Intelijen AS terbaru menunjukkan Beijing mungkin telah melakukan aktivitas di lokasi uji coba nuklir di Lop Nur, Xinjiang, China.
Analisi satelit terbaru menunjukkan fasilitas nuklir berkembang di barat daya China.
Namun, seiring berakhirnya perjanjian New Star, respon Washington bergeser dari pemantauan ke potensi kembalinya pengujian nuklir.
Citra satelit terbaru mengungkapkan perluasan besar-besaran fasilitas nuklir di Provinsi Sichuan, China.
Ini termasuk banker, benteng, dan pagar ganda yang desainnya menyerupai fasilitas produksi inti plutonium.
Para ahli berkata China dengan cepat telah membangun fasilitas nuklir sejak 2019.
Thomas Dinano, Menteri Muda Kontrol Senjata dan Keamanan Nasional AS,
menuduh China diam-diam melakukan uji coba ledakan nuklir di pusat tes Lop Nur di Xinjiang sejak 22 Juni 2020.
Tantangannya adalah mendeteksi uji coba tersebut.
Para pejabat berkata, China merdam sinyal seismik melalui decoupling,
yang melibatkan perangkat peledak di rongga bawah tanah yang besar hingga ledakan nuklir tampak seperti gempa bumi kecil.
Ben Dando, Kepala Seismologi dan Verifikasi di Norsar berkata,
mereka tidak dapat mengkonfirmasi atau menyangkal apakah uji nuklir telah terjadi.
Namun bagi Washington, ini tetap adalah ancaman strategis.
Beijing telah menolak klaim ini sebagai rekayasa tidak berdasar.
Tetapi seiring berakhirnya perjanjian Newstore,
Washington tidak hanya berfokus pada pemantauan,
mereka juga hendak memastikan mereka tidak tertinggal.
Menurut perkiraan Pentagon,
China memiliki lebih dari 600 hulu ledak nuklir pada akhir 2024
dan diperkirakan akan memiliki seribu pada tahun 2030.
Walaupun era ledakan nuklir awan jamur telah berakhir,
era pengujian bawah tanah mungkin akan kembali.
Infrastruktur sital AS tengah diserang dengan ancaman yang kian meningkat hari ke hari.
Laporan terbaru mengungkap bahwa peretas yang disponsori resim China
menargetkan berbagai sektor mulai dari jaringan listrik hingga fasilitas migas,
memicu kekhawatiran keamanan siber baik di dalam maupun di luar negeri.
Menurut Dragos,
sebuah perusahaan keamanan siber yang menaungi perlindungan energi,
air dan infrastruktur penting lain,
muncul tiga gembong peretas baru tahun lalu.
Mereka termasuk dalam daftar entitas yang berupaya membobol infrastruktur kunci AS.
Satu kelompok bernama Foldsite,
yang terafiliasi dengan Beijing,
diketahui tidak mengincar data ataupun hak intelektual.
Fokus mereka adalah mengganggu,
menyabotase serta melumpuhkan sistem kendali.
Kelompok peretas asal China lainnya bernama Azurite
berfokus pada mendapatkan akses ke jaringan teknik,
termasuk pertahanan dan utilitas seperti gas dan minyak.
Mereka telah mencuri dokumen sensitif dari organisasi-organisasi di AS,
Eropa dan Asia Pasifik.
Pakar mengatakan serangan semacam ini menunjukkan betapa sulitnya
mempertahankan infrastruktur vital di era digital modern.
Pada 2024, Christopher Wray,
yang menjabat direktur FBI saat itu,
memperingatkan tentang meningkatnya jumlah serangan cyber
raised in China terhadap infrastruktur kritis AS.
NTD telah menghubungi FBI untuk memberikan komentar,
namun belum menerima jawaban hingga waktu tayang.
Terima kasih.