#5 Bagian 1: SAMPAI JUMPA LAGI! | Audiobook Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1

Generasi Z
10 pengikut
5 Tayangan video·12 Nov 2025
Dibawah pendera revolusi
Jilid 1
Bagian 1
Subbab
Sampai ketemu lagi
Het is niet
Het dacht
Omdat de hand krijgt
Maar ten rechte is het
De hand krijgt
Omdat het dacht
Muting
Digul
Banda
Dan kawan kita Ciptomangun Kusumo
Berangkat
Membawa keluarganya
Diiringi oleh istrinya yang berani dan berbesar hati
Meninggalkan kita
Yang buat beberapa tahun lamanya
Berdiri didamping sisinya
Dengan persamaan azaz
Persamaan tujuan
Dan persamaan tindak
Buat ketiga kalinya
Maka Cipto masuk ke dalam hidup pembuangan
Menjalankan hukuman
Yang dijatuhkan padanya oleh hak luar biasa
Daripada kaum yang memerintah
Buat ketiga kalinya
Ia mempersembahkan pengorbanannya
Terhadap pada tanah air
Dan bangsa yang ia abdikan
Dengan kepala yang tegak
Dan hati yang besar juga
Dan kita
Kawan-kawannya yang ia tinggalkan
Kita kaum nasionalis Indonesia
Kaum nasionalis Sumatera
Kaum nasionalis Sunda
Kaum nasionalis Jawa
Kaum nasionalis lain-lain
Kita mengucap selamat jalan padanya
Dengan kepala yang tegak
Dan hati yang besar juga
Sebab Fajar sudah mulai menyingsing
Ayam jantan karenanya sudah mulai berkokok
Cipto dibuang
Atau Cipto tidak dibuang
Pergerakan maju
Ke arah yang ditujunya
Matahari tak urung akan terbit
Sebagai yang kita tuliskan
Dalam suluh Indonesia muda yang kesatu
Kita percaya akan keharusannya
Segala hal-hal yang terjadi
Kita percaya bahwa semua hal yang terjadi itu
Ada baik dan berfaedah bagi kesudahannya
Karena itulah kita berbesar hati
Kita, kawan-kawannya
Kita akan senantiasa memperingati kata pesannya
Yang ia maktubkan dalam
Ia punya surat terbuka di muka ini
Kita akan camkan ia punya pesanan
Bahwa kita tak boleh melupakan ikhtiar
Walau bagaimanapun juga kecilnya
Untuk membuat indahnya hari kemudian
Menjadi seindah-indahnya
Kita akan menunjukkan pada anak cucu dan turunan kita
Bahwa hidup kita
Ialah bukan hidup yang sia-sia
Bahwa hidup kita ialah hidup berjuang
Apakah pengajaran yang harus kita ambil
Dari pembuangan kawan Cipto ini?
Apakah cermin yang diperlihatkannya?
Pertama-tama, caranya kawan Cipto
Menjalankan pembuangan ini adalah
Mengajarkan pada kita
Bahwa ikhtiar membuat indahnya hari kemudian
Itu ialah bukannya ikhtiar yang gampang dan ringan
Akan tetapi ikhtiar yang susah payah dan berat
Suatu ikhtiar yang tak sudi
Akan penyerahan diri yang setengah-setengah
Suatu ikhtiar yang menuntut penyerahannya
Segenap kita punya diri
Segenap kita punya nyawa
Cipto Mangunkusumo telah menunjukkan
Jalan dalam caranya mengabdi
Pada rakyat dan bangsa itu
Ia menuntun, ia memberi contoh
Walaupun ia menderita kesengsaraan rezeki
Walaupun ia merasakan kemelaratan yang terjadi
Oleh matinya ia punya perusahaan tabib
Walaupun lidens beker ada sepenuh-penuhnya
Maka dengan roman muka yang bersenyum
Ia memikul segenap beban yang ditimbunkan
Di atas pundaknya oleh pengabdiannya
Kepada rakyat dan bangsanya
Sejarah negara kita mengikuti jalannya
Mereka meminta
Untuk menjelaskan diri
Well no
Kita juga memberikan kebahagiaan kepada penyerahannya
Dan mengapa saya tidak mengerti
Mengapa saya tidak mengerti
Tapi
Saya akan menyesal
Pada orang yang diperbolehkan menyerah
Ketika saya dihukum
Hanya untuk melihat
Begitulah dia menulis pada insinyur Sukarno
Inilah contoh dan pengajaran
Yang kawan Cipto Mangun Kusumo berikan pada kita
Pengajaran pengorbanan dan pengajaran kewajiban
Pengajaran yang menyerapi segenap bagafat Gita
Menyerapi segenap nasihat-nasihatnya Sri Krishna
Dengan arti bahwa tiada suatu hal yang besar bisa tercapai
Bila tidak dibeli dengan pengorbanan yang mahal
Dan menyerapi nasihat-nasihat Sri Krishna itu
Dengan arti pula
Bahwa tiap-tiap manusia harus melakukan kewajibannya
Dengan tidak menghitung-hitung apa yang nanti akan menjadi buahnya
Tidak membilang-bilang apa nanti yang akan berikut
Di dalam pengabdian terhadap kepada Ibu Indonesia
Di dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya patriot
Maka putra-putra Indonesia itu harus mempersembahkan
Dengan iman yang besar dan hati yang ridoh
Segala pengorbanan-pengorbanan
Walaupun bagaimana juga pahitnya
Dan walaupun bagaimana juga getirnya
Selama putra-putra Indonesia
Belum cukup mempunyai kekuatan bersenyum
Manakala Ibu Indonesia
Minta kebesaran iman dan keridohan hati
Atas pengorbanan yang sepahit-pahitnya
Dan segetir-getirnya
Selama itu maka mereka pun belum cukup kekuatan
Menerima hadiah yang diingininya
Selama mereka belum kuat memikul susah
Selama itu mereka belum kuat memikul senang
Di dalam arti inilah
Maka pengorbanan kawan Cipto itu harus kita artikan
Apakah pengorbanan ini tidak akan sia-sia?
Apakah ia akan berfaedah?
Tidak ada pengorbanan yang sia-sia
Tidak ada pengorbanan yang tak berfaedah
Tidak ada pengorbanan yang terbuang
No sacrifice is wasted
Begitulah Sir Oliver Lodge berkata
Dari pengorbanan-pengorbanan hari sekarang itulah
Maka hari kemudian akan terjadi
Dari pengorbanan-pengorbanan hari sekarang itulah
Maka hari Indonesia baru akan terlahir
Lebih besar dan lebih mulia daripada Indonesia sekarang
Ya, lebih mulia daripada Indonesia dahulu
No sacrifice is wasted
Karenanya putra-putra Indonesia
Bekerjalah, bekerja, dan janganlah putus asa
Bekerjalah agar supaya pergerakan kita
Usaha kita mencari keselamatan bisa menjadi kuat
Sebab pembuangan kawan Cipto Mangunkusumo
Jatuhnya korban yang tidak berhentinya
Adalah suatu bukti yang senyata-nyatanya
Bahwa pergerakan kita itu walaupun maju masih lembek
Suatu bukti yang senyata-nyatanya
Bahwa habislah kini temponya hidup berenak-enak
Dan habislah pula temponya bekerja setengah-setengahan
Bekerja sepenuh-penuhnya
Membanting tulang, memeras tenaga
Untuk menyusun kekuatan-kekuatan pergerakan kita
Dibikin menjadi sekuat-kuatnya
Merapatkan golongan-golongan itu satu persatunya pula
Itulah yang kini harus menjadi semboyan dan iktikat
Semua patriot Indonesia
Tidakkah menyedihkan hati kiranya
Bila satu fiak membela sampai habis-habisan
Sampai dimasukkan penjara atau diasingkan
Sampai dimasukkan rakaja hanam
Sedang fiak yang dibelanya tak tahu akan menghargai pembelaan itu
Tak tahu akan menyamut pengorbanan itu
Dan tinggal enak-enak saja atau hanya bekerja setengah-setengahan
Tidakkah memutuskan asa kiranya
Bila satu fiak menarik-narik dan menghela-hela
Sampai habis-habisan tenaga dan habis-habisan nyawa
Sedang fiak yang lain hanya mau ditarik dan dihela saja
Dan tidak mau ikut menarik dan ikut menghela juga
Tetapi syukurlah yang keadaan tidak begitu
Sebagai tanda hidup dan tanda sadar
Sebagai tanda bahwa fajar memang sudah menyingsing
Maka dimana-mana terdengarlah semboyan bekerja tahadi
Dimana-mana asiklah barisan-barisan kita memperkuat dirinya masing-masing
Menggabung-gabungkan dirinya satu sama lainnya
Dimana-mana dimulainyalah usaha self-reconstruction
Dan usaha persatuan
Suluh Indonesia dan Indonesia Merdeka
Digabungkan menjadi Suluh Indonesia Muda
Dan kekuatan-kekuatan partai-partai kita digabung-gabungkan
Dan dikumpul-kumpulkan dalam PPPKI
Dengan sesungguhnya
Tiadalah alasan buat berkecil hati
Tiadalah layaknya buat berputus asa
Bahkan makin kencanglah rasanya darah kita berjalan
Dan makin hangatlah pukulan hati kita
Kalau kita menengok fajar ini
Maju, maju, terus maju sahaja
Dengan tidak mundur selangkah
Tidak berkisar sejari
Maju, terus maju ke arah keselamatan
Begitulah jalannya pergerakan kita
Karenanya maka tiada seteteslah air mata kita yang jatuh
Pada saat kawan Cipto Mangunkusumo minta diri
Tiada seteteslah air mata yang menyuramkan penglihatan kita
Pada saat saudara ini berpisah
Dengan kepercayaan yang sepenuh-penuhnya
Akan jayanya hari kemudian
Dengan yakin bahwa satu kali saatnya pasti datang
Yang matahari itu terbit
Maka kita, kawan-kawannya sefaham
Menyambut salamnya Cipto Mangunkusumo itu dengan kata-kata
Bukan selamat berpisah
Tetapi sampai ketemu lagi
