Lamaran Kerja Seorang Pemuda
Ada seorang pemuda yang secara akademis memiliki kemampuan yang sangat baik.
Dia melamar untuk posisi manajer di sebuah perusahaan besar.
Setelah beberapa tahap, akhirnya ia diwawancarai sendiri oleh sang direktur perusahaan.
Direktur mulai mengajukan beberapa pertanyaan dan dijawab dengan memuaskan oleh si pemuda.
Akhirnya, direktur bertanya.
Direktur meminta pemuda itu menunjukkan tangannya.
Setelah melihat tangan si pemuda yang halus dan lembut, direktur kembali bertanya.
Tidak, Pak. Dia selalu ingin saya belajar dan belajar lebih banyak dan fokus pada studi saya.
Selain itu, dia bisa mencuci baju lebih cepat daripada saya.
Direktur menganggukkan kepalanya.
Ia lalu meminta si pemuda sebuah permintaan aneh.
Sekarang pulanglah dan belikan ibu anda krim tangan,
lalu gosokkan krim tangan itu di tangan ibu anda malam ini.
Besok, anda boleh datang lagi menemui saya dan saya akan memutuskan apakah anda diterima atau tidak.
Terheran-heran, si pemuda menyanggupi permintaan itu.
Ia membeli krim tangan dan pulang ke rumah,
serta menceritakan hasil wawancara kerja hari itu pada ibunya.
Mendengarkan cerita anaknya, sang ibu juga merasa aneh atas permintaan direktur.
Tapi, ia merasa bahagia melihat semangat dan senyuman di wajah putranya.
Ia lalu membiarkan putranya mengolesi tangannya dengan krim tangan.
Pemuda itu mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh direktur.
Ketika ia perlahan-lahan mengolesi dan memperhatikan tangan ibunya,
air matanya mulai menetes.
Tangan ibunya sangat kasar, penuh keriput, bekas luka,
dan memar akibat gerusan sabun cuci, air, dan pakaian yang ia cuci.
Saat itulah, pemuda itu pertama kalinya menyadari
betapa besar pengorbanan ibunya setiap hari untuk membayar biaya sekolahnya.
Kesokan harinya, ia pergi ke kantor direktur dengan mata sembab.
Direktur pun bertanya,
Coba ceritakan apa yang Anda lakukan kemarin?
Saya mengoleskan krim di tangan ibu,
lalu saya menggantikannya mencuci baju, Pak.
Hmm, boleh, saya tahu.
Bagaimana perasaan Anda sekarang?
Pemuda itu menarik nafas, lalu berkata,
Pertama, saya tahu bahwa tanpa pengorbanan ibu,
saya tidak akan berada di sini hari ini.
Kedua, saya menyadari betapa sulitnya untuk mencari nafkah.
Ketiga, kini saya sudah belajar bagaimana menghargai pentingnya keluarga.
Jadi, apa rencana Anda jika seandainya Anda diterima bekerja di sini?
Saya akan meminta ibu saya untuk pensiun.
Setelah mendengar jawaban si pemuda,
Direktur berkata,
Ini adalah yang saya inginkan dari manajer-manajer saya.
Saya ingin merekrut seseorang yang dapat menghargai pengorbanan orang lain.
Dan ini sangat penting dalam hidup.
Nilai-nilai akademis Anda juga bagus.
Jadi, baiklah Anda diterima.
Hargailah segala jerih payah, upaya,
serta pengorbanan yang telah diberikan orang-orang yang kita cintai
demi untuk mendukung kesuksesan kita.
Karena tanpa bantuan orang lain, kita tidak akan mampu mencapai sesuatu.