Getah Karet putih menetes demi setetes dinantikan Petani

Bali Bening
527 pengikut
37 Tayangan video·4 Mar 2026
Mobil ngangkut karet sekarang nih yang datang nih.
Sekarang karet lagi lumayan.
Harganya keren.
Persiapan timbang karet.
Ini mas ya?
Nah, gitu mas. Semangat mas.
Nih.
Langsung pulang nih?
Oh, sebelet lagi. Oke.
Ini yang sudah di atas.
Tuh, ini uang ya.
Putih-putih, baunya nggak baik.
Cuma uangnya banyak.
Kini saatnya
petani karet menimbang hasil mereka.
Berapa mas?
Berapa-berapa?
76 ya, guys. Segini 76.
Yang sebelahnya 71.
Ini satu lagi.
Ini agak gede nih.
Wih, berat nih.
Wow.
94 ya, uangnya tadi ya.
Oke, ditulis 94.
Ada dua pencatatnya.
Satu dari pihaknya
petani dan satu dari pihaknya pembeli.
Ini mereka yang naikin karet.
Wih, ternyata tadi ber-3 jatuh.
Sekarang ber-4.
Wow, keren ya.
Berhasil sekarang.
Ternyata itu berat ya.
Licin juga ya, mas ya.
Licin.
Karet penuh itu, kawan.
Sendiri nggak mampu.
Coba saksikan lagi sekarang.
Mampukah mereka mengangkatnya ke atas?
Wih, ternyata. Sudah kulino ya.
Sukses nih kali ini.
Selamat siang. Sekarang lagi mengasuh nih.
Nunggu satu mobil lagi yang akan mengangkut
sisa dari karet
disini.
Halo, bang. Siapa yang mau dibancaran
sebentar nih?
Halo, om.
Ini berapa setar, mas?
Wah, diam mas ini.
Punya berapa setar karet?
Kira-kira berapa?
Sekitar Rp.30.000.
Lumayan. Harga sekarang?
Rp.17.000.
Yang sebelahnya?
Punya karet?
Saya nggak punya karet.
Saya lagi merancang rudal.
Merudalin negara Indonesia.
Jangan ikut-ikutan, bang.
Seperti Iran. Jangan, bang.
Wih, pemuda Pancasila.
Tur ke Iran ini. Jangan main-main.
Ini maju bener nih.
Pemuda yang ujung sehari ini maju bener.
Enggak. Katanya mau membawa
MDG ke sana.
Ke sana kurang isi.
Jangan ikut-ikutan, bang.
Kalau diisi nggak jadi perang.
Aduh.
Bikin buat makan besok
aja kita udah pusing. Apalagi
mikirin rudal.
Saya tanya yang disini aja, bang.
Berapa lepas parang, bang?
Kalau dapet karet sih
lumayan lah untuk beli rokok bisa.
Oh, gitu. Rokok berapa batang nih?
Berapa?
Rokoknya lain, bang.
Petani loh kayak gitu rokoknya.
Gimana tuh? Masa orang kota kalah nih?
Walaupun kita petani,
emang baju kita itu kotor.
Tapi penghasilan kita bersih, mas.
Bersih.
Uangnya bersih.
Daripada, mas.
Maaf, mas ya.
Mas nih pakaiannya rapi.
Apa mungkin penghasilan, mas?
Kalau saya yakin.
Yang lain nggak tahu.
Ini lagi satu nih.
Kotang ini. Halo, bang.
Oh, ini kotang tuh namanya.
Baju kotang nih.
Ceweknya baju kotangnya.
Mana, bang?
Masih belum ditimbang, bang.
Belum ditimbang. Kira-kira
berapa sekarang nih?
Berapa kotnya?
Kintalia.
Wow, ini keren lagi nih.
Punya orang.
Punya kau.
Kenapa, bang?
Kita coba ngulih, bang.
Dibanding-banding, bang.
Sekarang berapaan dapat nih?
Harian baiklah, bang.
Harian berapa?
Beratus ribu nih?
Sesuai harga.
Oh, oke lah.
Anggaplah beratus ribu per orang. Lumayan juga sih.
Bisa beli kokok kayak gituan.
Berapa beli kokoknya?
Ya, itu pas diimbang aja.
Kalau nggak lagi diimbang, bisa kita ngelinting dulu.
Oke lah, bang-abangnya.
Terima kasih banyak.
