Harry Potter Dan Tawanan Azkaban | BAB 15 - FINAL QUIDITCH | (Audiobook Indonesia)

Generasi Z
10 pengikut
1 Tayangan video·23 Jul 2026
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AIHagrid faces heartbreak over Buckbeak's sentence, while Hermione suffers from extreme academic burnout, leading her to quit Divination. Simultaneously, tensions peak between Gryffindor and Slytherin, culminating in a violent and strategic Quidditch match where Harry overcomes Malfoy's dirty tactics to secure the Snitch and the championship cup for his team.
Harry Potter dan Tawanan Azkaban
Bab 15 Final Quidditch
Dia mengirimkan ini padaku, kata Hermione, menyodorkan suratnya.
Harry mengambilnya.
Perkamen itu lembab dan air mata besar-besar telah membuat tintanya sangat luntur di banyak tempat,
sehingga tulisannya sulit sekali dibaca.
Dear Hermione, kami kalah.
Aku diizinkan bawa dia pulang ke Hogwarts.
Hari hukuman akan ditentukan.
Bikki senang di London.
Aku tak akan lupakan semua bantuan yang kau berikan kepada kami.
Hagrid
Mereka tak boleh melakukan ini, kata Harry.
Tak boleh.
Buckbeak tidak berbahaya.
Ayah Malfoy sudah membuat komite ketakutan sehingga memutuskan begitu,
kata Hermione menyeka matanya.
Kau tahu dia seperti apa?
Anggota komite itu orang-orang tua bodoh dan mereka ketakutan.
Tapi akan ada naik banding?
Selalu ada.
Hanya saja aku tak melihat ada harapan.
Tak akan ada yang berubah.
Ada, kata Ron Garang.
Kau tak harus mengerjakan semuanya sendiri sekarang, Hermione.
Aku akan membantu.
Oh, Ron!
Hermione merangkul leher Ron dan menangis terseduh-seduh.
Ron yang tampak ketakutan membelai kepala Hermione dengan amat canggung.
Akhirnya Hermione melepaskan diri.
Ron, aku sungguh minta maaf soal Scabbers.
Dia terisak.
Oh ya, dia tuh sudah tua,
kata Ron yang tampak lega sekali Hermione sudah melepaskannya.
Dan dia agak tak berguna.
Siapa tahu Mam dan Dad akan membelikan burung hantu untukku sekarang.
Tindakan pengamanan yang diterapkan kepada anak-anak setelah Black berhasil masuk untuk kedua kalinya
membuat tak mungkin bagi Harry, Ron, dan Hermione mengunjungi Hagrid di malam hari.
Satu-satunya kesempatan berbicara dengan Hagrid adalah selama pelajaran pemeliharaan satwa gaib.
Hagrid tampak shock dengan keputusan pengadilan.
Semua salahku.
Lidahku terkunci.
Mereka semua duduk di sana pakai jubah bitam.
Dan aku berkali-kali menjatuhkan catatanku dan lupa semua tanggal penting yang telah kau carikan untukku, Hermione.
Dan kemudian Lucius Malfoy berdiri dan bacakan tuduhannya.
Dan komite lakukan persis yang dia suruh.
Ada naik banding, kata Ron tegas.
Jangan menyerah dulu.
Kami sedang mengerjakannya.
Mereka berjalan kembali ke kastil bersama yang lain.
Mereka bisa melihat Malfoy berjalan di depan bersama Crabbe dan Goyle.
Malfoy berkali-kali menoleh ke belakang, tertawa kesenangan.
Tak ada gunanya, Ron, kata Hagrid sedih saat mereka tiba di undakan kastil.
Komite itu ada dalam cengkeraman Lucius Malfoy.
Aku cuma akan pastikan sisa waktu Bikki jadi waktu yang paling menyenangkan baginya.
Aku berutang padanya.
Hagrid berbalik dan bergegas kembali ke pondoknya.
Wajahnya dibenamkan dalam sapu tangannya.
Lihat, dia menangis.
Malfoy, Crabbe, dan Goyle tadi berdiri di balik pintu kastil, mencuri dengar.
Pernahkah kau melihat sesuatu yang sekonyol itu? kata Malfoy.
Mana bisa orang konyol begitu jadi guru kita?
Harry dan Ron bergerak cepat mendekati Malfoy.
Tapi Hermione lebih cepat dari mereka.
Plak!
Dia telah menampar Malfoy dengan sekuat tenaga.
Malfoy terhuyung.
Harry, Ron, Crabbe, dan Goyle berdiri terperangah,
sementara Hermione mengangkat tangannya lagi.
Jangan berani-berani kau mengatai Hagrid konyol lagi kau anak brengsek jahat.
Hermione, kata Ron lemah, dan dia mencoba menyambar tangan Hermione yang sudah terayun lagi.
Minggir kau, Ron.
Hermione mencobut tongkapnya.
Malfoy mundur.
Crabbe dan Goyle memandangnya minta petunjuk.
Keduanya tampak bingung.
Ayo, berkata Malfoy, dan saat berikutnya,
mereka bertiga telah menghilang ke dalam lorong bawah tanah.
Hermione, kata Ron lagi, kedengarannya heran sekaligus agum.
Harry, sebaiknya kau mengalahkannya di final quidditch, kata Hermione nyaring.
Jangan sampai kau kalah, sebab aku tak tahan kalau Slytherin menang.
Sudah pelajaran jimat dan guna-guna nih, kata Ron.
Masih terkagum-kagum dengan Hermione.
Sebaiknya kita berangkat sekarang.
Mereka bergetias menaiki tangga pualam menuju ke kelas Profesor Flitwick.
Kalian terlambat anak-anak, kata Profesor Flitwick mencelah,
ketika Harry membuka pintu kelas.
Cepat masuk, keluarkan tongkat, kita mencoba jampi jenaka hari ini.
Yang lain sudah dibagi berpasang-pasangan.
Harry dan Ron bergegas ke tempat duduk paling belakang dan membuka tas mereka.
Ron menoleh ke belakang.
Kemana si Hermione?
Harry ikut mencari.
Hermione tidak masuk kelas, padahal Harry tahu Hermione berada di sebelahnya ketika dia membuka pintu kelas.
Aneh sekali, kata Harry, menatap Ron.
Mungkin dia ke toilet atau apa?
Tetapi Hermione tidak muncul sampai pelajaran berakhir.
Dia perlu jampi jenaka juga, kata Ron, ketika anak-anak meninggalkan kelas untuk makan siang.
Semua nyengir lebar.
Jampi jenaka membuat mereka semua merasa puas dan senang.
Hermione juga tidak muncul untuk makan siang.
Saat mereka menghabiskan pie apple mereka, pengaruh jampi jenaka sudah mulai pudar,
dan Harry serta Ron sudah agak cemas.
Menurutmu, mungkinkah Malfoy melakukan sesuatu kepadanya?
Tanya Ron cemas ketika mereka bergegas ke Menara Gryffindor.
Mereka melewati satpam troll dan menyebutkan kata kunci kepada sinyonya gemuk,
Fliberti Gibbet.
Lalu memanjat lubang lukisan, masuk ke ruang rekreasi.
Hermione duduk di depan salah satu meja, tidur pulas.
Kepalanya terbaring di atas buku aritmensi yang terbuka.
Harry dan Ron duduk di sebelah kanan kirinya.
Harry menjawilnya untuk membangunkan.
Apa? kata Hermione, terbangun kaget dan memandang berkeliling dengan panik.
Sudah waktunya berangkat.
Pelajaran apa kita sekarang?
Ramalan, tapi masih 20 menit lagi, kata Harry.
Hermione, kenapa kau tidak ikut jimat dan guna-guna?
Apa?
Oh, tidak, peking Hermione.
Aku lupa ikut jimat dan guna-guna.
Tapi bagaimana kau bisa lupa?
Kau bersama kami sampai kita tiba di depan kelas.
Aku tak percaya, ratap Hermione.
Apakah Profesor Flitwick marah?
Oh, gara-gara Malfoy.
Aku memikirkan dia dan lupa segalanya.
Tahu gak Hermione, kata Ron,
menunduk menatap buku aritmensi besar yang digunakan Hermione sebagai bantal.
Menurutku, kau kecapean.
Kau bekerja terlalu banyak.
Tidak, kata Hermione,
menyibakkan ramut dari matanya dan memandang berkeliling dengan putus asa,
mencari tasnya.
Aku cuma teledor, cuma itu.
Sebaiknya aku menemui Profesor Flitwick dan minta maaf.
Sampai ketemu di ramalan.
Hermione bergabung dengan mereka di kaki tangga yang merujuk kelas Profesor Trelawny,
20 menit kemudian.
Dia tampak sangat resah.
Aku tak mengerti bagaimana aku bisa tidak ikut jampi jenaka.
Berani taruh, pasti nanti keluar waktu ujian.
Profesor Flitwick memberi isyarat ini mungkin keluar.
Bersama-sama mereka menaiki tangga memasuki ruang menara yang remang-remang dan pengap.
Di atas setiap meja kecil ada bola kristal penuh kabut putih berkilau bagai mutiara.
Harry, Ron dan Hermione duduk di meja reyot yang sama.
Kupikir kita baru akan belajar bola kristal semester yang akan datang.
Gumam Ron memandang berkeliling dengan waspada.
Siapa tahu Profesor Trelawny ada dekat situ.
Jangan mengeluh.
Ini berarti kita sudah selesai mempelajari rajah tangan.
Harry balas bergumam.
Aku sudah muak melihatnya berjengit setiap kali dia melihat tanganku.
Selamat siang, anak-anak.
Sapa suara sayup-sayup yang sudah mereka kenal.
Dan seperti biasanya, Profesor Trelawny muncul secara dramatis dari dalam keremangan.
Parvati dan Lavender bergidik saking senangnya.
Wajah mereka bersinar tertimpa cahaya dari bola kristal mereka.
Aku memutuskan untuk memperkenalkan bola kristal lebih awal dari yang kurencanakan semula.
Kata Profesor Trelawny seraya duduk membelakangi perapian dan memandang berkeliling.
Takdir telah memberitahuku bahwa ujian kalian dalam bulan Juni akan ada hubungannya dengan bola kristal.
Dan aku ingin sekali memberi kalian cukup latihan.
Hermione mendengus.
Yang benar saja, takdir memberitahunya.
Siapa sih yang membuat soal ujiannya?
Dia kan, sungguh ramalan yang luar biasa.
Katanya, tanpa berusaha memelankan suaranya.
Susah menduga apakah Profesor Trelawny mendengarnya, karena wajahnya tersembunyi dalam keremangan.
Meskipun demikian, Profesor Trelawny melanjutkan seakan dia tidak mendengar.
Membaca bola kristal adalah arti yang halus sekali, katanya Menerawang.
Aku tak mengharap di antara kalian ada yang bisa melihat saat pertama kalinya kalian memandang kedalaman bola yang tak terhingga.
Kita akan mulai dengan berlatih merilakskan pikiran yang sadar dan mata luar.
Ronter kikik tak bisa menahan geli, dan terpaksa menjejalkan kepalanya ke dalam mulut untuk meredam kikiknya.
Untuk membersihkan mata batin dan pikiran bawah sadar.
Mungkin kalau kita beruntung, beberapa dari kalian bisa melihat sebelum akhir pelajaran.
Maka begitulah mereka mulai.
Harry paling tidak merasa tolol sekali.
Memandang kosong pada bola kristal, berusaha mengosongkan pikirannya.
Sementara pikiran-pikiran seperti, ini perbuatan tolol, tak hentinya melintas.
Yang membuat lebih parah lagi, Ron berulang-ulang terkikik tertahan, dan Hermione terus-menerus bercek-cek.
Sudah lihat sesuatu?
Harry menanyai mereka, setelah selama seperempat jam memandang bola kristal dalam diam.
Ya, ada noda bekas terbakar di meja ini, kata Ron sambil menunjuk.
Ada anak yang lilinya pernah jatuh.
Sungguh buang waktu, desis Hermione.
Aku bisa berlatih sesuatu yang berguna.
Aku bisa mengejar ketinggalan jampi jenaka.
Profesor Trelawney berjalan melewati mereka.
Apakah ada yang inginku bantu menafsirkan tanda-tanda berkabut dalam bolanya?
Dia bergumam di tingkah gemerincing gelang-gelangnya.
Aku tak perlu bantuan, bisik Ron.
Sudah jelas apa artinya ini.
Akan ada banyak kabut malam ini.
Harry dan Hermione meledak tertawa.
Astaga, kata Profesor Trelawney sementara semua kepala menoleh ke arah mereka.
Parvati dan Lavender tampak ngeri.
Kalian mengganggu getaran kekuatan ujum.
Profesor Trelawney mendekat dan mengamati bola kristal mereka.
Hati Harry mencolos.
Dia yakin betul apa yang akan terjadi.
Ada sesuatu di sini.
Profesor Trelawney berbisik mendekatkan wajahnya ke bola kristal
sehingga bola itu dipantulkan dua kali di kacamatanya yang lebar.
Ada yang bergerak.
Tapi apa itu?
Harry siap mempertaruhkan segala miliknya termasuk fireboltnya
bahwa yang akan dikatakan Profesor Trelawney bukan berita bagus.
Benar saja.
Nak, Profesor Trelawney mendesah menatap Harry.
Tampak di sini lebih jelas daripada sebelumnya.
Nak mengendap-endap mendekatimu.
Semakin dekat.
Si...
Ge...
Astaga, kata Hermione keras.
Jangan grim konyol itu lagi.
Profesor Trelawney mengangkat matanya yang besar memandang Hermione.
Parvati membisikkan sesuatu kepada Lavender.
Lalu mereka berdua ikut membelalak kepada Hermione.
Profesor Trelawney menegakkan diri,
mengawasi Hermione dengan kemarahan yang tampak jelas.
Terpaksa ku katakan bahwa dari saat pertama kau memasuki kelas ini, Nak,
jelas bahwa kau tidak memiliki apa yang dituntut oleh seni agung ramalan.
Terus terang saja, belum pernah aku punya murid yang pikirannya begitu biasa.
Sekejap, ruangan hening.
Kemudian...
Baiklah, kata Hermione tiba-tiba sambil bangkit dan menjejalkan menyingkap kabut masa depan ke dalam tasnya.
Baiklah, dia mengulangi.
Aku menyerah! Aku tidak ikut lagi!
Dan seluruh kelas terkesima melihat Hermione berjalan ke pintu tingkap,
menendangnya sampai terbuka, dan menuruni tangga menghilang dari pandangan.
Butuh beberapa menit sebelum kelas bisa tenang lagi.
Profesor Trelawney tampaknya sudah lupa sama sekali akan grim.
Dia mendadak berbalik dari meja Ron dan Harry,
bernafas agak berat semara mengencangkan shell tipis ketubuhnya.
Oh-oh-oh-oh, kata Lavender membuat semua orang terkejut.
Oh-oh-oh-oh, Profesor Trelawney, saya baru ingat.
Anda sudah melihatnya hengding meninggalkan kelas, kan?
Betul, kan, Profesor?
Menjelang Pasca, salah satu dari kita akan meninggalkan kita selamanya.
Anda sudah mengatakannya lama sebelumnya, Profesor.
Profesor Trelawney memberinya senyum samar.
Ya, nak, aku memang sudah tahu bahwa Miss Granger akan meninggalkan kita.
Meskipun demikian, orang biasanya berharap dia salah membaca pertanda.
Mata batin kita kadang-kadang membebani.
Lavender dan Parvati tampak kagum sekali
dan merapat agar Profesor Trelawney bisa bergabung di meja mereka.
Hari yang parah buat Hermione, eh.
Gumamron kepada Harry.
Dia tampak terpesona.
Ya, Harry mengerling ke dalam bola kristalnya,
tetapi tak melihat apa-apa kecuali kebut putih yang melayang-layang.
Betulkah tadi Profesor Trelawney melihat grim lagi?
Akankah dia melihatnya juga?
Gawat kalau dia mengalami kecelakaan nyaris fatal lagi,
mengingat final quidditch sudah semakin dekat.
Liburan Pasca tak bisa disebut santai.
Murid-murid kelas 3 belum pernah mendapat PR sebanyak itu.
Neville Longbottom tampaknya nyaris pingsan saking cemasnya.
Dan dia bukan satu-satunya yang begitu.
Yang begini ini mana bisa disebut liburan?
Gerun Simos Finnegan di dalam ruang rekreasi pada suatu hari.
Ujian kan masih jauh.
Kerajinan amat sih mereka.
Tetapi tak ada yang tugasnya sebanyak Hermione.
Bahkan tanpa pelajaran ramalan,
dia mengambil lebih banyak mata pelajaran dibanding teman-temannya.
Dia biasanya yang paling akhir meninggalkan ruang rekreasi di malam hari,
dan yang pertama tiba di perpustakaan keesokan paginya.
Di bawah matanya sekarang ada lingkaran-lingkaran hitam seperti Lupin.
Dan dia tampaknya terus-menerus mau menangis.
Ron sudah mengambil alih tanggung jawab untuk naik banding soal bakbik.
Kalau tidak mengerjakan tugas-tugasnya,
dia tekun membaca buku-buku tebal dengan judul-judul seperti
Buku Pegangan Psikologi Hipogrif dan Unggas atau Buas,
telah ah tentang kebrutalan hipogrif.
Begitu asiknya Ron,
sampai dia lupa bersikap sangar pada Cruikshanks.
Harry Potter sendiri harus menyempat-sempatkan membuat PR
di selasalah latihan Quidditch-nya setiap hari,
belum lagi diskusi tentang taktik yang tak ada habisnya dengan Wood.
Pertandingan Gryffindor dan Slytherin
akan berlangsung pada Sabtu pertama setelah liburan Pasca.
Slytherin sementara ini unggul dalam turnamen dengan tepat 200 angka.
Ini berarti,
seperti yang tak bosan-bosannya diingatkan Wood pada timnya,
bahwa mereka perlu memenangkan pertandingan dengan melebihi angka itu
untuk memperoleh piala.
Itu juga berarti bahwa beban kemenangan paling berat jatuh ke pundak Harry,
karena menangkap snitch bernilai 150 angka.
Jadi kau baru boleh menangkapnya kalau kita sudah unggul lebih dari 50 angka.
Wood tak henti-hentinya mengingatkan Harry.
Hanya kalau kita sudah menang lebih dari 50 angka, Harry,
kalau tidak kita memenangkan pertandingan, tetapi kehilangan piala.
Kau paham kan?
Kau baru boleh menangkap snitch kalau kita...
Aku tahu, Oliver!
teriak Harry.
Seluruh penghuni Gryffindor terobsesi oleh pertandingan yang akan berlangsung.
Gryffindor belum pernah memenangkan pertandingan lagi
sejak si seeker legendaris Charlie Weasley, kakak tertua kedwaron, meninggalkan tim.
Tetapi Harry sangsi apakah ada di antara mereka,
baskan Wood, yang punya keinginan menang sebesar dirinya.
Kebencian di antara Harry dan Malfoy telah mencapai puncaknya.
Malfoy masih jengkel dengan kejadian pelemparan lumpur di Hogsmeade
dan lebih gusar lagi karena Harry, entah bagaimana, berhasil menghindar dari hukuman.
Harry belum lupa usaha Malfoy menyabut tasenya dalam pertandingan melawan Ravenclaw,
tetapi masalah bugbeaklah yang membuatnya paling bertekad untuk mengalahkan Malfoy di depan seluruh sekolah.
Seingat anak-anak belum pernah ada saat menjelang pertandingan yang suasananya setegang itu.
Seusai liburan, ketegangan di antara kedua tim dan asrama masing-masing sudah sedemikian rupa
sehingga bisa meledak setiap saat.
Gesekan-gesekan kecil terjadi di koridor-koridor memuncak dengan insiden tak menyenangkan
yang diakhiri dengan anak kelas 4 Gryffindor dan anak kelas 6 Slytherin
dibawa ke rumah sakit dengan daun-daun bawang bermunculan dari dalam telinga mereka.
Harry sendiri kerepotan menghadapi berbagai gangguan.
Dia tak bisa berjalan ke kelas tanpa anak-anak Slytherin menjulurkan kaki berusaha menjegalnya.
Krip dan Goyle selalu muncul kemanapun Harry pergi
dan menyingkir dengan kecewa ketika melihat Harry dikerumuni anak-anak.
Wood telah beri instruksi agar Harry selalu ditemani kemanapun dia pergi
siapa tahu anak-anak Slytherin akan melakukan sesuatu yang membuat Harry tak bisa ikut bertanding.
Semua penghuni Gryffindor menyamput tantangan ini dengan sangat antusias
sehingga tak mungkin bagi Harry tiba di kelasnya tepat waktu
karena dia selalu dikelilingi serombongan besar anak-anak yang bising.
Harry sendiri lebih mencemaskan keselamatan Firebolt-nya daripada dirinya sendiri.
Kalau tidak sedang dipakai terbang, dia menyimpannya dalam kopernya yang terkunci
dan dia sering berlari pulang ke Menara Gryffindor pada jam istirahat
untuk mengecek apakah sapunya masih ada.
Semua kegiatan yang biasa dalam ruang rekreasi Gryffindor ditinggalkan pada malam sebelum pertandingan.
Bahkan Hermione pun menyinggalkan buku-bukunya.
Aku tak bisa belajar, aku tak bisa konsentrasi katanya tegang.
Suasana bising sekali.
Fred dan George Weasley mengatasi stres mereka dengan jalan berteriak lebih keras dari biasa
dan bergembira secara berlebihan.
Oliver Wood membungkuk di atas maket lapangan Quidditch di sudut ruangan
mendorong-dorongkan boneka-boneka kecil di lapangan itu dengan tongkatnya dan bergumam sendiri.
Angelina, Alicia dan Katie tertawa mendengar gurawan George.
Harry duduk bersama Ron dan Hermione jauh dari pusat keramaian
berusaha tidak memikirkan esok hari karena setiap kali dia teringat pertandingan
ada sensasi mengerikan seakan sesuatu yang sangat besar mendesak ingin keluar.
Kau akan baik-baik saja, kata Hermione meskipun dia sendiri tampak ngeri.
Kau kan punya firebolt, kata Ron.
Yah, kata Harry, perutnya melilit.
Lega sekali rasanya ketika Wood tiba-tiba berdiri dan berteriak.
Seluruh anggota tim, tidur!
Harry tidur tak nyenyak.
Mula-mula dia bermimpi, dia bangun kesiangan dan Wood berteriak-teriak.
Dimana kau? Kami terpaksa memakai Neville.
Kemudian dia bermimpi bahwa Malfoy dan anggota tim Slytherin lainnya
datang ke pertandingan naik naga.
Harry sedang terbang secepat mungkin,
berusaha menghindari semburan api dari mulut tunggangan Malfoy.
Ketika dia sadar, dia lupa tidak naik fireboltnya.
Harry terjatuh dari angkasa dan terbangun dengan kaget.
Baru beberapa detik kemudian, Harry sadar bahwa pertandingan belum dimulai,
bahwa dia aman berada di tempat tidurnya,
dan bahwa tim Slytherin jelas tidak diizinkan bermain dengan naik naga.
Harry merasa haus sekali.
Sebisa mungkin tidak membuat suara,
Harry turun dari tempat tidurnya dan menuang air dari teko perak di bawah jendela.
Diluar sunyi dan tenang.
Tak ada angin yang menggoyang pucuk-pucuk pohon di hutan terlarang.
Dedalu perkasa tak bergerak dan tampak tak berbahaya.
Kelihatannya kondisi pertandingan kali ini sempurna.
Harry menaruh pialanya dan baru akan kembali ke tempat tidurnya ketika matanya menangkap sesuatu.
Ada binatang berkeliaran di lapangan rumput yang berkilau keperakan.
Harry melesat ke meja di sebelah tempat tidurnya,
menyambar kacamatanya dan memakainya,
kemudian bergegas kembali ke jendela.
Tak mungkin itu Grimm.
Tidak sekarang.
Tidak tepat sebelum pertandingan.
Dia menyipitkan mata memandang lapangan rumput lagi
dan setelah semenit mencari-cari dengan panik,
melihatnya.
Binatang itu berjalan di tepi pohon sekarang.
Dia sama sekali bukan Grimm,
melainkan seekor kucing.
Harry mencengkram ambang jendela dengan lega ketika dia mengenali ekor sikat botolnya.
Ternyata cuma si Crookshanks.
Atau betulkah itu cuma Crookshanks?
Harry menyipitkan mata,
menempelkan hidungnya sampai rata ke kaca.
Crookshanks kelihatannya berhenti.
Harry yakin dia bisa melihat binatang lain bergerak dalam keremangan pepohonan juga.
Dan saat berikupnya,
binatang itu muncul.
Anjing besar berbulu lebat panjang,
bergerak diam-diam menyeberangi lapangan.
Crookshanks berjalan di sebelahnya.
Harry terbelalak.
Apa artinya ini?
Kalau Crookshanks bisa melihat anjing itu,
bagaimana mungkin anjing itu merupakan pertanda kematian Harry?
Ron!
Harry mendesis.
Ron!
Bangun!
Hah?
Aku perlu kau untuk memberitahuku apakah kau bisa melihat sesuatu.
Masih gelap, Harry.
Gumam Ron dengan suara mengantuk.
Kau mau apa sih?
Di bawah sana!
Harry cepat-cepat melongo kembali keluar jendela.
Crookshanks dan si anjing sudah lenyap.
Harry memanjat ke ambang jendela untuk melihat ke tempat yang dinaungi bayangan gelap kastil.
Tapi mereka tak ada.
Kemana mereka perginya?
Dengkur keras memberitahunya bahwa Ron sudah tertidur lagi.
Harry dan anggota tim Gryffindor lainnya memasuki aula besar keesokan harinya disambut tepukan riuh.
Harry mau tak mau nyengir ketika melihat baik meja Ravenclaw maupun Hufflepuff bertepuk tangan untuk mereka juga.
Meja Slytherin mendesis keras ketika mereka lewat.
Harry melihat Malfoy tampak lebih pucat dari biasanya.
Wood melewatkan waktu sarapan untuk membujuk anggota timnya agar makan.
Sementara dia sendiri tak menyentuh apa-apa.
Kemudian dia menyuruh mereka buru-buru ke lapangan sebelum yang lain selesai sarapan
agar mereka mendapat gambaran kondisi lapangan.
Ketika mereka meninggalkan aula besar, semua bertepuk tangan lagi.
Semoga berhasil, Harry.
Seru cocang.
Harry merasa wajahnya merona merah.
Oke, tak ada angin.
Matahari sedikit kelewat berang.
Ini bisa menyesatkan pandanganmu, jadi hati-hati.
Lapangan cukup keras.
Bagus.
Jejakan kita bisa keras.
Wood berjalan mengelilingi lapangan, memandang berkeliling.
Diikuti anggota timnya.
Akhirnya mereka melihat pintu depan kastil terbuka di kejauhan
dan seluruh sekolah turun ke halaman.
Kamar ganti, kata Wood tegang.
Tak seorang pun dari mereka bicara ketika mereka berganti memakai jubah merah tua mereka.
Dalam hati Harry bertanya apakah mereka semua merasakan seperti yang dia rasakan
seakan dia telah memakan sesuatu yang menggeliat-geliat waktu sarapan tadi.
Rasanya baru sekejap.
Wood berkata,
Oke, sudah waktunya. Kita berangkat.
Mereka memasuki lapangan di tengah gelombang kebisingan.
34 penonton memakai mawar merah,
melambaikan bendera-bendera merah dengan lambang singa Gryffindor
atau mengacungkan sepanduk dengan slogan-slogan seperti
Ayo Gryffindor!
atau Singa Memang Juara!
Meskipun demikian, di belakang tiang gawang seliterin,
200 orang memakai jubah hijau.
Ular perak seliterin berkilauan di bendera-bendera mereka
dan Profesor Snape duduk di baris paling depan memakai jubah hijau seperti yang lain.
Dan senyumnya sangat suram.
Dan ini dia, Regu Gryffindor.
Teriak Lee Jordan, yang bertindak sebagai komentator seperti biasanya.
Potter, Belle, Johnson, Spinette, Weasley, Weasley, dan Wood
dikenal luas sebagai tim terbaik yang pernah dilihat Hogwarts selama beberapa tahun.
Komentar Lee tenggelam oleh gelombang Who dari ujung seliterin.
Dan sekarang muncul Regu Seliterin, dipimpin oleh Captain Flint.
Dia telah membuat beberapa perubahan dalam urutan
dan tampaknya memilih berdasarkan ukuran bukannya kemampuan.
Terdengar lebih banyak Who dari rombongan seliterin.
Meskipun demikian, Harry beranggapan pendapat Lee ada benarnya.
Malfoy adalah orang terkecil dalam Regu ini.
Sisanya semuanya bertubuh besar-besar sekali.
Kapten, silakan jabat tangan, kata Madame Hooch.
Flint dan Wood saling mendekat dan saling menggenggam tangan kuat-kuat.
Kelihatannya masing-masing sedang berusaha mematahkan jari-jari lawannya.
Naik ke sapu kalian, kata Madame Hooch.
Tiga, dua, satu.
Tiupan peluitnya lenyap ditelan sorakan penonton ketika empat belas sapu mengangkasa.
Harry merasakan rambutnya tersibak dari dahinya.
Ketegangannya sirna dalam kegairahan terbang.
Dia memandang berkeliling, melihat Malfoy membuntutinya
dan mempercepat laju sapunya untuk mencari Snitch.
Dan bola di tangan Gryffindor.
Alicia Spinett dari Gryffindor memegang Quaffle.
Meluncur lurus menuju gawang Slytherin.
Bagus sekali, Alicia.
Ah, sayang sekali.
Quaffle direbut oleh Warrington.
Warrington dari Slytherin membelah lapangan.
Blook, sasaran bludger yang tepat sekali dari George Weasley.
Warrington menjatuhkan Quaffle-nya.
Ditangkap oleh Johnson.
Bola kembali di tangan Gryffindor.
Ayo, Angelina.
Berkelit cantik menghindari Montague.
Tunduk, Angelina.
Ada bludger.
Goal!
Dia berhasil memasukkan bola.
10-0 untuk Gryffindor.
Angelina meninju udara
sementara dia melesat mengelilingi ujung lapangan.
Lautan merah di bawahnya bersorak kegairahan.
Auch!
Angelina nyaris terempas dari sapunya
ketika Marcus Flynt menabraknya.
Sorry, kata Flynt.
Sementara penonton di bawah berhu amarah.
Sorry, aku tidak lihat dia.
Saat berikutnya, Fred Weasley telah mengarahkan
pemukul biternya ke belakang kepala Flynt.
Hidung Flynt menabrak gagang sapunya sampai berdarah.
Cukup!
Pekik Madame Hooch meluncur di antara mereka.
Penalti untuk Gryffindor karena serangan
tanpa sengaja kepada chaser mereka.
Penalti untuk Slytherin karena serangan
sengaja kepada chaser mereka.
Jangan begitu dong, Miss!
Gerung, Fred.
Tetapi Madame Hooch meniup fluidnya
dan Alicia terbang maju untuk melakukan penaltinya.
Ayo, Alicia!
Teriak Lee memecah keheningan
yang telah menyelimuti penonton.
Ya!
Dia mengalahkan si keeper!
20-0 untuk Gryffindor!
Harry membelokkan fireboltnya dengan tajam
untuk melihat Flynt, yang masih berdarah,
maju ke depan untuk melakukan penalti
bagi Slytherin.
Wood berjaga di depan gawang Gryffindor.
Rahangnya terkatup rapat.
Tentu saja, Wood keeper hebat!
Lee Jordan memberitahu penonton
sementara Flynt menunggu peluit Madame Hooch.
Hebat!
Sulit ditembus!
Sungguh sulit!
Ya!
Aku tak percaya!
Wood menyelamatkan gawang Gryffindor!
Lega!
Harry terbang menjauh.
Pemandang berkeliling mencari Snitch,
tetapi tetap memastikan
dia mendengar semua komentar Lee.
Dia harus menjauhkan Malfoy dari Snitch
sampai Gryffindor sudah unggul
lebih dari 50 angka.
Bola di tangan Gryffindor!
Bukan!
Di tangan Slytherin!
Bukan!
Kembali bola di tangan Gryffindor!
Berhasil direbut!
Katie Bell dari Gryffindor memegang Quaffle.
Dia meluncur ke gawang.
Itu sengaja!
Montagu, Caesar Slytherin,
memotong di depan Katie,
tetapi alih-alih merebut Quaffle,
dia malah menyambar kepala Katie.
Katie jungkir balik di udara.
Berhasil bertahan di atas sapunya,
tetapi Quaffle-nya terjatuh.
Peluit Madame Hooch berbunyi lagi
sementara dia terbang ke arah Montagu
dan memarahinya.
Menit berikutnya,
Katie berhasil memasukkan bola penalti
melewati Keeper Slytherin.
30-0!
Rasain!
Dasar licik!
Kasar!
Jordan,
kalau kau tidak bisa berkomentar
tanpa memihak,
saya mengomentari sesuai
yang terjadi, Profesor.
Harry merasakan entakan kuat kegairahan.
Dia telah melihat Snitch
berpendar berkilauan
di kaki salah satu tiang gawang Gryffindor,
tetapi dia belum boleh menangkapnya.
Dan jika Malfoy melihatnya?
Berpura-pura mendadak
berkonsentrasi,
Harry memutar firebolt-nya
dan meluncur menuju gawang Slytherin.
Berhasil!
Malfoy meluncur mengejarnya.
Rupanya mengira Harry melihat Snitch di sana.
Woosh!
Salah satu bludger berdesing
melewati telinga kanan Harry.
Hasil pukulan biter raksasa Slytherin,
Derek.
Saat berikutnya?
Woosh!
Bludger kedua menyerempet siku Harry.
Biter satunya, Bolle, bergerak ke arahnya.
Sekilas,
Harry melihat Bolle dan Derek
meluncur ke arahnya.
Pemukul mereka terangkat.
Harry mengarahkan firebolt-nya ke atas
pada detik terakhir,
akibatnya Bolle dan Derek bertabrakan
dengan bunyi mengerikan.
Haha!
Pekik Lee Jordan ketika
kedua biter Slytherin saling menjauh,
memegangi kepala masing-masing.
Sakit ya?
Kalian harus lebih gesit dari itu
kalau mau mengalahkan firebolt.
Dan bola kembali di tangan Gryffindor
setelah Johnson berhasil merebut Quaffle.
Flynn merendenginya.
Sodok matanya Angelina.
Cuma bergurau, Profesor.
Cuma bergurau. Oh, tidak!
Flynn berhasil merebut bola.
Flynn terbang ke gawang Gryffindor.
Ayu Wood selamatkan.
Tetapi Flynn berhasil mencatat gol.
Terdengar sorakan riuh
dari anak-anak Slytherin
dan Lee mengumpat-umpat keras
sehingga Profesor McGonagall berusaha
menjauhkan megafon sihir darinya.
Maaf, Profesor.
Maaf. Tak akan terjadi lagi.
Jadi, Gryffindor masih unggul.
30 lawan 10.
Dan bola di tangan Gryffindor.
Pertandingan itu menjadi
pertandingan paling kotor
yang pernah diikuti Harry.
Slytherin yang berang karena Gryffindor
berhasil memimpin sejak awal
menggunakan segala cara untuk merebut
kuafel. Boleh memukul
Alicia dengan pemukurnya
dan berkilah bahwa dia mengira
Alicia itu blucher.
George Weasley menyikut wajah Boleh
sebagai balasan. Madam Hooch
memberikan penalti kepada kedua tim
dan Wood kembali berhasil
menyelamatkan gawangnya dengan spektakuler
sehingga angka menjadi
40-10 untuk Gryffindor.
Snitch telah lenyap
lagi. Malfoy masih tetap
menempel Harry yang melayang di atas
pertandingan mencari-cari Snitch
begitu Gryffindor unggul
50 angka.
Catty mencetak gol. 50-10.
Fred dan George Weasley
terbang mengelilingi Catty
berjaga-jaga kalau-kalau ada anak
Slytherin yang mau membalas dendam.
Boleh dan Derek menggunakan
kesempatan absennya Fred dan George
ini untuk mengarahkan kedua
Bludger kepada Wood. Kedua bola
itu susul-menyusul menghantam perut Wood
dan Wood berguling di udara
mencengkram sapunya. Amat
kesakitan. Madam Hooch
marah sekali. Kalian dilarang
menyerang keeper kecuali Quaffle ada
di area gol. Dia berteriak
kepada Boleh dan Derek. Penalti
untuk Gryffindor. Dan Angelina
berhasil memasukkan bola.
60-10.
Beberapa saat kemudian Fred Weasley
menghantamkan Bludger ke arah
Warrington. Membuat Quaffle terlepas
dari tangannya. Alicia
menyambarnya dan memasukannya ke gawang
Slytherin. 70-10.
Anak-anak Gryffindor
di bawah berteriak-teriak sampai serak.
Gryffindor sudah unggul
60 angka. Dan jika Harry
menangkap Snitch sekarang, pial
Quidditch milik mereka. Harry
hampir bisa merasakan ratusan pasang
mata yang mengikutinya saat
dia terbang di atas lapangan. Tinggi
di atas pertandingan dengan
Malfoy di belakangnya.
Dan kemudian dia melihatnya.
Snitch berkilauan kira-kira
enam meter di atasnya.
Harry menambah kecepatan sapunya.
Angin menderu di telinganya.
Dia menjulurkan tangannya,
tetapi mendadak fireboltnya melambat.
Dengan ngeri,
dia menoleh. Malfoy telah
melempar dirinya ke depan, memegang
ekor firebolt dan menariknya.
Kau! Harry marah sekali
sehingga ingin memukul Malfoy,
tetapi tak sampai. Malfoy tersengal-sengal
kelelahan dalam usahanya menahan
firebolt, tetapi matanya berkilat
licik. Dia telah berhasil mendapatkan
yang diinginkannya.
Snitch telah menghilang lagi.
Penalti! Penalti untuk Gryffindor!
Belum pernah aku melihat taktik macam itu!
Jerit Madam Hooch, melesat
ke tempat Malfoy yang meluncur kembali
ke atas Nimbus 2001-nya.
Penipu licik!
Brengsek! Brengsek!
Profesor McGonagall tidak menegurnya.
Dia bahkan mengacung-acungkan
tinjunya ke arah Malfoy.
Topinya merosot dan dia juga berteriak-teriak
marah. Alicia melakukan
penalti, tetapi saking jengkelnya
bolanya meleset semeter
lebih. Tim Gryffindor kehilangan
konsentrasi. Sebaliknya,
Slytherin yang senang dengan kelicikan
Malfoy terhadap Harry semakin
bersemangat. Slytherin memegang
bola. Slytherin menuju gol.
Montague berhasil memasukkan bola.
Lee mengeluh.
72-20 untuk Gryffindor.
Harry sekarang mengawasi Malfoy
begitu dekat, sehingga lutut mereka
berkali-kali bergesekan.
Harry tak akan membiarkan Malfoy berada
dekat Snitch.
Minggir poter! Teriak Malfoy frustrasi
ketika dia mencoba memutar
dan ternyata Harry sudah menghadangnya.
Angelina Johnson menangkap
Quaffle untuk Gryffindor. Ayo, Angelina!
Ayo! Harry
memandang berkeliling. Semua pemain
Slytherin, kecuali Malfoy,
bahkan keeper Slytherin juga,
meluncur ke arah Angelina.
Semuanya akan membloknya.
Harry memutar Firebolt-nya,
membungkuk rendah sekali, sampai dia
membujur rata di atas gagang sapunya
dan menjejak maju. Seperti peluru,
dia meluncur ke arah rombongan
Slytherin. Ah!
Para pemain Slytherin berhamburan
ketika Firebolt melesat ke arah mereka.
Jalam Angelina mulus.
Gol! Gol!
Gryffindor unggul dengan angka
80 lawan 20.
Harry, yang hampir saja meluncur
menabrak tempat duduk penonton,
berhenti di tengah udara, berputar
dan meluncur kembali ke tengah lapangan.
Dan kemudian,
dia melihat sesuatu yang membuat
jantungnya berhenti berdetak.
Malfoy menukik.
Wajahnya penuh kemenangan, kira-kira
semeter dari rumputan di bawah.
Tampak kilau kecil keemasan.
Harry melajukan Firebolt-nya
ke bawah, tetapi Malfoy sudah
beberapa kilometer di depannya.
Ayo! Ayo! Ayo!
Harry mendesak sapunya.
Mereka hampir berhasil mengejar
Malfoy. Harry membungkuk
merapatkan diri ke gagang sapu ketika
Bol memukul Bludger ke arahnya.
Dia sudah sampai ke mata kaki
Malfoy. Mereka sudah sejajar.
Harry melempar tubuhnya ke depan,
melepas kedua tangan dari sapunya.
Dia menyingkirkan lengan Malfoy
yang menghalanginya dan... YES!
Dia mengerem tukikannya.
Tangannya teracung ke udara
dan stadion meledak.
Harry terbang di atas kerumunan,
dering aneh terdengar di telinganya.
Bola emas kecil mungil tergenggam
di tangannya, mengepak-ngepakan
sayapnya dengan tak berdaya ke jari-jari
Harry. Kemudian
Wood meluncur ke arahnya. Setengah dibutakan
oleh air mata, dia merangkul
leher Harry dan terisak tak
terkendali di bahunya. Harry
merasakan benturan keras dari dua arah
ketika Fred dan George menabrak mereka.
Kemudian terdengar suara
Angelina, Alicia dan Katie.
Kita memenangkan piala! Kita
memenangkan piala! Berpelukan
serabutan, tim Gryffindor
mendarat di tanah sambil berteriak-teriak serak.
Gelombang demi gelombang
supporter merah memanjat pagar pembatas
memasuki lapangan. Tangan-tangan
menghujani punggung-punggung mereka.
Harry cuma bisa merasakan suara-suara
dan tubuh-tubuh mendesaknya.
Kemudian, dia dan teman-teman
timnya diangkat ke bahu
para supporter. Setelah diangkat ke
cahaya, dia melihat Hagrid
jubahnya dipenuhi mawar-mawar merah.
Kau kalahkan mereka, Harry!
Kau kalahkan mereka!
Tunggu sampai aku cerita pada Buckbeak.
Tampak persi melompat-lompat seperti
orang gila. Semua martabat
dilupakan. Profesor McGonagall
terisak lebih keras dari Wood,
menyeka matanya dengan bendera besar
Gryffindor dan menyeruak
di antara terumunan menuju Harry,
tampak Ron dan Hermione.
Mereka tak sanggup berbicara
saking terharunya. Mereka cuma bisa
tersenyum bersinar-sinar ketika
Harry dibawa ke deretan tempat duduk
ke tempat Dumbledore berdiri
menanti dengan piala Quidditch
yang amat besar. Kalau saja
ada Dementor, ketika Wood
yang terseduh-seduh menyerahkan piala ke tangan
Harry. Ketika Harry mengangkatnya
ke atas, Harry merasa dia
bisa menghasilkan patronus paling hebat
sedunia.
