Hari ini, mari kita kembali ke masa 5.000 tahun silam, ke tempat yang kini dikenal sebagai Baghdad, ibu kota Irak. Pada masa itu, di sini pernah berdiri sebuah menara raksasa yang luar biasa megah—menara Babel yang dikatakan menjulang hingga ke langit. Mengapa disebut "Babel Menara Langit"? Apakah menara ini benar-benar bisa menjangkau langit? Menurut catatan Perjanjian Lama bangsa Yahudi, setelah bencana air bah besar, seluruh umat manusia masih menggunakan satu bahasa dan satu jenis logat. Keturunan Nuh terus bertambah banyak dan menyebar ke seluruh penjuru bumi. Ketika mereka bergerak ke arah timur, mereka menemukan sebuah dataran luas di tanah Sinear, dan memutuskan untuk menetap di sana. Mereka bertekad membangun sebuah kota serta sebuah menara yang menjulang tinggi hingga ke langit, sebagai simbol kejayaan mereka, dan sebagai cara untuk tetap bersatu dan tidak tercerai-berai.
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AI
This video explores the intersection of biblical narratives and archaeological findings regarding the Tower of Babel, while also touching upon the mysterious ancient civilization of Shang Shiong in Tibet. It examines how ancient construction techniques and historical texts provide evidence for structures and knowledge once thought to be mere myths.
Intro
Salam Sehat Sejahtera
Jumpa lagi di channel Mata Ketiga
Hari ini mari kita kembali ke masa 5.000 tahun silam
Ketempat yang kini dikenal sebagai Baghdad, ibu kota Iraq
Pada masa itu, disini pernah berdiri sebuah menara raksasa yang luar biasa megah
Menara Bible yang dikatakan menculang hingga ke langit
Mengapa disebut Bible Menara Langit?
Apakah menara ini benar-benar bisa menjangkau langit?
Menurut catatan perjanjian lama bangsa Yahudi,
setelah bencana airbah besar,
seluruh umat manusia masih menggunakan satu bahasa dan satu jenis logat.
Keturunan Nuh terus bertambah banyak dan menyebar ke seluruh pencuru bumi.
Ketika mereka bergerak ke arah timur,
mereka menemukan sebuah dataran luas di Tanah Siniar
dan memutuskan untuk menetap di sana.
Mereka bertekad membangun sebuah kota serta sebuah menara yang menculang tinggi hingga ke langit
sebagai simbol kejayaan mereka
dan sebagai cara untuk tetap bersatu dan tidak tercerai-berai.
Karena di dataran itu sulit memperoleh batu,
mereka menemukan cara membuat batu batak
Mereka menggunakan betu batas sebagai pengganti batu
dan aspal sebagai pengganti semen
lalu mulai membangun kota dan menara itu bersama-sama.
Karena bahasa mereka sama dan tujuan mereka satu,
proses pembangunan pun berlangsung sangat cepat.
Menara bertingkat itu dengan cepat menembus awan.
Namun Tuhan melihat ambisi manusia ini
dan memutuskan untuk turun ke bumi
dan meninjau proyek pembangunan menara dan kota tersebut.
Tuhan berkata,
Mereka adalah satu bangsa, menggunakan satu bahasa.
Jika mereka mampu membangun menara ini sekarang,
maka tidak ada lagi yang mustahil bagi mereka.
Maka Tuhan mengacaukan bahasa mereka,
membuat mereka tidak seling mengerti.
Akibatnya, pembangunan menara pun terhenti
dan mereka tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Keinginan manusia untuk menantang otoritas ilahi pun hancur berantakan.
Menariknya,
dalam bahasa Ibrani,
Bible berarti kekecohan.
Sedangkan dalam bahasa Babylonia,
Bible atau Babylon berarti gerbang Tuhan.
Satu kata, dua makna yang berbeda.
Namun sangat selaras dengan cerita dalam Alkitab.
Apakah ini benar-benar hanya kebetulan?
Meski banyak orang hingga kini menganggap menara Bible sebagai dongeng semata,
benarkah demikian?
PENEMUAN ARKEOLOGIS YANG MENGGUNJANG
Pada Maret 1899,
sekelompok arkeolog Jerman melakukan penggalian besar-besaran selama lebih dari satu dekade di tepi sungai Efrat,
sekitar 50 km di selatan Bagdad.
Hasilnya mengejutkan mereka.
Mereka menemukan runtuhan yang sangat menyerupai menara Bible.
Menurut pengukuran arkeolog Robert Caldwey,
panjang sisi dasar runtuhan menara itu sekitar 96 meter,
dan tingkinya baik menara maupun kuilnya juga sekitar 96 meter.
Ini sangat cocok dengan deskripsi Babylon kuno sebagaimana digambarkan dalam cerita Alkitab.
Kota Babylon sendiri berlokasi sangat dekat dengan Bagdad,
sehingga penggalian dan rekonstruksi menjadi lebih mudah.
Sayangnya, mantan Presiden Irak Saddam Hussein sempat melakukan proyek rekonstruksi yang keliru
dan bahkan membangun istana pribadinya di atas lokasi itu,
menambah kerumitan dalam upaya pelestarian situs bersejarah tersebut.
Diakini bahwa gerbang kota Babylon dulu adalah Gerbang Istar,
pintu gerbang megah berwarna biru yang dihiasi dengan ukiran hewan-hewan mitologis.
Melalui gerbang itu, pengunjung akan melihat jalanan lebar dan bangunan-bangunan rapi
serta dua mahakarya arsitektur.
Taman gantung untuk sang ratu dan menara Bible yang megah.
Kota ini dibangun berpusat pada menara tersebut, sebuah tata ruang kota yang menakjubkan.
Mencari jejak menara
Kini, sisa-sisa Babylon hanyalah runtuhan.
Namun dengan bantuan drone, para ahli berhasil memetakan kembali struktur kota tersebut.
Dari udara, garis-garis kota terlihat sangat simetris dengan banyak tembok berbentuk segi empat.
Para peneliti awalnya mencari bekas fondasi berbentuk lingkaran namun tidak menemukannya.
Muncul dugaan baru, mungkinkah menara Bible bukan berbentuk silinder, melainkan persegi?
Tak lama kemudian, mereka menemukan gundukan tanah berbentuk kotak raksasa sepanjang 90 meter,
ukuran yang luar biasa untuk masa itu.
Para peneliti fokus pada tempat ini.
Ketika penggalian dimulai, mereka menemukan lebih dari 100 batu batap persegi panjang,
masing-masing berukuran sekitar 30 cm, yang memuat nama Raja Nabukabnezar.
Mereka juga menemukan pilar batu dengan tulisan kuno yang menyebut sebuah menara bernama Ziggurat Tujuh Cahaya,
menara misterius yang diakini sebagai menara Bible.
Teknik konstruksi kuno yang mencengangkan.
Pertanyaan berikutnya,
bagaimana bisa menara setinggi itu dibangun dengan material sederhana seperti batu bata dari tanah liat?
Babylonia kala itu membuat batu bata dari tanah sungai Efrat yang dicampur dengan cerami lalu dikeringkan di bawah sinar matahari.
Tapi batu bata seperti itu rapuh dan hasil uji tekan membuktikan bahwa batu tersebut sangat mudah hancur.
Namun kemudian ditemukan jenis batu bata lain yang dibakar dalam tungku bersuhu hingga 1770 derajat celcius selama tiga hari.
Batu bata ini jauh lebih kuat hingga 10 kali lipat.
Uji simulasi komputer berdasarkan struktur piramida Mesir menunjukkan bahwa menara setinggi 90 meter bisa dibangun dengan material ini.
Alkitab menyebutkan bahwa perekat yang digunakan disebut aspal atau beets dan para ilmuwan menduga itu adalah aspal alam atau bitumen,
bahan lengket yang banyak ditemukan di wilayah Irak.
Untuk menguji teori ini, mereka membangun dua miniatur piramida, satu dilapisi bitumen, satu tidak.
Setelah disemprot air terus-menerus, piramida tanpa bitumen mulai runtuh sementara yang satunya tetap kokoh.
Bitumen benar-benar memberikan perlindungan luar biasa.
Bagian puncak menara menurut Alkitab berwarna biru.
Tapi bagaimana mungkin mereka menemukan warna biru di lingkungan penuh tanah dan tumbuhan hijau?
Jawabannya adalah lapis lazuli, sejenis batu permata biru.
Tapi lapis lazuli tidak bisa langsung digunakan sebagai cat.
Para ahli mencoba mencampurnya dengan bahan lain, termasuk resin Arab, namun warnanya mudah luntur atau pudar saat dipanaskan.
Setelah berbagai eksperimen, ditemukan bahwa campuran silikon dan mineral berwarna yang dibakar hingga 1700 derajat celcius
bisa menghasilkan pigment biru stabil, mirip dengan cat enamel modern.
Mungkinkah menara itu benar-benar menembus awan?
Dalam banyak ilustrasi kuno, menara Babel tampak menembus awan.
Apakah ini hanya simbolis atau benar-benar terjadi?
Secara geografis, lokasi menara berada di dekat sungai dan di utara terdapat pegunungan bersalju.
Saat musim semi, salju mencair dan menyebabkan air sungai naik.
Suhu dingin malam dan panas matahari pagi menciptakan kabut air di sekitar menara.
Efek visual ini bisa membuat puncak menara tampak mengambang di awan.
Misteri Kita Besar Siang-Siong
Cerita menjadi lebih menarik ketika kita beralih ke Tibet.
Di sana ditemukan naskah kuno berjudul Siang-Siong Ta Chang Ching
dianggap sebagai ensiklopedia tertua dunia yang mencakup ilmu filsafat, astronomi, geografi, kedokteran, seni, hingga arsitektur.
Isinya sangat menakjubkan, menggembarkan tahap-tahap perkembangan janin manusia secara rinci dari pembuahan hingga pembentukan organ.
Ini sangat presisi seperti hasil USG, padahal zaman itu belum ada mikroskop.
Mereka juga mencatat keberadaan obat kuno bernama Pil Pemeliharaan Vitalitas Luar Angkasa
yang konon digunakan oleh astronot misi Sen Chow Tujuh.
Lebih mengejutkan, kitab ini menggambarkan teknik operasi tanpa perlu melepas jahitan
karena menggunakan tendon hewan yang larut secara alami, teknologi yang baru dikenal dalam dunia kedokteran modern dalam beberapa dekade terakhir.
Batu Mengambang dan Suara Misterius
Seorang dokter swedia bernama Dr. Han mencatat dalam bukunya,
siapa yang menciptakan alam semesta bawah di Tibet yang menyaksikan sekelompok biksu mengelilingi batu besar,
meniup trompet dan memukul genderang.
Batu itu kemudian terangkat dan mengambang di udara.
Fenomena ini juga disebut dalam Siang Siong Ta Chang Ching.
Banyak yang percaya bahwa ini merupakan warisan teknologi dari peradaban kuno bernama Siang Siong
yang menurut legenda pernah menguasai wilayah Tibet 18.000 tahun lalu berpusat di sebuah kota suci bernama Waymo Longren
dengan kristal raksasa dan tiang yang menghubungkan langit dan bumi.
Jejak Arkeologis Yang Membuka Tabir
Pada 2012, reruntuhan kota kuno bernama Chiong Long Yin Cheng ditemukan 75 km selatan Gunung Kailas.
Kota ini memiliki ribuan artefak dari keramik hingga sisar tulang hewan serta pemakaman seluas puluhan ribu meter persegi.
Namun tidak ada tanda kuil atau bangunan religius menimbulkan banyak pertanyaan tentang kehidupan dan keyakinan penduduknya.
Kini, para ilmuwan dari seluruh dunia terus berusaha memecahkan isi kitab Siang Siong Tachang Jing.
Sejak tahun 1920-an, ilmuwan dari Amerika, Rusia, dan Eropa telah mencoba menyusun kamus dan tata bahasanya.
Sayangnya, eksplorasi dan pelestarian budaya Siang Siong di Tiongkok sendiri masih tertinggal jauh.
Namun satu hal kini semakin jelas, peradaban kuno yang selama ini dianggap mitos ternyata pernah benar-benar ada.
Dan sebagian besar rahasia peradaban tersebut masih menunggu untuk ditemukan.
Cukup sekian dulu, terima kasih atas perhatiannya.