Listrik mati lagi. Di Sumatera sampai 15 jam. Di Jawa, warga harus rela gantian gelap lewat pemadaman bergilir. Padahal, kita ini lumbung batu bara. Ibarat ayam mati di lumbung padi.
Kenapa bisa begitu?
Rasanya, jawabannya ada di angka-angka yang bikin pening kepala ini. Bayangkan, pemerintah ternyata punya **utang ke PLN sebesar Rp107 triliun**. Itu uang untuk subsidi dan kompensasi yang belum dibayar.
Lalu, karena kantong PLN tipis, mereka pun tak sanggup membayar pengusaha batu bara. Angkanya juga fantastis: **Rp77 triliun**. Jadi, ini seperti lingkaran setan yang saling mengunci. Pemerintah belum bayar PLN, PLN belum bayar pengusaha, ujung-ujungnya pasokan batu bara ke pembangkit jadi terhambat.
Belum lagi soal urusan "perut" pengusaha batu bara. Mereka sedang gemas. Harga *Domestic Market Obligation* (DMO) dipatok 70 dolar per metrik ton sejak 2019. Sementara itu, harga internasional sudah terbang ke angka 100 dolar lebih. Ditambah lagi kurs dolar yang terus melompat ke angka Rp17.000-an.
Logikanya sederhana: pengusaha lebih suka jual ke luar negeri demi dolar. Di dalam negeri, mereka mulai *bargaining*. Minta harga DMO di-review. Kalau tidak, ya pasokan ke pembangkit seperti di Cilacap atau Paiton bisa ikut "demam". Akibatnya? Mesin pembangkit yang sudah uzur itu jadi kurang perawatan dan akhirnya "turun mesin".
Lalu, bagaimana dengan kita, para konsumen?
Minta maaf itu bagus. Itu tanggung jawab moral. Di Jepang, kalau listrik mati 15 menit, menterinya membungkuk minta maaf selama 15 menit. Kalau di Sumatera mati 15 jam, apa menterinya harus membungkuk 15 jam?.
Tentu tidak cukup hanya maaf. Ada aturan kompensasi. Namanya Tingkat Mutu Pelayanan (TMP). Aturan terbarunya, PLN wajib memberi potongan 50 persen sampai 500 persen. Tapi, tunggu dulu. Baca baik-baik: yang dipotong adalah **biaya abonemen**, bukan total tagihan listrik bulanan Anda.
Makanya, banyak warga yang tidak berasa. Abonemen itu kecil. Misalnya tagihan tetap naik karena pemakaian, potongan Rp3.000 atau Rp5.000 dari abonemen ya tidak akan terlihat di struk pembayaran. Harusnya, kalau mau adil, yang dipotong itu total tagihan bulanan. Itu baru namanya "trigger" supaya PLN makin disiplin menjaga keandalan mesinnya.
Dulu, zaman saya di PLN, kita pernah gila-gilaan membangun pembangkit lewat program 35.000 MW. Sampai-sampai kita surplus listrik. Saking surplusnya, PLN bingung mau dijual ke mana. Ada klausul *take or pay*—dipakai atau tidak, PLN tetap harus bayar ke pengusaha swasta.
Kini, masalahnya bukan lagi soal kekurangan listrik, tapi soal **transparansi dan konsistensi kebijakan**. Pemerintah harus punya nyali untuk bereskan utang ke PLN. Pengusaha batu bara juga harus diingatkan soal kepentingan nasional (*national interest*).
Jangan sampai rakyat terus-terusan jadi korban "lingkaran utang" ini. Listrik itu sudah seperti pangan, apalagi di era digital. Kalau listrik mati, ekonomi ikut mati suri.
Begitulah. Kita tunggu saja, kapan pemerintah mau benar-benar melunasi utangnya ke PLN agar lampunya tidak kedap-kedip lagi.
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AI
Video ini membahas paradoks krisis listrik di Indonesia, di mana negara penghasil batu bara terbesar justru sering mengalami pemadaman massal. Masalah utama berakar dari kemacetan finansial pemerintah terhadap PLN, dilema harga batu bara domestik versus ekspor, serta skema kompensasi konsumen yang tidak efektif.
Halo semuanya!
Pernah nggak sih, lagi asik-asiknya kerja atau santai di rumah?
Eh, tiba-tiba...
Cepret!
Mati lampu!
Terjebak dalam kegelapan.
Nah, di bahasan kita kali ini, kita bakal bongkar habis misteri dibalik pemadaman listrik masif
yang belakangan ini makin sering terjadi.
Kita bakal telusuri bareng-bareng ke mana sebenarnya hilangnya pasokan listrik kita ini.
Oke, yuk kita langsung selami aja paradoks utamanya.
Kalian pasti ngerasa ada yang aneh, kan?
Kenapa coba, negara yang secara harfiah kebanjiran batu bara kayak kita ini
malah sering banget mati lampu?
Kalian mungkin masih inget betul kejadian blackout parah sampai 15 jam di Sumatera baru-baru ini
atau pemadaman bergilir yang bikin pusing di Jawa?
Ini bener-bener ironis banget.
Maksudnya, kita ini salah satu rajanya batu bara lho.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?
Nah, coba kita muter waktu sebentar ke tahun 2021.
Waktu itu, situasinya tuh kebalikan banget.
Kita malah kelebihan pasokan listrik.
Sampai-sampai PLN kewalahan karena terikat kontrak take or pay.
Yang artinya, dipakai atau nggak dipakai, listrik dari pihak swasta tetap harus dibayar penuh.
Tapi, coba lihat di 2024.
Tiba-tiba kita krisis dan kena blackout di mana-mana.
Padahal di saat yang sama, kita juga lagi ngejar target ambisius, yaitu net zero emission di tahun 2060.
Pertanyaannya, gimana ceritanya kita bisa putar balik secepat itu?
Bagian satu, mengungkap lingkaran setan utang.
Seratus tujuh triliun rupiah.
Ya, kalian nggak salah dengar.
Ini jelas bukan angka yang kecil, kan?
Uang sebanyak ini tuh bisa buat ngebangun entah berapa banyak infrastruktur.
Tapi nyatanya, ini adalah jumlah utang pemerintah ke PLN untuk bayar suksidi dan kompensasi yang masih nyangkut.
Gampangnya gini, PLN itu kan selama ini nyejual listrik ke kita di bawah harga modal.
Dan pemerintah janji bakal nutupin selisih kerugiannya.
Tapi, begitu janji bayar seratus tujuh triliun ini macet,
wah, fondasi sistem kelistrikan kita otomatis mulai goyah.
Dan ini ngegambarin dengan jelas banget efek dominonya.
Karena uang latusan triliun dari pemerintah tadi belum turun-turun, PLN otomatis kelimpungan.
Imbasnya, PLN sekarang malah ganti menunggak bayaran sebesar tujuh puluh tujuh triliun rupiah
ke para pengusaha dan pemasok batubara.
Biar lebih kebayang, prosesnya itu beruntun kayak gini.
Pertama, pemerintah nunda pembayaran subsidi.
Terus, kedua, karena uangnya nggak ada, kas PLN jadi kering kerontang.
Ketiga, PLN akhirnya nggak sanggup bayar tagihan ke pemasok batubara.
Nah puncaknya yang keempat, karena pemasok belum dibayar, pasokan batubara dihentikan,
biaya buat ngerawat mesin pembangkit juga terhambat,
dan akhirnya, peh, rumah kita gelap gulita.
Jadi pemadaman yang kalian rasain itu,
pada dasarnya bermula dari kemacetan finansial berskala raksasa.
Bagian dua, dilema harga batubara.
Nah, bagian ini yang benar-benar menarik.
Ada tarik ulur yang rumayan alot.
Jadi, ada aturan yang namanya Domestic Market Obligation atau DMO
yang memaksa pengusaha jual batubara ke dalam negeri.
Tapi, harganya dipatok-mentok di tujuh puluh dolar per tahun aja.
Dan ini udah berlaku sejak 2019 lho.
Masalahnya, di pasar internasional,
harga batubara tuh lagi terbang jauh di atas seratus dolar per ton.
Coba deh kalian posisikan diri sebagai pengusaha batubara.
Pasti tergoda banget kan buat jualan ke luar negeri
demi ngeruku untungan dolar yang jauh lebih gede
daripada harus nyuplai kebutuhan dalam negeri dengan harga miring?
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral juga nyorotin masalah lain nih.
Ternyata, ini bukan cuma perkara pasokan batubara aja.
Nilai tukar rupiah kita yang sempat melemah parah
sampai nyentuh kisaran 17 ribu per dolar Amerika,
itu benar-benar bikin keadaan makin kacau.
Kenapa?
Karena suku cadang buat mesin pembangkit listrik raksasa kita itu
belinya pake dolar.
Biaya operasional langsung roket tajam.
Padahal, tarif listrik buat konsuman kan ditahan terus.
Ujung-ujungnya, perawatan rutin buat pembangkit-pembangkit vital
kayak Dicilacap dan Python terpaksa ditunggak.
Ya wajar aja kalo lama-lama mesinnya jebol dan mati dotal.
Bagian 3
Ilusi Kompensasi Untuk Konsumen
Terus, gimana nasib kita sebagai konsumen
yang harus kipasan kegerahan di rumah pas mati lampu?
Kalo baca aturannya sih, janji kompensasinya keliatan fantastis banget.
Ada potongan 50 sampai 500 persen.
Tapi tunggu dulu, ada celahnya nih.
Kalian itu baru berhak dapet kompensasi
kalo durasi matinya melampaui batas wajar
plus ditambah lagi margin 2 jam.
Bayangin, misal batas wajarnya 4 jam.
Berarti listrik harus mati total selama 6 jam berturut-turut
baru deh kita dapet ganti lugi.
Udah gitu kompensasinya cuma berbentuk potongan
yang diam-diam muncul di tagihan bulan berikutnya.
Jadi, poin krusialnya itu ada di cara mereka ngitung potongannya.
Selama ini, persentase kompensasi itu
cuma dikalikan sama yang namanya abonemen
alias beban dasar doang.
Padahal, nilai beban dasar itu kan kecil banget.
Mungkin potongannya cuma cukup buat beli secangkir kopi.
Beda cerita kalo potongannya dihitung dari total pemakaian
atau total tagihan kita.
Kalo dipotong dari total tagihan,
itu baru beneran berdampak ke dompet kita
dan pastinya bakal langsung mukul pendapatan PLN.
Nah, tekanan finansial kayak gitu
yang sebenernya bisa maksa mereka buat kerja ekstra keras benerin sistem.
Sayangnya, skema ideal gak diterapin.
Jadinya ya, kerasa kayak ilusi aja buat konsumen.
Pak Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia
ngasih analogi yang ngenak banget soal situasi ini.
Beliau bilang,
Analogi ini bener-bener tepat sasaran.
Ironis banget kan rasanya?
Di satu sisi, status kita itu eksportir batubara raksasa di dunia.
Tapi di sisi lain, kita sampai tersewok-sewok
cuma buat mastiin lampu di ruang tamu kita sendiri bisa terus nyala.
Oke, pertanyaannya sekarang gimana cara beresin kekacauan ini?
Kelompok advokasi konsumen ngasih beberapa rekomendasi kunci nih.
Pertama, kepentingan batubara buat dalam negeri
harus dikunci dan diamankan secara permanen.
Gak boleh lagi gampang goyah gara-gara godaan harga ekspor yang tinggi.
Kedua, ubah skema kompensasinya.
Ganti rugi harus dihitung dari total tagihan
biar jadi tamparan finansial yang bikin infrastruktur PLN lebih andal.
Ketiga, tingkatkan juga indikator penilaian mutunya supaya lebih ketat.
Dari yang tadinya 6 indikator jadi 10.
Dan yang gak kalah penting,
kita harus bener-bener ngegas transisi ke energi terbarukan
kayak tenaga surya, angin, atau panas bumi
biar kedepannya kita gak terus-terusan tersandra sama krisis kayak gini.
Bahasan kita hari ini pada akhirnya ngebawa kita ke satu pertanyaan yang bikin deg-degan.
Kira-kira, akankah lingkaran setan utang pemerintah
dan carut marutnya kebijakan kompensasi ini
berhasil diberesin sebelum blackout berikutnya datang berkunjung ke rumah kalian?
Gini ya, ini tuh bukan cuma soal ada kabel atau mesin yang rusak.
Ini soal sistem besar yang bener-bener butuh keberanian buat dirombak total.
Terima kasih udah ngikutin Explainer kali ini.
Ingat, mulai sekarang setiap kali kalian cetek saklar lampu di rumah,
coba pikirin lagi gimana panjangnya perjalanan arus listrik itu sampai akhirnya bisa menerangi ruangan kalian.