Morowali: Negara Dalam Negara — Jejak Panjang China dan Pengkhianatan di Tanah Sendiri

Suara Patriot
197 pengikut
Ada satu nilai dasar yang tak boleh dinegosiasikan: **kedaulatan bangsa.**
Karena tanpa kedaulatan, kita bukan lagi tuan di negeri sendiri—kita hanya penonton yang dipaksa menyaksikan negara dijual sedikit demi sedikit.
Dan hari ini, kita dihadapkan pada bukti paling telanjang tentang bagaimana kedaulatan itu digadaikan: **Morowali.**
Berita terkait :
https://www.youtube.com/watch?v=Ckio8-a3ofQ&t=1s
https://youtu.be/5nnKW1qtKuk
Kunjungi sosial media kami :
Instagram
https://www.instagram.com/suara_patriot/?__pwa=1
Facebook
https://www.facebook.com/suarapatriot?locale=id_ID
X
https://x.com/Suarapatriot09?t=UObWX8zNjDIbqlxyRLyqkw&s=09
#morowali #beranisuarakankebenaran
Salam Patriot, di Suara Patriot, bersama Canda Tua.
Saudaraku, sebangsa dan setanah lain.
Ada satu nilai dasar yang tak boleh dinegosiasikan.
Kedaulatan negara.
Karena tanpa kedaulatan, kita bukan lagi tuan di negeri sendiri.
Kita hanya penonton yang dipaksa menyaksikan negara dijual sedikit demi sedikit.
Dan hari ini, kita diadapkan pada bukti paling telanjang
tentang bagaimana kedaulatan itu digadaikan.
Morowali.
Sebuah kawasan yang oleh Said Didu disebut sebagai
pusat perampokan sumber daya alam yang dilegalisasi pemerintah dan dilindungi pemuasa.
Lebih berbahaya dari Freeport, lebih masif dari skandal manapun sebelumnya.
Bapak Ibu sekalian, Bandara Imit awalnya hanyalah bandara swasta biasa.
Tapi entah bagaimana berubah menjadi bandara internasional.
Tanpa biaya cukai, tanpa imigrasi, tanpa karantina, tanpa mekanisme negara.
Artinya, orang bisa masuk ke luar tanpa pemeriksaan.
Barang ilegal bisa masuk tanpa cecak.
Mekanisme negara dipotong, dikebiri, diabaikan.
Ini bukan kelalaian.
Ini desain.
Pak Said Didu, ia melihat sendiri bagaimana IMIB menikmati Freep Village super mewah.
Bebas pajak, bebas biaya masuk, bebas tenaga kerja asing,
bebas mesin impor, bebas fiskal,
punya pelabuhan sendiri, punya bandara sendiri di dalam kawasan industri.
Semuanya dibungkus dengan label hilirisasi.
Padahal, seperti kata beliau, tidak ada hilirisasi di Indonesia.
Yang ada adalah hilirisasi, hilirisasi China di Indonesia.
Marwali itu jauh lebih berbahaya dan lebih tinggi nilai perampokannya daripada Freeport.
Semua pihak yang merancang kebijakan ini adalah orang yang bermental pengkhianat.
Freeport dibenci, tapi justru IMIB yang tak tersentuh.
Kita sering melihat Freeport dikritik habis.
Tapi Freeport tetap membayar pajak, royalti, PNBP, dan tunduk pada negara.
Sementara IMIB tidak sama sekali.
Dan yang lebih gila lagi, order nikel yang masuk IMIB langsung menjadi milik China.
Ekspor dicatat sebagai ekspor Indonesia, tetapi keuntungan lari ke China.
Sedaraku, ini bukan investasi.
Ini penjajahan model baru yang membungkus dirinya dengan kata proyek strategis.
Dalam kisah ini terbongkar satu pola yang sangat mirip dengan strategi PKC di Afrika, Sri Lanka, dan Pakistan.
Bangun kawasan industri tertutup.
Masukkan ribuan tenaga kerja China.
Bahkan, tukang sapu bergaji 16-17 juta.
Impor semua kebutuhan melalui pelabuhan dan bandara sendiri.
Bebaskan pajak dan fiskal, kontrol akses pejabat daerah, bahkan bupati tak bisa masuk.
Kuasai logistik change dari order sampai ekspor.
Di titik ini yang muncul bukan sekedar perusahaan, tetapi negara lain yang beroperasi di dalam negara kita.
Dan siapa yang selalu membela mereka?
Nama itu disebut berulang kali, Luhut Binsar Panjaitan.
Disebut sebagai orang yang mengalahkan otoritas negara.
Selalu menjadi jembatan bagi kepentingan China.
Bahkan saat terjadi keributan, dia menghubungi pejabat China langsung.
Seolah imip bukan perusahaan, melainkan cabang Beijing.
Kunjungan Pak Safri Samsuddin bukan kunjungan biasa.
Ia datang sebagai ketua harian Dewan Pertahanan Nasional.
Membawa 27 ribu pasukan.
Setelah membaca ada yang tidak beres.
Ini bukan inspeksi.
Ini adalah tanda bahwa negara sedang mengambil kembali wilayah yang pernah hilang.
Dan inilah titik yang menakutkan bagi banyak pihak.
Karena apa yang terjadi di Morowali bukan satu-satunya.
Model serupa ada di Wedabai, Kalimantan Timur, dan kawasan-kawasan lain yang diam-diam sudah diserahkan.
Menurut Pak Said Dido, Prabowo tidak hanya akan melawan oligarki lokal.
Bukan hanya penguasa lama yang membangun sistem rente.
Dia akan menghadapi kelompok yang lebih berbahaya.
Dan banyak.
Geng Solo, oligarki, parcok, bintang perwira, tinggi dan jaringan elit.
Dan partai yang dibiayai kelompok dengan kepentingan.
Jika ini tidak ditangani, bukan hanya Morowali yang hilang.
Indonesia yang akan hilang.
Saudaraku, apa yang terjadi di Morowali bukan sekedar isu bandara, smelter, atau investor.
Ini tentang masa depan Indonesia, tentang anak cucu kita.
Tetapi apakah bangsa ini masih berdiri tegak sebagai negara berdaulat?
Atau hanya menjadi halaman belakang PKC?
Tidak ada bangsa yang kuat jika rakyatnya diam.
Tidak ada pemimpin yang berhasil melawan oligarki jika tidak didukung rakyatnya.
Oleh karena itu, mari kita sebarkan video ini.
Berikan komentar dan nyalakan api kesadaran.
Karena masa depan bangsa ini dipertaruhkan bukan oleh bencana alam saja,
tetapi oleh bencana pengkhianatan anak negeri sendiri.
Indonesia harus kembali ke tuannya, yaitu rakyat.
Bukan oligarki, bukan PKC, bukan kepentingan isi.
Surah Patriot untuk Indonesia Berdaulat.
