Cerita ini berasal dari buku “Catatan Santai Anekdot Malam Hari”, ditulis lebih dari 200 tahun yang lalu pada Dinasti Qing. Penulis dalam kata pengantar menyatakan : "hanya merekam hal aneh", baginya, manusia mengalami kejadian aneh karena mereka kurang pengalaman, lagi pula tidak menyelidiki secara menyeluruh alasan tersebut berdasarkan fakta yang ada. “Sedangkan orang bijak melihatnya melebihi permukaan, memahami kebenaran yang mendalam di mana orang menganggapnya hal aneh, baginya hal tersebut biasa saja.”
🎒 subscribe TAS KECIL SIAO SHU BAO INDONESIAN. Tumbuhkan Ketrampilan Anak Melalui Cerita.
Buka tas kecil.
Di masa lampau pun ada kisah perjalanan waktu.
Alkisah di Pegunungan Yaci,
ada sebuah biara dewi yang konon sangat mujarab.
Apalagi di bulan April,
saat hari jadi Bisha Yen Chin atau Dewi Gunung Thai.
Orang-orang ramai datang mengucapkan kaul dan menyalakan dupa.
Terutama persembahan dupa pertama di waktu subuh sangat unik.
Waktu subuh saat ayam berkokok,
begitu pintu biara dibuka,
dupa pertama yang dibakar dianggap yang paling mujarab.
Ini disebut dupa pertama.
Dupa pertama biasanya dinyalakan oleh Kasim Istana
yang datang atas Litah Raja.
Tiada orang yang berani mendahuluinya.
Hari ini langit masih gelap.
Kasim Wei atas perintah Ibu Suri
pagi-pagi sudah tiba di biara,
bersiap menyalakan dupa pertama.
Tiba di pintu biara,
krek terdengar dari pintu yang dibuka.
Namun saat Kasim Wei masuk aula besar,
dia kaget.
Eh, entah kenapa di dalam tungku dupa di depan Dewi
sudah tertancap sebatang dupa.
Sudah ada yang duluan menyalakan dupa pertama.
Siapa?
Wajah Kasim Wei terlihat kesal.
Dengan nada menyalahkan,
ia bertanya ke penjaga biara.
Dupa Ibu Suri belum juga dinyalakan.
Kenapa ada yang menyalakan dupa lebih dulu?
Wajah penjaga biara nampak bingung dan panik.
Gerbang biara baru saja dibuka.
Hamba sungguh tidak mengerti dari mana datangnya dupa ini.
Kasim Wei berpikir.
Benar juga, pintu biara baru saja dibuka.
Aku orang pertama yang masuk ke sini.
Ia memperhatikan abu dupa.
Panjangnya sudah menyusut banyak.
Hmm, dupa sudah menyalah cukup lama.
Berarti ada yang menyalakan dupa lebih pagi darinya.
Kasim Wei terdiam sejenak.
Ia memutuskan kembali lagi besok pagi lebih awal.
Kesokannya, pagi-pagi sekali sebelum ayam berkokok,
langit masih gelap, sekitar pukul 3 pagi.
Kasim Wei datang lebih awal.
Penjaga biara bergadang semalaman tidak berani tidur.
Silakan pandu jalan.
Baik tuan.
Krek, dari pintu dibuka.
Kasim Wei melangkah cepat menuju aula besar.
Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada tungku dupa.
Aduh, lagi-lagi sudah ada sebatang dupa di sana.
Api dupa menyala terang.
Namun kali ini Kasim Wei melihat seorang gadis
sedang berlutut penuh hikmat di depan patung Dewi.
Melihat ini sang penjaga biara terkejut bukan kepalang.
Mengapa bisa ada seorang gadis di aula besar?
Bagaimana dia bisa masuk?
Penjaga biara saat itu kebingungan
bagaimana menjelaskan ini ke Kasim Wei.
Gadis itu tampaknya mendengar suara penjaga.
Ia menengok.
Namun tepat di depan mata semua orang,
gadis ini menghilang.
Ah, kemana perginya gadis itu?
Semua orang panik mencari kes keliling.
Namun si gadis tidak terlihat.
Bagaimana mungkin seseorang bisa hilang dari pelupuk mata?
Kontan semua berbicara ramai.
Berbagai bisik-bisik spekulasi memenuhi aula tersebut.
Tiba-tiba ada yang berkata.
Jangan-jangan gadis itu hantu.
Kasim Wei yang sejak tadi diam angkat bicara.
Mana ada hantu siluman berani terang-terangan
di hadapan patung Dewi.
Hal ini pasti ada penyebab lain.
Setelah berbicara, Kasim Wei menghampiri patung Dewi
lalu menyalakan dupa nomor dua.
Ia berjalan keluar dari aula besar
lalu mengumpulkan semua orang di luar.
Ia menjelaskan situasi yang terjadi
lalu memberitahu orang-orang tentang rupa, usia
dan pakaian si gadis dengan lengkap.
Adakah yang kenal dengan gadis ini?
Seorang nenek tua keluar dari kerumunan orang.
Ada yang ingin saya sampaikan paduka.
Gadis yang berpakaian dan berpenampilan seperti gambaran Anda
mirip sekali dengan gadis tetangga rumah saya.
Mendengar ini wajah Kasim Wei sangat senang.
Oh, apakah dia juga datang menyalakan dupa?
Kamu bisa memintanya menemuiku?
Nenek tua menggelengkan kepala berkata,
Gadis ini tidak datang ke gunung Yachi.
Mendengar ini Kasim Wei tidak begitu terkejut.
Ia bertanya lagi.
Apa pekerjaan gadis ini?
Bagaimana dia bisa berkemampuan bertransformasi seperti itu?
Nenek menjawab,
Ia hanya seorang gadis biasa saja.
Sehari-harinya mencari nafkah dengan menanam dan menjual bunga.
Namun di daerah kami ia dikenal sebagai anak yang berbakti.
Kasim Wei berseru gembira.
Nah, ini dia.
Akhirnya Kasim Wei menemukan gadis muda ini.
Sekali melihat ia tahu inilah gadis di aula besar.
Ternyata ayah gadis ini sedang sakit parah.
Sehingga ia tidak dapat ke biara mempersembahkan dupa.
Namun ia sudah menanyakan dengan jelas berapa jarak rumahnya ke biara Dewi.
Malam hari setelah ayahnya sudah tidur,
Gadis ini sambil memegang sebatang dupa,
Dalam hatinya ia berdoa dan memanjatkan harapan.
Hamba tidak dapat ke gunung mempersembahkan dupa dan memberi hormat kepada Dewi.
Namun Hamba akan melangkah dan bersujud di halaman rumah,
Sesuai dengan jarak perjalanan.
Mohon Dewi lindungi dan berkati ayah sehat kembali,
Panjang umur hingga 100 tahun.
Hamba rela tidak makan daging,
Juga akan menyulam rupa Buddha.
Seumur hidup Hamba akan menyembah sujud kepada Buddha.
Tak peduli siang maupun malam,
Begitu ada waktu luang,
Si gadis muda mengelilingi halaman rumahnya,
Satu langkah, satu sujud,
Dan bertahan lebih dari setengah bulan.
Jika dihitung jaraknya telah mencapai biara Dewi,
Yang bertepatan dengan hari jadi Dewi di bulan April.
Setelah Kasimwe mengerti,
Dia baru menceritakan apa yang terjadi di biara pada si gadis.
Si gadis pun tiba-tiba mengerti dan berkata,
Oh pantas saja saat mempersembahkan dupa,
Hamba merasa hamba telah sampai di biara Dewi.
Dokter pun awalnya berkata ayah tidak bisa sembuh,
Tapi belakangan ayah berangsur sembuh.
Kasimwe sangat terharu mendengar cerita ini.
Ia berkata,
Karena kamu anak yang benar-benar berbakti,
Ketulusan hatimu telah mengharukan langit dan bumi.
Ternyata bakti tulus si gadis telah mengugah para dewa,
Hingga ia bisa melintasi ruang dan waktu,
Mempersembahkan dupa pertama di biara.
Ayah si gadis benar hidup hingga seratus tahun,
Sebelum akhirnya ia meninggal dunia dengan tenang.
Cerita hari ini sudah selesai.
Gadis berbakti melakukan satu langkah, satu sujud.
Menurutmu, mengapa para dewa yang berada jauh di gunung,
Bisa menanggapi permohonannya?
Kunjungi channel Tas Kecil di Kancing World,
Dan tuliskan pendapatmu di kolom komentar.