Zaman dahulu kala ada seorang nenek.
Dia tidak punya anak, hidup seorang diri.
Di tempat tinggal nenek, sering tercium aroma ringan.
Hmm, rempah-rempah.
Kenapa?
Karena nenek memiliki kepandayan yang unik.
Dia ahli dalam ilmu rempah-rempah.
Jika tak sengaja tersayat,
jangan khawatir.
Nenek akan membalur dengan rempah-rempah.
Pendarahan langsung stop berhenti.
Jika terserang peluh dan tubuh demam,
jangan khawatir.
Nenek jamu juga dapat mengobati dengan rempah.
Dulu, nenek selalu ke gunung mencari rumput obat.
Tapi sekarang, ia sudah tua.
Tidak kuat ke gunung lagi.
Dalam hati nenek kerap berpikir,
ilmu tentang jamu yang aku miliki,
jika tidak ada yang mewarisinya,
alangkah sayangnya.
Suatu hari nenek berkata,
siapa saja yang ingin belajar tentang jamu dengan serius.
Saya akan mengajarkan semua ilmu ku kepadanya.
Berita ini seperti tertiup angin dan langsung menyebar,
sudah sampai ke kuping Raden Mudawan,
anak curagan kaya di kampung.
Langsung mendatangi nenek jamu dan berkata,
Nek, saya selalu kagum dan hormat kepada nenek.
Nenek pindah saja ke rumah dan tinggal bersamaku.
Izinkan saya merawat nenek.
Demikianlah nenek jamu tinggal di rumah Raden Mudawan.
Lewat beberapa hari,
nenek belum juga mengajarinya tentang jejamuan.
Raden muda lalu bertanya kepada nenek,
Nek, tiap hari saya telah merawatmu,
memberimu kamar yang terbaik,
makan makanan yang mewah.
Dapatkah nenek mulai mengajariku mengenali rempah-rempah?
Nenek sambil tersenyum menjawab,
Jangan buru-buru, jangan buru-buru.
Kalau kau sungguh minat pada jamu,
saya pasti akan mengajarinya.
Ternyata tak sengaja nenek mengetahui
minat Raden muda pada jamu.
Hanya demi mengobati penyakit raja.
Jika berhasil, dia bisa menjadi pejabat tinggi.
Beberapa hari kemudian, dia datang lagi.
Kembali menanyakan kapan mulai diajarkan.
Kali ini nenek jamu menjanjikan beberapa tahun lagi.
Mendengar itu, Raden muda langsung loncat.
Dia kesal mendengar jawaban nenek.
Beberapa tahun lagi, raja sudah sembuh dari sakit.
Untuk apa saya mempelajarinya lagi?
Oleh karena itu,
nenek jamu diusir dari rumah Raden muda.
Nenek bangkit dan berjalan tertati memakai tongkat.
Menyusuri jalan yang sepi,
yang terpikir dalam pikirannya,
saya harus mendapatkan orang yang tepat
sebagai pewaris ilmuku.
Kabar nenek jamu sampai juga ketelinga seorang saudagar.
Ia pun menjemput nenek tinggal di rumahnya.
Ia menyuguhkan semangkuk sup ayam yang wangi dan hangat.
Selesai minum sup, nenek bertanya.
Kau sungguh ingin belajar tentang jamu?
Saudagar kaya dengan mantap menganggukkan kepala.
Nenek bertanya lagi.
Apa-apa ingin belajar tentang jamu?
Sambil menepuk-nepuk perutnya yang bulat,
saudagar berucap.
Jika saya sudah menguasai,
saya bisa menjual jamu dengan harga bagus.
Lalu saya untung besar dan memberi anda hidup yang lebih baik.
Saudagar langsung bertanya.
Jadi kapan nenek mengajarku ilmu tersebut?
Kalau kau sudah paham belajar ilmuku,
bisa menolong lebih banyak orang,
saya akan mengajarimu.
Akan tetapi saudagar tidak terpikir untuk menolong orang lain.
Jadi nenek diusir lagi.
Dan lagi-lagi nenek berjalan seorang diri.
Sekarang sudah musim dingin.
Salju mulai turun,
angin dingin pakaikan pisau menyayati wajah nenek.
Ia kedinginan, juga lapar.
Mata nenek gelap seketika
nenek jatuh tepat di depan sebuah rumah.
Penghuninya adalah sepasang suami istri.
Mereka hidup dari membelah dan menjual kayu.
Suami tukang kayu mendengar bunyi suara.
Ia keluar ke arah datangnya suara.
Nenek ditemukan terkeletak di tempat salju.
Segera ia memapah nenek masuk ke rumahnya.
Istri tukang kayu berdegas menukarkan baju yang hangat untuk nenek
dan menyukukan nenek mangkuk kuedang jahe
yang masih panas untuk diminum.
Tubuh nenek langsung hangat setelah meminumnya.
Pasangan tukang kayu tahu
nenek hidup sendirian tanpa ada anak.
Mereka menawarkan.
Jika tidak keberatan,
nenek tinggal saja bersama kami.
Kami akan berbakti kepada nenek layaknya bunda kandung.
Mendengar itu, mata nenek merah karena terharu.
Akhirnya nenek tinggal di rumah tukang kayu.
Pasangan tukang kayu benar-benar merawat nenek
seperti ibu kandung mereka sendiri.
Meskipun mereka sama sekali tidak tahu
kalau nenek mempunyai ilmu jamur.
Hingga suatu hari tiba-tiba
penduduk desa terserang demam, batuk.
Tidak nafsu makan,
badan semakin kurus.
Penyakit aneh menyelubungi seluruh desa ke dalam ketakutan.
Akal menyerja meminta tukang kayu.
Nah, kau popong saya, kita ke gunung.
Tanpa bertanya apa-apa,
tukang kayu langsung menggendong nenek.
Mereka ke gunung, melewati jalan yang terjal dan berlipu.
Akhirnya mereka tiba di sebuah lembah yang tersembunyi.
Di sana tumbuh banyak sekali bunga dan rumput.
Nenek menyuruh tukang kayu melambatkan langkahnya.
Mata nenek meneliti tumbuhan sepanjang jalan.
Tiba-tiba tatapan nenek berhenti
di rimbunan bunga berwarna putih.
Di ujung tangkai tanaman ada bunga berkelopak ungu muda.
Daunnya yang ramping berayun ringan tertiup angin.
Nenek segera mengenali dan minta penepang kayu berhenti.
Nah, lekas sekali dan ambil semak-semak rumput ini.
Mereka pulang membawa rumput jamu tersebut.
Pasangan tukang kayu ini baru mengetahui.
Ternyata sang nenek mahir merambu obat jamu.
Jamu ini berhasil menyembuhkan penyakit aneh di desa.
Nenek lalu berkata kepada tukang kayu,
Lama saya tidak menemukan murid yang cocok.
Sekarang saya ingin mewariskan ilmuku kepadamu.
Kau, apakah kau mau belajar?
Tukang kayu terperangah mendengar ucapan nenek.
Tapi, bukankah banyak sekali orang-orang pintar di desa kita?
Nenek jamu memadang tukang kayu tanpa menjawab.
Sejenak kemudian, bagai tersadarkan,
tukang kayu baru paham maksudnya.
Dia berkata,
Bunda ingin saya belajar demi menolong orang yang lebih banyak.
Benarkah demikian, Bunda?
Nenek mengangguk dengan senyuman yang merekah di wajahnya.
Nenek merasa bersyukur.
Tukang kayu mengerti niat hatinya.
Tanaman yang telah menolong warga desa tersebut diberi nama daun.
Tukang kayu tidak hanya mempelajari ilmu dari nenek.
Ia pun mewarisi ahlak mulia nenek jamu demi menolong orang lain.
Sering memberikan jamu cuma-cuma bagi orang sakit yang kurang mampu.
Penduduk papa yang sakit kini bisa tidur dengan nyaman.
Tukang kayu dan istrinya sekarang juga sudah tidur dengan tenang.
Dan bulan juga sudah tidur lelap.