Pada mulanya, One Belt One Road atau Belt Road Initiative (BRI) yang merupakan salah satu proyek geopolitik strategis Xi Jinping ini, disebut-sebut sebagai “proyek abad ini,” adalah sesuatu yang akan mengubah keseimbangan peta geopolitik global. Namun, kali ini nada pongahnya sudah melandai dan malambai. Baru-baru ini, gembar gembor tentang BRI mulai layu berganti dengan gaya yang lebih rendah hati dengan diksi reformasi dan penghematan.
Nah, bagaimana kisah selanjutnya mengenai nasib Belt Road Initiative ini, mari simak ulasannya bersama dengan Wanjaya berikut ini.
Salam fakta dan makna
Merangkai fakta
Menguat peristiwa
Dan menemukan makna
Apa kabar?
Bell Root Inisiatif, BRI
Pada mulanya, One Bell One Root
atau Bell Root Inisiatif
atau BRI
yang merupakan salah satu proyek geopolitik
strategis Xi Jinping ini
disebut-sebut sebagai proyek abad ini
adalah sesuatu yang
akan mengubah keseimbangan
dan peta geopolitik global
namun kali ini
nada bunganya sudah melandai
dan melambai
kini gembar-gembor tentang BRI
mulai layu
berganti dengan gaya yang lebih rendah hati
dengan diksi reformasi
dan penghematan
nampaknya BRI telah gagal
mewujudkan tujuannya
untuk memberikan
sok terapi pada dominasi AS dan Barat
sejak awal BRI
lebih memiliki nuansa seperti mafia
Beijing
akan mendekati negara-negara
yang membutuhkan di Asia
Afrika, Amerika Latin
Timur Tengah dan pinggiran
Eropa dan menawarkan
pinjaman untuk proyek-proyek
infrastruktur penting
seperti pelabuhan, jalur
kereta api, bendungan, jalan
dan sejenisnya
Bank-bank milik negara RRT akan
mengatur pembiayaan
dan kontraktor RRT
akan melaksanakan proyek-proyek
tersebut dan ketika selesai
mereka mengelolanya
jika negara tuan rumah
gagal membayar proyek
akan disita
inilah yang sering disebut sebagai
debt trap atau jebakan utang
Beijing berhasil
menggait lebih 150 negara
untuk menandatangani
proyek mercusuar ini
termasuk Indonesia
Beijing
memperoleh pengaruh yang
sangat besar atas negara yang terlibat
dalam inisiatif ini
sejak Xi Jinping
pertama kali naik ketampu
kekuasaan pada tahun 2012
RRT telah
menghasilkan lebih dari
1 triliun pinjaman pada sekitar
150 negara
ini menjadikan RRT sebagai
kreditor terbesar di dunia
tapi apa
yang terjadi sekarang
jauh panggang daripada api
skema tersebut
mengalami masalah
ini disebabkan proyek-proyek itu
dipilih bukan karena
kelayakan ekonomi dan bisnis
tapi lebih
ke alasan politik
dan diplomatik
Sri Lanka menjadi salah satu korbannya
Pelabuhan Hambatota
yang secara hitungan bisnis
tidak layak namun
dipaksakan dilanjutkan
akhirnya menjadi
beban bagi Sri Lanka
yang kini mengalami gagal
bayar atau default
atas hutang-hutang luar negerinya
Pakistan juga menjadi
korban berikutnya yang juga default
dan harus
meminta bantuan dana
moneter internasional
Indonesia juga begitu
proyek kereta cepat
Jakarta-Bandung juga bermasalah
anggaranya
terus menerus membekak
yang semula digembar-gemborkan
tidak akan menggunakan
dana APBN
tapi akhirnya harus
menembaki juga
para ekonomi bank dunia memperkirakan
bahwa saat ini sekitar 60%
dari semua pinjaman
BRI
menyebabkan negara-negara debitor
dalam kesulitan keuangan
fenomena ini banyak terjadi
di Afrika
pada awalnya, para bankir RT
yang lebih rasional sadar
akan potensi masalah dari inisiatif ini
tapi
mereka tak bisa berbuat banyak
para pejabat menekan
para bankir untuk menghindari
referensi apapun tentang pinjaman
yang buruk atau gagal
sebaliknya, bank
didorong untuk menjaga peminjam
tetap bertahan dengan
mempanjang jatuh tempuh pinjaman
yang dalam jargon perbankan
secara sinis disebutkan
sebagai memperpanjang
dan berpura-pura
Beijing menolak untuk bekerjasama
dengan upaya barat
melalui Paris Club G20
untuk menegosiasikan kembali
pinjaman bermasalah itu
sebab, kalau Beijing menerima itu
bisa dimaknai
membuka aib sendiri
tapi, sikap Zain itu
mengantarkan pada dilema yang lain
hari ini, bank-bank
beli negara RRT menghadapi default
besar-besaran karena
rotoknya pengembang-pengembang properti
seperti Evergrande
yang pada intinya menolak
atau menerima bantuan sama
malunya
di masa lalu, ketika
ekonomi RRT tumbuh pesat, masalah
seperti ini, RRT mungkin dapat
menutupi default dengan
sumber dayanya sendiri
tetapi sekarang, akan lain ceritanya
ditambah lagi, ketika
kebijakan zero covid
terus-menerus diperlakukan
membuat ekonomi Tiongkok
semakin beku dan lesu
dan Beijing terpaksa
harus legawa melakukan
re-strukturisasi utang
seperti negosiasi
re-strukturisasi Beijing dengan CET
Utopia dan Zambia
dan RRT juga telah
bergabung dengan kelompok-kelompok
internasional seperti Paris Club
untuk mengurai
masalah finansial yang rumit ini
ya
10 tahun ini mungkin
Xi Jinping terlalu terobsesi
ingin meraih bintang di langit
sehingga melupakan
menginjakan kakinya di bumi
soal sialnya
sialnya adalah banyak pemimpin-pemimpin
negara lain yang terbuai
mimpi-mimpi si
daripada mengwujudkan mimpi sendiri
pelajaran moralnya adalah
penjajahan bukan hanya di bidang
politik, ekonomi, dan budaya
tapi kali ini
ada bentuk penjajahan baru
yaitu penjajahan mimpi
orang yang terjajah
mimpinya akan kerja
kerja dan kerja untuk mimpi orang lain
tapi melupakan
bekerja demi mimpi sendiri
ternyata
bukan hanya rumput tetangga
yang lebih hijau
tapi mimpi tetangga juga
dan terbukti
mimpi tetangga
bisa membunuhmu
tetap bersama dengan Wanjaya
di Fakta Marna
Salam