Mengapa demokrasi selalu gagal tumbuh di China? Apakah rakyat China memang tidak cocok dengan kebebasan, atau justru ada kekuasaan yang terus menghentikan setiap kesempatan perubahan?
Dalam episode Analisa China kali ini, Suara Patriot membahas lima momentum penting ketika China memiliki peluang menuju pemerintahan yang lebih terbuka. Mulai dari janji konstitusi Dinasti Qing, pemilu awal Republik China, perundingan setelah Perang Dunia II, gerakan demokrasi Tiananmen 1989, hingga keterbukaan internet dan masyarakat sipil yang kembali dibatasi.
Sejarah menunjukkan bahwa rakyat China pernah memperjuangkan konstitusi, kebebasan berpendapat, pemilu, dan pembatasan kekuasaan. Namun ketika tuntutan tersebut mulai mengancam penguasa, ruang kebebasan kembali ditutup.
Video ini juga membahas Song Jiaoren, Yuan Shikai, Mao Zedong, Wei Jingsheng, Liu Xiaobo, Xi Jinping, serta perbandingan dengan perjalanan demokrasi Taiwan.
Apa pelajarannya bagi Indonesia? Kemajuan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam kritik, melemahkan hukum, atau menempatkan kepentingan kekuasaan di atas kedaulatan rakyat.
Suara Patriot membedakan rakyat dan budaya China dari tindakan serta kebijakan rezim politik. Pembahasan ini ditujukan untuk memperkuat pemahaman sejarah, kewaspadaan terhadap penyalahgunaan kekuasaan, dan kesadaran menjaga kedaulatan bangsa.
Dukung Suara Patriot dengan menonton sampai selesai, menyampaikan pendapat di kolom komentar, dan membagikan video ini kepada sahabat yang peduli pada sejarah, kebebasan, serta kedaulatan Indonesia.
The video challenges the notion that the Chinese people are incompatible with democracy, arguing instead that the recurring failure of democratic movements in China is due to the ruling powers' fear of losing control. By analyzing five historical opportunities for openness, the content demonstrates that the desire for freedom and accountability is universal and not a foreign imposition.
Pertanyaannya bukan apakah rakyat Cina menginginkan kebebasan,
melainkan mengapa penguasa selalu takut kepada kebebasan itu.
Sahabat Patriot, benarkah rakyat Cina memang tidak cocok dengan demokrasi?
Benarkah kebebasan, pemilu, dan pembatasan kekuasaan
hanyalah gagasan barat yang tidak mungkin tumbuh di Cina?
Analisis dari Canal Digging into China justru menunjukkan kenyataan berbeda.
Dalam perjalanan sejarah modernnya,
Cina setidak 5 kali memiliki kesempatan menuju pemerintahan yang lebih terbuka.
Ada rakyat yang berani bersuara.
Ada tokoh yang memperjuangkan konstitusi.
Bahkan pernah ada pemilu dan parlemen.
Mereka tidak meminta negara dihancurkan.
Mereka menginginkan pemerintahan yang dapat diawasi,
dan kekuasaan yang tidak berjalan tanpa batas.
Namun, setiap kali harapan itu mendekati kenyataan,
kekuasaan bergerak menghancurkannya.
Pertanyaannya bukan apakah rakyat Cina menginginkan kebebasan,
melainkan mengapa penguasa selalu takut kepada kebebasan itu?
Kesempatan pertama muncul ketika dinasti Qing
mulai kehilangan kepercayaan rakyat.
Setelah kekalahan, tekanan asing, dan krisis dalam negeri,
istana menjanjikan perubahan.
Tahun 1906,
pemerintah menyatakan akan mempersiapkan pemerintahan konstitusional.
Dua tahun kemudian,
rancangan konstitusi diumumkan.
Parlemen dijanjikan.
Dewan daerah mulai dibentuk.
Sekilas, Cina terlihat menuju sistem yang lebih modern.
Tetapi ada masalah besar.
Kaisar tetap memegang kendali militer, pemerintahan,
dan keputusan politik utama.
Ketika rakyat serta kaum terpelajar meminta parlemen segera dibentuk,
tuntutan itu berulang kali ditolak.
Bahkan kabinet yang diumumkan tahun 1911
didominasi keluarga kekaisaran dan bangsawan.
Artinya jelas.
Reformasi dijanjikan.
Tetapi kekuasaan tidak sungguh-sungguh dibagi.
Mereka menginginkan bentuk konstitusi modern,
sambil mempertahankan isi pemerintahan lama.
Panggung berubah, tetapi pengendalinya tetap sama.
Ketika kesempatan perubahan damai disiasiakan,
revolusi meledak,
dinasti Qing pun runtuh.
Kesempatan kedua muncul setelah Republik Cina berdiri tahun 1912.
Untuk pertama kalinya,
Cina memiliki konstitusi sementara,
parlemen,
kehidupan pers yang lebih terbuka,
dan pemilihan anggota perwakilan.
Tokoh pentingnya adalah Song Jioren.
Ia percaya pemerintahan harus ditentukan melalui pemilu,
bukan melalui senjata.
Partainya meraih hasil kuat dalam pemilihan.
Song berupaya membentuk pemerintahan yang bertanggung jawab kepada parlemen.
Namun langkah itu mengancam Yuan Shikai,
tokoh kuat yang mengendalikan angkatan bersenjata.
Pada Maret 1913,
Song ditembak di stasiun kereta Shanghai
dan meninggal dua hari kemudian.
Kecurigaan mengarah kepada lingkaran pemerintahan Yuan Shikai,
tetapi keterlibatan pribadi Yuan
tidak pernah dipastikan melalui putusan pengadilan.
Sesudah itu, parlemen dilemahkan,
lawan politik disingkirkan,
dan kekuasaan semakin terkonsentrasi.
Yuan bahkan kemudian berusaha mengembalikan sistem kekaisaran
dengan dirinya sendiri sebagai pusat kekuasaan.
Pelajarannya pahit.
Ketika tentara setia kepada penguasa,
bukan kepada konstitusi,
suara rakyat mudah dikalahkan oleh senjata.
Kesempatan ketiga datang setelah Jepang menyerah pada tahun 1945.
China yang kelelahan akibat perang membutuhkan perdamaian
dan pemerintahan yang mampu merangkul berbagai kekuatan politik.
Tahun 1946,
Partai Nasionalis atau KMT,
Partai Komunis China,
Kelompok Demokratis,
dan tokoh independen mengikuti perundingan
untuk menyusun masa depan negara.
Ada pembicaraan mengenai konstitusi,
pembatasan kekuasaan,
dan penyatuan angkatan bersenjata di bawah negara.
Kelihatannya, jalan menuju pemerintahan yang lebih terbuka masih tersedia.
Tokoh-tokoh moderat berharap,
senjata akhirnya tunduk kepada negara.
Sementara perbedaan politik diselesaikan
melalui perundingan dan aturan bersama.
Tetapi persaingan kekuasaan segera mengambil alih.
Kubu nasionalis dan komunis saling mencurigai,
mempertahankan kekuatan militernya,
dan kembali menuju perang saudara.
Kelompok yang menghendaki jalan demokratis terjepit
di antara dua kekuatan bersenjata.
Sahabat patriot,
tiga kesempatan sudah hilang.
Namun dua peluang berikutnya justru muncul
ketika China memasuki era modern.
Kesempatan keempat mulai terlihat
setelah Mao Zedong meninggal pada tahun 1976.
Masyarakat berharap masa ketakutan,
penindasan,
dan kekacauan politik akan berakhir.
Di Beijing,
tembok demokrasi menjadi tempat warga
menyampaikan kritik serta tuntutan kebebasan.
Tahun 1978,
Wei Jingsheng menulis bahwa China
membutuhkan modernisasi kelima,
yaitu demokrasi.
Namun ketika kritik mulai menyentuh kekuasaan partai,
pemerintah menutup ruang tersebut.
Wei kemudian dipenjara.
Harapan muncul kembali pada tahun 1989.
Mahasiswa, pekerja,
dan warga berkumpul di Beijing
untuk menuntut pemberantasan korupsi,
keterbukaan,
serta dialog.
Gerakan itu menjadi sorotan dunia.
Tetapi kepemimpinan China memilih pengerahan militer.
Pada malam menjelang 4 Juni,
tentara memasuki Beijing
dan menghentikan demonstrasi dengan kekerasan.
Jumlah korban pastinya masih diperdebatkan
karena informasi dibatasi.
Nama Tiananmen kemudian menjadi simbol
betapa mahalnya harga yang harus dibayar warga
ketika kekuasaan menolak mendengar tuntutan perubahan.
Sejak saat itu, pesannya semakin jelas.
Pertumbuhan ekonomi boleh berjalan,
tetapi tantangan terhadap monopoli politik partai komunis
tidak akan dibiarkan.
Kesempatan kelima berkembang
ketika China semakin terhubung dengan dunia,
terutama setelah masuk organisasi perdagangan dunia pada 2001.
Internet membuka ruang diskusi.
Pengacara membantu warga yang mengalami ketidakadilan.
Organisasi masyarakat bergerak di bidang lingkungan,
kesehatan, dan hak warga.
Sebagian orang berharap pertumbuhan ekonomi
akhirnya mendorong kebebasan politik.
Tahun 2008, Liu Xiaobo ikut menyusun Piagam 08,
sebuah seruan bagi hak asasi manusia,
supremasi hukum, dan reformasi politik.
Namun ia kemudian dipenjara.
Ketika menerima Nobel Perdamaian pada 2010,
kursinya dalam upacara penghargaan dibiarkan kosong.
Di desa Wukan,
warga sempat memperoleh kesempatan memilih perwakilan mereka sendiri.
Tetapi ruang gerak-gerakan tersebut kemudian kembali ditekan.
Setelah Xi Jinping berkuasa,
pengawasan internet diperketat,
pengacara hak asasi menghadapi penindakan,
dan kendali partai semakin menguat.
Bahkan pembatasan masa jabatan Presiden dihapus pada tahun 2018.
Kesempatan yang sempat terbuka kembali menyempit.
Teknologi yang sebelumnya memberi harapan kebebasan
juga berkembang menjadi sarana pengawasan.
Sahabat Patriot,
jika kelima peristiwa itu disusun berurutan,
polanya terlihat sangat jelas.
Mula-mula penguasa menjanjikan perubahan.
Masyarakat mulai berharap.
Lalu, ketika perubahan berpotensi membatasi kekuasaan,
janji itu dihentikan dengan alasan stabilitas,
persatuan, atau kepentingan negara.
Wajah penguasanya berubah,
ideologinya berganti,
dan zamannya berbeda.
Namun ketakutan terhadap rakyat
yang dapat mengawasi pemerintah terus berulang.
Karena itu,
mengatakan rakyat Cina tidak cocok dengan demokrasi
adalah kesimpulan yang keliru.
Taiwan memiliki kedekatan bahasa
dan tradisi budaya dengan masyarakat Cina,
tetapi berhasil menjalankan pemilihan presiden
langsung pada 1996.
Ini menunjukkan budaya bukan penghalang utama.
Masalahnya muncul ketika kekuasaan
tidak bersedia diawasi, dibatasi, atau digantikan.
Bagi Indonesia, pelajarannya penting.
Pembangunan ekonomi tidak boleh dijadikan alasan
untuk melemahkan hukum,
membungkam kritik,
atau menempatkan kepentingan kelompok
di atas kepentingan bangsa.
Kedaulatan rakyat hanya bertahan
ketika masyarakat menjaga kebebasan berfikir
dan berani mengawasi kekuasaan.
Sejarah Cina memperlihatkan bahwa
selalu ada orang yang memperjuangkan kebebasan.
Mulai dari tokoh konstitusi,
pemimpin parlement, mahasiswa, pekerja,
hingga pembela hak asasi.
Mereka bukan bukti bahwa demokrasi asing
bagi rakyat Cina.
Mereka justru membuktikan
bahwa keinginan untuk hidup bermartabat
bersifat universal.
Pertanyaannya sekarang,
apakah Cina akan memperoleh kesempatan K-6?
Jawabannya belum kita ketahui.
Tetapi satu hal pasti.
Selama rakyat masih berani mengingat sejarah,
harapan tidak pernah benar-benar mati.
Suara patriot untuk Indonesia berdaulat.