Inikah Akar Penyebab Perang Rusia-Ukraina? - Dendam Masa Lalu atas Bencana Kelaparan di Ukraina

Mata Ketiga
670 pengikut
136 Tayangan video·23 Des 2024
Pada tahun 1932, Ukraina mengalami sebuah bencana kelaparan besar, yang merupakan salah satu kekejaman paling serius di abad ke-20 dan salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Ukraina. Menurut perkiraan selanjutnya, sekitar 2 hingga 7,5 juta orang Ukraina tewas dalam bencana kelaparan ini. Selama waktu yang lama, informasi tentang bencana kelaparan di Ukraina ditutup rapat oleh pihak Uni Soviet. Masyarakat hanya bisa melihat kemajuan pesat industrialisasi Soviet, namun tidak mengetahui bahwa banyak daerah, termasuk Ukraina, menderita akibat kelaparan.
Pada tahun 1932,
Ukraina mengalami sebuah bencana kelaparan besar
yang merupakan salah satu kekejaman paling serius di abad ke-20
dan salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Ukraina.
Menurut perkiraan selanjutnya,
sekitar 2 hingga 7,5 juta orang Ukraina tewas dalam bencana kelaparan ini.
Selama waktu yang lama,
informasi tentang bencana kelaparan di Ukraina ditutup rapat oleh pihak Uni Soviet.
Masyarakat hanya bisa melihat kemajuan pesat industrialisasi Soviet,
namun tidak mengetahui bahwa banyak daerah, termasuk Ukraina, menderita akibat kelaparan.
Ukraina memiliki salah satu dari empat wilayah tanah hitam terbesar di dunia
dengan lahan pertanian yang meliputi 70,8 persen dari luas wilayahnya.
Serta Sungai Dnieper, sungai terbesar ketiga di Eropa, mengalir melaluinya.
Lalu, mengapa tanah yang begitu subur bisa menghasilkan bencana kelaparan yang begitu parah?
Hingga tahun 1933, seorang wartawan muda asal Inggris
mengungkapkan kisah yang mengerikan ini melalui pengalaman pribadinya.
Pada tahun 1932, situasi di Eropa berubah dengan cepat.
Uni Soviet telah menyelesaikan rencana lima tahun pertamanya,
berubah dari negara agraris menjadi negara industri maju.
Tak ada yang tahu bagaimana negara yang sebelumnya miskin dan tertinggal ini
bisa membuat lompatan besar dalam waktu lima tahun.
Sebelum rencana lima tahun dimulai pada 1928,
nilai output industri Soviet hanya separuh dari Jerman dan sepedalapan dari Amerika Serikat.
Di seluruh negeri, hanya ada kurang dari 30 ribu traktor
dan lebih dari 90 persen lahan pertanian dikerjakan dengan tenaga manusia dan hewan.
Namun setelah rencana lima tahun, Uni Soviet membangun lebih dari 1.500 perusahaan industri modern
dan industri baru seperti pembuatan pesawat dan mesin berat mulai berkembang.
Saat itu, Uni Soviet menjadi negara industri terbesar di Eropa.
Prestasi cemerlang ini membuat banyak orang di dunia barat bertanya-tanya
pembangunan industri membutuhkan banyak uang.
Jadi dari mana Uni Soviet yang miskin ini mendapatkan uang sebanyak itu?
Pada tahun 1933, seorang wartawan Inggris bernama Gerold Jones berangkat ke Uni Soviet.
Dia ingin mencari tahu bagaimana Stalin, pemimpin Uni Soviet ketika itu,
bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
Jones adalah mahasiswa cerdas lulusan Universitas Cambridge, menguasai banyak bahasa
dan pernah menjadi penasehat urusan luar negeri bagi mantan Perdana Menteri Inggris, David Lloyd George.
Namun untuk mengejar mimpinya, Jones memilih menjadi wartawan independen yang bertekad menemukan kebenaran.
Pada bulan Maret 1933, Jones tiba di Moskow, ibu kota Uni Soviet.
Dia langsung menemui pejabat dari Departemen Propaganda Soviet,
berharap bisa mendapatkan mewawancara eksklusif dengan Stalin.
Namun sebagai wartawan independen tanpa dukungan media besar,
Jones dipandang sebelah mata oleh pejabat Soviet dan diusir.
Setelah mencoba beberapa kali tanpa hasil,
Jones menemui Kepala Bironyoyok Tems di Moskow, Walter Duranty.
Duranty adalah seorang tokoh hebat yang mendapatkan hadiah Pulitzer
untuk liputannya tentang keberhasilan rencana lima tahun Uni Soviet.
Hadiah ini setara dengan hadiah Nobel di bidang jurnalisme,
sehingga Duranty memiliki banyak koneksi dan pengaruh besar di Uni Soviet.
Jones berharap mendapatkan bantuan dari Duranty,
namun ia tergejut saat mengetahui bahwa semua wartawan di Moskow berada di bawah pengawasan ketat.
Mereka tidak bisa meninggalkan kota tanpa izin dan di bawah kendali Soviet,
wartawan harus memilih antara menjadi boneka yang melaporkan propaganda resmi Soviet
atau menyerah pada gaya hidup hedonis yang menghancurkan.
Akibatnya, hanya sisi baik dari Soviet yang dilaporkan,
sementara fakta yang kejam, sengaja disembunyikan dan tidak pernah diberitakan.
Namun dari interaksi Jones dengan wartawan-wartawan di Moskow,
dia mendengar kabar bahwa tidak semua daerah di Uni Soviet segemerlap Moskow.
Beberapa desa bahkan telah mengalami kelaparan hingga menyebabkan kematian.
Setelah penyelidikan lebih lanjut,
Jones berhasil menemukan beberapa diplomat dan wartawan yang bersedia mengukapkan fakta sebenarnya.
Dia mengetahui bahwa Ukraina sedang mengalami bencana kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di tanah yang begitu subur, kelaparan justru terjadi.
Dengan naluri jurnalistiknya yang tajam,
Jones merasa bahwa dia telah menemukan sesuatu.
Dia segera memutuskan untuk pergi ke Ukraina dan menyelidiki lebih lanjut.
Karena pergerakannya dibatasi,
Jones tidak diizinkan pergi ke pedesaan Ukraina,
tetapi pihak Soviet mengizinkannya mengunjungi kota-kota besar yang lebih makmur.
Jones membeli tiket kereta menuju Kharkov, kota terbesar kedua di Ukraina setelah Kiev.
Pihak Soviet mengizinkan perjalanannya ke Kharkov,
namun Jones tidak mengikuti rencana yang telah ditetapkan.
Begitu kereta memasuki Ukraina,
dia memanfaatkan kesempatan dan melompat ke kereta lain untuk menghindari pengawasan Soviet
dan mencari fakta sebenarnya dengan mata kepalanya sendiri.
Saat dia memasuki gerbong kereta yang berisi orang Ukraina,
Jones langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Para petani terlihat sangat kurus dan pucat seperti menderita malnutrisi dalam waktu yang lama.
Ketika Jones mengeluarkan makanan kering dari rangselnya,
dia tiba-tiba menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian.
Semua orang menatap roti di tangannya dan mereka menelan ludah
memperlihatkan rasa lapar yang luar biasa.
Ketika Jones mengupas jeruk dan menjatuhkan kulitnya ke tanah,
dia memungutnya kembali dan membuangnya ke tempat sampah.
Sekelompok petani bergegas menyerbut tempat sampah itu seperti binatang buas,
memperebutkan kulit jeruk tadi tanpa peduli kotoran dan memasukkannya ke mulut mereka.
Fenomena yang tidak normal ini membuat Jones yakin bahwa Ukraina sedang mengalami kelaparan yang parah.
Ia berpikir betapa laparnya orang-orang ini sehingga mereka berebut makanan dari tempat sampah.
Bertekad untuk menemukan kebenaran, Jones memutuskan untuk terus berjalan.
Dia melintasi dataran luas Ukraina menyaksikan rumah-rumah pertanian yang rusak,
ladang-ladang yang tandus, dan bahkan tulang belulang orang yang mati membeku.
Seiring dengan penyelidikannya,
skala kelaparan di Ukraina semakin terlihat jelas di hadapannya.
Jones mewawancarai seorang penuduk Ukraina yang menceritakan bahwa
para pemimpin Soviet dulu menjanjikan kepada mereka bahwa setelah rencana lima tahun berakhir,
rakyat Ukraina akan memiliki roti yang melimpah,
tanah yang subur dengan susu, telur, dan mentega,
serta setiap orang akan memiliki cukup sandang pangan.
Namun kenyataannya, setelah rencana lima tahun selesai, seluruh negeri justru mengalami kelaparan.
Jones mengujungi 12 kolkhoz, pertanian kolektif, dan mendengar suara tangisan di mana-mana.
Di beberapa kolkhoz, orang-orang sudah dua bulan tanpa roti,
dan sebagian petani bahkan mulai makan pakan ternak karena tidak ada lagi makanan.
Seorang petani baik hati memperingatkan Jones agar tidak keluar pada malam hari
karena banyak orang yang tersiksa oleh kelaparan hingga putus asa
dan mungkin akan melakukan tindakan melampaui batas kemanusiaan di bawah naungan malam.
Jones merasa takut membayangkan hal itu.
Namun sebelum dia sempat melakukan penyelidikan lebih lanjut,
Jones ditangkap oleh polisi Ukraina.
Beruntung, dengan bantuan Walter Doranty,
Jones tidak dipenjara tetapi diusir kembali ke Inggris.
Meski begitu, dia masuk ke dalam daftar hitam Uni Soviet dan tidak diizinkan masuk lagi.
Ukraina dikenal sebagai lumbung gandum dunia,
tetapi Stalin menggunakan taktik represif untuk merampas hasil pangan negeri ini.
Pada tahun 1929,
Stalin melancarkan kampanye penindasan politik terhadap jutaan kulak petani kaya di seluruh Uni Soviet
yang melibatkan penangkapan, pengusiran dan eksekusi.
Pada saat yang sama, Stalin menerapkan kebijakan kolektifisasi
menghapuskan kepemilikan tanah pribadi
dan memaksa para petani bergabung dengan pertanian kolektif yang dikelola negara.
Untuk melaksanakan kebijakan ini,
banyak anggota partai komunis Soviet dikirim ke pedesaan untuk memobilisasi para petani
agar bergabung dengan kolkhoz.
Namun kebijakan Stalin mendapat perlawanan keras di pedesaan Ukraina
dan rezim Soviet merespon dengan menangkap dan mengasingkan sejumlah besar orang
yang menolak kebijakan tersebut.
Banyak petani Ukraina yang ahli dalam bertani
dan memiliki pengalaman produksi pertanian
diberi label sebagai kulak.
Mereka dan keluarga mereka diasingkan ke Siberia dan Asia Tengah.
Akibatnya, produksi pertanian di Ukraina menurun drastis.
Para petani yang tidak diasingkan khawatir diberi label sebagai kulak
memilih membakar ladang mereka sendiri dan membunuh ternak mereka.
Hasilnya produksi pangan di Ukraina pada tahun 1932 merosot tajam.
Pemerintah Soviet, dimana dalam upaya mengumpulkan pangan,
menggunakan metode statistik baru untuk menghitung hasil pertanian.
Alih-alih menggunakan jumlah panen yang sebenarnya diterima di gudang,
mereka menggunakan hasil biologis yang sangat dibesar-besarkan
dengan tujuan memaksa kolkhoz menyerahkan lebih banyak pangan.
Angka-angka produksi pertanian Uni Soviet pada tahun 1930-an
jauh melampaui perkiraan ahli luar negeri manapun.
Untuk mengatasi kekurangan pangan dan ketidakcukupan hasil panen,
pada 7 Agustus 1932, Uni Soviet mengeluarkan dekret baru
yang menetapkan bahwa pencurian properti kolkhoz dapat dihukum hati.
Dekret ini secara tegas melarang petani menyimpan hasil pertanian
untuk diri mereka sendiri.
Setelah itu, Partai Komunis Soviet mengirimkan tim pencarian pangan
ke desa-desa Ukraina untuk menyetap benih, sisa pangan,
dan bahan makanan para petani.
Menurut laporan, hingga Januari 1933,
sekitar 79.000 petani ditangkap atas tuduhan menyembunyikan pangan
dan 4.880 diantaranya dijatuhi hukuman mati.
Tanpa bahan pangan dasar untuk bertahan hidup,
orang-orang di pedesaan Ukraina mulai memakan apa saja yang bisa mereka temukan,
tikus, burung gereja, cacing tanah, bahkan semut.
Pada masa itu, kulit dan sepatu kulit menjadi makanan mewah,
namun benda-benda ini hanya untuk sekali makan.
Setelah semuanya habis, bencana kelaparan yang sesungguhnya
mulai melanda beberapa wilayah di Uni Soviet, terutama Ukraina.
Banyak orang mati kelaparan, dan mayat-mayat kurus menumpuk di pinggir jalan,
sementara serigala liar menyerbu rumah-rumah pertanian yang ditinggalkan.
Meski begitu, operasi pencarian pangan terus berlanjut.
Ketika beberapa anggota Partai Komunis Soviet yang masih memiliki hati nurani
mulai menyurahkan penentangan, mereka segera diberhentikan di penjara atau ditembak mati.
Pada musim semi tahun 1933, seluruh wilayah Ukraina dipenuhi oleh mayat akibat kelaparan.
Pada saat yang sama, pemerintah Soviet mulai melarang penduduk yang kelaparan
untuk meninggalkan wilayah tersebut.
Akses dari Ukraina dan wilayah Sungai Don ke dunia luar sepenuhnya diputus.
Siapapun yang mencoba meninggalkan Ukraina tanpa izin akan dianggap sebagai musuh kelas dan ditangkap.
Dalam situasi putus asa ini, mulai terjadi fenomena kanibalisme di pedesaan Ukraina.
Media propaganda Soviet dengan tegas menyebutkan bahwa memakan anak sendiri adalah tindakan bihadap.
Menurut statistik saat itu, lebih dari 2.500 orang dihukum karena kasus kanibalisme.
Kelaparan yang direncanakan ini bertujuan untuk memusnahkan seniman, intelektual,
menghancurkan gereja, serta mengikis budaya tradisional pedesaan Ukraina.
Semua ini membuat warga Ukraina yang berharap untuk mandiri dan otonom menjadi ketakutan dan terpaksa bungkam.
Pada musim gugur tahun 1933, Stalin merasa bahwa rakyat Ukraina telah dikalahkan
sehingga dia mulai mengizinkan mereka menyimpan sebagian kecil hasil panen mereka sendiri.
Baru pada tahun 1934, mereka yang selamat dari kelaparan mulai memanen sejumlah kecil hasil pertanian.
Pada saat itulah, situasi kelaparan di Ukraina perlahan mulai meredah.
Tetapi fakta tentang bencana kelaparan ini tetap menjadi rahasia besar.
Tak seorang pun berani membicarakannya, apalagi mengingatnya.
Tragedi ini terkubur dalam tumpukan kebohongan dan hingga hari ini jumlah pasti korban tewas
akibat kelaparan di Ukraina masih belum jelas.
Namun sejak saat itu, ketidakpercayaan antara rakyat Ukraina dan pusat kekuasaan Soviet
semakin mendalam dan tak dapat dihilangkan.
Kelaparan ini menyebabkan penurunan besar dalam populasi Ukraina sehingga Uni Soviet
memindahkan sejumlah besar imigran ke Ukraina.
Hal ini membentuk daerah-daerah pemukiman baru yang berbahasa Rusia.
Akhirnya, 60 tahun kemudian, ketakutan Stalin terjadi secara tiba-tiba.
Dengan runtuhnya Uni Soviet, Rusia benar-benar kehilangan Ukraina.
Setelah Ukraina merdeka, hingga tahun 2018, lebih dari 20 negara mengakui bahwa kelaparan
besar pada tahun 1932-1933 adalah genusida dan pembersihan etnis yang dilakukan oleh
Soviet terhadap Ukraina.
Namun beberapa politis pro-Rusia serta pemerintah Rusia menolak pandangan ini.
Meskipun banyak fakta sejarah dan hasil penelitian tentang kelaparan besar Ukraina telah dipublikasikan,
masih ada sejumlah orang Ukraina yang tidak dapat menerima kenyataan tersebut.
Mereka sulit mempercayai bahwa pemimpin suatu negara bisa melakukan tindakan yang begitu
tidak manusiawi terhadap rakyatnya sendiri.
Banyak analisis menyatakan bahwa peristiwa seperti kelaparan besar kini menjadi simbol
kekejaman rezim Soviet.
Sejarawan Rusia Petrov mengatakan bahwa rezim Soviet dan Stalin menciptakan kem konsentrasi
besar-besaran, melakukan pembersihan politik, dan penindasan.
Semua ini mencerminkan sifat kejam dari rezim yang didirikan setelah revolusi Oktober.
Petrov menambahkan, tak terhitung banyaknya orang yang mati karena kelaparan dan kelelahan fisik,
tetapi bagi rezim tersebut, nyawa manusia sama sekali tidak penting.
Mereka memperlakukan manusia seperti bahan sekali pakai.
Ketika satu kelompok mati, kelompok baru segera menggantikannya.
Sejarawan terkenal lainnya, Robert Conquest, yang dikenal karena penelitiannya tentang
kelaparan besar, menulis buku berjudul The Harvest of Sorrow pada tahun 1986.
Buku ini mendokumentasikan kekejaman Stalin terhadap para petani Ukraina berdasarkan data
dari pengungsi, sensus ekonomi, dan laporan media.
Ketika berbicara tentang panjang halaman buku tersebut, Conquest menyebut bahwa setiap kata
dalam buku ini mewakili sekitar 20 nyawa yang hilang.
Pada tahun 2018, kolumnis untuk The Washington Post, Anna Applebaum, yang lama bertugas di
Eropa Timur, menerbitkan buku baru berjudul Red Famine, Stalin's War on Ukraina.
Buku ini secara mendalam menceritakan tragedi kelaparan besar dengan menyebutkan bahwa setidaknya
3,9 juta orang Ukraina tewas dalam bencana ini.
Applebaum berpendapat bahwa selama bertahun-tahun, Rusia selalu memandang Ukraina sebagai koloni
yang menguntungkan, dan karenanya mereka takut kehilangan wilayah tersebut.
Kaisar Rusia Alexander II bahkan melarang buku dan majalah berbahasa Ukraina serta melarang
penggunaan bahasa Ukraina di opera manapun.
Di semua sekolah, anak-anak harus belajar dalam bahasa Rusia.
Menjelang akhir Perang Dunia I, ketika banyak kerajaan runtuh, Ukraina memproklamirkan
kemerdekaannya di tengah kekacauan.
Namun, tanah hitamnya yang subur dan pelabuhan-pelabuhan di Laut Hitam menjadi rebutan oleh kaum
Bolshevik dari kelompok etnis Belarus dan negara-negara tetangga lainnya.
Setelah bertahun-tahun perebutan yang sangat brutal, pada tahun 1919, Kiev berpindah tangan
berkali-kali.
Ukraina akhirnya dibagi antara dua negara baru, Polandia dan Uni Soviet, dengan sebagian
besar wilayahnya jatuh ke tangan Soviet.
Kemudian, Stalin mengikuti jejak parasar dengan menindas gereja ortodoks Ukraina, menutup surat
kabar berbahasa Ukraina, dan menyitap banyak buku berbahasa Ukraina di sekolah dan
perpustakaan.
Bahkan proyek kamus Rusia-Ukraina yang sempat diizinkan secara singkat akhirnya dianggap
sebagai upaya subversif dan banyak staff yang bekerja dalam proyek tersebut ditangkap dan
ditembak mati.
Puluhan ribu guru dan kaum intelektual Ukraina juga ditangkap.
Beberapa kata dalam bahasa Ukraina dilarang digunakan di surat kabar dan harus diganti
dengan istilah yang lebih mirip bahasa Rusia.
Dalam pandangan resmi Rusia, menggunakan bahasa Ukraina sudah dianggap sebagai pengkhianatan
yang harus dihukum.
Penjelasan Applebaum dalam bukunya sangat baik dalam mengungkapkan hubungan antara
kelaparan besar di Ukraina dan akar sejarah mendalam dari konflik Rusia-Ukraina saat ini.
Pada awal tahun 2002, setelah tekanan dari opini publik, pemerintah Ukraina membuka lebih
dari seribu dokumen rahasia terkait bencana kelaparan.
Presiden Ukraina saat itu, Leonid Kuchma, menandatangani dekrit yang menetapkan hari
Sabtu ke empat bulan November, setiap tahun sebagai hari peringatan resmi untuk korban
holodomor atau peringatan kelaparan.
Pada tanggal 25 November 2006, di seluruh kota-kota Ukraina, bendera diturunkan setengah
tiang dan diikat dengan pita hitam untuk mengenang para korban kelaparan besar, holodomor.
Presiden Ukraina saat itu, Viktor Yusenko bersama Ketua Parlemen Alexander Moroz, memimpin
upacara peletakan batu pertama di Memorial Holodomor dan sebuah acara doa dengan lilin
digelar di alun-alun pusat kota.
Semua stasiun televisi dan radio di Ukraina menghentikan siaran program hiburan.
Pada tanggal 7 November 2015, di dekat gedung Kapital Amerika Serikat di Washington, sebuah
monumen didirikan untuk mengenang jutaan korban tak bersalah yang tewas dalam kelaparan
besar di Ukraina yang diciptakan oleh Stalin.
Pada tanggal 25 November 2017, dalam rangkaian peringatan Holodomor, Presiden Ukraina Petro
Poroshenko periode 2014-2019, Perdana Menteri Volodymyr Groisman dan pejabat-pejabat tinggi
lainnya, meletakkan karangan bunga di Monumen Holodomor.
Lembaga-lembaga pemerintah di seluruh negeri menurunkan bendera setengah tiang dan misal
diadakan di berbagai gereja.
Poroshenko menyatakan bahwa segala bentuk penyangkalan terhadap Holodomor atau Holokaus
adalah tindakan tidak bermoral dan seharusnya ada hukum yang menghukum mereka yang menolak
dua tragedi ini.
Poroshenko juga menegaskan bahwa Rusia sebagai penerus Uni Soviet harus bertanggung jawab
atas kejahatan ini dan berharap bahwa elit Rusia suatu hari akan mengakui Holodomor sebagai
pembersihan etnis dan meminta maaf.
Pada tanggal 3 Oktober 2018, Senat AS mengesahkan resolusi yang mengakui bahwa Stalin dan rezimnya
bertanggung jawab atas genosida terhadap rakyat Ukraina pada tahun 1932-1933.
Setelah Volodymyr Zelensky yang Perubarat terpilih sebagai Presiden Ukraina dan terutama setelah
invasi Rusia ke Ukraina Timur serta aneksasi Kremia, sikap masyarakat Ukraina terhadap
Holodomor mulai berubah.
Sebelum Perang Rusia-Ukraina, jajak pendapat menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang
menuntut kompensasi dari Rusia.
Mayoritas besar menganggap Holodomor sebagai tindakan genosida murni dan lebih banyak orang
yang menuntut agar para pelaku diadili serta keluarga korban menerima kompensasi.
Pada tanggal 27 November 2021, Ukraina kembali menggelar upacara peringatan Holodomor.
Diplomat dari Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara lain yang bertugas di Kyiv turut
menghadiri acara tersebut.
Pada hari peringatan Holodomor, Presiden Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan pernah
yakni pada tahun 1921-1923, 1932-1933, dan 1946-1947.
Dia menekankan bahwa bencana kelaparan tahun 1932-1933 yang diciptakan oleh rezim otoriter
Stalin adalah yang terbesar.
Zelensky menyatakan bahwa sebelum peristiwa ini, tidak ada penguasa yang pernah menciptakan
tragedi yang begitu kejam dan biadab.
Pada hari peringatan Holodomor, Kementerian Luar Negeri Ukraina mengeluarkan pernyataan
yang mengecam Rusia karena hingga saat ini masih menyangkal bahwa Holodomor adalah genosida
terhadap rakyat Ukraina dan menyebut tindakan tersebut sebagai pembiaran terhadap kejahatan.
Pernyataan itu juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk bersatu demi mencegah
terulangnya kejahatan serupa.
Jurnalis Inggris, Gerard Jones, yang dulu mengungkap kebenaran tentang kelaparan besar
di Ukraina, tidak mendapat pujian atas laporannya.
Sebaliknya, dia malah dianggap sebagai musuh oleh banyak pihak.
Di satu sisi, Inggris baru saja keluar dari depresi besar dan masih banyak orang yang kelaparan.
Dalam situasi seperti itu, mempublikasikan artikel semacam ini dianggap sebagai upaya
untuk mengelihkan perhatian masyarakat Inggris.
Karena Jones pernah menjadi penasihat diplomatik mantan Perdana Menteri Britannia Raya, David
Beberapa orang menduga bahwa publikasi ini merupakan taktik politik tertentu oleh Lloyd George.
Selain itu, di Inggris ada banyak pendukung model Soviet yang menganggap bahwa Uni Soviet
adalah harapan masa depan umat manusia sehingga mereka tidak ingin mendengar berita yang menentang Uni Soviet.
Di luar negeri, karena industrialisasi cepat yang dilancarkan oleh Stalin, Uni Soviet memiliki
banyak pesanan peralatan industri dari negara lain.
Maka, berita seperti yang ditulis Jones adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh Soviet.
Oleh karena itu, Walter Dorenti, yang berada jauh di Moskow juga menulis artikel yang menentang laporan Jones.
Walter Dorenti tidak pernah menyangka bahwa menyelamatkan seorang pemuda akan menimbulkan masalah sebesar ini.
Dalam artikel di New York Times, Dorenti menyatakan bahwa semua laporan tentang kelaparan di Uni Soviet
adalah propaganda yang dilebih-lebihkan dan jahat.
Gerard Jones, di sisi lain, tidak menyangka bahwa dirinya yang berusaha mengungkap kebenaran kelam
justru menjadi sasaran kebencian banyak orang, layaknya tikus god yang diburu semua orang.
Ketidakseimbangan ini sangat sulit diterima olehnya.
Kendati begitu, dan meski laporan tentang kelaparan di Ukraina awalnya dicemoh oleh dunia,
Jones tidak menyerah dalam mengejar kebenaran berita.
Pada tahun 1935, Jones mendengar kabar bahwa di Asia,
Jepang telah mendirikan negara boneka di Manchuria, Tiongkok yang disebut Manchukuo
dengan menjadikan Puyi, kaisar terakhir dinasti Qing, sebagai boneka mereka.
Jepang tampaknya memiliki agenda tersembunyi terhadap tanah kuno Tiongkok
dan Jones memutuskan untuk berangkat lagi.
Kali ini menuju perbatasan Mongolia dan Manchukuo dengan harapan bisa mengungkap rencana jahat Jepang.
Namun sayangnya, dalam proses penyelidikannya, Jones diculik oleh sekelompok bandit.
Beberapa cendikiawan yang mengenal Jones dan menghargai keberaniannya dalam mengungkap kebenaran.
Mengumpulkan beberapa ribu pond sterling untuk membayar tebusan agar dia dibebaskan.
Namun mengejutkan, bandit tersebut tidak menginginkan uang, mereka hanya menginginkan nyawa wartawan itu.
Jones pun dibunuh oleh para bandit.
Banyak orang mulai mencium adanya konspirasi.
Ini bukan sekadar penculikan biasa, melainkan pembunuhan yang direncanakan.
Di wilayah yang begitu sensitif, kematian Jones memicu banyak spekulasi.
Mungkin Jepang tahu bahwa Jones telah menemukan sesuatu yang penting sehingga dia harus dilenyapkan.
Wartawan Gareth Jones mati muda pada usia 30-an dalam usahanya mengungkap kebenaran berita.
Namun kematian Jones tidak sia-sia, setidaknya rakyat Ukraina selamanya mengingatnya.
Setelah Ukraina merdeka dari Uni Soviet pada tahun 1991 dan menjadi negara berdaulat,
mereka mulai menghargai Jones seorang pahlawan yang pernah memperjuangkan suara mereka.
Ada yang pernah berpendapat bahwa kelaparan di Ukraina adalah tindakan yang tak terelakkan oleh Soviet
demi mempercepat industrialisasi.
Mereka berpendapat bahwa pengorbanan yang terjadi dalam kelaparan Ukraina adalah salah satu sebab
mengapa industrialisasi Soviet bisa melesat.
Dan pada akhirnya, membantu Uni Soviet menjadi kekuatan penting yang melawan Nazi dalam Perang Dunia II.
Namun penilaian atas peristiwa sejarah selalu bersifat subjektif,
sementara kebenaran sejarah yang sebenarnya terjadi tidak bisa diubah.
Setiap orang yang dengan berani mengungkapkan kebenaran yang kelam, layak untuk diingat selamanya.
Saat ini, di Walls Inggris terdapat sebuah tugu peringatan untuk Gerard Jones
yang disebut sebagai pahlawan tanpa nama bagi rakyat Ukraina.
Pada tahun 2008, Jones secara anumerta dianugerahi Medali Kehormatan Ukraina
sebagai pengakuan atas kontribusi besar yang telah diberikan kepada Ukraina dan rakyatnya.
Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
