
IRAN DIKEPUNG DARI SEGALA ARAH! AS Bersihkan Hormuz, 71 Kapal Dicegat & 5 Bos IRGC Diburu

27 Agustus 2026 — Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui kombinasi kekuatan militer, sanksi ekonomi, pengawasan intelijen, dan kampanye pencarian informasi terhadap sejumlah pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Perkembangan terbaru terjadi pada Selasa, 25 Agustus 2026, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS telah menyelesaikan operasi pembersihan ranjau di jalur pelayaran internasional Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam perebutan kendali atas salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Trump mengatakan dirinya baru menerima laporan dari Angkatan Laut AS bahwa seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah disingkirkan atau diledakkan. Dua pejabat AS yang mengetahui operasi tersebut juga mengatakan jalur utama pemisahan lalu lintas kapal atau Traffic Separation Scheme telah dibersihkan.
Washington kemudian mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Menurut Trump, setiap kapal atau perahu yang mencoba memasang ranjau baru akan menjadi sasaran penghancuran secara sistematis.
Menariknya, pengawasan Amerika tidak hanya mengandalkan kapal perang dan pesawat militer. Trump menyebut Angkatan Antariksa Amerika Serikat atau U.S. Space Force digunakan untuk mengawasi setiap bagian Selat Hormuz. Ia menegaskan kebijakan “nol toleransi” diberlakukan terhadap setiap upaya pemasangan ranjau baru.
Pentingnya Selat Hormuz sulit dilepaskan dari persoalan energi global. Sebelum konflik, lebih dari 20 juta barel minyak per hari melintasi jalur tersebut. Namun, menurut data sementara Vortexa yang dikutip Reuters, volume transit minyak pada 24 Agustus 2026 hanya sekitar 5 juta barel per hari.
#iran
#krisis
#perang
Ringkasan Video
Dibuat oleh AIThe United States has intensified its multi-pronged pressure on Iran through military action in the Strait of Hormuz, the launch of \"Operation Economic Outcast\" to isolate Tehran financially, and intelligence rewards targeting senior IRGC officials. This strategy aims to cripple Iran's strategic capabilities and economic networks while avoiding a full-scale military conflict.
