[MULTISUB]EP8/40 尚公主 Tigers Sniff the Rose|Tian Xi Wei/Yan An|秦榛执导|何妨编剧|李昀锐/孟子义领衔主演|全伊伦/吴汉坤/李孝谦/沈佳钰/余皑磊/胡杏儿/唐晓天/徐海乔等特别出演|优酷

好剧世界 X-Drama
778粉絲
475 次觀看·2026年10月25日
=Tigers Sniff the Rose=
=Episode 7=
(Zhang Renjing)
(Yu Cheng'an)
(Xu Mianmian)
(Luling)
(Luling, Yu Cheng'an, Zhang Renjing, Xu Mianmian)
Hari baik akan segera tiba.
Hari apa?
Beberapa hari lagi,
Taman Sigui di Distrik Jinchang akan mengadakan Festival Bunga Peoni.
Apa kau tidak tahu?
Aku tahu.
(Lima Hari Sebelum Festival Bunga Peoni)
(Taman Sigui)
Tuan Muda.
Apakah kau datang untuk melihat Peoni Hitam?
Kau datang terlalu cepat.
Bunganya baru akan mekar beberapa hari lagi.
Terima kasih sudah mengingatkan.
♪Giok murni dalam genggaman, tulang bambu ramping menghadap pegunungan♪
♪Lembaran kitab tidak bermata tajam, puluhan ribu kitab menembus cakrawala♪
(Yan Shang Waktu Kecil)
Ibu, di sini tersembunyi sebuah sumur.
Bukankah tadi Kakak bilang haus setelah berjalan-jalan?
Shang, sini. Ibu akan menimba air untuk kalian minum.
Ayo, minumlah.
Terima kasih, Ibu.
(Yan Dalang Waktu Kecil)
Ibu.
Kapan Peoni Hitam ini akan mekar?
Kita datang terlalu cepat.
(Xie Jinghui, Ibu Yan)
Namun, meski belum melihat bunga yang terkenal itu,
lihatlah,
taman ini begitu tenang dan bayangan awan terpantul di air.
Taman ini tetap sangat indah.
Ibu, lihat kupu-kupunya.
♪Kabut akan sirna setelah tengah hari, sungai pun akan berbelok♪
♪Menempuh jalan besar untuk pulang ke rumah♪
♪Kupinjam semburat merah senja untuk mengantar rembulan♪
♪Berganti pakaian lama♪
Xu Mianmian.
Luling.
Luling.
Salam hormat, Pak Tua.
Sepagi ini,
kau sudah datang ke taman ini untuk menikmati pemandangan dan bersantai.
Semangat yang bagus.
Ada keraguan di hatiku, jadi aku hanya berjalan-jalan.
Karena kau tidak ada urusan penting,
apa mau menemaniku bermain igo untuk mengisi waktu?
Boleh saja.
Hanya saja, tidak ada papan igo di sini dan juga tidak ada bidak igonya.
Hati sebagai papan, niat sebagai bidak igo.
Untuk apa membutuhkan benda mati?
Apakah kau berminat menemaniku
bermain igo buta satu ronde?
(Dia memang mengincarku.)
(Siapa dia?)
(Mengapa harus aku?)
Kalau begitu, aku akan memenuhi permintaan Anda.
Atas enam-tiga, menggantung di sudut.
Atas delapan-tiga, mengapit.
Atas tujuh-empat, runcing.
Atas
delapan-empat, menempel.
Masih begitu muda, tetapi langkah igomu begitu teratur.
Atas tujuh-enam, lompat.
Melihat pakaianmu,
kau pasti seorang pelajar yang mau mengikuti ujian kekaisaran.
Tentu kau berharap namamu ada dalam daftar kelulusan.
Benar, 'kan?
Atas empat-dua, lompat.
Sejujurnya,
kedatanganku ke ibu kota bukan demi mengejar kehormatan.
Atas lima-dua, runcing.
Apa tujuanmu?
Atas tiga-tujuh.
Tujuanku adalah meluruskan sebuah ketidakadilan.
Atas delapan-lima, adang.
Anak Muda.
Apakah kau tahu
kalau Kota Sheng'an
dikuasai orang-orang jahat?
Ketidakadilan di sini
jumlahnya tidak terhitung.
Atas enam-lima, tusuk.
Luruskan saja sebisanya.
Bagus.
Meskipun tahu ada harimau di gunung, kau justru pergi ke gunung itu.
Besar juga nyalimu.
Atas tujuh-lima, sambung.
Senior, berhati-hatilah.
Bergerak ke tiga-sembilan.
Langkah yang bagus!
Atas tiga-dua, kurung.
Aku berhasil menangkapmu, 'kan?
Hormat kepada Perdana Menteri Huaiyan.
Murid memberi hormat kepada Perdana Menteri.
Jika tadi ada kelalaian, mohon Perdana Menteri tidak tersinggung.
Kalian berdua ini juga ada-ada saja,
datang di saat yang tidak tepat.
Permainan ini baru mulai terasa seru.
Sudahlah, ayo pergi.
Anak Muda.
Jangan lupa.
Permainan igo kita berdua
belum selesai.
Baik.
Gunting.
Mengapa kau tersenyum sendiri?
Apakah aku sedang tersenyum?
Gunting.
Sejak kau keluar rumah,
kau selalu tersenyum sendiri setelah pulang.
Ada kejadian menyenangkan apa?
Bertemu kekasih hati?
Kekasih hati apaan?
Aku tidak punya.
Apa yang kau sukai dari Yan Shang?
Bukan.
Aku sedang memikirkan Liu Wenji.
Lalu, apa yang kau sukai dari Liu Wenji?
Aku bahkan tidak tahu apakah itu rasa suka.
Rasa suka mungkin seperti selalu ingin bertemu dengannya
dan tidak ingin berpisah saat sudah bertemu.
Bagaimana Tuan Putri bisa tahu apa yang kupikirkan?
Kau menyukainya,
lalu apakah dia menyukaimu?
Aku tidak tahu.
Namun, aku bisa bertanya padanya.
Bertanya?
Bagaimana kau akan bertanya padanya?
Liu Wenji mengajakku pergi ke Festival Bunga Peoni.
Aku bisa menanyakannya saat itu.
Namun,
aku belum meminta izin kepada Anda.
Jika Anda tidak mengizinkan, aku tidak akan pergi.
Pergilah jika kau mau pergi.
Aku tidak mau menjadi orang jahat yang memisahkan sepasang kekasih.
Namun,
kau harus tahu.
Dunia ini memang keras bagi kaum wanita.
Jangan mudah memberikan hatimu kepada orang lain.
Tuan Putri, kau mentertawakanku.
Jika suatu hari nanti
Chunhua-ku akan menikah,
aku pasti akan mengantarmu dengan penuh kehormatan,
agar seluruh gadis di Sheng'an
iri padamu.
Tidak.
Aku tidak mau menikah.
Aku ingin menemani Tuan Putri selamanya.
Selalu bicara sembarangan.
Menggelikan sekali.
Mengapa Tuan Putri menyulam begitu banyak ikan?
Benar-benar membawa sial.
Ujian kekaisaran tahun ini
sudah dekat.
Kalian harus lebih berkonsentrasi.
Pelajaran selesai.
- Terima kasih, Guru. - Terima kasih, Guru.
(Meluruskan Hati dan Memurnikan Niat)
Saudara Shang.
Saudara Shang.
Apa yang kau pikirkan sampai seserius itu?
Aku sedang memikirkan sebuah permainan igo yang belum selesai.
Ujian besar sudah di depan mata,
kau masih sempat bersantai seperti ini?
Pagi tadi di Taman Sigui Distrik Jinchang,
aku kebetulan bertemu seorang pak tua dan bermain igo dengannya.
Kemudian, aku mendengar orang memanggilnya Perdana Menteri Huaiyan.
Perdana Menteri Huaiyan?
Untuk apa dia ke Taman Sigui?
Kalian pasti belum tahu mengenai ini.
Taman Sigui ini dulunya
adalah kediaman lama mendiang Tuan Ma yang pernah menjadi Perdana Menteri.
Di taman itu sering diadakan pertemuan para cendekiawan.
Konon saat muda, Perdana Menteri Huaiyan juga sering menghadiri pertemuan sastra,
berpuisi dan berbincang dengan para cendekiawan.
Hanya saja, sekarang
taman itu sudah berkali-kali berganti pemilik.
Banyak hal telah berubah.
Mungkin
Perdana Menteri Huaiyan juga merindukan masa-masa itu.
Saudara Shang.
Keberuntunganmu bagus sekali.
Hanya jalan-jalan santai sudah bertemu orang penting.
Begitu rupanya.
Oh ya.
Di Taman Sigui tumbuh sebatang Peoni Hitam.
Setiap Festival Bunga Peoni,
rakyat ibu kota akan berbondong-bondong ke sana.
Setelah Pemberontakan Tujuh Wilayah,
hampir semua kuil dan taman terkenal di ibu kota telah hancur,
hanya Peoni Hitam di Taman Sigui yang beruntung masih bertahan.
Itulah yang membuat festival bunga makin meriah.
Setiap tahun para bangsawan berkumpul di sana,
bahkan orang itu...
Bahkan Tuan Putri Agung Luling itu juga akan hadir langsung setiap tahun.
Kudengar,
dia bahkan punya sebuah paviliun pribadi di taman itu.
Orang seperti Tuan Putri Agung Luling ini, apakah suka menikmati bunga juga?
Saudara Shu.
Dia bukan datang untuk melihat bunga.
Apa kalian belum pernah mendengar rumornya?
Tuan Putri Agung ini
sering memanfaatkan berbagai festival untuk memilih kekasih simpanan
dan diam-diam menemui seseorang.
Dia seorang Tuan Putri Agung yang begitu terhormat.
Apa dia tidak takut menghadapi bahaya jika melakukan hal seperti ini diam-diam?
Dia selalu membawa pengawal ke mana pun dia pergi.
Dikelilingi rombongan pengiring dari segala sisi.
Apalagi, di seluruh Kota Sheng'an ini,
siapa pula yang berani macam-macam padanya?
Tahun lalu, ada seorang pemuda ceroboh yang menerobos ke paviliun pribadinya
untuk menyerahkan karya tulis kepadanya.
Namun, sayangnya orang itu berwajah buruk rupa
dan tidak enak dipandang.
Tuan Putri Agung murka sampai naik pitam
dan langsung menyuruh pengawal menyeretnya keluar,
serta memukulinya sampai mati.
Satu nyawa melayang begitu saja,
tetapi tidak seorang pun berani mempertanyakannya.
Di festival bunga tahun ini,
entah Tuan Putri ini
akan memilih berapa pria tampan lagi untuk dijadikan kekasih simpanannya.
Saudara Xianyu,
bagaimana hasil pengajuan karya tulismu kemarin?
Aku...
Kemarin aku...
Saudara Zhao.
Karya tulis terus!
Kalian memang punya karya tulis lain untuk diajukan,
sedangkan aku?
Tulisanku benar-benar berantakan.
Jika ayahku membacanya lebih lama, kakiku pasti sudah dipatahkan.
Saudara Zhao terlalu merendah.
Buka matamu dan lihat.
(Pelajar Zhao, Pelajar Akademi Kekaisaran)
Apakah aku
masih perlu merendah?
Jika bukan karena ayahku terus mendesakku,
aku bahkan tidak sudi menginjakkan kaki di Akademi Kekaisaran ini.
Bisa masuk sekolah berkat hak istimewa keluarga
dan diurus oleh para senior,
apa lagi yang tidak disyukuri?
(Festival Bunga Peoni.)
(Tuan Putri Agung selalu hadir setiap tahun.)
(Paviliun pribadi?)
Saudara Zhao.
Saudara Zhao!
Saudara Zhao, tunggu sebentar.
Ada apa?
Apakah kita bisa bicara di tempat lain?
Ayo.
Ada urusan apa mencariku?
Mengapa mencurigakan begitu?
Dengan status dan kedudukan Saudara Zhao,
tidak mungkin harus risau hanya karena beberapa tulisan saja.
Tidak sepertiku.
Selain pandai merangkai kata,
aku benar-benar tidak punya kelebihan lain.
Jika Saudara Zhao bersedia,
aku bisa memberikanmu beberapa tulisan untuk digunakan sebagai pengajuan karyamu.
Ada hal sebagus ini?
Namun, kau juga tidak mungkin memberiku secara gratis, 'kan?
Saudara Zhao memang sangat jeli.
Belakangan ini aku memang
sedang kekurangan uang.
Biaya untuk alat tulis ini,
apakah Saudara Zhao
bersedia membayarnya?
Kalau begitu, kita sepakat.
Sungguh tidak kusangka.
Guru biasanya selalu memujimu sangat berbakat,
ternyata kau cukup tahu diri dan mau melakukan hal begini.
Orang bijak pun membutuhkan uang, tidak perlu malu mengakuinya.
Katakanlah,
berapa?
Semahal itu?
Sebanyak ini sudah cukup bagiku untuk membeli wanita penghibur tercantik.
Bagi orang lain mungkin mahal,
tetapi bagi Saudara Zhao, ini hanya seharga beberapa jamuan makan.
Baiklah.
Aku akan membayarnya.
Namun, kita sudah sepakat, ya.
Kau harus menulisnya dengan baik untukku.
Tulis beberapa karangan lagi.
Saudara Zhao, tenang saja.
Terima kasih banyak.
Aku pergi dulu.
Berhasil.
(Dua Hari Sebelum Festival Bunga Peoni)
Pak Tua.
Tuan Muda.
(Taman Sigui) Kita bertemu lagi.
Kau benar-benar tidak sabaran.
Peoni hitam itu masih butuh menunggu dua hari lagi.
Lagi pula, aku sedang tidak ada kesibukan,
jadi sekalian menenangkan pikiran selagi taman masih sepi.
Oh ya.
Kudengar,
Tuan Putri Agung Luling punya paviliun pribadi di taman ini.
Boleh tahu itu paviliun yang mana?
Setiap tahun saat Tuan Putri Agung datang menikmati bunga,
dia selalu memakai Paviliun Jifang itu.
Sejujurnya,
akhir-akhir ini aku kesulitan mencari orang yang bisa menerima karya tulisku.
Jika Tuan Putri Agung datang,
apakah aku boleh memohon bertemu?
Tuan Muda.
Itu tidak boleh.
Setiap tahun Tuan Putri Agung datang, dia melarang siapa pun mengganggunya.
Tahun lalu ada seorang Tuan Muda yang mengetuk pintu memohon bertemu.
Tuan Putri Agung tidak membuka pintu,
lalu ada pengawal yang keluar dan memukulinya sampai sekarat.
Terima kasih atas nasihat Pak Tua.
Wenji.
Wenji.
Kau sudah kembali?
Tadi ada seorang pelayan tua yang mengantarkan sebuah kotak.
Katanya,
majikannya bermarga Zhao.
Shang.
Semua uang ini...
Ini bayaran atas jasaku
menulis karya tulis untuknya.
Kau...
Apa kau sangat membutuhkan uang belakangan ini?
Mengapa kau tidak bilang padaku?
Aku juga bisa meminjamkannya padamu.
Di antara kita, untuk apa membicarakan pinjam-meminjam?
Tidak kurang.
Hanya saja tidak cukup.
Pengeluaran di ibu kota besar,
kau juga hematlah sedikit uangmu.
Jika aku tidak salah lihat,
tadi wajahmu berseri-seri penuh kasmaran.
Aku sudah membuat janji dengan Chunhua.
Dua hari lagi, kami akan pergi melihat Festival Bunga Peoni.
Ternyata hari kebahagiaan ganda hampir tiba.
Selamat.
Kebahagiaan ganda apa?
Lulus ujian kekaisaran
dan malam pertama pernikahan.
Jika bukan kebahagiaan ganda, lalu apa?
Shang,
soal gelar ujian kekaisaran ini,
aku hanya perlu rajin dan tekun belajar.
Namun, soal urusan besar pernikahan...
Sekalipun aku benar-benar ingin menikahinya,
sepertinya
ayahku tidak akan merestuinya.
Bagaimanapun juga...
Bagaimanapun juga dia hanyalah seorang...
Dia itu...
Bisa menjadi suami istri atau tidak,
pada akhirnya tetap bergantung pada niatmu.
Masih terlalu dini membicarakan hal ini.
Aku harus pergi sebentar.
Tidak perlu menungguku untuk makan malam.
Shang,
kau mau pergi ke mana?
Pergi merasakan sensasi menghamburkan banyak uang.
Uang ini
cukup untuk menebus dirimu, Nona.
Aku tidak pantas menerima hadiah tanpa berjasa.
Mohon Tuan Muda jelaskan.
Tidak sulit.
Nona hanya perlu
melakukan satu hal kecil untukku.
Asah gunting dan jual pisau dapur!
Asah gunting!
Mari dilihat, jual kain motif!
Tuan Muda,
mau mengasah gunting atau membeli pisau dapur?
Pak Tua,
berapa harga pisau kecil ini?
Yang ini
harganya 50 koin.
Tuan Muda,
coba Anda lihat yang ini.
Buatan dan bahannya bagus,
hanya 300 koin.
Tidak perlu.
Tuan Muda,
aku akan berkata jujur pada Anda.
Pisau ini kelihatannya memang murah,
tetapi tidak bisa dipakai berkali-kali.
Mungkin ujungnya akan cepat tumpul.
Pisau ini
sebaiknya beli yang lebih mahal.
Memang sedikit lebih mahal,
tetapi bisa dipakai bertahun-tahun.
Terima kasih, Pak Tua.
Dipakai sekali saja sudah cukup.
Baik, terima kasih, Tuan Muda.
Hati-hati di jalan, Tuan Muda.
Asah gunting!
Perwira, ini aku.
Ini aku.
Ternyata Perwira sudah bangun.
Tadi aku masih berpikir,
seberapa kuat aku harus menepuk agar kau bangun.
Aku ini merangkak keluar dari tumpukan mayat,
tidak pernah tidur nyenyak.
Perlu kau tepuk?
Ya.
Ada urusan apa? Katakan.
Saputangan pribadinya
sungguh harum.
Selamat Perwira atas tercapainya keinginanmu.
Wanita itu benar-benar setuju?
Tenang saja, Perwira.
Sebelumnya Xu Mianmian tidak mengerti ketulusan Anda.
Setelah kujelaskan perlahan,
dia juga sangat menyesal.
Itu sebabnya dia menyuruhku membawakan saputangan sulam ini
sebagai tanda buktinya.
Dia lumayan tahu diri.
Xu Mianmian secara khusus menitipkan pesan padaku,
mengajak Perwira bertemu di Taman Sigui di Distrik Jinchang
untuk melepas rindu.
Namun,
wanita itu ingin berkencan denganku,
mengapa mengajak bertemu di taman?
Perwira mungkin tidak tahu.
Dua hari lagi di Taman Sigui
ada Festival Bunga Peoni
yang sangat ramai dan indah.
Di taman banyak paviliun pribadi yang tersembunyi di antara pepohonan,
bertemu diam-diam di sana
bukankah
akan memiliki daya tarik tersendiri?
Perkataanmu ini membuat hatiku berbunga-bunga.
Memang kau ini.
Orang terpelajar memang banyak akalnya.
Tahu cara bersenang-senang!
Bagus.
Bagus.
Kau membereskan urusan ini dengan sangat baik.
Kelak urusan penyerahan karya
maupun gelar kehormatan,
serahkan padaku.
Bisa meringankan beban Perwira adalah keberuntunganku.
Bagus.
(Satu Hari Sebelum Festival Bunga Peoni)
Kalian pergilah ke ruang makan dulu.
Aku kembali ke asrama dulu.
Baiklah.
Sampai jumpa besok.
- Terima kasih atas bimbingannya, Guru. - Terima kasih, Guru.
Baiklah.
Ayo.
Cepat pergi ke ruang makan.
Tunggu aku.
Guru,
besok aku ingin minta izin libur sehari.
Ada urusan apa kau?
Aku mendengar kabar
bahwa besok ada Festival Bunga Peoni di Distrik Jinchang
yang merupakan pemandangan indah di Sheng'an.
Aku sungguh penasaran,
jadi kupikir...
Menurutku,
keinginanmu melihat bunga hanyalah alasan,
tujuanmu adalah menyerahkan karya, 'kan?
Baiklah.
Festival Bunga Peoni setiap tahun
memang adalah waktu bagi kalian menyerahkan karya.
Tidak apa-apa,
pergilah.
Saat kau pergi,
aku dan Raja baru saja menikah.
(Liang Lingyi, Ratu Jin) Kini tiga tahun telah berlalu,
aku belum juga bisa memberikan keturunan bagi Raja.
Danyang,
di Kota Sheng'an ini,
sepertinya hanya kau yang paling bisa memahami penderitaanku.
Aku tidak memahaminya.
Kau...
Bukankah kau juga sudah menikah tiga tahun dan belum punya anak?
Aku tidak pernah punya rencana untuk melahirkan anak bagi siapa pun.
Kakak Ipar salah menilaiku.
Meskipun suamimu sudah tiada, kau tidak boleh berkata seperti itu.
Kau adalah Tuan Putri Dahuai.
Apa susahnya menikah lagi?
Apalagi kau masih muda,
tenang saja, kau pasti bisa punya anak.
Semoga terwujud seperti doa Kakak Ipar.
Pernahkah kau mendengar
bahwa Dewi Bunga Peoni di Taman Sigui
paling mujarab untuk memohon keturunan?
Cailian,
bereskanlah.
Baik.
Besok adalah Festival Bunga Peoni, bagaimana kalau kau pergi bersamaku?
Aku pergi memohon anak,
dan kau mengocok ramalan bunga untuk memohon jodoh.
Terima kasih atas niat baik Kakak Ipar.
Hanya saja, festival bunga itu sangat ramai dan berdesakan,
aku tidak terbiasa.
Sudahlah,
coba kau pikirkan baik-baik sendiri.
Wanita hidup di dunia ini sebenarnya untuk apa.
Jika kau ingin pergi bersamaku,
suruh pelayan pergi ke Kediaman Raja Jin untuk memberitahuku.
Baik.
Aku akan antar Kakak Ipar.
Tidak perlu.
Tuan Putri, Yang Si datang.
Untuk apa dia datang lagi?
Apakah aku mengizinkanmu masuk?
Bagaimana kau bisa masuk?
Tidak ada juga yang melarangku masuk.
Aku sangat hafal dengan Kediaman Tuan Putri ini,
bahkan sambil menutup mata pun aku bisa sampai ke hadapanmu.
Katakanlah, ada apa?
Besok ada Festival Bunga Peoni di Taman Sigui, Distrik Jinchang.
Aku akan membawamu ke sana.
Tidak mau pergi.
Kenapa?
Jika kau tidak pergi bersamaku, kau mau pergi dengan siapa lagi?
Apakah dengan Wei Shu yang saat itu lagi?
Kau datang terlambat.
Aku akan pergi bersama Ratu Jin.
Untuk apa kau pergi dengannya?
Memohon keturunan.
(Apalagi kau masih muda,)
(tenang saja,)
(kau pasti bisa punya anak.)
Shang, bagaimana hasil setrikaannya?
Datar, tidak?
Sangat bagus.
Kau hanya basa-basi padaku.
Wenji,
beristirahatlah lebih awal.
Aku mau keluar jalan-jalan.
Sudah selarut ini, kau tidak tidur?
Tidak bisa tidur.
(Keberuntungan Memenuhi Jalan Raya)
Tuan Putri, sudah waktunya beristirahat.
Aku tidak bisa tidur.
Pergilah beristirahat.
Aku masih ingin tinggal sebentar.
Jika kau tidak pergi juga, kau harus menemaniku minum arak.
Tuan Putri,
hari itu Tuan Muda Shang datang ke kediaman,
akulah yang memanggilnya kemari.
Untuk apa kau memanggilnya?
Apakah untuk membuat Yang Si kesal sampai mati?
Mana aku tahu dia akan berpapasan langsung dengan Yang Si?
Anda selalu sulit tidur selama beberapa tahun ini,
hanya saat di Lingnan, Anda bisa tidur nyenyak.
Aku hanya berpikir,
mungkin karena ada Tuan Muda Shang yang menemani.
Dia juga pintar bicara.
Aku berpikir untuk memanggil Tuan Muda Shang
untuk menemani Anda seperti saat di Lingnan,
siapa tahu Anda bisa tidur nyenyak.
Dasar bodoh.
Apa saja yang kau pikirkan ini.
(Kediaman Tuan Putri Danyang)
(Kediaman Tuan Putri Danyang)
Kenapa dia ada di sini?
Tuan Muda Shang?
Aku akan membawanya masuk.
Tuan Putri.
Berkeliaran di depan kediamanku
tengah malam buta.
Kejahatan apa yang ingin kau lakukan?
Malam ini sulit tidur, aku berpikir untuk keluar jalan-jalan,
tanpa sadar aku berjalan agak jauh.
Jadi,
kau secara kebetulan
berjalan sampai ke sini?
Mungkin saja.
Tuan Putri memanggilku masuk ke kediaman,
karena alasan apa pula?
Malam panjang terasa membosankan, memanggilmu untuk bercerita.
Cerita apa yang ingin Tuan Putri dengar?
Aku kira kau akan menanyakan alasanku
atau merasa malu dan marah,
lalu pergi begitu saja.
Tuan Putri.
Tengah malam terasa dingin,
minum arak itu buruk bagi kesehatan.
Kenapa tanganmu dingin sekali?
Tidak punya uang untuk membeli pakaian?
Karena buru-buru datang,
aku lupa memakai jubah.
Jangan berpura-pura menyedihkan di depanku.
Jika ceritamu bagus,
jubah itu
akan kuberikan padamu.
Jubah Tuan Putri rupanya sangat banyak.
Ceritalah.
Ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan.
Kalau begitu, aku akan menceritakan
sebuah kisah tentang ular berbisa dan tawon kepada Tuan Putri.
Pada zaman dahulu, ada seekor ular berbisa.
Ia dikejar-kejar orang.
Tepat pada saat ia dalam keadaan paling menyedihkan,
ia bertemu dengan seekor tawon.
Awalnya yang satu merayap di tanah, yang satu lagi terbang di langit,
mereka tidak saling mengusik.
Tidak disangka,
tawon itu tiba-tiba terbang turun
dan menyengat kepala ular berbisa itu dengan keras.
Apakah ular itu mati tersengat?
Tidak.
Nasibnya lebih menyedihkan dari itu.
Racun tawon tertinggal di dalam kepala ular berbisa tersebut.
Hari demi hari, tahun demi tahun,
rasa sakit yang membakar tidak pernah berhenti setiap saat.
Begitulah,
rasa sakit itu berlangsung selama sepuluh tahun.
Ular berbisa itu tidak tahan menahan sakit,
ia mencari jejak tawon itu ke mana-mana, dan mencarinya selama bertahun-tahun.
Namun, yang satu merayap di tanah dan yang satunya terbang di langit,
mana mungkin bisa ditemukan?
Namun,
langit memberinya keadilan.
Suatu hari di jalan, ular berbisa itu bertemu dengan tawon itu.
Tepat tawon yang pernah menyengat kepalanya saat itu.
Ular berbisa itu berinisiatif mengajak tawon pergi bersama.
Ternyata benar,
sifat asli tawon sulit berubah,
ia ingin menyengatnya lagi.
Kali ini ular berbisa tidak menghindar,
sebaliknya ia menyerahkan kepalanya sendiri.
Tepat pada saat tawon menyengat kepala ular berbisa itu,
ular berbisa itu memasukkan kepalanya
ke bawah roda kereta yang sedang lewat.
Kepala ular berbisa beserta tawon itu
hancur di bawah roda kereta.
Mereka terlindas mati.
Cerita ini tidak bagus.
Kau tidak jadi mendapatkan jubah itu.
Apanya yang tidak bagus?
Meskipun tawon itu dibunuh,
itu tidak akan menyembuhkan sakit kepalanya.
Balas dendam semacam itu tidak ada gunanya,
apalagi
malah mati bersama-sama.
Jika ingin membunuh tawon untuk balas dendam,
ada banyak sekali cara.
Mengapa harus mengorbankan nyawa sendiri?
Cerita bodoh semacam ini,
jangan diceritakan lagi lain kali.
Perkataan Tuan Putri sangat benar.
(Jika suatu hari nanti,)
(ada kesempatan untuk membunuh musuh dengan tangan sendiri,)
(apa salahnya berbuat bodoh?)
Tuan Putri,
aku harus pergi.
(Pratinjau Episode Berikutnya)
Tutup seluruh taman!
Sebelum sampah kotor ini tertangkap,
siapa pun tidak boleh pergi!
Telah terjadi pembunuhan di dalam taman.
Bibi, kudengar ada yang tewas di taman ini.
Aku sungguh tidak tahan melihat darah, Bibi.
Biarkan dia pergi.
Bibi baik sekali.
♪Menjadi dermaga yang menemanimu menanti cerah♪
♪Menjadi sutra hijau yang mengusap air matamu♪
♪Menjadi lengan baju yang menggenggam tanganmu menepis debu♪
♪Mengajak menua, kau dan aku bersekutu♪
♪Menjadi tawanan yang terkunci bersamamu♪
- ♪Lumuran lumpur dan genangan darah♪ - ♪Menjadi duka yang terlupakan di matamu♪
♪Membubung ke angkasa bersama angin♪
♪Jatuh bersama ke dalam api karma♪
♪Berwarna cerah layaknya nyanyian♪
♪Memandang mawar dan bambu hijau yang memesona♪
♪Menjadi janjiku yang mendalam♪
♪Aku ingin kita berikrar, seumur hidup tetaplah seumur hidup♪
♪Tidak boleh kurang sesaat pun♪
♪Sedalam apa pun salju malam yang dingin, aku akan menyusul kalau kau menanti♪
♪Kita menjadi dewa, juga menjadi roh pengembara♪
♪Di kahyangan maupun dunia bawah, hanya ada dirimu seorang♪
♪Jika beruntung tersisa di dunia, berjanji kembali ke desa tempat awal berjumpa♪
- ♪Waktu berlalu tanpa perasaan apa pun♪ - ♪Perahu berayun seiring waktu berputar♪
♪Hanya ada dirimu seorang♪
♪Sekencang apa pun badai dan hujan, tidak akan mampu meruntuhkan kita♪
♪Menjadi di duniaku ini♪
♪Menjadi dalam hidupku ini♪
♪Satu-satunya kepolosan♪
♪Jika bisa kembali ke desa tempat kita awal berjumpa♪
♪Temani aku melupakan betapa dinginnya mimpi semalam♪
♪Kunang-kunang menerangi, kita berdua menyusuri hari-hari biasa♪
- ♪Waktu berlalu tanpa perasaan apa pun♪ - ♪Perahu berayun seiring waktu berputar♪
♪Hanya ada dirimu seorang♪
♪Menemani sisa hidupmu tanpa berpisah, apakah itu keabadian?♪
♪Menanti kembang api memenuhi kota♪
♪Menanti air danau tanpa riak♪
♪Hanya ada dirimu seorang♪
