BAB 2 - Kaca Yang Lenyap | Audiobook Harry Potter Dan Batu Bertuah

Generasi Z
10 pengikut
56 Tayangan video·23 Okt 2025
Harry Potter dan Batu Bertuah
Bab Dua, Kaca Yang Lenyap
Sudah hampir 10 tahun berlalu sejak suami istri Dursley terbangun dan menemukan keponakan mereka di depan pintu.
Tetapi private drive hampir tak berubah.
Matahari terbit menyinari halaman-halaman depan yang rapi dan membuat berkilau angka 4 dari kuningan di pintu depan rumah keluarga Dursley.
Sinar matahari merayap ke dalam ruang keluarga mereka yang masih nyaris sama dengan pada malam Mr. Dursley menonton berita penting tentang burung-burung hantu dahulu.
10 tahun yang lalu, ada banyak foto anak yang tampak seperti bola pantai besar merah jambu, memakai topi yang warnanya berbeda-beda.
Tetapi sekarang Dali Dursley sudah bukan bayi lagi.
Dan sekarang foto-foto itu menunjukkan anak gemuk berambut pirang menaiki sepeda roda tiga pertamanya, naik komedi putar, bermain komputer dengan ayahnya, dipeluk dan dicium ibunya.
Dalam ruangan itu sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada anak lain yang tinggal di rumah itu.
Padahal Harry Potter masih di situ saat ini sedang tidur tapi tak akan lama lagi.
Bibinya Petunia sudah bangun dan suara nyaring nyala yang pertama memecah kesunyian pagi itu.
Bangun, bangun cepat!
Harry terbangun dengan kaget.
Bibinya menggedor pintu lagi.
Bangun! lengkingnya.
Harry mendengarnya melangkah menuju dapur lalu bunyi wajan yang diletakkan di atas kompor.
Harry berguling telentang lagi dan berusaha mengingat-mingat mimpinya yang terputus tadi.
Mimpinya menyenangkan.
Ada motor terbang.
Dia merasa dia pernah mimpi yang sama sebelumnya.
Bibinya sudah kembali berada di depan pintu kamarnya.
Kau sudah bangun belum?
Tuntutnya.
Hampir!
Jawab Harry.
Ayo cepat!
Aku mau kau yang menggoreng daging asap.
Jangan sampai gosong!
Aku ingin segalanya sempurna pada hari ulang tahun Dudley.
Harry mengeluh.
Apa kamu?
Tidak, tidak, tidak apa-apa.
Di ulang tahun Dudley, bagaimana mungkin dia bisa lupa?
Dengan emgan, Harry turun dari tempat tidur dan mencari-cari kaos kaki.
Ditemukannya sepasang di bawah tempat tidur.
Dan setelah menarik laba-laba dari salah satu di antaranya, dipakainya kaos kaki itu.
Harry sudah terbiasa dengan laba-laba.
Karena lemari di bawah tangga penuh laba-laba.
Dan disitulah dia tidur.
Setelah berpakaian, dia pergi ke dapur.
Meja dapur nyaris tersembunyi di bawah tumpukan hadiah untuk Dudley.
Tampaknya Dudley mendapatkan komputer baru yang diinginkannya.
Belum lagi televisi baru dan sepeda balap.
Kenapa persisnya Dudley ingin sepeda balap?
Sungguh suatu misteri bagi Harry.
Karena Dudley gemuk dan benci olahraga.
Kecuali tentu saja bentuk olahraganya adalah meninju orang lain.
Kantong tinju favorit Dudley adalah Harry.
Tetapi Dudley jarang berhasil mengenainya.
Harry memang tidak kelihatan gesit.
Tetapi dia gesit sekali.
Mungkin ada hubungannya dengan tinggal di dalam lemari yang gelap.
Tetapi Harry termasuk kecil dan kurus untuk umurnya.
Dia bahkan kelihatan lebih kecil dan lebih kurus dari yang sesungguhnya.
Karena semua pakaiannya lungsuran Dudley.
Dan Dudley empat kali lebih besar daripadanya.
Harry berwajah kurus, lututnya menonjol,
rambutnya hitam, dan matanya hijau cemerlang.
Dia memakai kacamata bulat yang bingkainya dilekat dengan banyak selotip.
Karena seringnya Dudley memukul hidungnya.
Satu-satunya yang disukai Harry pada penampilannya
adalah bekas luka tipis pada dahinya yang berbentuk sambaran kilat.
Sejauh yang dia ingat, dari dulu bekas luka itu sudah ada.
Dan pertanyaan pertama yang seingatnya dia tanyakan kepada Bibi Petunia
adalah bagaimana dia mendapatkan bekas luka itu.
Dalam kecelakaan waktu orang tuamu meninggal, katanya.
Dan jangan tanya-tanya lagi.
Jangan tanya-tanya.
Itu peraturan pertama jika mau hidup tenang bersama keluarga Darsley.
Paman Fernand masuk dapur ketika Harry sedang membalik daging.
Sisi rambutmu.
Perintahnya sebagai ucapan selamat paginya.
Sekali seminggu, Paman Fernand memandang dari atas korannya
dan berteriak bahwa Harry harus potong rambut.
Harry pastilah sudah potong rambut lebih sering dibanding seluruh teman sekelasnya sekaligus.
Tetapi sama saja, rambutnya tetap saja tumbuh begitu, berantakan.
Harry sedang menggoreng telur ketika Dudley muncul di dapur, dengan ibunya.
Dudley mirip sekali dengan Paman Fernand.
Wajahnya lebar dan merah jambu, lehernya pendek, matanya kecil biru berair.
Rambutnya yang tebal pirang menempel rapi pada kepalanya yang gemuk.
Bibipetunia sering mengatakan bahwa Dudley kelihatan seperti bayi malaikat.
Sedangkan Harry sering mengatakan Dudley seperti babi pakai wik.
Harry menaruh piring berisi daging dan telur ke atas meja.
Ini susah karena nyaris tak ada tempat.
Dudley sementara itu menghitung hadiahnya.
Wajahnya langsung mencemberut.
Tiga puluh enam, katanya sambil memandang ayah dan ibunya.
Kurang dua dibanding tahun lalu.
Sayang, kau belum menghitung hadiah Bibimers.
Lihat, ini dia di bawah hadiah dari Mami dan Daddy.
Baik, tiga puluh tujuh kalau begitu, kata Dudley, yang wajahnya sudah merah.
Harry yang sudah bisa menduga kemarahan Dudley akan meledak, cepat-cepat mengunyah dagingnya.
Siapa tahu Dudley akan menjungkirkan meja.
Bibipetunia rupanya menyadari datangnya bahaya juga, karena dia cepat-cepat berkata.
Dan kami akan membelikan untukmu dua hadiah lagi kalau kita jalan-jalan nanti.
Bagaimana, manis? Dua hadiah tambahan, oke kan?
Sejenak Dudley berpikir, kelihatannya susah baginya.
Akhirnya dia berkata pelan-pelan.
Hmm, jadi aku akan punya tiga puluh, tiga puluh, tiga puluh sembilan anak pintar, kata Bibipetunia.
Oh, Dudley duduk dengan keras dan menjangkau bungkusan terdekat.
Baiklah, Paman Fernand tertawa.
Si kecil tak mau rugi persis ayahnya.
Pintar kau, Dudley.
Ia mengacak rambut Dudley.
Saat itu telpon berdering dan Bibipetunia menjawabnya sementara Harry dan Paman Fernand menonton Dudley membuka sepeda balap,
kamera, pesawat terbang mainan yang dikendalikan remote control,
16 permainan komputer, dan perekam video.
Dia sedang merobek kertas pembungkus arloji emas ketika Bibipetunia muncul kembali dengan wajah marah dan cemas.
Kabal buruk, Fernand, katanya.
Mrs. V kakinya patah, jadi tak bisa dititipi dia.
Dia mengedikan kepala ke arah Harry.
Mulut Dudley melongong ngeri, tetapi Harry senang.
Setiap tahun, pada hari ulang tahun Dudley, orang tuanya mengajak Dudley dan seorang temannya jalan-jalan,
ke taman hiburan, kios hamburger, atau menonton bioskop.
Harry ditinggal, dititikan pada Mrs. V, wanita tua aneh yang tinggal dua jalan dari private drive.
Harry benci tinggal di sana.
Seluruh rumahnya baukol, dan Mrs. V memaksanya melihat foto-foto semua kucing yang pernah dimilikinya.
Jadi bagaimana, kata Bibipetunia, memandang Harry dengan berang, seakan Harry yang merencanakan sakitnya Mrs. V.
Harry tahu dia seharusnya kasihan Mrs. V kakinya patah,
tetapi dia mengingatkan dirinya bahwa baru setahun lagi dia harus melihat foto Teebles, Snowy, Mr. Paws, dan Tufty.
Kita bisa menelpon Marge, Paman Fernand menyarankan.
Jangan ngaco, Fernand, dia akan benci anak itu.
Keluarga Darsley sering membicarakan Harry seperti ini seakan anak ini tidak ada,
atau lebih tepat lagi, seakan dia sesuatu yang sangat menjijikan, seperti Becky Chott.
Bagaimana kalau siapa namanya tuh, temanmu?
Yvonne?
Sedang berlibur di Mallorca, tukas Bibipetunia.
Kalian bisa meninggalkan aku di sini?
Harry mengusulkan penuh harap.
Dia akan bisa menonton acara yang disukainya di televisi,
dan mungkin bahkan mencoba komputer Dudley.
Bibipetunia kelihatan seperti tersedak e telur.
Dan kalau kami pulang nanti rumah sudah hancur?
Geramnya.
Aku tak akan meledakan rumah, kata Harry, tetapi mereka tidak membedulikannya.
Kurasa kita bisa membawanya ke kebun binatang, kata Bibipetunia pelan, dan meninggalkannya di mobil.
Mobil kita baru, dia tak boleh duduk sendirian.
Dudley mulai menangis meraung-raung.
Sebetulnya sih, dia tidak betul-betul menangis.
Sudah bertahun-tahun, dia tidak menangis.
Tetapi dia tahu bahwa kalau dia mengerutkan mukanya dan meraung,
ibunya akan mengabulkan semua yang dia inginkan.
Dingkidadidams, jangan menangis.
Mami tak akan membiarkannya merusak hari istimewamu.
Bibipetunia merseru sambil memeluk Dudley.
Aku tak, tak mau. Dia i-i ikut.
Dudley menjerit di antara isak pura-puranya.
Saat itu, bel pintu berdering.
Ayah ampun, mereka sudah datang, kata Bibipetunia panik.
Dan sekejap kemudian, sahabat Dudley, Pierce Polkis, masuk bersama ibunya.
Pierce anak kurus dengan wajah seperti tikus.
Biasanya, dia yang memegangi lengan anak-anak di belakang punggung,
sementara Dudley memukul mereka.
Dudley langsung berhenti berpura-pura menangis.
Setengah jam kemudian, Harry yang tak mempercayai keberuntungannya,
duduk di jog belakang mobil bersama Pierce dan Dudley,
menuju ke kebun binatang untuk pertama kali dalam hidupnya.
Paman dan bibinya tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Tetapi sebelum mereka berangkat, Paman Fernon mengajaknya bicara.
Ku peringatkan kau, katanya.
Wajahnya yang lebar keungguan, dekat sekali dengan wajah Harry.
Ku peringatkan kau sekarang,
kalau kau melakukan yang aneh-aneh sedikit saja,
kau akan dikurung di lemari itu sampai Natal.
Aku tidak akan melakukan apa-apa, kata Harry.
Sungguh.
Tetapi Paman Fernon tidak percaya.
Yang lain pun tidak.
Susahnya, hal-hal aneh sering terjadi di sekitar Harry
dan tak ada gunanya memberitahu keluarga Dursley
bahwa bukan dia yang menyebabkan hal-hal itu terjadi.
Pernah, bibi petunia yang sudah sebal melihat Harry pulang dari tukang cukur
tetapi rambutnya kelihatan sama saja,
mengambil gunting dapur dan memotong rambut Harry sampai pendek,
nyaris gundul.
Kecuali poninya yang sengaja tidak dipotongnya
untuk menyembunyikan bekas luka yang mengerikan.
Dudley terbahak-bahak menertawakan Harry.
Sedangkan Harry sendiri semalaman tak bisa tidur
membayangkan bagaimana di sekolah keesokan harinya.
Dia sudah selalu ditertawakan gara-gara pakaian yang kebesaran
dan kacamatanya yang dilekat dengan selotip.
Tapi, paginya ternyata rambutnya sudah persis lagi
dengan sebelum bibi petunia mencukurnya.
Dia dikurung selama seminggu dalam lemarinya gara-gara ini,
walaupun dia sudah mencoba menerangkan
bahwa dia tidak bisa menjelaskan bagaimana
rambutnya bisa tumbuh kembali secepat itu.
Pada kesempatan lain,
bibi petunia memaksanya memakai sweater tua Dudley yang menjijikan,
coklat dengan bulatan-bulatan hitam.
Semakin bibi petunia memaksa menariknya melewati kepala Harry,
sweater itu semakin mengecil
sampai akhirnya cuma seukuran baju boneka tangan
dan jelas tak akan cukup dipakai Harry.
Bibi petunia memutuskan pastilah sweater itu mengerut ketika dicuci.
Dan betapa leganya Harry, dia tidak dihukum karena ini.
Tetapi sebaliknya, dia mendapat kesulitan besar
gara-gara ditemukan di atas atap dapur sekolah.
Seperti biasa, geng Dudley mengejar-ngejarnya
dan Harry sama kagetnya dengan yang lain
ketika tiba-tiba saja dia sudah duduk di atas cerobong asap.
Mister dan Mrs. Dursley menerima surat dari ibu kepala sekolah yang sangat marah
karena Harry telah memanjat-manjat bangunan sekolah.
Tetapi sebetulnya yang dilakukannya hanyalah
seperti diteriakannya kepada paman Vernon dari dalam lemarinya yang terkunci
melompati ke belakang tempat sampah besar di luar pintu dapur.
Harry menduga pastilah saat melompat itu dia terbawa angin ke atas.
Tetapi hari ini semua akan berjalan mulus.
Bahkan duduk bersama Dudley dan Pierce pun diterimanya
asal dia bisa melewatkan hari bukan di sekolah,
di dalam lemarinya, atau di ruang tamu Mrs. Figg yang baukol.
Sementara mengemudi, paman Vernon mengeluh kepada Bibi Petunia.
Hobinya memang mengeluh.
Orang-orang di kantornya,
Harry,
para wakil rakyat,
Harry,
Bang,
dan Harry
hanya beberapa saja dari topik favoritnya.
Hari ini sepeda motor.
Ngebut seperti orang gila.
Preman-preman kurang kerjaan.
Komentarnya ketika ada motor yang menyalip mereka.
Aku pernah mimpi tentang motor,
kata Harry yang tiba-tiba ingat mimpinya.
Motornya terbang.
Paman Vernon nyaris menabrak mobil di depannya.
Dia berbalik di tempat duduknya dan berteriak kepada Harry.
Wajahnya seperti bit rakasa yang berkumis.
Motor tidak terbang.
Dudley dan Pierce cekikikan.
Aku tahu motor tidak terbang,
kata Harry.
Itu kan cuma mimpi.
Tetapi Harry menyesal sudah ngomong begitu.
Kalau ada hal lain yang dibenci keluarga Dursley,
itu adalah jika Harry menyebut-nyebut
sesuatu yang tidak semestinya terjadi.
Tak peduli peristiwa itu cuma dalam mimpi
atau bahkan film kartun.
Rupanya mereka berpendapat
ide-ide Harry berbahaya.
Hari Sabtu itu cerah sekali.
Dan kebun binatang penuh dikunjungi keluarga-keluarga.
Mister dan Mrs. Dursley
membelikan Dudley dan Pierce es krim coklat besar
di pintu masuk.
Dan karena si gadis penuh senyum di mobil es krim itu
sudah terlanjur menanyai Harry dia ingin es krim apa
sebelum mereka sempat mengajak Harry pergi.
Mereka membelikannya es loli lemon yang murah.
Cukup enak juga pikir Harry
yang menjilati es lolinya sembari menonton Gorilla
yang menggaru-garu kepalanya dan bertampang mirip Dudley.
Hanya saja rambutnya tidak pirang.
Belum pernah Harry segembira ini.
Dia berhati-hati berjalan agak jauh dari keluarga Dursley
agar Dudley dan Pierce yang menjelang makan siang
sudah mulai bosan dengan binatang-binatang
tidak kembali melakukan hobi favoritnya
yaitu memukulinya.
Mereka makan di restoran kebun binatang
dan ketika Dudley marah-marah karena es krimnya kurang besar
Paman Vernon membelikannya porsi yang lebih besar
dan Harry diizinkan menghabiskan pesanan pertamanya.
Harry belakangan merasa bahwa seharusnya dia tahu
hal menyenangkan seperti ini tak mungkin berlangsung terus.
Setelah makan siang mereka mengunjungi rumah reptil.
Di dalam rumah reptil sejuk dan gelap
dengan jendela-jendela berlampu di sepanjang dindingnya.
Di balik kaca berjenis-jenis kadal dan ular
merayap dan melata di atas potongan-potongan kayu dan batu.
Dudley dan Pierce ingin melihat kobra besar beracun
dan sanca raksasa yang bisa meremuk manusia.
Dudley segera menemukan ular terbesar di tempat itu.
Ular itu bisa membelitkan tubuhnya dua kali ke mobil Paman Vernon
dan meremuknya seperti kaleng kerupuk.
Tetapi saat ini kelihatannya dia sedang malas.
Sebetulnya dia malah sedang tidur nyenyak.
Dudley berdiri dengan hidung menempel di kaca
memandang gulungan coklat berkilat itu.
Suruh dia bergerak, rengeknya pada ayahnya.
Paman Vernon mengetuk kaca tetapi si ular diam saja.
Ketuk lagi, Dudley menyuruh.
Paman Vernon mengetuk keras dengan buku-buku jarinya
tetapi si ular tetap saja tidur.
Sungguh membosankan, keluh Dudley.
Dia pergi.
Harry ganti bergerak ke dekat kaca
dan memandang si ular lekat-lekat.
Dia tak akan heran kalau si ular mati karena bosannya.
Tak ada teman selain orang-orang bodoh yang mengetuk-ngetuk kaca.
Mencoba mengganggunya sepanjang hari.
Ini lebih parah daripada menggunakan lemari sebagai kamar tidur
dengan satu-satunya pengunjung adalah Bibi Petunia
yang menggedur-ngedur pintu untuk membangunkannya.
Paling tidak dia akan bisa ke bagian rumah yang lain.
Ular itu tiba-tiba membuka matanya yang seperti manik-manik.
Pelan, sangat pelan,
ia mengangkat kepalanya sampai matanya sejajar dengan mata Harry.
Mata itu mengedip.
Harry terbelalak.
Kemudian dia cepat-cepat memandang berkeliling
untuk memastikan tak ada yang melihat.
Ternyata memang tak ada.
Dia kembali memandang si ular dan balas mengedip juga.
Si ular mengedikan kepala ke arah Paman Vernon dan Dudley
kemudian mendongak langit-langit.
Pandangannya kepada Harry seakan jelas berkata,
sepanjang waktu memang seperti itu.
Aku tahu, gumam Harry lewat kaca
meskipun dia tak yakin si ular bisa mendengarnya.
Pastilah, ingat nyebalkan.
Si ular mengaguk-angguk bersemangat.
Kau berasal dari mana sih?
Tanya Harry.
Ular itu menggerakkan ekornya ke arah papan kecil di sebelah kaca.
Harry membaca tulisannya.
Buah pembelit, Brazil.
Enak di sana.
Si buah pembelit menunjuk dengan ekornya ke papan lagi
dan Harry meneruskan membaca.
Ular yang ada di sini dikembang biakan di kebun binatang.
Oh, begitu.
Jadi, kau tak pernah ke Brazil begitu.
Saat si ular menggelengkan kepala,
teriakan memakikan telinga di belakang Harry
membuat mereka berdua terlonjak.
Dudley, Mr. Dursley.
Sini lihat, ularnya menggeleng-geleng.
Kalian tak akan percaya.
Dudley datang tergopoh-gopoh.
Minggir kau, katanya sambil menunjuk dada Harry.
Karena tak menyangka akan diserang,
Harry terjatuh di lantai beton.
Apa yang terjadi berikutnya berlangsung begitu cepat
sehingga tak ada yang melihat bagaimana terjadinya.
Seinstan setelah Pearce dan Dudley berdiri menempel di kaca,
detik kemudian mereka melompat mundur sambil memakik ngeri.
Harry duduk ternganga.
Kaca bagian depan kandang si ular telah lenyap.
Ular raksasa itu membuka gulungan tubuhnya
dengan cepat meluncur di lantai.
Para pengunjung rumah reptil menjerit-jerit panik
dan berlarian ke pintu keluar.
Saat si ular meluncur cepat melewatinya,
Harry bersedia bersumpah dia mendengar suara desis pelan berkata,
Trims! Amigo!
Si penjaga rumah reptil shock dan bengong.
Tapi kacanya katanya terus-menerus.
Kemana kacanya?
Direktur kebun binatang sendiri yang membuatkan secangkir teh kental manis
untuk bibipetunia sambil tahenti-hentinya minta maaf.
Pearce dan Dudley cuma bisa merepet.
Sejauh yang Harry lihat, ular itu tidak melakukan apa-apa,
kecuali dengan main-main mengatup-ngatupkan mulutnya
di dekat tumit Dudley dan Pearce saat dia lewat.
Tetapi ketika mereka sudah kembali ke mobil paman Fernand,
Dudley bercerita bagaimana si ular nyaris mengigit kakinya sampai putus,
sementara Pearce bersumpah si ular mencoba membelitnya sampai mati.
Tetapi yang paling parah, paling tidak bagi Harry,
adalah Pearce sudah cukup tenang untuk berkata,
Harry tadi bicara dengan ular itu, iya kan Harry?
Paman Fernand menunggu sampai Pearce meninggalkan rumah mereka
sebelum dia mulai mencecar Harry.
Paman Fernand marah sekali sampai nyaris tak bisa bicara.
Dia hanya bisa bilang, pergi, lemari, tinggal sana, tidak makan,
sebelum dia terhenyak di kursi
dan bibipetunia cepat-cepat mengambilkannya segelas besar brandy.
Lama kemudian, Harry masih berbaring di dalam lemarinya yang gelap,
ingin sekali rasanya punya arloji.
Dia sama sekali tak tahu jam berapa sekarang,
dan dia juga tidak yakin keluarga Dursley sudah tidur.
Sebelum mereka tidur, riskan sekali jika dia keluar
dan mengendap-endap ke dapur untuk mengambil makanan.
Dia telah tinggal bersama keluarga Dursley selama 10 tahun,
10 tahun penuh penderitaan.
Sejauh yang dia ingat, sejak dia masih bayi
dan orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil,
kadang-kadang jika dia mengingat-ingat dengan keras
selama jam-jam panjang membosankan di dalam lemarinya,
muncul dalam ingatannya pemandangan yang aneh,
kilat cahaya hijau menyilaukan,
dan rasa sakit yang panas di dahinya.
Dia menganggap ini pastilah saat tabrakan terjadi,
walaupun dia tak bisa membayangkan dari mana cahaya hijau itu muncul.
Dia sama sekali tidak bisa mengingat orang tuanya.
Paman dan bibinya tidak pernah bicara tentang mereka,
dan tentu saja dia dilarang mengajukan pertanyaan.
Tak ada foto orang tuanya di rumah keluarga Dursley.
Waktu dia masih lebih kecil,
Harry sering menghayalkan ada keluarga tak dikenal
yang datang untuk membawanya pergi.
Tetapi ini tak pernah terjadi.
Keluarga Dursley adalah satu-satunya keluarganya.
Meskipun demikian, kadang-kadang dia mengira
atau berharap orang-orang asing di jalan mengenalinya,
dan mereka juga orang-orang asing yang sangat aneh.
Pernah seorang laki-laki kecil memakai topi ungu
membungku kepadanya ketika dia sedang berbelanja
dengan Bibi Petunia dan Dudley.
Setelah dengan marah menanyai Harry apakah dia kenal orang itu,
Bibi Petunia buru-buru menggiring mereka keluar dari toko itu
tanpa membeli apapun.
Seorang wanita tua bertampang liar dan berdandan serbah hitau
melambai dengan riang kepadanya dari bus.
Seorang laki-laki botak memakai mantel panjang ungu
bahkan menjabat tangannya di jalan kemarin dulu,
dan kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.
Yang paling aneh tentang orang-orang ini adalah
nampaknya mereka langsung lenyap begitu Harry ingin melihat lebih jelas.
Di sekolah, Harry tak punya teman.
Semua anak tahu bahwa geng Dudley membenci Harry Potter
yang aneh dengan pakaian bekasnya yang kebesaran
dan kacamatanya yang bingkainya patah,
dan tak seorang pun berani menentang geng Dudley.
