Kisah diambil dari novel berseri "Kisah Lengkap Yue Fei" episode "Biksu Gila Menyapu Qin" ; merupakan salah satu cerita yang paling dikenal masyarakat umum dari seluruh rangkaian legenda Yue Fei.
🎙️ Catatan Kecil : Karakter "檜 atau 桧" untuk standard pelafalan nama "Qin Hui", di Taiwan adalah "kuài," dan "huì" di Tiongkok. Keduanya benar—silakan gunakan pelafalan sesuai kebiasaan yang anda kenal!😊
🎒 subscribe channel TAS KECIL, bantu anak-anak bertumbuh dari cerita!
Cerita kami bukan sekadar cerita, tetapi mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar, menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli. Yuk, ajak anak bertumbuh melalui cerita!
Setelah dengar cerita ini, saatnya adik-adik tidur.
Dulu sekali, di masa dinasti Song Selatan,
di kuil Lingin di Hangcu,
di halaman luar, seorang biksu memegang sapu sedang menyapu.
Sambil menyapu, mulutnya sambil komat-kamit.
Entah apa yang ia ucapkan.
Saat itu, ada beberapa biksu kebetulan lewat.
Salah satunya berkata ke arah biksu sapu dengan nada garang.
Eh biksu gila, kau sedang komat-kamit apa?
Seorang biksu lainnya menarik-narik si biksu garang.
Berkata dengan suara pelan,
kau jangan ganggu dia, jangan kau pikir dia seperti agak gila.
Waktu itu seorang kakak biksu memakinya habis-habisan.
Tiba-tiba mulutnya jadi miring.
Si biksu garang agak terkejut mendengarnya.
Jangan-jangan biksu gila ini punya ilmu gaib ya?
Lalu mereka pergi tanpa bicara apa-apa lagi.
Tak lama kemudian ada suara gaduh.
Datang iring-iringan kereta kuda beserta prajuritnya.
Terakhir sebuah tenda yang indah dan mewah.
Berdiri di depan pintu masuk kuil.
Wah siapa tamu yang datang ya?
Kok gayanya mewah sekali?
Rupanya guru agung istana Sin Hui dan istrinya Nyo Nyawang yang datang.
Justru gara-gara pasangan suami istri inilah
General Yue Fei yang berbakti sepenuhnya untuk negara
divitnah dan dijebak hingga dihukum mati di pavilion Feng Po.
Setelah berhasil mencelakakan Yue Fei hingga meninggal,
entah bagaimana ceritanya,
Sin Hui dan Nyo Nyawang hati mereka berdua sangat gelisah.
Mereka putuskan ke kuil ingin memasang dupa dan mengocok batang ramalan.
Berharap bisa menolak bala dan bernasib mujur.
Biksu gila yang sedang menyapu melihat Sin Hui datang,
dia malah menyapu ke arah Sin Hui dan Nyo Nyawang.
Hal ini membuat Sin Hui marah.
Dia berteriak lantang.
Eh berhenti, dari mana biksu liar ini?
Memangnya kau tidak tahu siapa aku.
Tapi biksu gila seakan tak mendengar teriakan Sin Hui.
Dengan kepala tertunduk,
tetap bersemangat menyapu dedaunan dan debu ke pasangan Sin Hui.
Mulutnya terus berkomat kamit.
Aku tahu kalian bersekongkol di bawah jendela timur.
Kata-katanya membuat pasangan Sin Hui bingung.
Pikirnya dalam hati?
Loh konspirasi saya dan suami membunuh UEV kan di bawah jendela rumah kami.
Bagaimana mungkin biksu ini bisa tahu?
Untungnya kepala biara sudah tiba di pintu kuil.
Dia langsung memberikan hormat anjali kepada Sin Hui.
Maafkan biksu penyapu tukang masak nasi kami guru agung.
Biasa dia memang agak gila-gila tak tahu batas.
Mohon maaf telah menyinggung perasaan guru agung.
Sambil bicara, kepala biara sambil menarik biksu gila menjauh.
Begitu mendengar itu adalah biksu gila,
Sin Hui menahan emosi marah hanya mengibas lengan baju.
Kalau begitu aku tidak menyalahkannya kali ini.
Namun sebelum biksu gila beranjak pergi,
mulutnya masih juga berkumat kamit.
Mencelakakan pejabat jujur setia dengan fitnahan?
Raja Yama sudah tahu loh.
Kata-kata ini membuat Sin Hui dan istrinya semakin gelisah.
Raja Yama adalah dewa penanggung jawab kitab hidup dan mati di neraka.
Yaitu hakim yang mengadili setelah seseorang meninggal.
Maksud si biksu gila adalah
Raja neraka sudah mengetahui pasangan Sin Hui merekayasa kasus
menjebak keluarga Yue Fei yang setia beserta keluarga.
Hati Sin Hui semakin merinding.
Mereka mempercepat langkah memasuki aula utama.
Selesai memasang dupa dan menyembah Buddha,
Nyonyawang mengambil tabung mengocok batang ramalan.
Tangannya masuk ke tabung bambu.
Mencabut lot bambu pertama tertulis lot terburuk.
Raut wajah Nyonyawang langsung muram.
Dia ambil satu batang lagi dari tabung ramalan.
Dia lihat eh lagi-lagi lot terburuk.
Nyonyawang tidak percaya.
Dia cabut satu lagi masih tetap lot terburuk.
Sin Hui melihat istrinya belum juga selesai mencabut ramalan.
Dia sambar batang ramalan dari tangan istrinya.
Ketiga-tiganya lot terburuk.
Kontan dia naik hitam merasa malu.
Berbalik dan marah besar ke anak buah.
Hancurkan patung Buddha itu.
Tangkap semua biksu-biksu ini.
Tepat di saat para anak buah siap-siap bertindak.
Tangannya bergerak hendak menghancurkan patung Buddha.
Biksu Gila keluar dari dalam sambil memegang sapu.
Terlihat jadi telunjuknya ke timur, ke barat, ke atas, ke bawah.
Secara acak menunjuk ke segala arah.
Para anak buah Sin Hui satu-satu berdiri seperti patung.
Semuanya tidak bergerak.
Seolah-olah tertekan tombol berhenti.
Sin Hui kalab seakan lupa diri.
Dia menghampiri ingin menangkap Biksu Gila.
Telunjuk Biksu Gila lagi-lagi diarahkan ke sana, ke sini secara acak.
Anak buah Sin Hui bisa bergerak lagi.
Hanya saja anak buah yang kembali bergerak ini
semuanya berbalik ingin menangkap Sin Hui.
Sin Hui kaget setengah mati.
Langsung cabut dan berlari keluar kuil.
Nyonyawang melihat semua ini mengambil sapu ingin memukul Biksu Gila.
Biksu Gila mengarahkan telunjuknya ke Nyonyawang.
Toeng, coba tebak apa yang terjadi kali ini?
Nyonyawang tiba-tiba berbalik badan,
menyambar sapu,
mengejasin Hui memukulinya.
Semua orang pergi meninggalkan kuil ingin.
Ternyata Biksu Gila mengerahkan ilmu gaib,
menghukum Sin Hui dan istri.
Melindungi kuil dan para Biksu dalam kuil
karena Biksu Gila sedang memperjuangkan keadilan
bagi General Yue Fei yang dibunuh di pavilion Feng Po.
Di kemudian hari, orang-orang memanggilnya Biksu Feng Po.
Cerita kita hari ini sudah selesai.
Di malam hari, burung kecil di pohon mendengarkan cerita Biksu Gila.
Lambat laun sudah tertidur.
Para Biksu kuil ingin pun sudah tertidur dengan nyenyak.
Bulan pun sudah tertidur.