Harry Potter Dan Piala Api | BAB 13 - MAD-EYE MOODY | (Audiobook Indonesia)

Generasi Z
10 pengikut
45 Tayangan video·24 Agu 2026
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AIHarry, Ron, and Hermione navigate a series of eccentric classes at Hogwarts, from harvesting Bubotuber pus to dealing with dangerous Blast-Ended Skrewts. While Harry remains skeptical of Professor Trelawney's gloomy Divination predictions, the day culminates in a confrontation where Professor Moody transforms Draco Malfoy into a weasel after he insults Ron's family.
Badai telah reda keesokan harinya, mestipun langit-langit aula besar masih muram.
Awan-awan abu-abu gelap berpusar di atas ketika Harry, Ron, dan Hermione membaca daftar pelajaran baru mereka saat sarapan.
Beberapa kursi dari mereka, Fred, George, dan Lee Jordan, mendiskusikan metode-metode sihir untuk menuakan diri dan cara-cara mendaftar ke Turnamen Triwizard.
Hari ini boleh juga, di luar sepanjang hari, kata Ron yang menelusuri kolom hari Senin di daftar pelajarannya.
Herbologi bersama Hufflepuff dan pemeliharaan satwa liar.
Brengsek, masih juga barang seliterin.
Dua jam ramalan sore ini, Harry mengeluh.
Ramalan adalah pelajaran yang paling tak disukainya selain ramuan.
Profesor Trelawney tak bosan-bosannya meramalkan kematian Harry, membuatnya sebal.
Mestinya didrop saja, seperti aku, kata Hermione tajam sambil mengoleskan mentega ke rotinya.
Jadi kau bisa ambil pelajaran yang lebih masuk akal, seperti aritmansi.
Eh, kau sudah mau makan lagi rupanya, kata Ron mengawasi Hermione menambahkan banyak selai ke rotinya.
Aku sudah memutuskan ada banyak cara lebih baik untuk memperjuangkan hak-hak perirumah, kata Hermione angkuh.
Ya, dan kau lapar, kata Ron jengir.
Mendadak terdengar bunyi berkerasak ribut di atas mereka,
dan seratus burung hantu melesat masuk dari jendela yang terbuka, membawa surat-surat pagi itu.
Harry mendongak, tapi tak tampak warna putih di antara kerumunan coklat dan abu-abu.
Burung-burung itu terbang mengitari meja, mencari anak-anak kepada siapa surat-surat dan paket-paket itu dialamatkan.
Seekor burung hantu besar jingga kecoklatan terbang menuki ke arah Neville Longbottom dan menjatuhkan bungkusan besar ke pangkuannya.
Neville hampir selalu lupa mengepak sesuatu.
Di sisi lain aula, seekor burung hantu elang Draco Malfoy telah mendarat di bahunya,
kelihatannya membawa persediaan permen dan kue-kue dari rumah.
Berusaha menginggari kekecewaannya, Harry kembali menghadapi buburnya.
Mungkinkah sesuatu telah terjadi pada Hedwig dan Sirius tidak menerima suratnya?
Pikiran ini memenuhi benaknya sampai mereka melewati kebun-kebun sayuran yang becek dan tiba di rumah kaca nomor tiga.
Di sini perhatiannya teralihkan oleh Prof. Sprout yang menunjukkan tanaman paling jelek yang pernah dilihat Harry.
Tanaman itu lebih mirip siput raksasa hitam yang mencuak tegak dari tanah.
Masing-masing menggeliat pelan dan memiliki beberapa benjolan berkilap yang tampaknya berisi cairan.
Bubotuber, Prof. Sprout memberitahu mereka,
kalian harus memencetnya, kalian harus mengumpulkan nanahnya.
Apanya? Tanya Seamus Finnegan Jijik.
Nanah, Finnegan. Nanah, ujar Prof. Sprout.
Dan nanah ini berharga sekali, jadi jangan sampai tercacer.
Kumpulkan dalam botol ini.
Pakai sarung tangan kulit naga kalian.
Nanah Bubotuber bisa berdampak aneh-aneh pada kulit kalau tidak dicairkan dulu.
Memencet Bubotuber menjijikan, tapi anehnya juga memuaskan.
Setiap kali benjolan dipencet, cairan kental hijau kekuningan memancar keluar.
Baunya mirip bensin.
Mereka menampungnya di botol, seperti yang diperintahkan Prof. Sprout.
Dan pada akhir pelajaran, berhasil mengumpulkan beberapa liter.
Ini akan membuat Madame Ponvry senang, kata Prof. Sprout, menutup botol terakhir dengan gabus.
Ini obat sangat bujarap untuk jerawat yang paling bandal.
Anak-anak tak perlu lagi cari cara nekat menghilangkan jerawat.
Seperti si Eloise Midjen, bisik Hena Abot, anak Hufflepuff.
Kasihan, dia mencoba menyihir lenyap jerawatnya.
Anak bodoh, kata Prof. Sprout, menggelengkan kepala.
Untung Madame Ponvry berhasil menempelkan kembali hidungnya.
Dentang bel keras bergaung dari kastil menyeberangi tanah basah, menandai akhir pelajaran.
Dan anak-anak kedua asrama berpisah.
Anak-anak Hufflepuff menaiki tangga batu untuk ikut transfigurasi.
Dan anak-anak Gryffindor menuju ke arah lain.
Menuruni padang rumput landai menuju pondok kecil Hagrid di tepi hutan terlarang.
Hagrid berdiri di depan pondok kayunya.
Satu tangannya memegangi ban leher anjing pemburu babi hutannya yang besar, Fang.
Ada beberapa peti kayu terbuka di tanah di dekat kakinya.
Dan Fang merengek dan menarik ban lehernya.
Rupanya ingin menyeridiki isi peti itu lebih dekat.
Saat mereka semakin dekat, bunyi derak aneh terdengar diselingi letupan-letupan kecil.
Pagi, Sapa Hagrid nyengir kepada Harry, Ron, dan Hermione.
Sebaiknya tunggu anak-anak Slytherin.
Mereka pasti tak mau ketinggalan ini.
Skrut ujung meletup.
Apa? Tanya Ron.
Hagrid menunjuk peti.
Ih, jerit Lavander Brown melompat mundur.
Ih, tepat untuk mengomentari skrut ujung meletup, menurut pendapat Harry.
Mereka seperti lobster dacat, tanpa kulit, pucat menjijikan dan berlendir,
dengan kaki-kaki mencuat di tempat-tempat ganjil, dan tak tampak ada kepalanya.
Setiap peti berisi kira-kira 100, masing-masing sepanjang 15 cm,
saling merayap di atas tubuh temannya, menabrak ke empat dinding peti.
Baunya menusuk seperti ikan busuk.
Sekali-sekali bunga pasir memercik dari ujung seekor skrut,
dan dengan punyi put pelan, binatang ini akan terdorong ke depan beberapa senti.
Baru saja menetas.
Ujar Hagrid bangga.
Jadi kalian akan bisa besarkan mereka sendiri.
Kita bikin proyek kecil.
Dan kenapa kita mau membesarkan mereka?
Tanya suara dingin.
Anak-anak Slytherin sudah tiba.
Si penanya adalah Draco Malfoy.
Kreb dan Goyle mencekekek mendukung.
Hagrid tampak bingung mendapat pertanyaan begitu.
Maksudnya, apa kegunaan mereka?
Tanya Malfoy.
Untuk apa mereka?
Hagrid membuka mulutnya, berpikir keras selama beberapa detik,
kemudian berkata kasar.
Itu untuk pelajaran berikutnya, Malfoy.
Kalian cuma beri makan mereka hari ini.
Kalian perlu coba beberapa makanan berbeda.
Aku belum pernah punya skrut, jadi tak tahu mereka suka apa.
Aku sudah siapkan telur semut dan hati kodok,
dan potongan-potongan ular rumput.
Coba saja dulu sedikit-sedikit.
Tadi nanah, dan sekarang ini gumam semas.
Kalau bukan karena rasa sayang yang amat besar terhadap Hagrid,
Harry, Ron, dan Hermione tak akan mau mengambil segenggam hati kodok yang empuk berlendir
dan memasukkannya ke dalam peti untuk membujuk skrut ujung meletup.
Harry tak bisa menekan kecurigaannya bahwa semua usaha ini akan sia-sia saja,
karena skrut-skrut itu tampaknya tak punya mulut.
Auch! jerit Dan Thomas setelah lewat kira-kira 10 menit.
Aku kena.
Hagrid bergegas mendekat, tampak cemas.
Ujungnya meledak, kata Dean Brang, menunjukkan luka bakar di tangannya.
Ah, iya, itu bisa terjadi kalau mereka meletus, kata Hagrid mengangguk.
Ih, kata Lavender Brown lagi.
Ih, Hagrid, apaan sih yang runcing itu?
Ah, beberapa di antara mereka punya sengat, kata Hagrid antusias.
Lavender buru-buru menarik tangannya dari dalam peti.
Dugaanku itu yang jantan, yang betina punya seperti alat penghisap di perut mereka.
Aku rasa itu untuk isap darah.
Wah, sekarang aku paham kenapa kita harus meliharanya agar tetap hidup, kata Malfoy Sinis.
Siapa yang tak mau punya binatang peliharaan yang bisa membakar, menyengat, dan menggigit sekalibus?
Hanya karena mereka tidak begitu indah, tidak berarti mereka tidak berguna, Hermione menukas.
Darah naga sangat mujarab, tapi kok tak akan mau punya binatang peliharaan naga, kan?
Harry dan Ron nyengir kepada Hagrid, yang membalasnya secara sembunyi-sembunyi di belik jenggot lebatnya.
Tak ada sesuatu yang lebih diinginkan Hagrid selain memiliki naga sebagai binatang peliharaan.
Harry, Ron, dan Hermione tahu betul itu dia.
Dia pernah memiliki naga sebentar sewaktu mereka kelas 1, naga ganas jenis punggung bersirip Norwegia yang diberi nama Norbert.
Hagrid senang binatang-binatang mengerikan, semakin membahayakan semakin bagus.
Paling tidak, skrut ini kecil, kata Ron ketika mereka berjalan kembali ke kastil untuk makan siang 1 jam kemudian.
Sekarang kecil, kata Hermione dengan suara putus asa.
Tapi begitu Hagrid tahu apa makanan mereka, kukira panjang mereka akan jadi 2 meter.
Yah, tak apa-apa kalau mereka ternyata bisa menyembuhkan mabuk laut atau entah apa, kan?
Kata Ron, menyeringi jahil kepadanya.
Kau tahu betul aku ngomong begitu cuma supaya Malfoy tutup mulut.
Terus terang saja, kukira dia betul.
Yang paling baik adalah menginjak-injak mereka sampai mati sebelum mereka mulai menyerang kita semua.
Mereka duduk di meja Gryffindor dan mengambil sajian daging domba dan kentang.
Hermione makan cepat sekali, sehingga Harry dan Ron memandangnya keheranan.
Eh, apakah ini pembelaan baru hak-hak perirumah? Kau mau membuat dirimu muntah?
Tidak, kata Hermione, seanggun yang bisa dilakukannya dengan mulut gembung penuh tauge.
Aku cuma mau ke perpustakaan.
Apa? Tanya Ron tak percaya.
Hermione, ini hari pertama kita masuk, kita bahkan belum dapat PR.
Hermione mengangkat bahu dan melanjutkan melahap makanannya seakan dia sudah berhari-hari tidak makan.
Kemudian dia melompat bangun, berkata, sampai makan malam nanti, dan melesat pergi.
Ketika bel berbunyi menandakan mulainya pelajaran sore hari, Harry dan Ron pergi ke Menara Utara.
Di puncak tangga spiralnya yang berputar-putar,
ada tangga gantung perak yang menuju ke pintu tingkap Bundar di langit-langit dan ke tempat tinggal Prof. Trelawney.
Bau harum dari perapian menerpah hidung mereka ketika mereka tiba di puncak tangga gantung.
Seperti biasa, semua gordennya tertutup.
Ruangan Bundar itu bermandi cahaya remang-remang kemerahan dari banyak lampu
yang semuanya dikerudungi shawl dan selendang.
Harry dan Ron berjalan melewati kursi-kursi berlengan dan bangku kecil sandaran kaki yang bertebaran dalam ruangan
dan duduk di mija Bundar.
Selamat siang!
Sapa suara sayup-sayup Prof. Trelawney persis di belakang Harry menjadikannya terloncak kaget.
Seorang wanita sangat kurus dengan kacamata sangat besar yang membuat matanya tampak terlalu besar untuk wajahnya,
Prof. Trelawney menunduk memandang Harry dengan ekspresi tragis
yang biasa ditunjukannya setiap kali dia bertemu Harry.
Manik-manik, rantai kalung dan gelang yang sangat banyak berkelap-kelip di sekujur tubuhnya,
tertimpa cahaya perapian.
Kau sedang punya masalah, nak?
Katanya sedih kepada Harry.
Mata batinku melihat menembus wajahmu yang pemberani ke jiwa yang menara
dan dengan menyesalku katakan, kekhawatiranmu bukan tak berasal.
Aku melihat masa-masa yang sulit di depanmu sayangnya, sulit sekali.
Kurasa hal yang kau takutkan benar-benar akan terjadi dan mungkin lebih cepat dari yang kau kira.
Suaranya menurun sampai nyaris berbisik.
Ron memutar matanya kepada Harry yang membalas memandangnya dingin.
Prof. Trelawney berjalan melewati mereka dan duduk di kursi besar berlengan di depan perapian, menghadap kelasnya.
Lavender Brown dan Parvati Patil yang sangat mengagumi Prof. Trelawney,
duduk di atas bangku kecil dekat sekali dengannya.
Anak-anak, sudah waktunya kita memperhitungkan bintang-bintang,
pergerakan planet dan isyarat-isyarat misterius yang mereka sampaikan
hanya kepada mereka yang mengerti langkah-langkah tarian benda angkasa.
Nasib manusia bisa diuraikan oleh sinar-sinar planet
yang bercampur baur.
Tetapi pikiran Harry telah melayang-layang kemana-mana.
Harumnya perapian selalu membuatnya merasa mengantuk dan bebal
dan pembicaraan Prof. Trelawney yang bertele-tele tentang ramalan tak pernah membuatnya terpesona.
Meskipun demikian, mau tak mau terpikir juga olehnya apa yang tadi dikatakan Prof. Trelawney.
Ku rasa hal yang kau takutkan benar-benar akan terjadi.
Tetapi Hermione betul pikir Harry jengkel.
Prof. Trelawney benar-benar tukang tipu.
Saat ini sama sekali tak ada yang ditakutkannya.
Ya, kecuali ketakutannya bahwa Sirius telah tertangkap.
Tapi Prof. Trelawney tahu apa?
Harry sudah menyimpulkan bahwa jenis ramalannya tak lebih dari tebakan beruntung
dan cara penyampaian yang mengerikan.
Kecuali tentu saja yang terjadi pada akhir tahun ajaran lalu
ketika dia meramalkan bahwa Voldemort akan bercaya lagi.
Dan bahkan Dumbledore mengatakan bahwa Prof. Trelawney sungguh-sungguh mengalami trans waktu itu
ketika Harry mendeskripsikannya kepadanya.
Harry, Ron bergumam.
Harry memandang berkeliling.
Semua temannya menatapnya.
Dia duduk tegak.
Tadi dia nyaris tertidur.
Dipengaruhi pengapnya ruangan dan lamunannya.
Aku tadi bilang, nak, bahwa kau jelas dilahirkan di bawah pengaruh buruk Saturnus,
kata Prof. Trelawney.
Ada nada celah dalam suaranya karena Harry jelas tidak terpesona mendengarkannya.
Dilahirkan di bawah, apa maaf, kata Harry.
Saturnus, nak, planet Saturnus, kata Prof. Trelawney.
Sekarang jelas jengkel karena Harry tidak terpukau mendengar penjelasannya.
Kukatakan tadi, Saturnus jelas dalam posisi berkuasa di langit pada saat kau dilahirkan.
Rambutmu yang gelap, tinggimu yang sedang-sedang saja,
kehilangan begitu tragis dalam usiamu yang masih sangat muda,
kurasa benar kalau kukatakan, nak, bahwa kau lahir di tengah musim dingin?
Tidak, kata Harry.
Saya lahir bulan Juli.
Buru-buru Ron mengubah tawanya menjadi batuk-batuk pendek.
Setengah jam kemudian, kepada masing-masing telah dibagikan peta bundar yang rumit
dan mereka masih berusaha mengisi posisi planet-planet pada saat kelahiran mereka.
Pekerjaan yang membosankan menuntut banyak pengecekan ke jadwal dan kalkulasi banyak sudut.
Aku punya dua Neptunus di sini, ujar Harry beberapa saat kemudian,
mengernyit memandang perkamennya.
Mana mungkin, kan?
Ah, kata Ron, menirukan bisikan mistis Prof. Trelawney.
Saat dua Neptunus muncul di langit,
itu pertanda jelas bahwa anak cebel berkacamata sedang dilahirkan, Harry.
Siemus dan Dean yang duduk dekat meja mereka terkiki kelas,
meskipun tidak cukup keras untuk mengatasi pekik bergairah lavender brown.
Oh, Profesor, lihat!
Saya rasa saya mendapatkan planet yang tak terpengaruh.
Oh, planet apa ini, Profesor?
Itu Uranus, nak, kata Prof. Trelawney, menyipitkan mata memandang peta lavender.
Boleh aku lihat Uranus Mi juga, lavender?
Tanya Ron.
Celakanya, Prof. Trelawney mendengar hal itu,
dan mungkin inilah sebabnya dia memberi mereka banyak sekali PR pada akhir pelajaran.
Analisis detail tentang bagaimana pergerakan planet-planet bulan depan akan memengaruhi kalian,
dengan acuan ke peta pribadi kalian.
Katanya galak, kedengaran mirip Prof. McGonagall,
dan tidak selembut peri seperti biasanya.
Dikumpulkan hari Senin dan tak ada alasan menundanya.
Dasar kelelawar otak,
umpat Ron getir ketika mereka bergabung dengan anak-anak menuruni tangga
dan kembali ke aula besar untuk makan malam.
Perlu waktu sepanjang akhir minggu.
Perlu banyak PR, ya?
Tanya Hermione cerah, merendengi mereka.
Prof. Vector tidak memberi kami PR sama sekali.
Yah, hidup Prof. Vector, kata Ron Murung.
Mereka tiba di aula depan yang penuh anak yang antri untuk makan malam.
Baru saja mereka bergabung dengan antrian, terdengar suara keras di belakang mereka.
Weasley! Hey, Weasley!
Harry, Ron, dan Hermione menoleh.
Malfoy, Crabbe, dan Goyle berdiri di belakang mereka.
Tampak gembira sekali.
Apa? Tanya Ron pendek.
Ayahmu masuk koran, Weasley, kata Malfoy melambaikan Daily Prophet
dan bicara keras sekali sehingga semua anak yang ada di aula depan bisa mendengarnya.
Dengar ini.
Kesalahan lagi di Kementerian Sihir.
Rupanya masalah di Kementerian Sihir belum berakhir, tulis cerita skiter, koresponden khusus kami.
Baru-baru ini, seperti kebakaran jenggot karena kontrol yang sangat lemah di piala dunia Quidditch
dan masih tak bisa mempertanggungjawabkan lenyapnya salah satu karyawannya,
kementerian dipermalukan lagi kemarin oleh antikan Arnold Weasley
dari kantor penyalahgunaan barang-barang magel.
Malfoy mendongak.
Bayangkan, nulis namanya saja salah, Weasley.
Semua anak di aula depan sekarang mendengarkan.
Malfoy meluruskan korannya dengan bergaya dan meneruskan membaca.
Arnold Weasley yang dituntut karena memiliki mobil terbang dua tahun lalu,
kemarin terlibat perkelahian dengan beberapa penegak hukum magel, yaitu polisi,
soal beberapa tempat sampah yang kelewat agresif.
Mr. Weasley rupanya terburu-buru membantu Matt I. Moody,
mantan auror lanjut usia yang sudah pensiun dari kementerian
Tidaklah mengherankan, ketika Mr. Weasley tiba di rumah Mr. Moody yang dijaga ketat,
ternyata sekali lagi Mr. Moody ketakutan tanpa alasan.
Mr. Weasley terpaksa memodifikasi beberapa memori
sebelum dia bisa kabur dari para polisi itu.
Tetapi menolak menjawab pertanyaan Daily Prophet
tentang kenapa dia melibatkan kementerian dalam urusan yang konyol dan memalukan itu.
Dan ada fotonya, Weasley, kata Malfoy, membalik koran dan mengangkatnya.
Foto orang tuamu di depan rumah mereka.
Kalau bisa dibilang rumah.
Ibumu perlu menurunkan berat badan nih.
Ron gemetar saking marahnya.
Semua anak memandangnya.
Minggat sana, Malfoy.
Ayo, Ron.
Oh iya, kau tinggal bersama mereka musim summer ini kan, Potter?
Ejek Malfoy.
Jadi coba bilang, apa ibunya memang segendut babi?
Atau cuma di foto ini saja?
Kau tahu ibumu kan, Malfoy?
Kata Harry.
Berdua dengan Hermione, dia telah menyambar bagian belakang jubah Ron
untuk mencegahnya menyerang Malfoy.
Ekspresi wajahnya seperti ada kotoran di bawah hidungnya.
Apa memang dia selalu begitu?
Atau hanya kalau kau sedang bersamanya?
Wajah pucat Malfoy menjadi agak memerah.
Jangan berani-berani menghina ibuku, Potter.
Kalau begitu, tutup mulut besarmu.
Kata Harry, berpaling.
Duar!
Beberapa anak menjerit.
Harry merasakan sesuatu yang putih panas menyerempet pipinya.
Dia merogoh kantong mau mengambil tongkat sihirnya.
Tetapi bahkan sebelum dia sempat menyentuhnya,
dia mendengar ledakan keras kedua
dan raungan yang bergaung di seluruh aula depan.
Oh, tidak boleh, nak.
Harry berpaling.
Profesor Moody terpincang-pincang menurun di tanggapu alam.
Tongkatnya teracung pada musang putih bersih yang gemetar di lantai,
tepat di tempat Malfoy tadi berdiri.
Aula depan sunyi senyap.
Anak-anak ketakutan.
Tak seorang pun bergerak, kecuali Moody.
Moody menoleh memandang Harry.
Paling tidak mata normalnya memandang Harry,
yang satunya terarah ke belakang kepalanya.
Kau kena?
Profesor Moody bertanya, suaranya rendah dan kasar.
Tidak, kata Harry, hanya terserempet.
Biarkan saja, teriak Moody.
Apanya yang biarkan saja?
Tanya Harry, bingung.
Bukan kau, dia.
Moody mengeram, mengedikan ibu jarina ke belakang bahunya
ke arah krep yang membeku dalam posisi mau mengangkat si musang putih.
Rupanya mata Moody yang bisa berputar itu ajaib
dan bisa melihat menembus belakang kepalanya.
Moody melangkah timpang mendekati krep, goel dan si musang
yang menjerit ketakutan
dan kabur melesat ke ruang bawah tanah.
Enak saja, raung Moody.
Mengacungkan tongkatnya lagi,
si musang terbang tiga meter ke udara,
jatuh bergedebuk di lantai,
kemudian melenting ke atas lagi.
Aku tak suka orang-orang yang menyerang
sewaktu lawan sedang memunggungi mereka.
Geram Moody, sementara si musang terlontar makin lama makin tinggi,
menjerit-jerit kesakitan.
Perbuatan pengecut, licik, busuk.
Si musang melayang ke udara,
kaki dan ekornya menggapai-gapai tak berdaya.
Jangan sekali lagi berbuat demikian.
Kata Moody, mengucapkan masing-masing kata
setiap kali si musang terbanting ke lantai dan terlempar ke atas lagi.
Profesor Moody terdengar pekik kaget.
Profesor McGonagall menuruni tangga pualam
dengan memuluk buku-buku.
Halo, Profesor McGonagall, kata Moody.
Kalem melontarkan si musang lebih tinggi lagi.
Apa yang Anda lakukan?
Kata Profesor McGonagall.
Matanya mengikuti gerakan si musang di udara.
Mengajar, kata Moody.
Menga... Moody? Apakah itu murid?
Jerit Profesor McGonagall, buku-bukunya berjatuhan.
Yap, kata Moody.
Jangan, seru Profesor McGonagall
berlari menuruni tangga dan mencabut tongkatnya.
Sekejap kemudian, dengan bunyi letupan keras,
Draco Malfoy muncul lagi di lantai.
Terpuruk di lantai, rambut pirangnya berserakan di wajahnya
yang sekarang kini merah jambu.
Dia berdiri, mengernyit kesakitan.
Moody, kita tidak pernah menggunakan transfigurasi sebagai hukuman.
Kata Profesor McGonagall, lemah.
Tentu Profesor Dumbledore sudah memberitahu Anda soal itu.
Mungkin juga dia menyebutkannya.
Kata Moody menggaruk dagunya tak peduli.
Tapi menurutku kejutan yang keras,
kami memberikan detensi Moody
atau melaporkan pada kepala asrama murid yang melakukan kesalahan.
Akanku lakukan kalau begitu,
kata Moody memandang Malfoy dengan kebencian.
Malfoy, mata pucatnya masih berair karena kesakitan dan malu,
balas memandang Moody dengan kurang ajar
dan menggumamkan sesuatu dengan kata,
Oh ya? Kata Moody tenang.
Terpincang-pincang maju beberapa langkah,
bunyi tak-tok kaki kayunya bergaung di seluruh aula.
Aku kenal ayahmu, nak.
Bilang saja Moody mengawasi anaknya.
Tolong sampaikan pesanku ini.
Nah, kepala asramamu Snape, kan?
Iya, kata Malfoy benggak.
Teman lama juga, kata Moody.
Aku sudah menunggu-nunggu kesempatan ngobrol dengan si Snape.
Ayo.
Dan dia menyambar lengan atas Malfoy
dan membawanya turun ke ruang bawah tanah.
Profesor McGonagall memandang mereka dengan cemas selama beberapa saat,
kemudian melambaikan tongkatnya pada buku-bukunya yang bertebaran,
membuat mereka melayang ke udara dan kembali ke pelukannya.
Jangan ajak aku bicara, kata Ron Plann kepada Harry dan Hermione,
ketika mereka sudah duduk di meja Gryffindor beberapa menit kemudian,
dikelilingi oleh celoteh bersemangat tentang apa yang baru saja terjadi.
Kenapa memangnya?
tanya Hermione keheranan.
Karena aku ingin menerakan kejadian tadi dalam benaku untuk selamanya,
kata Ron, matanya terpejam dan wajahnya berseri-seri.
Draco Malfoy, si musang melambung yang luar biasa.
Harry dan Hermione mengambil hak tawa
dan Hermione mulai menyendok kasrol daging ke dalam piring mereka.
Tapi Malfoy bisa terluka.
Katanya, untunglah Profesor McGonagall menghentikannya.
Hermione, kata Ron marah, matanya terbuka lagi.
Kau merusak saat paling indah dalam hidupku.
Hermione mengeluarkan suara tak sabar dan mulai makan dengan super cepat lagi.
Jangan bilang kau mau ke perpustakaan lagi malam ini, kata Harry memandangnya.
Harus, kata Hermione, banyak tugas.
Tapi kau bilang tadi Profesor Victor?
Bukan tugas sekolah, katanya.
Dalam waktu lima menit, piringnya sudah bersih dan dia pergi.
Fred Weasley langsung menduduki tempatnya sendiri.
Moody, seberapa coolnya dia?
Cool banget, kata George, duduk berhadapan dengan Fred.
Super cool, kata sahabat si kembar Lee Jordan,
menduduki diri di kursi di sebelah George.
Kami ikut pelajarannya tadi sore, dia memberitahu Harry dan Ron.
Bagaimana pelajarannya, tanya Harry bersemangat.
Fred, George, dan Lee saling berpandangan penuh makna.
Belum pernah dapat pelajaran seperti itu, kata Fred.
Dia tahu, men, kata Lee.
Tahu apa, tanya Ron mencondong ke depan.
Tahu bagaimana mempraktikannya di luar, kata George dengan impresif.
Mempraktikan apa, tanya Harry.
Melawan ilmu hitam, kata Fred.
Dia sudah menyaksikan segalanya, kata George.
Luar biasa, kata Lee.
Ron buru-buru merojok ke tasnya, mengambil daftar pelajaran.
Kita baru dapat dia hari Kamis, katanya kecewa.
