Menghasilkan karya terbaik
Di zaman yang sangat lampau,
ada seorang pemuda yang bermimpi untuk bisa membuat suatu karya besar
yang akan disukai banyak orang.
Namun ia merasa ragu karena keadaannya yang sangat miskin.
Memikirkan hal itu, wajahnya pun terlihat murung setiap hari.
Suatu hari, pemuda ini sedang menyusun kayu bakar di depan rumahnya
dengan wajahnya yang murung seperti biasa.
Seorang pertapa yang berjalan melewati rumahnya
terkejut melihat wajah pemuda itu yang begitu murung.
Hei anak muda,
mengapa wajahmu begitu murung?
Pemuda itu terkejut mendengar sapaan si pertapa.
Ia pun lalu menjawab.
Oh, tidak apa-apa.
Saya memang selalu murung.
Mengapa kamu murung?
Apakah ada yang bisa saya bantu?
Sebenarnya, saya memiliki impian besar untuk membuat suatu karya besar
yang bisa berguna untuk semua orang.
Tapi saya tidak tahu bagaimana memwujudkannya
karena sangat miskin.
Saya tidak memiliki apa-apa.
Pertapa ini pun lalu melihat kesekeliling rumah si pemuda.
Ia kemudian berkata.
Sebenarnya, kamu sudah memiliki apa yang kamu butuhkan nak.
Ia lalu memungut sepotong kulit lembu yang tergeletak di lantai rumah.
Lalu memotong sedikit akar rambat dari tanaman
yang ada di halaman rumah si pemuda.
Pemuda merasa bingung dan tidak paham akan maksud si pertapa.
Ia bertanya.
Hah, apa ini?
Barang apa yang bisa dibuat dari kedua bahan ini
yang nantinya akan berguna bagi banyak orang?
Pertapa itu hanya tersenyum lalu berkata.
Kamu akan menemukan jawabannya nanti.
Pertapa pun kemudian pergi.
Si pemuda menganggap pertapa ini hanya iseng,
jadi dia pun melupakan pertemuan ini.
Bertahun-tahun berlalu,
suatu hari si pemuda sedang berjalan memanggul barang di pundaknya.
Untuk mengurangi rasa sakit di pundaknya akibat gesekan,
ia pun menaruh selembar kulit lembu di sana.
Tiba-tiba ia berjalan menginjak beberapa kerikil yang amat tajam
yang membuatnya mengaduk.
Karena di zaman itu,
orang berjalan hanya dengan bertelanjang kaki.
Pemuda itu pun duduk sejenak memeriksa kakinya.
Ia pun memutar otak.
Ia berpikir,
jika kulit lembu bisa melindungi pundaknya dari gesekan,
seharusnya kulit lembu itu pun bisa digunakan untuk melindungi kakinya.
Ia pun memotong sebagian kulit lembu di pundaknya.
Ia berpikir bagaimana untuk mengikatkan kulit lembu itu di kakinya,
dan matanya tertuju pada akar rambat pepohonan yang ada di sana.
Ia menaruh potongan kulit lembu di kakinya,
lalu mengikatnya dengan akar rambat.
Saat itulah,
si pemuda ini berhasil menciptakan
sebuah penemuan baru yang sangat berguna
untuk seluruh penduduk di desanya,
yaitu alas kaki.
Kisah ini mengajarkan
bahwa sesungguhnya kita sudah memiliki
semua yang kita butuhkan
untuk menggapai impian.
Namun seringkali kita meremehkan
segala potongan-potongan kecil dalam hidup kita
dan menilainya tidak penting.
Jika kita mampu merangkaikan
semua potongan-potongan itu bersama,
maka sebuah jalan yang menuju
keimpian kita akan terlihat.