"12 Hewan Zodiak" maksud awalnya adalah untuk menyesuaikan dengan "12 Cabang Bumi".
12 Cabang Bumi adalah sistem penanggalan kuno Tiongkok yang terdiri dari 12 simbol (Zi, Chou, Yin, Mao, Chen, Si, Wu, Wei, Shen, You, Xu, Hai).
Untuk mempermudah orang mengingatnya, maka dikembangkan sistem “12 Hewan Zodiak” (12 shio). Oleh karena itu, terdapat istilah-istilah Zi (tikus), Chou (kerbau), Yin (macan), Mao (kelinci), Chen (naga), Si (ular), Wu (kuda), Wei (kambing), Shen (monyet), You (ayam), Xu (anjing), dan Hai (babi).
Sebagai contoh, tahun 2026 adalah Tahun Kuda, setiap Tahun Kuda juga merupakan Tahun "Wu", tahun 2026 adalah Tahun Kuda Bingwu.
Di Tiongkok, "Batang Langit" dan "Cabang Bumi" digunakan untuk membentuk siklus 60 tahunan yang dipakai dalam ramalan, penanggalan dan astrologi, juga untuk memberi nama hari, bulan, tahun, bahkan orang.
Batang Langit adalah sistem penomoran kuno Tiongkok yang terdiri dari 10 simbol: Jia, Yi, Bing, Ding, Wu, Ji, Geng, Xin, Ren, Gui, yang berurutan dan membentuk siklus 10 hari, yang digunakan bersama dengan Cabang Bumi (12 Shio).
Setelah mendengar cerita ini, adik-adik harus segera tidur ya.
Malam pertama tahun baru Imlek, tikus mengunjungi kerbau.
Karena tikus memang suka aktif di tengah malam.
Ketika tikus mengunjungi rumah kerbau, tentu saja langit masih sangat gelap.
Di langit hanya terlihat titik-titik cahaya bintang,
tapi di luar dugaan kerbau dia sudah bangun.
Bahkan sedang siap-siap makan pagi.
Tikus berkata,
Kenapa sekarang kau masih sedang asik makan?
Lalu kerbau menjawab,
Iya, saya sekarang makan rumput agak banyak.
Tenaga saya baru kuat untuk membajak sawah di saat sudah terang nanti.
Tikus berkata lagi,
Eh, kamu lupa ya hari ini sangat penting?
Bukankah ada lomba lintas sungai dari Kesar Langit?
Oh iya ya, untung kamu ingatkan.
Saya malah lupa hal ini.
Eh, mana si kucing?
Bukankah kita sudah saling janji mau sama-sama ikut lomba?
Karena baik tikus maupun kucing tidak bisa lewati sungai,
mereka ingin membonceng kerbau yang baik hati untuk sebrangi sungai.
Tikus lalu berkata,
Hmm barangkali masih tidur, barangkali kucing tidak mau ikut lomba.
Maka kerbau menggendong tikus di punggungnya.
Demikianlah dengan mudah mereka melintasi sungai,
kemudian berlari langsung menuju Istana Suci Kesar Langit.
Di sepanjang jalan mereka tidak melihat ada hewan lain,
karena semua masih sedang tidur pulas.
Nampaknya kerbau akan menjadi posisi pertama.
Tapi tepat ketika mereka akan menginjakan kaki di Istana Suci,
eh, si tikus tiba-tiba meloncat dengan gesitnya dari punggung kerbau.
Berebut selangkah lebih dulu sehingga tikus meraih posisi pertama.
Kerbau tidak pernah terpikir tikus akan melakukan hal seperti itu.
Dia hanya bisa melangu terkejut tidak bisa berkata apa-apa.
Tepat di saat itu terdengar suara auman.
Oh, ternyata kucing macan.
Dia sadar ternyata sudah ada yang tiba lebih dulu.
Dia sangat menyesal kenapa tadi tidak bangun lebih pagi.
Jadi macan marah sendiri dan mengaum keras.
Sementara kucing macan menyesal, terdengar ada suara lain yang berbicara.
Duh, kakiku sakit sekali.
Saya ada di posisi keberapa nih?
Hayo, coba tebak yang bicara itu suara siapa?
Eh, betul itu suara kelinci.
Ternyata di tengah perjalanan kaki kelinci tidak sengaja terkilir.
Jangan dilihat fisik kelinci yang larinya cepat itu kecil ya.
Biarpun kecil, kelinci itu pemberani.
Biarpun menahan sakit dan terpincang-pincang, tetap menuju garis finis.
Eh, muncul segumpal kabut awan dan melayang tepat di depan istana suci.
Dari dalam kabut awan terdengar suara berbicara.
Hai, kelinci kecil. Sebaiknya kau urus baik kakimu dulu.
Jangan terlalu peduli sekarang kau ada di peringkat keberapa.
Yang berbicara adalah si naga yang dapat terbang di udara.
Si tikus bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Hai naga, kau bisa terbang ya?
Tapi, mengapa kamu datang terlambat?
Hmm, sebelum ikut lombok ke sini,
saya dapat perintah turunkan hujan di laut selatan.
Di tengah jalan, saya melihat kaki kelinci luka terkilir.
Jadi, saya memperhatikannya dari belakang.
Mendengar ini, kontan saja kerbau menyatakan pujian untuk naga.
Karena sedang lomba pun, naga mau memperhatikan hewan lain.
Benar-benar mengagumkan bukan?
Ketika semua rame-rame memuji sikap naga,
tiba-tiba, hmm, mendengar suara ini,
kita pasti tahu yang datang adalah si kuda.
Aha, nampaknya si kuda akan finis di posisi ke-6.
Eh, ada ular tiba-tiba muncul dari sela-sela kaki kuda.
Ular akhirnya dia yang menjadi si nomor 6.
Ternyata, ketika kuda sedang asik berlari menuju kuil suci,
diam-diam ular menaiki dan melilitkan tubuhnya di paha kuda.
Hingga akhirnya mereka tiba di titik finis,
barulah si ular melompat keluar,
sehingga ia malah lebih cepat selangkah dibanding kuda.
Setelah kuda yang murah hati memahami situasi kondisinya,
dia menemukan kekurangan dirinya sendiri.
Walah, gara-gara saya terlalu ceroboh,
sehingga ular punya kesempatan melakukan hal tersebut.
Tak lama kemudian, hambi, monyet, juga ayam,
datanglah tiga binatang berturut-turut.
Ternyata, ketika mereka bertiga tiba di tepi sungai,
mereka semua tidak tahu bagaimana menyeberangi sungai.
Kemudian terlintas sebuah ide dalam pikiran mereka.
Eh, bukankah kita bisa bekerja sama?
Mereka bertiga lalu gotong royong merakit sebuah getek dari bambu.
Mereka duduk di atas getek,
mengemudinya dan meluncur perlahan di atas sungai.
Terkadang, ayam jantan berkokok beberapa kali memberikan semangat.
Akhirnya, mereka bertiga sukses melintasi sungai.
Hanya saja, kecepatan getek bambu meluncur sangat lamban.
Monyet sepertinya duduk terlalu lama di atas getek bambu.
Sejak itu, bokong monyet menjadi bengkak dan berwarna kemerahan.
Sejauh ini, sudah ada sepuluh binatang yang hadir di Istana Suci.
Kaisar Langit berkata, lomba kali ini hanya untuk dua belas peserta.
Jadi, selanjutnya siapa lagi yang bakalan datang ya?
Lalu, monyet tampil bicara.
Hehehe, dugaanku mungkin si anjing.
Gelinci lalu bertanya.
Apa iya? Bagaimana kau tahu selanjutnya anjing yang datang?
Kata monyet.
Hehehe, kami bertiga baru saja seberagi sungai dengan getek bambu.
Saya melihat anjing gembira sekali sedang bermain di sana.
Hehehe, saya pikir jika sudah puas bermain, dia akan tiba tak lama lagi.
Baru selesai bicara, terlihatlah anjing yang basah kuyub sedang berlari menuju Istana Suci.
Wajahnya terlihat masih ada rasa senang sehabis bermain,
seolah-olah ia masih belum puas bermain.
Saat ini, anjing sudah menempati posisi ke-11
dan posisi yang tersisa hanya untuk satu peserta yang terakhir.
Coba kalian terkah, siapakah dia?
Eh, peserta terakhir ternyata adalah babi yang suka makan dan suka tidur.
Ia menjadi binatang ke-12 yang hadir di Istana Suci.
Meskipun babi kalau merasa lapar berhenti bekerja,
lalu langsung makan, dan selesai makan, dia terus tidur lagi.
Tapi bersyukur, dia tidak pernah menyerah,
sehingga akhirnya ia berhasil juga melintasi sungai.
Meski berjalan sambil terhuyung-huyung,
ia tiba juga di Istana Suci, perlombaan sudah selesai.
Kaisar langit muncul di langit.
Kalian, pikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing,
monyet, ayam, anjing, dan babi.
Begitu katanya.
Selanjutnya kalian adalah 12 hewan zodiak.
Semua hewan yang hadir bersorak gembira dengan penuh semangat,
karena dirinya menjadi perwakilan selama setahun penuh.
Namun, ketika tikus kembali ke rumah,
ia bertemu dengan kucing yang sangat marah kepadanya.
Dengan suara keras, kucing berkata kepada tikus,
Bukankah kau sudah janji mau memanggilku,
tapi malah pergi sendiri.
Kau tidak menempati janji.
Selesai bicara, kucing menerkam tikus dengan marah.
Tikus yang merasa bersalah berbalik badan langsung melarikan diri.
Kucing tancap gas mengejarnya.
Mereka berlari sangat jauh.
Kaki kelinci kecil yang terluka sudah dibalut dengan perban,
sedang bersiap-siap untuk tidur.
Akan halnya babi?
Dia sudah duluan berbaring dan tidur di kandangnya.
Semua hewan juga sudah tertidur.
Bulan pun sudah tertidur.