🎧 Audiobook Dibawah Bendera Revolusi – Jilid 1 📖 #7 Bagian 1: JERIT – KEGEMPARAN
Dalam bagian ini, Bung Karno menyuarakan jerit nurani revolusi—sebuah panggilan keras yang mengguncang kesadaran bangsa. “Jerit – Kegemparan” menggambarkan situasi genting, gejolak perjuangan, serta semangat perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan.
Melalui kata-kata yang tajam, berani, dan penuh daya ledak, audiobook ini mengajak pendengar untuk memahami api revolusi yang membakar jiwa rakyat Indonesia pada masa perjuangan.
✨ Cocok untuk:
Pecinta sejarah Indonesia
Penikmat audiobook dan literatur klasik
Generasi muda yang ingin memahami pemikiran Bung Karno
Pendengar yang haus akan semangat nasionalisme dan perjuangan
🎙️ Dengarkan, resapi, dan hidupkan kembali semangat revolusi!
📌 Jangan lupa: 👍 Like 💬 Comment 🔔 Subscribe untuk bagian selanjutnya
Di bawah bendera revolusi
Jilid 1
Bagian 1
Jerit kegemparan
Soal jajahan adalah soal rugi atau untung.
Soal ini bukanlah soal kesopanan atau soal kewajiban.
Soal ini ialah soal mencari hidup, soal bisnis.
Semua teori-teori tentang soal jajahan,
baik yang mengatakan bahwa penjajahan itu terjadinya
ialah oleh karena rakyat yang menjajah itu ingin melihat negeri asing
maupun yang mengatakan bahwa rakyat pertuanan itu hanya ingin mendapat kemasyhuran sahaja,
baik yang mengatakan bahwa rakyat pertuanan itu menjajah negeri lain
ialah oleh karena negerinya sendiri lantaran banyaknya penduduk hingga terlalu sesak,
maupun yang mengatakan bahwa penjajahan itu diadakannya ialah untuk menyebar kesopanan.
Semua teori-teori itu tak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan
bahwa soal jajahan ialah soal rezeki,
soal yang berdasar ekonomi,
soal mencari kehidupan.
Tak kecil kerugian ekonomi Inggris bila mana Mesir atau India dapat memerdekakan diri.
Tak sedikitlah kerugian rezeki Perancis dan Amerika
bila mana Indo-Cina dan Filipina bisa menjadi bebas.
Tak ternilailah kerugian yang diderita oleh negeri Belanda
bila mana bendera Indonesia Merdeka bisa berkibar-kibar di tanah air kita.
Sebagaimana J.R. Dr. Sandberg mengatakan dengan ia punya kata-kata,
Tak terhinggalah bencana yang menimpa benua Eropa
bila mana benua Asia bisa menurunkan beban imperialisme asing daripada pundaknya.
Hal ini cukuplah dibuktikan oleh pujangga-pujangga,
diplomat-diplomat, dan juru-juru pengarang Eropa dan Asia
dengan secukup-cukupnya angka dan seteliti-telitinya hitungan.
Negeri jajahan adalah suatu syarat bagi hidupnya negeri-negeri pertuhanan.
Suatu syarat yang untuk negeri pertuhanan yang kecil ada maha besar dan maha tinggi kepentingannya.
Dan karenanya harus dan mesti dipegang teguh-teguh, diikat erat-erat olehnya, jangan sampai terlepas.
Karena itu, maka soal jajahan itu pada hakikatnya bukanlah soal hak.
Ia soal kekuasaan. Ia soal maht.
Ukuran yang dipakai oleh pihak yang butuh akan pencaharian rezeki itu
tentang baik atau jeleknya sesuatu keadaan dalam negeri jajahannya,
tentang boleh atau tidak bolehnya sesuatu faham, sesuatu sikap, sesuatu tujuan, atau sesuatu gerakan,
hanyalah ukuran kepentingannya kaum itu sahaja adanya.
Semua keadaan dalam negeri jajahan yang bertentangan dengan kepentingannya pihak itu,
yang merugikan akan kepentingannya pihak itu, segeralah mendapat perlawanan daripadanya.
Riwayat dunia jajahan penuhlah dengan contoh-contoh
di mana pihak itu kadang-kadang meninggalkan semua lapangan keadilan,
menyalahi semua hukum-hukumnya hak, menghina semua rasa kemanusiaan,
bila mana kepentingannya terlanggar dan usahanya mencari rezeki terganggu.
Kita insaf akan hal ini.
Kita mengetahui bahwa bukan sahaja kaum komunis yang mengobarkan udara
pada bulan November 1926 dan Januari 1927 yang mendapat perlawanan,
bukan sahaja kaum pegikutnya Lenin dan Trotsky yang dituntut dan ditindas.
Akan tetapi juga kita, kaum nasionalis Indonesia,
dan saudara-saudara kita yang bernaung di bawah pendera Islam.
Bukan sahaja kaum Bolshevik, tetapi juga semua kaum,
baik nasionalis, maupun islamis, maupun kaum yang berfaham apa sahaja,
asal ingin dan berusaha buat datangnya Indonesia Merdeka dengan selekas-lekasnya.
Perlawanan pihak itu terhadap pada majunya pergerakan kita
bukanlah perlawanan terhadap pada salah suatu faham.
Bukanlah perlawanan terhadap pada suatu ajaran.
Bukanlah perlawanan terhadap pada sesuatu isme.
Akan tetapi perlawanannya ialah dihadapkan pada semua usaha bangsa kita
yang menuju kepada Indonesia Merdeka,
dengan tidak diperdulikan lagi dasar apa, azas apa,
atau isme apa yang terletak di bawah usaha itu adanya.
Kita insaf akan hal ini sedari mulanya.
Sebelum kaum komunis tersapu dari pergaulan umum,
sebelum mereka itu didigulkan,
maka di mana-mana terdengarlah semboyan fihap sana yang berbunyi lenyaplah komunisme.
Akan tetapi sesudah beratus-ratus,
beribu-ribu kaum pengikutnya Lenin ini dibawa ke tengah-tengahnya Rimba dan Rawa Papua,
maka segeralah semboyan itu menjelma menjadi semboyan baru,
semboyan lenyaplah pan-islamisme,
dan semboyan lenyaplah nasionalisme Indonesia,
semboyan mana sekarang sudah menjelma pula menjadi suatu jerit kejemparan,
sebagaimana terbukti dengan bukunya Prof. Troop,
buku yang bernama Het Gies in Indie.
Di dalam buku ini, hanyalah jerit kegemparan yang terdengar,
Indiet Jongstergeschrift van den Voorziter van den Ondernemersraad voort allen alarm geschlagen.
Begitulah Indie Schafalk menulis,
Troop hanyalah menjerit,
ia hanyalah memukul kentongan,
ia tidak mencari sebab-sebabnya komunisme menjadi subur,
ia tidak mencari sebab-sebabnya gerakan pan-islamisme bertambah-tambah pengikutnya,
ia tidak mencari sebab-sebabnya faham kita,
faham nasionalisme Indonesia,
makin lama makin masuk kemana-mana,
ia hanya menuntut penindasannya komunisme,
islamisme,
dan indonesis nasionalisme sahaja.
Ia tak mau ingat,
bahwa ia sendirilah yang dengan ia punya aksi dalam tahun 1923,
ikut menambah pahit dan getirnya hidupnya rakyat yang pergerakannya kini ia kentongi itu.
Ia tak menulis patah kata atas bezuiniging,
penghematan yang melemparkan beribu-ribu manusia di atas jalan,
memasukkan demit kelaparan di dalam ribuan rumah tangga.
Ia tak menyebut-nyebutkan tambah beratnya blasting di atas pundaknya rakyat,
pada saat yang pencaharian rezeki ada segetir-getirnya.
Ia tak mengucap-ngucapkan bagaimana hak berfair gathering dibatasi atau dicabut,
bagaimana berpuluh-puluh pemimpin pergerakan ditahan, dibuih, atau dibuang,
sehingga pergerakan itu menjadi lebih panas dan lebih sengit karenanya.
Pendek kata, ia tak menyebutkan sebab-sebabnya kini lautan pergerakan Indonesia ada mendidih.
Ia hanya memukul kentongan.
Ia hanya mengeluarkan jerit kegemparan sahaja,
yang memang terhadap pada semua isme,
isme apapun juga yang mengandung Azaz mencari kebebasan dan kemerdekaan dengan jalan yang lekas dan cepat,
semuanya mendapat lagi bukti kenyataannya dengan jerit kegemparannya profesor ini.
Komunisme harus disapu.
Islamisme dan nasionalisme Indonesia juga harus disapu.
Sebab, komunisme, nasionalisme Indonesia, dan pan-islamisme adalah bergandengan satu sama lain,
dan mengisi satu sama lain,
dan semua aksi yang bermaksud mendatangkan kemerdekaan Indonesia harus ditindas,
kalau perlu dengan kekerasan.
Zonodeh Matt Gowalt.
Kita bersenyum.
Sudahkah begitu hebatnya kegemparan TREP dan pihaknya TREP,
sehingga penajarannya riwayat, pengalaman riwayat jejahan atas penindasan sesuatu pergerakan rakyat Matt Gowalt,
tiada diindahkan lagi olehnya.
Sudahkah begitu gemparnya kaum itu,
melihat majunya nasionalisme Indonesia,
sampai mereka juga memukul kentongan atas sikapnya setengah bupati,
yang dikatakan lahirnya setia pada pemerintahan,
tetapi dalam batinnya menyetujui pergerakan yang meliwati batas ini.
Sudahkah begitu kagetnya kaum itu,
sampai kaum Islam hendak juga dilarang oleh TREP memenuhi sesuatu rukunnya,
hendak dilarang pergi ke Mekah,
oleh karena haj ke sana ialah sudah menjadi sesuatu bahaya bagi pemerintahannya tiap-tiap negeri Kristen.
Kita, kaum nasionalis Indonesia,
memandang jerit kegemparannya Prof. TREP itu,
ketua dari perkumpulan kaum modal Belanda,
sebagai suatu tanda.
Jerit kegemparan ini adalah suatu simptom, gejala.
Ia menandakan bahwa memang benar-benar lawan kita ini merasa tanah bergoyang di bawah kakinya.
Ia menandakan bahwa haluan yang diambil oleh kita,
kaum nasionalis Indonesia,
dan yang diambil oleh saudara-saudara kita,
kaum pan-Islam,
adalah haluan yang betul,
haluan yang karenanya harus kita teruskan.
Selama kaum yang berhadapan dengan kita mencerca kita,
memukul kentongan atas sikap kita,
menuntut penindasan kita,
selama itu kita harus berjalan terus.
Baru jikalau sebaliknya kaum itu memuji dan membenarkan kita,
menyetujui kita,
maka datanglah saatnya bagi kita berganti terjang dan berganti jalan.
Sebab, Treup sendiri sudahlah mengakuinya.
Perkara pergerakan Indonesia adalah perkara mati hidupnya kehidupan pihaknya.
Perkara yang ia katakan Het Gaat Om Ons Bestaan,
ia Profesor Mister Treup,
Ketua Kaum Modal Belanda,
dan Profesor Insinyur Klopper,
pemimpin pabrik-pabrik mesin Thomassen di negeri Belanda,
yang menyokong pula jerit kegemparannya Treup dengan kata-kata
Het eenvoudigste instinkt van zelfbehoud,
dringt ons om alles te doen om de toestand in insulinde baas te blijven.
Dua Profesor Kaum Modal Belanda ini haruslah insyaf,
bahwa kita, kaum nasionalis Indonesia dan saudara-saudara kita,
kaum Pan-Islam,
sama bergerak ialah juga oleh dorongannya
Het eenvoudigste instinkt van zelfbehoud,
juga oleh karena Het Gaat Om Ons Bestaan.
Sebagaimana kekalnya penjajahan di Indonesia
adalah suatu perkara keselamatannya negeri Belanda,
maka berhentinya penjajahan itu adalah pula
suatu perkara keselamatan negeri Indonesia,
keselamatan rakyat Indonesia,
keselamatan kita.
Tertilik daripada pendirian pembelaan diri,
yakni dari pendirian selfbehoud,
maka pihak pertuanan adalah hak merintangi,
melawan dan menuntut tindasan pergerakan kita.
Akan tetapi tertilik daripada pendirian selfbehoud itu juga,
maka kita mempunyai juga hak bergerak,
hak berusaha mencari kebebasan,
daya upaya melepaskan diri dari keadaan sekarang ini,
hak berusaha mencari kebebasan.
Hak mereka dalam hal ini adalah berhadap-hadapan,
beradu dada dengan hak kita semua.
Haknya reaksi adalah berhadap-hadapan dengan haknya aksi,
dan soal berhadap-hadapannya hak dengan hak ini
segeralah menjadi soal kekuasaan berhadap-hadapan
dengan kekuasaan pula,
makt berhadap-hadapan dengan makt.
Karena itu, maka kita memandang jerit kegemparannya Treup
dan pihaknya Treup itu hanya sebagai suatu tanda sahaja.
Kita tidak menyelidiki lebih jauh
pantas atau tidaknya mereka mengeluarkan jerit kegemparan itu.
Kita tidak membantah, dan kita tidak memprotes.
Kita hanya mempelajarinya.
Sebab, sebagai yang sudah kita tuliskan di atas,
Treup dan pihaknya Treup mempunyai hak memusuhi kita,
het ghat om hen bestan,
sebagaimana pergerakan kita itu ialah buat keperluannya ons bestan.
Dengan mempelajari semua tanda-tanda,
memperhatikan semua simptom-simptom,
memperhatikan semua kekurangan-kekurangan
yang tampak pada pihaknya lawan itu,
maka dapatlah kita mengetahui bagian-bagian yang manakah
daripada barisannya pihak lawan itu ada lembek,
dan dapatlah kita dengan gampang
mencari tempat-tempat pengapesannya si lawan itu,
sehingga kita dengan banyak hasil bisa mengarahkan serangan kita
pada tempat-tempat pengapesannya itu adanya.
Akan tetapi sebaliknya,
kita juga harus mempelajari kekurangan-kekurangan sendiri,
memperhatikan kesalahan-kesalahan sendiri,
agar supaya kita bisa mengetahui bagian-bagian yang mana
dalam kita punya barisan ada lembek,
tempat-tempat yang mana dalam kita punya organisasi kurang teratur,
sehingga kita dengan gampang
bisa memperbaiki kekuatannya barisan kita itu,
membetulkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan
di dalam kita punya organisasi itu,
dan kalau perlu,
menyusun kembali organisasi kita itu
menjadi susunan yang kuat dan sentausa.
Terup dengan bukunya sudah memberi tanda itu.
Ia menunjukkan pada kita
di mana letaknya tempat-tempat pengapesan pihaknya.
Ia menunjukkan bahwa pergerakan kita,
kaum nasionalis Indonesia,
dan pergerakan saudara-saudara kita, kaum Islam,
adalah benar mengkhawatirkan bagi kepentingannya,
benar-benar terasa olehnya sebagai pengapesannya.
Oleh karena itu,
maka sebagai yang kita tuliskan di atas,
kita berjalan terus.
Dalam pada itu,
apakah Terup dan pihaknya Terup betul-betul mempunyai sangkaan
bahwa pergerakan kita,
yang sebagai suatu usaha bangsa kita
mencari hidup yang lebih layak dan lebih sempurna,
dengan kodratnya alam sudah timbul
dari nyawanya bangsa dan rakyat kita,
bisa padam atau dipadamkan?
Apakah Terup dan pihaknya Terup
bisa menunjukkan satu contoh dari riwayat dunia
yang geraknya nyawa sesuatu bangsa,
terutama nyawa bangsa yang mencari kemerdekaan,
bisa mati atau dimatikan?
Tetapi memang sukarlah bagi kaum pertuanan
mengambil sikap yang benar terhadap pada pergerakan yang dihadapinya.
Pergerakan itu maju kalau tidak ditindas,
pergerakan itu juga maju kalau ditindas.
Memang begitulah tragisnya kaum pertuanan.
Suluh Indonesia Muda, 1928