Ahli: China Sepertinya Tak Akan Mundur, Inilah Mengapa #perang dagang #tarif trump

NTD Indonesia
799 pengikut
136 Tayangan video·14 Apr 2025
Merapat ke China, akankah Beijing mundur di bawah tekanan dari AS? Jika tidak, kartu apa yang masih bisa dimainkan Beijing dan Washington? NTD Flora Hua menanyai 3 ahli China tentang hal ini.
Baca artikel selengkapnya di: https://ntdindonesia.com/
------
NTD Indonesia di Ganjing World ☛
https://ganjing.b3355.xyz/channel/u7SnRLmAnT8ee
NTD Indonesia di Facebook ☛ https://facebook.com/ntdindonesia/
Video inspirasi setiap hari ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan
Donasi dukung kami ☛ https://ntdindonesia.com/donasi/
Merapat ke China, akankah Beijing mundur di bawah tekanan dari AS?
Jika tidak, kartu apa yang masih bisa dimainkan Beijing dan Washington?
NTD Flora Hua menanyai tiga ahli China tentang hal ini.
Li Qin bekerja di industri televisi daratan China dari 1994 hingga 2014.
Itu saat dia meninggalkan China.
Ia adalah sutradara pemenang penghargaan dan produser TV senior.
Pemerintahan Komunis China sekarang mirip dengan era revolusi kebudayaan.
Bahkan di bawah tekanan luar biasa, kelaparan massal,
kesulitan bertahun-tahun, mereka menolak untuk mundur.
Mereka bergantung pada propaganda yang kuat,
sistem hukum dan militer untuk mempertahankan kontrolnya.
Analis China lainnya, Tang Qingyan,
telah menjadi komentator dari NTD versi Mandarin selama bertahun-tahun.
Partai Komunis China percaya mereka punya keuntungan unik
yang bisa kita sebut keuntungan ham yang rendah.
Itu berarti PKC percaya mereka bersedia
menyingsarakan rakyat Tiongkok kependeritaan yang lebih dalam
dibandingkan AS bersedia untuk menyingsarakan rakyat Amerika.
PKC melihat orang biasa sebagai yang bisa dikorbankan,
seperti ilalang yang bisa dicabut hingga ke akarnya
tanpa peduli akan nyawa mereka.
Sebaliknya, di AS jika rakyat tidak bisa menahan tekanan inflasi atau ekonomi,
mereka mungkin akan turun ke jalan dan memaksa presiden seperti Trump
untuk mengubah peraturannya.
Alasan lain Peking mungkin tidak akan mundur adalah ekonomi yang lemah.
Tindakan lockdown Peking yang parah selama pandemi
telah menghancurkan ekonominya.
Ditambah adanya krisis real estate dan hutang yang besar.
Sekarang para ahli berkata keuntungan dagang China yang besar
dengan AS dan negara lain telah menjadi penyelamat hidupnya.
Yang Trump inginkan bukanlah tarif no, tetapi keuntungan no bagi China.
Ia ingin menghapus semua keuntungan tak adil yang dimiliki PKC di pasar AS.
Keuntungan dagang China dari AS melonjak dari 83 miliar dolar tahun 2001
menjadi lebih dari 200 miliar dolar setahun.
Sejak China bergabung ke WTO,
angka itu meraih titik tertingginya tahun 2018
saat keuntungan dagang bernilai hampir 420 miliar dolar.
Itu saat Trump pertama memutuskan untuk memberi tarif ke barang-barang China.
Namun, defisit perdagangan AS dengan China masih tinggi.
Tahun lalu angka mencapai hampir 300 miliar dolar.
Jadi, apa yang akan terjadi jika perang dagang terus berlanjut antara AS dan China?
Secara realita, dengan tarif 100%, perdagangan AS-China sudah hancur.
Tidak ada perusahaan yang bisa bertahan dengan tarif 100% dan masih untung.
Saya pikir pemutusan dagang seperti ini hanya akan butuh 90 hari,
tiga bulan, untuk membuat kerusakan serius.
Mengapa? Bayangkan Anda adalah bisnis Amerika mengimpor dari China.
Jika selama tiga bulan itu saya tidak bisa berbisnis dengan Anda,
saya harus mencari pemasok baru.
Ketika perusahaan AS ini telah mendapatkan pemasok alternatif,
kemungkinan mereka kembali berbisnis dengan China sangat sedikit.
Ada juga kartu lain yang belum dimainkan Washington.
Menteri Keuangan Besant berkata,
ia belum menutup kemungkinan menghapus perusahaan China dari bursa saham AS.
Perusahaan swasta China ini didukung oleh banyak elit yang berkuasa.
Jika saham perusahaan-perusahaan ini dihapus oleh AS,
para elit itu tidak akan puas pada Xi Jinping.
Rezim komunis bergantung pada para pejabat ini untuk memaksakan tekanan.
Jika mereka merasa mereka juga tidak dapat bertahan,
itu akan menjadi situasi yang berbahaya.
Di sisi lain, taktik apa yang masih dimiliki Beijing?
Ada dua kemungkinan.
Pertama, Partai Komunis China mungkin akan menyalahkan semua kegagalan ekonominya ke AS.
Departemen Propagandanya pasti akan melakukan itu.
Kedua, mereka mungkin akan mengalihkan perhatian publik ke perang,
propaganda perang, atau ancaman perang.
Guo Qin adalah salah satu pendiri Epoch Times edisi Mandarin.
Sekarang, China sebagai negara manufaktur, produsen dan penjual
ada dalam posisi yang sangat pasif.
Tetapi jika perang panas pecah dengan AS,
kapasitas produksi berlebihan ini dapat menjadi keuntungan.
Dalam perang, negara dengan kemampuan manufaktur terkuat
bisa dapat tiba-tiba diuntungkan.
Flora Hua, NTD News.
