
Kata Malfoy, tampangnya cemberut dan marah.
Harry Potter dapat mimbus 2000 tahun lalu,
izin khusus dari Dumbledore
supaya dia bisa main untuk Gryffindor.
Padahal sih dia tidak hebat-hebat amat,
cuma karena dia terkenal,
terkenal gara-gara punya bekas luka konyol di dahinya.
Malfoy membungkuk,
mengamati rak penuh tengkorak.
Semua menganggapnya pintar,
Harry Potter yang hebat dengan bekas luka konyol dan sapunya.
Kau sudah menceritakannya padaku paling tidak 12 kali,
kata Tuan Malfoy dengan pandangan yang menyuruhnya diam.
Dan kuingatkan kau bahwa tidaklah bijaksana,
memperlihatkan bahwa kau kurang menyukai Harry Potter,
mengingat sebagian besar bangsa kita menganggapnya sebagai pahlawan
yang membuat pangeran kegelapan menghilang.
Ah, Tuan Borgin!
Seorang laki-laki tua bungguk muncul di belakang meja,
menyeka rambutnya yang berminyak dari wajahnya.
Tuan Malfoy senang sekali bertemu Anda lagi,
kata Tuan Borgin dengan suara selicin rambutnya.
Gembira dan Tuan Muda Malfoy juga sungguh menyenangkan.
Apa yang bisa saya bantu?
Harus saya tunjukkan kepada Anda,
baru datak hari ini dan harganya pun sangat bersaing.
Aku tidak mau beli hari ini, Tuan Borgin,
tapi jual, kata Tuan Malfoy.
Jual!
Senyum agak memudar dari wajah Tuan Borgin.
Kau sudah dengar tentunya bahwa kementerian melakukan razia lagi,
kata Tuan Malfoy, mengeluarkan gulungan perkamen dari saku dalamnya
dan membukanya untuk dibaca Tuan Borgin.
Aku punya beberapa barang di rumah yang bisa bikin aku malu
kalau kementerian datang.
Tuan Borgin menjepitkan kacamata tanpa gagang ke hidungnya dan membacanya.
Kementerian tidak akan menyusahkan Anda, Sir.
Tentunya, Tuan Malfoy mencibir.
Aku belum didatangi.
Narma Malfoy masih dihormati.
Tapi kementerian semakin suka mencampuri urusan orang lain.
Ada desas-desus tentang adanya undang-undang perlindungan magel baru.
Tak diragukan lagi si kutubusuk goblok pecinta magel Arthur Weasley
berada di belakang semua itu.
Harry berang sekali.
Dan seperti yang kau lihat, beberapa racun ini bisa kelihatan.
Saya mengerti, Sir. Tentu saja, kata Tuan Borgin.
Coba saya lihat.
Boleh aku beli itu?
Selah Draco, menunjuk tangan keriput di bantal.
Ah, tangan kemuliaan, kata Tuan Borgin,
meninggalkan daftar Tuan Malfoy dan bergegas mendatangi Draco.
Taruh hilin, dan hilin ini hanya akan memberikan cahaya kepada permegangnya.
Sahabat terbaik para pencuri dan penjarah.
Selera anak anda hebat, Sir.
Kuharap anakku akan jadi lebih dari sekadar pencuri atau penjarah, Borgin,
kata Tuan Malfoy dingin.
Dan Tuan Borgin buru-buru berkata,
Tidak menyindir, Sir. Tidak bermaksud menyindir.
Meskipun kalau angka-angkanya tidak bertambah baik,
kata Tuan Malfoy lebih dingin lagi,
mungkin dia hanya pantas jadi pencuri dan penjarah.
Bukan salahku, bantah Draco.
Semua guru punya anak emas, si Hermione Granger.
Kukira kau akan malu bahwa anak perempuan yang bukan berasal dari keluarga sihir
mengalahkanmu dalam semua ujian.
Tukas Tuan Malfoy.
Hah, kata Harry dalam hati.
Senang melihat Draco kelihatan malu dan marah.
Di semua tempat sama, kata Tuan Borgin dengan suaranya yang licin.
Darah penyihir nilainya sudah berkurang di mana-mana.
Bagiku tidak, kata Tuan Malfoy.
Cuping hidung panjangnya mekar.
Tidak, Sir. Bagi saya juga tidak, Sir, kata Tuan Borgin membungkuk rendah.
Kalau begitu mungkin kita bisa kembali ke daftarku,
kata Tuan Malfoy pendek.
Aku agak terburu-buru, Borgin.
Aku ada urusan penting di tempat lain hari ini.
Mereka mulai tawar-menawar.
Harry mengawasi dengan cemas ketika Draco semakin lama semakin dekat ke tempat persembunyiannya
melihat-lihat barang-barang yang dijual.
Dia berhenti untuk mengamati gulungan tali panjang untuk menggantung orang
dan membaca sambil menyeringai kartu yang disandarkan pada kalung opal yang bagus sekali.
Hati-hati, jangan sentuh, dikutuk.
Sampai hari ini sudah minta korban sembilan belas magel pemiliknya.
Draco berbalik dan melihat lemari persis di depannya.
Dia mendekat, mengulurkan tangannya ke pegangan pintu.
Baik, kata Tuan Malfoy di meja pajangan.
Ayo, Draco.
Harry menyekadahinya ke lengan bajunya ketika Draco berbalik.
Selamat siang, Tuan Borgin.
Kutunggu kau di rumah besok untuk mengambil barang-barang itu.
Begitu pintu tertutup, Tuan Borgin menanggalkan sopan santunya.
Selamat siang sendiri saja, Mister Malfoy.
Dan jika cerita yang beredar benar, kau belum menjual setengah dari yang kau sembunyikan di istanamu.
Sambil menggerutu sebal, Tuan Borgin menghilang ke ruang belakang.
Harry menunggu selama semenit.
Siapa tahu dia muncul lagi.
Kemudian, sepelan mungkin, dia menyelinap keluar dari lemari,
melewati kotak-kotak kaca, dan keluar lewat pintu toko.
Sambil menempelkan kacamatanya yang pecah ke wajahnya,
Harry memandang berkeliling.
Dia berada di jalan kecil kumuh berisi toko-toko yang semuanya menjual barang-barang untuk ilmu hitam.
Toko yang baru saja ditinggalkannya, Borgin and Burks, kelihatannya yang paling besar.
Tetapi, di seberangnya ada etalase yang memajang kepala-kepala yang sudah mengerut mengerikan.
Dan di dua toko sesudahnya, ada kandang besar berisi banyak labala-barak sasa yang berjalan ke sana kemari.
Dua penyihir laki-laki kumal mengawasinya dari bayang-bayang pintu, seraya saling bergumam.
Dengan gelisah, Harry berjalan, memegangi kacamatanya selurus mungkin dan berharap bisa menemukan jalan keluar dari tempat ini.
Papan nama kusam yang tergantung di atas toko yang menjual lilin beracun memberi tahunya bahwa dia berada di Nocturne Alley.
Ini tidak membantu, karena Harry belum pernah mendengar nama tempat ini.
Rupanya dia tidak bicara cukup jelas gara-gara mulutnya penuh abu sewaktu berada di perapian keluarga Weasley.
Harry berusaha tetap tenang dan memikirkan apa yang akan dilakukannya.
Seorang nenek sihir berdiri di depannya, membawa nampan yang kelihatannya berisi kuku-kuku utuh manusia.
Dia menyeringai kepada Harry, memamerkan gigi-giginya yang berlumut.
Harry mundur.
Aku tak apa-apa, terima kasih, katanya.
Aku cuma...
Harry, sedang apa kau di sini?
Jantung Harry melompat, si nenek sihir juga melompat.
Kuku-kuku dari nampannya berjatuhan ke atas kakinya,
dan dia mengutuk ketika sosok tinggi besar Hagrid, pengawas binatang liar di Hogwarts, berjalan mendekati mereka.
Mata kumbangnya yang hitam berkilat-kilat di atas jenggot dan berewoknya yang lebat.
Hagrid!
Harry berseru parau dengan lega.
Aku tersesat!
Bubuk flu!
Hagrid menyambar kerah baju Harry dan menariknya jauh-jauh dari si nenek sihir,
menyinggol nampannya sampai jatuh.
Teriakan si nenek sihir mengikuti mereka sepanjang jalan kecil yang berkelok-kelok,
sampai mereka tiba di tempat terang.
Harry melihat gedung pualam seputih salju yang dikenalnya di kejauhan,
Bang Gringotts.
Hagrid telah membawanya ke Diagon Alley.
Kau berantakan, kata Hagrid pedas,
mengibas abu dari tubuh Harry seharus Hagrid nyaris tercebur ke dalam tong berisi kotoran naga di luar toko obat.
Berkeliaran di Nocturne Alley,
kelewatan tempat yang harus dihindari, Harry.
Jangan sampai ada yang lihat kau di sana.
Aku sadar itu, kata Harry,
menunduk ketika Hagrid mau mengibasnya lagi.
Sudah ku bilang, aku tersesat.
Kau sendiri ngapain di sana?
Aku sedang cari pembasmi siput pemakan daging, kata Hagrid geram.
Mereka hancurkan kul sekolah.
Kau tidak sendirian.
Aku menginap di rumah keluarga Weasley,
tapi kami terpisah.
Aku harus mencari mereka.
Mereka berjalan berdua.
Kenapa kau tidak pernah balas suratku?
Tanya Hagrid, sementara Harry berlari-lari kecil di sebelahnya.
Dia harus melangkah tiga kali untuk mengimbangi setiap langkah bot besar Hagrid.
Harry menjelaskan tentang Doggy dan keluarga Dursley.
Magel, brengsek.
Gerutuh, Hagrid.
Kalau aku tahu...
Harry!
Di sini!
Harry mendongak dan melihat Hermione Granger berdiri di undakan putih paling atas Gringotts.
Dia berlari turun menyongsong mereka.
Rambutnya yang lebat berkebar di belakangnya.
Kenapa kacamatamu?
Halo, Hagrid.
Oh, senang sekali bertemu kalian berdua lagi.
Kau mau ke Gringotts, Harry?
Kalau keluarga Weasley sudah kutemukan, kata Harry.
Kau tak perlu tunggu lama, Hagrid nyengir.
Harry dan Hermione memandang berkeliling.
Tampak Ron, Fred, George, Percy, dan Tuan Weasley berlari-lari ke arah mereka di jalan yang padat itu.
Harry!
Tuan Weasley tersengal.
Kami berharap kau cuma kejauhan satu perapian.
Dia menyeka kepala beletaknya yang berkilauan.
Molly sudah panik.
Itu dia datang.
Kau keluar di mana?
Tanya Ron.
Nocturne Olli, jawab Harry Muram.
Luar biasa, komentar Fred dan George bersamaan.
Kami belum pernah diizinkan ke sana, kata Ron eerie.
Mestinya memang tidak, grutu Hagrid.
Nyonya Weasley kini sudah kelihatan.
Berlari dengan tas tangannya berayun liar di satu tangan.
Sementara Ginny bergantung di tangan lainnya.
Oh, Harry!
Oh, nak!
Kau bisa tersesat entah di mana?
Terengah kehabisan nafas,
dia menarik luar sikat pakaian dari dalam tasnya
dan mulai menyikat abu yang tidak berhasil dibersihkan Hagrid.
Tuan Weasley mengambil kacamata Harry,
mengetuknya dengan tongkatnya,
dan mengembalikannya pada Harry.
Sudah baru lagi.
Aku harus pergi, kata Hagrid
yang tangannya dijabat arat-arat oleh Nyonya Weasley.
Nocturne Olli, coba kalau kau tidak menemukannya, Hagrid.
Sampai ketemu di Hogwarts, dan dia pergi.
Coba tebak siapa yang kulihat di Borgin and Briggs,
kata Harry kepada Ron dan Hermione
ketika mereka menaiki undakan Gringotts.
Malfoy dan ayahnya.
Apa Lucius Malfoy membeli sesuatu,
tanya Tuan Weasley tajam di belakang mereka.
Tidak, dia jual.
Ah, jadi dia cemas, kata Tuan Weasley puas.
Oh, ingin rasanya menangkap Lucius Malfoy karena se...
sesuatu.
Hati-hati, Arthur,
kata Nyonya Weasley tajam.
Sementara mereka dipersilahkan masuk ke bang
oleh goblin yang membungkuk di pintu.
Keluarga itu bikin masalah.
Jangan menyuap lebih daripada yang bisa kau kunyah.
Jadi menurutmu aku bukan tandingan Lucius Malfoy,
kata Tuan Weasley jengkil.
Tetapi perhatiannya langsung beralih ke orang tua Hermione
yang sedang berdiri gelisah di depan meja panjang
di dalam aula pualam besar itu
menunggu Hermione memperkenalkan mereka.
Wah, kalian Moogle,
kata Tuan Weasley senang.
Kita harus minum.
Apa yang kalian pegang itu?
Oh, kalian menukar uang Moogle.
Molly lihat dengan bersemangatnya
ditunjuknya selembar 10 pound di tangan Tuan Granger.
Sampai ketemu di dalam, kata Ron kepada Hermione,
ketika keluarga Weasley dan Harry diantar ke ruangan besi mereka
bawah tanah oleh goblin Gringotts yang lain.
Ruangan besi itu dicapai dengan kereta kecil.
Dikendarai goblin yang meluncur kencang di atas rel kereta kecil
melewati lorong-lorong bawah tanah bang.
Harry menikmati perjalanannya yang berkecepatan super tinggi
menuju ke ruangan besi keluarga Weasley.
Ketika ruangan itu dibuka,
dia merasa sangat tidak enak.
Jauh lebih tidak enak daripada waktu dia berada di Nocturne Ollie.
Hanya ada seungguh kecil sikel perak di dalamnya
dan hanya ada sekeping gelien emas.
Nyonya Weasley merabah-rabah sudut-sudutnya
sebelum meraup semuanya ke dalam tasnya.
Harry merasa lebih tidak enak lagi ketika mereka tiba di ruangan besinya.
Dia berusaha menutupi isinya dari pandangan
selagi dia buru-buru memasukkan bergenggam-genggam koin-koin
ke dalam tas kulit.
Kembali di undakan pualam di luar, mereka berpisah.
Percy bergumam tak jelas bahwa dia perlu pena baru.
Fred dan George sudah melihat teman mereka dari Hogwarts, Lee Jordan.
Nyonya Weasley dan Ginny akan ke toko jubah bekas.
Tuan Weasley mendesak suami istri Granger ke Leaky Cauldron untuk minum.
Kita semua bertemu di Flourish and Blot sejam lagi
untuk membeli buku-buku sekolahmu,
kata Nyonya Weasley, mengajak Ginny pergi.
Dan jangan berani-berani ke Nocturn Alley selangkah pun jangan.
Dia berteriak kepada punggung si kembar yang menjauh.
Harry, Ron, dan Hermione berjalan menyusuri jalan batu berkelok.
Uang emas, perak, dan berunggu yang bergemerincing di saku Harry
menuntut dibelanjakan.
Maka dia membeli tiga es krim stroberi kacang besar
yang mereka nikmati dengan gembira sambil berjalan,
melihat-lihat isi atelase yang menarik.
Ron memandang penuh ingin satu set lengkap jubah Chutley Cannons
di atelase peralatan Quidditch berkualitas,
sampai Hermione menariknya untuk membeli tinta dan perkanen
di toko sebelahnya.
Di toko Lelucon Sihir Gamble & Japes,
mereka bertemu Fred, George, dan Lee Jordan
yang sedang membeli kembang api awal basah
tanpa panas Dr. Philly Booster.
Dan di toko kecil barang-barang rongsokan yang penuh tongkap patah,
timbangan kuningan yang sudah butut,
dan jubah-jubah tua bernoda bercak-bercak ramuan,
mereka menemukan Percy,
sedang asyik membaca buku kecil sangat membosankan berjudul
Prefek Yang Meraih Kekuasaan.
Telah ah tentang para prefek Hogwarts
dan karier yang mereka rintis,
Ron membaca keras-keras dari sampul belakangnya.
Kedengarannya menarik sekali.
Pergi! Percy membentak.
Tentu saja, si Percy itu sangat ambisius.
Dia sudah merencanakan segalanya.
Cita-citanya menjadi Menteri Sihir.
Ron memberitahu Harry dan Hermione pelan
ketika mereka meninggalkan Percy bersama bukunya.
Satu jam kemudian, mereka menuju Flourish and Blots.
Bukan hanya mereka yang menuju toko buku itu.
Ketika sudah dekat, mereka heran sekali melihat
gerombolan orang yang berdesakan di depan pintu,
mau masuk.
Alasan untuk ini dinyatakan oleh spanduk besar
yang digelar di antara dua jendela atas.
Gilderoy Lockhart akan menandatangani otobiografinya
Aku Yang Ajaib hari ini pukul 12.30 sampai 16.30.
Kita bisa bertemu dia, Pekik Hermione.
Maksudku hampir seluruh buku yang ada di daftar kita karangannya.
Gerombolan orang itu kelihatannya sebagian besar terdiri
atas para penyihir wanita seusianyonya Weasley.
Seorang penyihir pria bertampang bingung
berdiri di depan pintu, berkata,
Tenang ibu-ibu, jangan dorong-dorong.
Awas bukunya ketabrak.
Harry, Ron, dan Hermione ikut berdesakan masuk.
Antrean panjang memanjang sampai ke bagian belakang toko,
tempat Gilderoy Lockhart menandatangani bukunya.
Mereka masing-masing menyambar buku heboh dengan hantu
dan menyelinap di antara orang-orang yang antre
sampai tiba di tempat keluarga Weasley berdiri bersama Tuan dan Nyonya Granger.
Oh, kalian sudah datang. Bagus, katanya Weasley.
Dia bicara seakan kehabisan nafas
dan tak henti-hentinya merapikan rambutnya.
Sebentar lagi kita bisa bertemu dia.
Gilderoy Lockhart akhirnya tampak.
Duduk di belakang meja dikelilingi foto-foto besar wajahnya sendiri.
Semua mengedipkan mata dan memamerkan gigi yang putih berkilau kepada para pengunjung.
Lockhart yang sesungguhnya memakai jubah biru bunga forget-me-not
yang persis warna matanya.
Topi sihirnya yang berbentuk kerucut terpasang gaya di atas rambutnya yang berombak.
Seorang laki-laki pendek bertampang menyebalkan
melesat ke sana kemari memotret dengan kamera besar hitam
yang setiap kali mengeluarkan asap ungu
bersamaan dengan menyalanya lampu blitz yang menyilaukan.
Minggir kau.
Dia menggertak Ron sambil mundur agar bisa mengambil gambar dengan lebih baik.
Ini untuk daily profit.
Oh, dasar sok.
Grutu Ron menggosok kakinya yang tadi diinjaksi fotografer.
Gilderoy Lockhart mendengarnya.
Dia mendongak.
Dia melihat Ron.
Dan kemudian dia melihat Harry.
Dia terbelalak.
Kemudian dia melompat bangun dan berteriak keras.
Tak mungkin itu Harry Potter!
Kerumunan orang menyibak, berbisik-bisik seru.
Lockhart bergegas maju, meraih lengan Harry dan menariknya ke depan.
Orang-orang bertepuk tangan.
Wajah Harry serasa terbakar ketika Lockhart menjabat tangannya
berpose untuk si fotografer yang memotret gila-gilaan
menyebar asap tebal di atas keluarga Weasley.
Senyum yang besar, Harry!
Kata Lockhart sambil memamerkan giginya yang berkilau.
Berdua, kau dan aku layak menghiasi halaman depan.
Ketika dia akhirnya melepas tangan Harry,
jari-jari Harry nyaris kebas.
Dia mencoba menyelinap kembali kepada keluarga Weasley.
Tetapi Lockhart melingkarkan lengannya ke bahu Harry
dan menariknya rapat-rapat ke sisinya.
Ibu-ibu dan bapak-bapak, katanya keras,
melambaikan tangan agar pengunjung diam.
Sungguh saat yang luar biasa.
Saat yang paling tepat bagiku untuk mengungumkan
sesuatu yang sudah kusimpan selama beberapa waktu ini.
Ketika Harry masuk ke Flourish & Blots hari ini,
dia hanya ingin membeli autobiografi saya
yang dengan senang hati akan saya hadiahkan kepadanya sekarang, gratis.
Orang-orang bertepuk tangan lagi.
Dia sama sekali tak tahu.
Lockhart melanjutkan, mengguncang tubuh Harry,
membuat kacamatanya melorot ke ujung hidungnya.
Bahwa dalam waktu dekat,
dia sendiri akan mendapatkan jauh lebih banyak daripada buku saya,
Aku Yang Ajaib.
Dia dan teman-teman sekolahnya sebenarnya
akan mendapat Aku Yang Ajaib yang sesungguhnya.
Ya, ibu-ibu dan bapak-bapak,
dengan senang dan bangga saya umumkan
bahwa bulan September ini,
saya akan mengisi jabatan guru pertahanan terhadap ilmu hitam
di Sekolah Sihir Hogwarts.
Orang-orang bersorak dan bertepuk tangan.
Dan Harry tahu-tahu dihadiahi seluruh karya Gilderoy Lockhart.
Sedikit terhuyang karena keberatan,
dia berhasil menyingkir dari pusat sorotan ke tepi ruangan,
di mana Ginny berdiri di sebelah kawali barunya.
Ini untukmu, bergumam Harry kepadanya,
menuang buku-bukunya ke dalam kawali Ginny.
Aku akan beli sendiri.
Taruhan, kau pasti senang ya, Potter?
Kata suara yang langsung dikenali Harry.
Dia menegakkan dirinya dan berhadapan dengan Draco Malfoy,
yang seperti biasa mencebir.
Harry Potter yang terkenal,
bahkan tak bisa masuk toko buku
tanpa muncul di halaman pertama koran.
Jangan ganggu dia,
dia tidak menginginkan semua itu,
kata Ginny.
Ini pertama kalinya dia berbicara di depan Harry.
Dia membelalak kepada Malfoy.
Potter, kau punya pacar nih.
Ejek Malfoy.
Wajah Ginny jadi merah padam.
Sementara itu, Ron dan Hermione
bersusah payah berusaha mendekati mereka.
Keduanya memeluk setumpuk buku Lockhart.
Oh, kau, kata Ron,
memandang Malfoy seakan dia sesuatu
yang tidak menyenangkan di sol sepatunya.
Pasti kau kaget ketemu Harry di sini, eh.
Tidak sekaget melihatmu di toko, Weasley,
balas Malfoy.
Kurasa orang tuamu akan kelaparan sebulan
demi membayar buku-buku itu.
Wajah Ron jadi semerah Ginny.
Dia menjatuhkan buku-bukunya ke dalam kawali juga
dan maju mendekati Malfoy.
Tetapi Harry dan Hermione
menyambar bagian belakang jaketnya.
Ron, kata Tuan Weasley,
berdesakan mendekat bersama Fred dan George.
Sedang apa kau?
Gila sekali di sini.
Ayo kita keluar.
Wah, wah, wah, Arthur Weasley.
Ternyata Tuan Malfoy.
Dia berdiri dengan tangan dibahu derako,
mencibir dengan cara yang sama.
Lucius, kata Tuan Weasley,
mengangguk dingin.
Sibuk di kementerian, ku dengar,
kata Tuan Malfoy.
Razia terus-terusan.
Ku harap mereka membayar uang lembur.
Dia meraih ke dalam kawali Ginny
dan mengeluarkan dari antara buku-buku Lockhart
yang licin berkilat,
buku pengantar transfigurasi bagi pemula
yang sudah sangat usang dan kumal.
Jelas tidak, katanya.
Astaga, buat apa mendapat nama buruk
di kalangan para penyihir,
kalau mereka bahkan tidak membayarmu dengan baik?
Tuan Weasley lebih merah padam
daripada Ron dan Ginny.
Kami punya penilaian yang sangat berbeda
tentang apa yang mendatangkan nama buruk
bagi penyihir, Malfoy, katanya.
Itu jelas, kata Tuan Malfoy.
Mataya yang pucat ganti
menatap Tuan dan Nyonya Granger
yang mengawasi dengan khawatir.
Melihat teman-teman yang kau pilih, Weasley,
kupikir keluargamu sudah tidak bisa
terpuruk lebih dalam lagi.
Terdengar dentang logam ketika kawali
Ginny terbang. Tuan Weasley telah terjang
Tuan Malfoy, membuatnya jatuh
ke belakang menabrak rak buku.
Berpuluh-puluh buku mantra berat
berjatuhan mengenai kepala mereka semua.
Terdengar teriakan,
Hajar dia, Dad! dari Fred Danjors.
Nyonya Weasley berteriak-teriak,
Jangan, Arthur, jangan!
Orang banyak bergerak mundur, menabrak
lebih banyak rak buku.
Bapak-bapak, jangan berkelahi! Tolong, jangan berkelahi!
seru pegawai toko.
Dan kemudian, lebih keras dari semuanya,
Berhenti! Hey, berhenti!
Hagrid berjalan ke arah mereka
di tengah lautan buku.
Sekejap saja, dia sudah memisahkan
Tuan Weasley dan Tuan Malfoy.
Bibir Tuan Weasley robek dan mata
Tuan Malfoy bengkak, tertimpa
ensiklopedi jamur payung.
Dia masih memegangi buku
transfigurasi Usang Gini.
Diulurkannya buku itu kepada Gini,
matanya berkilau jahat.
Nih, ambil bukumu ini,
yang paling baik
yang bisa dibelikan ayahmu.
Melepaskan diri dari pegangan Hagrid,
dia memberi isyarat kepada Draco
dan meninggalkan toko.
Kau seharusnya
jangan acuhkan dia, Arthur.
Kata Hagrid, nyaris mengangkat
Tuan Weasley yang sedang merapihkan jubahnya.
Jahat sekali
seluruh keluarga. Semua orang
tahu, Malfoy tak layak
didengarkan. Darah jelak,
itu penyebabnya.
Ayo, kita keluar dari sini.
Si pegawai toko kelihatannya
ingin mencegah mereka pergi, tetapi
tingginya tak sampai sepinggang Hagrid.
Jadi, dia memutuskan
lebih baik diam saja.
Mereka bergegas ke jalan.
Suami istri Granger gemetar ketakutan.
Dan Nyonya Weasley bukan
main marahnya.
Contoh bagus untuk anak-anakmu,
berkelahi di depan umum,
entah apa pendapat Gilderoy Lockhart.
Dia senang, kata Fred.
Apa Mam tidak mendengarnya ketika
kita keluar? Dia bertanya
kepada wartawan Daily Prophet.
Apakah bisa memasukkan perkelahian itu
dalam tulisannya? Katanya untuk
publisitas. Tetapi
rombongan yang kembali ke perapian di Leaky
Countdown adalah rombongan yang
lesu. Dari tempat itu,
Harry, keluarga Weasley
dan semua belanjaan mereka akan
pulang ke The Bureau menggunakan bubuk
flu. Mereka mengucapkan
selamat tinggal kepada keluarga Granger
yang akan meninggalkan rumah
minum itu untuk menuju ke jalan
Muggle di sisi lain.
Tuan Weasley sudah mulai bertanya kepada mereka
bagaimana cara hal tebus beroperasi.
Tetapi cepat-cepat berhenti
ketika melihat tampang nyonya Weasley.
Harry membuka kacamatanya
dan menyimpannya dengan aman
di dalam sakunya sebelum menjumput
bubuk flu. Ini jelas
bukan cara pepergian favoritnya.
