EksklusifRahasia si Cantik Kumo Chan, Dongeng Klasik Jepang 【🌙 Bulan Sudah Tertidur】

TAS KECIL Siao Shu Bao Indonesia
205 pengikut
🍄 Legenda ini banyak beredar di Jepang. Cerita-cerita Jepang seringkali sangat halus, dan ini adalah cerita yang layak dinikmati karena semangat dan cita rasanya
🍄 Subscribe Channel TAS KECIL SIAO SHU BAO INDONESIA Agar Anak Tumbuh Cerdas Melalui Cerita
#taskecil #ganjingkids #indonesiaku #ceritasebelumtidur #ceritaanak #karaktermoral #edukasi #parenting #kids #imaginasi #bedtime #stories #dongeng #dongengsebelumtidur
Setelah mendengar cerita ini, terus bobo ya.
Hari yang dingin di musim dingin yang membeku,
angin dingin bertiup kencang di luar sana.
Bunga salju terbang melayang di udara.
Opa dan Oma sedang makan malam di dalam rumah.
Tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu kayu.
Opa meletakkan sumpit dan mangkuk,
memakai mantel katun usang miliknya.
Dalam hati membatin,
Siapa yang bertemu di malam selarut ini ya?
Begitu pintu dibuka,
terlihat seorang gadis belia dengan tubuh penuh salju
sedang berdiri di depan pintu.
Wajahnya putih pucat,
saat berbicara bibir sedikit menggigil.
Opa yang baik hati, nama saya Kumochan.
Saya sedang tersesat.
Dapatkah saya menginap di sini barang satu malam?
Mendengar ini,
Oma cepat-cepat menarik Kumochan masuk ke dalam rumah.
Lepas masuk, di luar dingin sekali.
Jangan sampai kok kedinginan.
Oma membuatkan semangkuk sup jahe yang panas mengepul.
Kumochan minum perlahan, seteguk dan seteguk lagi.
Tubuhnya berangsur-angsur menjadi hangat.
Sejak hari itu,
Kumochan tinggal serumah dengan Opa dan Oma
di rumah kayu kecil mereka.
Kumo menyepu lantai, menanap nasi.
Kumo juga sering bernyanyi.
Di suatu malam,
Kumochan mencurahkan perasaan hatinya kepada Opa dan Oma.
Sejak kecil, saya tidak memiliki keluarga.
Saya merasa sangat bahagia di sini.
Opa, Oma, apakah saya boleh menjadi anak kalian?
Air mata Opa-Oma seketika jatuh berderai.
Anak bodoh, tentu saja boleh.
Sejak itu, rumah mereka selalu penuh
dengan lagu-lagu gembira yang berkumandang.
Rumah kayu kecil selalu penuh dengan canda tawa dan suara riang.
Suatu hari, Kumochan berkata,
Opa, bisakah tolong belikan benang sutra?
Saya ingin menenun kain.
Oma bertanya dengan nada kaget.
Ah, Kumo, kau bisa menenun?
Kumo tertawa.
Iya, saya bisa, Oma.
Tetapi jika saya sedang menenun,
jangan sekalipun mengintip saya ya.
Tidak boleh dilihat?
Meskipun Opa dan Oma tidak tahu apa sebabnya,
namun mereka mengangguk tanda setuju.
Kumochan mengunci dirinya dalam kamar.
Sepanjang hari, terdengar suara mesin tenun Kumo bekerja.
Setelah tiga hari tiga malam,
akhirnya pintu kamar Kumochan terbuka juga.
Terlihat kedua tangan Kumochan memegang sepotong kain.
Oma berseruk kaget sekali
sebab kain di tangan Kumo terang berkilauan.
Warna kain sangat indah bagikan pelangi.
Opa membawa kain tenunan Kumo ke kota untuk dijual.
Siapapun belum pernah melihat kain seindah ini.
Sekejap saja, kain diborong habis oleh penduduk.
Uangnya Opa belanjakan beras dan selimut baru.
Sepanjang jalan pulang,
tahanti Opa tertawa seperti anak kecil.
Kumo menenun kain semakin lama semakin cepat.
Pola tenunan semakin hari semakin beragam dan indah.
Rumah kayu kecil sudah bertambah kompor dan selimut baru.
Kentang beras tidak lagi kurang atau kosong.
Namun, setiap kali selesai menenun,
wajah Kumochan putih-pucat bagai salju.
Kedua tangannya selalu dingin seperti es.
Oma tidak habis pikir sambil mengerutkan kening.
Pak Ne, tidakkah kau merasa Kumochan semakin hari semakin kurus saja?
Opa mendesah halus mengiakan.
Oh iya Bu Ne, tapi Kumochan selalu berkata iya baik-baik saja.
Malam itu Opa dan Oma didorong rasa khawatir dan sayang
memutuskan mencari jawabannya secara diam-diam.
Perlahan-lahan mereka berjalan menuju pintu kamar Kumo.
Dan mengintip melalui celah pintu.
Mereka menahan nafas, menahan mulutnya agar tidak berteriak.
Mana ada Kumo di dalam kamar?
Hanya ada seekor bangau dengan bulunya yang seperti salju.
Bangau putih berdiri tegak di depan mesin tenun.
Sedang mencabuti bulu sendiri dengan paruhnya yang panjang.
Lalu bulu-bulu tersebut dijalin ke dalam benang sutra.
Tiba-tiba bangau putih berhenti bekerja.
Pelan-pelan ia membalikan badan.
Tubuh Kumochan memancarkan sinar yang lembut.
Perlahan-lahan bangau putih berubah rupa menjadi Kumochan.
Ya Tuhan, tangan Opa mulai gemetar.
Oma pun tertegun takjuk.
Kumo menatap Opa-Oma.
Ia berkata sambil berlineng air mata.
Saya bukanlah manusia biasa.
Saya adalah bangau putih yang pernah diselamatkan oleh Opa.
Hari itu angin bertiup kencang bercampur salju lebat.
Opa sedang menyusuri jalan di pegunungan
dan memanggul kayu bakar yang berat.
Tiba-tiba Opa mendengar suara.
Opa menyingkirkan salju yang menutupi ranting-ranting.
Terlihat seekor bangau putih sedang berjuang melepaskan diri dari perangkap.
Lehernya terbelit tali yang sangat erat.
Bangau putih panik dan hentinya mengepakan sayap.
Namun lelitan tali justru jadi semakin kuat.
Opa tidak peduli tangannya yang merah bengkak akibat kedinginan.
Dengan hati-hati dan telaten,
Opa berhasil melepaskan tali dari leher bangau putih.
Bangau putih mendongak menatap Opa.
Air mata berkilauan di matanya.
Setelah melihat Opa sekejap,
bangau putih mengepakan sayap sekuat tenaga terbang ke udara.
Tangan Kumocan memegang potongan kain hasil tenunan yang terakhir.
Demi membalas budi,
saya menjelma jadi manusia dan tinggal di sini.
Opa, Oma, ini adalah penghormatan terakhir dari saya.
Mohon dapat diterima.
Sudah saatnya saya kembali ke tempat seharusnya saya berada.
Mata Oma memerah, nada suaranya penuh kesedihan.
Tidak Kumocan, kau jangan pergi.
Kau adalah anak kami.
Kini Kumocan menggelengkan kepala.
Matanya berkaca-kaca.
Saya adalah bangau putih yang berasal dari surga.
Sekarang waktunya saya kembali ke tempat asal.
Kumocan mengelurkan kedua tangannya.
Tubuhnya memancarkan cahaya yang lembut.
Cahaya bersinar semakin lama semakin terang.
Terakhir, tangan Kumocan berubah menjadi sepasang sayap seputih salju.
Melihat itu Opa dan Oma langsung berseru kaget.
Jangan bersedih, suara Kumocan lembut menenangkan.
Saya pasti akan kembali menjenguk Opa dan Oma.
Selesai berkata, tubuh Kumocan menjadi seberkas cahaya
dan melesat ke langit malam.
Malam itu, bulan menyembulkan wajah dari balik awan.
Sebuah bayangan perak melayang-layang rendah berputar di udara.
Sehelai bulu putih melayang dan mendarat ke telapak tangan Opa.
Hangat, sehangat senyuman dan tangan Kumocan yang lembut.
Peribangau yang telah kembali ke Gunung Ling di alam surga dunia
kini sudah tertidur dengan syahdu dan hati penuh syukur.
Opa dan Oma di rumah kayu kecil, mereka juga sudah tertidur dengan tenang.
Bulan pun sudah tertidur.
