Pada tanggal 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan ekstrem mencapai 200 megaton ekuivalen TNT—sekitar 13.000 kali lipat dari kekuatan bom atom Hiroshima . Erupsi dahsyat di Selat Sunda ini menewaskan lebih dari 36.000 jiwa dan menghasilkan gelombang tekanan udara yang mengelilingi planet Bumi hingga 7 kali ! Tidak hanya menghancurkan wilayah sekitarnya, material vulkanik yang terlempar puluhan kilometer ke atmosfer menyebabkan penurunan suhu rata-rata global sebesar 0,5 °C . Erupsi ini juga memicu fenomena optik langka di seluruh dunia, mulai dari Bulan yang tampak berwarna biru , fenomena senja berwarna hijau , hingga langit merah membara yang diyakini menginspirasi lukisan ternama The Scream karya Edvard Munch . Simak ulasan misteri sejarah dan fenomena alam selengkapnya hanya di Epoch Mystery!
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AI
The 1883 eruption of Krakatoa was one of history's most catastrophic volcanic events, causing global climate anomalies and massive loss of life. The disaster triggered tsunamis and pyroclastic flows, while its atmospheric impact led to the discovery of jet streams and inspired iconic art. The legacy continues today through the volatile activity of Anak Krakatau.
Oke, mari langsung kita mulai penelusuran untuk kanal epoh misteri kali ini.
Kita bakal membedah salah satu bencana alam paling mengerikan, misterius,
dan benar-benar mengubah wajah dunia dalam sejarah peradaban manusia.
Letusan Krakatau 1883.
Kita akan lihat data sejarah dan catatan sainsnya
untuk memahami seberapa masif sebenarnya skala dari peristiwa mematikan ini.
Sekarang, coba bayangkan Anda hidup di tahun 1883.
Tanpa peringatan apapun, tiba-tiba langit sengja di belahan dunia lain
berubah menjadi merah menyala.
Pemandangan ini saking mencekamnya,
sampai-sampai menginspirasi pelukis terkenal Edvard Munch
untuk membuat lukisan ikoniknya, The Scream.
Di tempat lain, matahari terbenam malah memancarkan warna hijau yang aneh
dan bulan tampak biru.
Nah pertanyaan besarnya, monster macam apa yang bisa memicu rentetan anomali global seaneh ini?
Yang benar-benar luar biasa dari bencana ini adalah
ia justru tanpa sengaja memicu sebuah penemuan ilmiah besar.
Jadi, waktu para ali cuaca kebingungan melihat fenomena aneh di langit,
mereka mulai melacak pergerakan lapisan debu vulkanik di atmosfer atas.
Debu yang melesat cepat mengelilingi bumi inilah yang membuahkan penemuan aliran asap ekuator.
Hari ini, fenomena cuaca raksasa itu kita kenal dengan sebutan arus jet atau jet stream.
Ini saja sudah memberi kita gambaran betapa masifnya skala misteri yang sedang kita hadapi ini.
Bagian 1. Hitung Mundur Bencana, 26 hingga 27 Agustus 1883
Untuk melacak sumber dari segala kekacauan global ini,
kita harus mundur ke akhir Agustus 1883 di perairan Selat Sunda.
Kalau kita lihat catatan geologisnya, sebelum meledak,
kompleks Krakatau ini sebenarnya adalah tiga kerucut gunung api yang saling menempel.
Dari utara ke selatan, ada Perbuewatan, Danan, dan yang paling tinggi Rakata,
yang menjulang lebih dari 800 meter.
Ketiga puncak ini secara harfiah ibarat bom waktu raksasa yang terus berdetak.
Walaupun letusan sebenarnya sudah mulai berbulan-bulan sebelumnya,
fase puncaknya benar-benar seperti hitung mundur menuju kiamat.
Pada jam 1 siang tanggal 26 Agustus, aktivitasnya meledak drastis.
Kesokan paginya, mulailah rentetan ledakan yang menghancurkan segalanya.
Jam 5.30 pagi, ledakan besar pertama merobek Perbuewatan.
Enggak lama, jam 6.44 pagi, Danan menyusul.
Lalu puncaknya, tepat pada pukul 10 lewat 2 pagi,
terjadilah ledakan ketiga yang benar-benar apokalitik.
Tak sampai satu jam kemudian, tanah longsor meruntuhkan separuh kerucut Rakata,
mengakhiri fase mengerikan ini saat seluruh pulau amblas ke dalam kantong magmanya sendiri.
Satu hal yang paling gila dari momen itu adalah teror suaranya.
Ini benar-benar di luar nalar.
Ledakan jam 10 lebih 2 pagi itu diperkirakan mencapai 310 desibel di pusat letusan.
Ini menjadikannya suara paling keras yang pernah tercatat dalam sejarah umat manusia.
Gelombang tekanannya begitu brutal,
sampai-sampai memecahkan gendang telinga para pelaut yang berada 64 km jauhnya.
Suara ledakan ini bahkan terdengar seperti tembakan meriam di Perth, Australia,
dan Pulau Rodriguez yang jaraknya lebih dari 4.800 km.
Coba bayangkan itu.
Kalau bicara soal energi yang dilepaskan,
kekuatannya setara dengan sekitar 200 megaton TNT.
Untuk memberi Anda sedikit gambaran,
itu berarti letusan ini sekitar 4 kali lebih kuat daripada Tsar Bomba,
yang merupakan bom nuklir terbesar dan paling merusak yang pernah diledakan manusia.
Bagian 2, Neraka di Bumi, Tsunami, dan Aliran Piroklastik
Oke, kita tadi sudah melihat angka-angka yang nyaris tak terbayangkan.
Tapi, bagi penduduk pesisir Jawa dan Sumatera saat itu,
realitasnya 100 kali lebih buruk.
Material vulkanik raksasa yang ambur ke laut,
memicu tsunami mahadasyat.
Kita bicara soal dinding air setinggi 46 meter,
yang menyapu bersih seluruh kota pesisir,
seperti Merak dan Telok Betong.
Jutaan ton air yang bergerak ini bahkan sampai melemparkan bongkahan karang raksasa jauh ke daratan
dan menenggelamkan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Ada satu kesaksian dari kapal Lauden yang saat itu sedang berlabuh,
dan ini benar-benar bikin bulu kuduk merinding.
Mereka menceritakan bagaimana kapal mereka secara ajaid berhasil mendaki ombak raksasa itu.
Tapi dari atas puncak gelombang,
para kru hanya bisa terdiam kaku,
menyaksikan air bah itu menerjang maju,
dan dalam satu sapuan yang mematikan,
menghapus seluruh kota Telok Betong dari peta.
Dan yang lebih mengerikan,
tsunami raksasa itu bukan satu-satunya pencabut nyawa hari itu.
Sekitar 10% dari korban jiwa justru tewas karena aliran piroklastik,
yaitu awan gas, abu, dan bebatuan superpanas yang bergerak sangat cepat.
Yang bikin ngeri, aliran piroklastik ini melaju lebih dari 100 km per jam,
dan secara harfiah,
menuncur di atas permukaan lautan sejauh 40 km menuju Sumatero bagian selatan,
menunggangi semacam bantalan uap air yang mendidih.
Sebuah catatan sejarah dari Nyonya Bayering,
istri seorang pejabat kolonial di Ketimbang,
memberikan gambaran horror ini dari sudut pandang orang pertama.
Dia dan keluarganya terjebak tepat di pinggiran jangkauan awan panas ini.
Catatannya mendeskripsikan bagaimana dunia di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita,
diringi hujan batu apung tanjam,
dan abu panas yang menerobos masuk ke tempat persembunyian mereka.
Kisahnya sungguh memilukan.
Di tengah kegelapan dan keputus asaan mencoba bernapas dari abu yang mencekik,
dia menulis.
Ia mencoba mencabut apa yang ia pikir sebagai kotoran tebal di tubuhnya.
Tapi ternyata itu adalah kuritnya sendiri yang mengelupas parah akibat luka bakar.
Ratusan hingga ribuan orang di pesisir Sumatera Selatan mengalami nasib serupa.
Hangus seketika diterjang awan panas.
Kerugian akhir dari rentetan bencana ini sungguh menghancurkan.
Angka resmi pemerintah kolonial saat itu mencatat 36.417 korban jiwa.
Mayoritas dari mereka, lebih dari 21.000 orang berada di Banten.
Disusur lebih dari 12.000 jiwa di Lampung.
Angka ini secara suram menobatkan letusan Krakatau 1883
sebagai salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah modern kita.
Bagian 3, planet bereaksi, anomali iklim global.
Nah, kembali ke pertanyaan awal kita,
bagaimana letusan di Indonesia bisa mengacaukan langit di Eropa dan Amerika?
Jawabannya ada pada fenomena musim dingin vulkanik.
Saat meledak, Krakatau memuntahkan sekitar 20 juta ton gas belerang dioksida lurus ke stratosfer.
Angin global membawa gas ini menyelimuti seluruh bumi
yang kemudian bereaksi menjadi awan asam sulfat.
Lapisan ini bertindak persis seperti perisai cermin raksasa
yang memantulkan sinar matahari kembali keluar angkasa.
Akibatnya, bumi pun mendingin.
Sebagai imbasnya, suhu rata-rata musim panas di belahan bumi utara
anjlok sekitar 0,4 derajat Celcius.
Mungkin kedengarannya kecil ya, tapi efeknya luar biasa kacau.
Cuaca global berantakan,
Kalifornia Selatan tiba-tiba diguyur hujan dengan rekor tertinggi,
padahal tidak ada fenomena El Niño,
sementara panas di lautan menyusut drastis.
Butuh waktu lima tahun penuh,
hingga tahun 1888,
barulah suhu bumi benar-benar bisa kembali normal.
Tapi jujur, bagian yang paling menarik adalah
bagaimana sains akhirnya memecahkan misteri visual di langit tadi.
Ternyata, abu vulkanik Rakatau itu didominasi oleh partikel berukuran persis 1 mikron.
Itu sekitar 100 kali lebih tipis dari selai rambut kita.
Ukuran sekecil ini sangat sempurna untuk menyebarkan cahaya merah,
tapi membiarkan warna lain lolos begitu saja.
Jadi, ketika cahaya bulan yang putih bersinar menembus debu kosmik 1 mikron ini,
bulan akan terlihat biru terang atau kadang hijau,
sebuah misteri abad ke-19 terpecahkan.
Tapi tunggu, cerita Krakatau ternyata nggak berhenti saat keruntuhannya di abad ke-19.
Sang monster menolak untuk mati.
Pada tahun 1927,
para nawayan lokal mulai melihat kepulan uap dan letusan abu yang muncul
persis dari tengah sisa kaldera bekas ledakan 1883.
Perlahan tapi pasti, dari kedalaman laut yang gelap,
lahir sebuah gunung api baru yang kita kenal sebagai anak Krakatau.
Selama puluhan tahun, pulau kecil ini terus tumbuh dengan sangat agresif,
menyemburkan magma yang terus membangun tubuhnya.
Pertumbuhan yang terlalu cepat ini, sayangnya, membawa konsekuensi yang tragis.
Pada 22 Desember 2018,
tanpa ada peringatan gempa yang berarti,
lereng curam di sisi barat daya anak Krakatau mendadak longsor ke dalam lautan.
Keruntuhan batu raksasa ini langsung memicu tsunami mematikan
yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatera di tengah malam,
meranggut nyawa 437 orang.
Tragedi ini menjadi pengingat kelam,
bahwa sistem vulkanik ini tidak hanya sekedar aktif,
tapi masih sangat mematikan hingga detik ini.
Pengamatan terbaru menunjukkan bahwa kerucut anak Krakatau
kini kembali membangun dirinya dengan sangat cepat.
Pola pertumbuhannya bagaikan mengulang sejarah.
Fakta ini meninggalkan kita dengan satu pertanyaan yang cukup merinding.
Melihat sifat siklus dari gunung ini
dan betapa masifnya energi yang bersembunyi di bawah selat Sunda,
apakah anak Krakatau sedang bersiap untuk mengulang kembali
kiamat kecil yang diciptakan induknya di tahun 1883?
Sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan.
Terima kasih telah mengikuti penelusuran kita kali ini
dan sampai jumpa di Misteri berikutnya.