"Kim Jong-un Kirim Pasukan ke Rusia: Bagaimana Nasib Mereka di Medan Perang Ukraina?"

ET Indonesia
365 pengikut
Ketegangan geopolitik terus meningkat, pada 23 Oktober, 2024 setelah NATO dan Amerika Serikat mendapatkan bukti bahwa Korea Utara telah mengirimkan pasukan militernya untuk membantu Rusia di medan perang Ukraina. Informasi ini semakin memperkuat dugaan bahwa Rusia kini menghadapi krisis besar dalam hal sumber daya manusia militer. Pada saat yang sama, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, melakukan inspeksi terhadap pangkalan rudal strategis yang dilaporkan mampu menjangkau daratan Amerika Serikat.
#perang
#koreautara
#rusia
#ukraina
Salam Pemirsa
Ketegangan geopolitik terus meningkat.
Pada 23 Oktober 2024,
setelah NATO dan AS mendapatkan bukti bahwa Korea Utara telah mengerimkan pasukan militernya
untuk membantu Rusia di medan perang Ukraina.
Informasi ini semakin memperkuat dugaan bahwa Rusia kini menghadapi krisis besar
dalam hal sumber daya manusia militer.
Pada saat yang sama, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un
melakukan inspeksi terhadap pangkalan rudal strategisi yang dilaporkan
mampu mencangkau daratan Amerika Serikat.
Menurut laporan yang dirilis oleh agenus Frankfurt AFP,
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengonfirmasi pada 23 Oktober
bahwa tentara Korea Utara kini telah dikerahkan ke Rusia.
Ini menjadi sinyal yang jelas bahwa militer Rusia mulai kekurangan terdaga tempur
di tengah berlanjutnya konflik dengan Ukraina.
Austin menegaskan bahwa jika pasukan Korea Utara ikut terlibat dalam pertempuran di Ukraina,
mereka akan dianggap sebagai target sah oleh aliansi barat.
Dalam pernyataan terpisah, jurubicara NATO Oana Lungescu
mengonfirmasi bahwa aliansi militer tersebut telah memperoleh bukti kuat
terkait kehadiran tentara Korea Utara di wilayah Rusia.
NATO saat ini sedang berkonsultasi dengan Korea Selatan mengenai masalah ini
dan merencanakan diskusi lebih lanjut untuk merespon langkah Korea Utara
yang semakin mendukung operasi militer ilegal Rusia di Ukraina.
Di sisi lain, media Korea Utara KCNA melaporkan bahwa Kim Jong Un
melakukan inspeksi di pangkalan rudal strategis yang diklaim mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.
Dalam kunjungannya, Kim memeriksa kesiapan peluncuran rudal berbahan bakar padat MAS-18
serta rudal hipersonik jarak jauh.
Rudal-rudal ini diyakini memiliki pola terbang yang tidak terduga,
membuat mereka sulit diintersepsi oleh sistem pertahanan musuh.
Kim mengkritik ancaman yang dianggapnya datang dari Amerika Serikat
dan menekankan pentingnya modernisasi pangkalan rudal
untuk menghadapi potensi serangan dari musuh.
Kemarin pada 22 Oktober 2024, gelombang pertama tentara Korea Utara dilaporkan
telah tiba di garis depan Krus, Ukraina.
Menurut laporan dari Intelijen Ukraina,
serangan udara yang cepat menghancurkan hampir 400 tentara Korea Utara
dalam waktu singkat saat mereka bergerak menuju garis pertahanan Ukraina.
Pasukan Ukraina dikabarkan telah mempersiapkan diri dengan bantuan satelit Amerika Serikat
yang melacak pergerakan tentara Korea Utara sejak mereka tiba di Rusia.
Ukraina juga meluncurkan proyek Saya Ingin Hidup
yang bertujuan untuk membujuk tentara Korea Utara agar menyerah.
Program ini menggunakan pesan berbahasa Korea
yang berisi ajakan kepada para tentara untuk tidak mati sia-sia di tanah asing
dan menjanjikan tempat tinggal, makanan, dan perlindungan jika mereka menyerah.
Sementara itu, sumber intelijen Korea Selatan melaporkan
bahwa keluarga dari para tentara Korea Utara yang dikirim ke Rusia
kemungkinan disandra oleh rezim Kim Jong-un untuk mencegah para tentara mempelot.
Laporan ini yang tidak diumumkan secara resmi di Korea Utara
telah mulai menyebar di kalangan masyarakat.
Diperkirakan gelombang kedua yang berjumlah 1.500 tentara Korea Utara
telah dikerahkan ke medan perang Kiev
sementara 3.000 tentara lainnya berada di pangkalan pelatihan Rusia.
Pada Desember mendatang, diperkirakan sekitar 10.000 tentara Korea Utara
akan dikerahkan ke Rusia sebagai bagian dari perjanjian kerjasama militer
antara kedua negara.
Rusia disebut-sebut membayar tentara Korea Utara sekitar 2.000 dolar AS per bulan,
jumlah yang jauh lebih besar dari gaji rata-rata tentara Korea Utara
yang hanya berkisar 1 hingga 3 dolar AS per bulan.
Namun, sebagian besar dari bayaran ini
kemungkinan besar langsung disalurkan kepada rezim Kim Jong-un
dan bukan kepada tentara atau keluarganya.
Ada juga laporan yang menyebutkan
bahwa Rusia mulai mentransfer teknologi senjata nuklir taktis
dan sistem peluncuran rudal bawah air ke Korea Utara.
Direktur Intelijen Ukraina Kirilov Budanov
mengonfirmasi bahwa Korea Utara
meminta bantuan Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir
sebagai imbalan atas dukungan militernya.
Hal ini semakin memperdalam kekhawatiran global
terkait potensi eskalasi konflik nuklir.
Keterlibatan Korea Utara dalam perang Rusia di Ukraina
telah memicu reaksi keras dari negara-negara NATO.
Beberapa negara Eropa termasuk Jerman dan Lituania
telah mengecam tindakan Korea Utara
dan menyerukan tindakan lebih lanjut.
Kementerian Luar Negeri Jerman
memanggil perwakilan Korea Utara di Berlin
untuk menyampaikan bahwa dukungan Korea Utara terhadap Rusia
secara langsung mengancam keamanan Jerman dan stabilitas di Eropa.
Lituania menyerukan kepada Uni Eropa
untuk mengirim pasukan ke Ukraina
sementara Perancis mengusulkan diskusi lebih lanjut
mengenai penempatan pasukan penjagaan non-nuklir di wilayah tersebut.
Inggris yang juga ikut mengecam langkah Korea Utara
telah meningkatkan bantuan keuangan kepada Ukraina
dengan memberikan pinjaman sebesar 2,93 miliar dolar AS
yang rencananya akan dibayar menggunakan aset Rusia yang dibekukan.
Pengiriman tentara Korea Utara ke Rusia
dan dukungan militernya terhadap perang Ukraina
menandai peningkatan signifikan dalam eskalasi konflik global.
Tindakan ini tidak hanya menunjukkan kerugian besar
yang dialami pasukan Rusia di garis depan
tetapi juga meningkatkan ketegangan antara Korea Utara dan NATO.
Respon dari negara-negara Barat,
terutama terkait sanksi dan peningkatan bantuan militer ke Ukraina
dapat memicu perubahan dinamika di medan perang
dan meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut di wilayah tersebut.
Cukup sekian dulu.
Terima kasih atas perhatiannya.
