28 Mei 2026 Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya pada tanggal, 26 Mei 2026. Militer Israel mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran di Jalur Gaza dengan menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah Hamas sepanjang hampir 7 mil atau sekitar 11 kilometer. Di saat yang sama, bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali pecah di kawasan Selat Hormuz, memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik regional yang lebih luas. Israel Klaim Hancurkan Salah Satu Jaringan Terowongan Hamas Terbesar Pada 26 Mei 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menghancurkan salah satu jaringan terowongan bawah tanah Hamas terbesar di wilayah utara Jalur Gaza sejak perang kembali memanas. Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut jaringan bawah tanah tersebut memiliki panjang hampir 11 kilometer dan tersebar di sejumlah titik strategis di Gaza utara. Operasi penghancuran itu disebut melibatkan pasukan darat, unit teknik tempur, drone pengintai, hingga dukungan serangan udara presisi. IDF bahkan merilis visualisasi efek 3D yang memperlihatkan skala kompleks jaringan lorong bawah tanah tersebut. Dari gambar yang dipublikasikan, terlihat bahwa terowongan-terowongan itu saling terhubung dan membentuk sistem bawah tanah yang luas. Menurut militer Israel, jumlah lorong yang ditemukan di kawasan tersebut sangat mengejutkan. Sebagian terowongan disebut berada di dekat fasilitas sipil dan kawasan padat penduduk, sementara beberapa lainnya diduga digunakan sebagai jalur pergerakan militan Hamas, tempat penyimpanan senjata, hingga pusat komando tersembunyi. Israel menyatakan bahwa operasi ini menjadi salah satu penghancuran infrastruktur bawah tanah terbesar sejak konflik Gaza kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
On May 26, 2026, Middle East tensions escalated as Israel destroyed a massive 11km Hamas tunnel network in Gaza and struck Hezbollah targets in Lebanon. Simultaneously, a military clash erupted between the US and Iran in the Strait of Hormuz, while diplomatic negotiations over funds and nuclear programs remained deadlocked, raising fears of a broader regional conflict.
Salam Pemirsa, 28 Mei 2026
Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya pada 26 Mei 2026.
Militer Israel mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran di Jalur Gaza
dengan menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah Hamas sepanjang hampir 7 mil
atau sekitar 11 km.
Di saat yang sama, bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran
dilaporkan kembali pecah di kawasan Salat Hormuz,
memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.
Israel klaim hancurkan salah satu jaringan terowongan Hamas terbesar.
Pada 26 Mei 2026, Pesukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces, IDF,
secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menghancurkan salah satu jaringan terowongan
bawah tanah Hamas terbesar di wilayah utara Jalur Gaza sejak perang kembali memanas.
Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut jaringan bawah tanah tersebut
memiliki panjang hampir 11 km dan tersebar di sejumlah titik strategis di Gaza Utara.
Operasi penghancuran itu disebut melibatkan pasukan darat, unit teknik tempur,
drone pengintai, hingga dukungan serangan udara presisi.
IDF bahkan merilis visualisasi efek tiga dimensi
yang memperlihatkan segala kompleks jaringan lorong bawah tanah tersebut.
Dari gambar yang dipublikasikan, terlihat bahwa terowongan-terowongan itu
saling terhubung dan membentuk sistem bawah tanah yang luas.
Menurut militer Israel, jumlah lorong yang ditemukan di kawasan tersebut sangat mengejutkan.
Sebagian terowongan disebut berada di dekat fasilitas sipil dan kawasan padat penduduk,
sementara beberapa lainnya diduga digunakan sebagai jalur pergerakan militer Hamas,
tempat penyimpanan senjata, hingga pesukan komando tersembunyi.
Israel menyatakan bahwa operasi ini menjadi salah satu penghancuran infrastruktur bawah tanah terbesar
sejak konflik Gaza kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Ratusan fasilitas Hamas di atas permukaan ikut dihancurkan.
Selain menghancurkan jaringan bawah tanah,
Israel juga mengklaim telah merusak ratusan fasilitas Hamas di atas permukaan tanah.
Target-target tersebut disebut mencakup gudang logistik, pusat komunikasi,
bangunan operasional, lokasi peluncuran roket,
serta berbagai fasilitas yang menurut Israel digunakan oleh kelompok Hamas
untuk mendukung aktivitas militer mereka.
Serangan udara Israel di jalur Gaza juga dilaporkan terus berlangsung
tanpa henti sepanjang 26 Mei.
Fokus utama operasi kini diarahkan untuk memburu dan menyingkirkan
petinggi Hamas yang masih tersisa di wilayah tersebut.
Dalam beberapa pakan terakhir,
Israel memang meningkatkan operasi pembunuhan terarah terhadap tokoh-tokoh senior Hamas.
Langkah itu disebut sebagai bagian dari strategi
untuk melumpuhkan struktur komando kelompok tersebut secara menyeluruh.
Ketegangan tidak hanya terjadi di Gaza.
Pada hari yang sama, militer Israel juga merilis rekaman video serangan udara
terhadap target milik Hezbollah di Libanon Selatan.
Menurut keterangan IDF, target yang diserang merupakan sebuah bangunan
yang digunakan oleh anggota Hezbollah untuk aktivitas operasional.
Video yang dipublikasikan memperlihatkan momen ketika rudal Israel
menghantam bangunan tersebut secara langsung.
Ledakan besar terlihat menghancurkan gedung
hingga berkeping-keping dalam hitungan detik.
Israel menegaskan bahwa operasi terhadap Hezbollah
akan terus dilanjutkan selama kelompok tersebut
masih dianggap mengacam keamanan wilayah utara Israel.
Serangan lintas batas antara Israel dan Hezbollah
memang terus terjadi sejak konflik Gaza kembali meningkat.
Situasi itu membuat kawasan perbatasan Libanon-Israel
tetap berada dalam kondisi sangat tegang.
Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju
pada pergembangan terbaru di Selat Hormuz,
jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Pada 26 Mei 2026, sejumlah media Amerika termasuk The Wall Street Journal
melaporkan bahwa militer Amerika Serikat disebut
telah kembali mengaktifkan Operation Freedom atau Rencana Kebebasan.
Operasi tersebut sebelumnya dikenal sebagai misi pengawalan
kapal dagang internasional di kawasan Selat Hormuz
guna melindungi jalur pelayaran dari ancaman militer Iran.
Laporan media Amerika bahkan menyebut
beberapa kapal dagang telah berhasil keluar dari kawasan berbahaya
dengan pengawalan militer.
Namun tidak lama kemudian, kabar tersebut langsung dibantah
oleh United States Central Command atau CENTCOM.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menegaskan bahwa
informasi mengenai dimulainya kembali pengawalan kapal dagang
oleh Angkatan Laut Amerika tidak benar.
Militer AS menyatakan bahwa hingga saat ini Operation Freedom
belum diaktifkan kembali dan Washington juga belum memiliki
rencana resmi untuk melakukan pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Bentrokan baru AS-Iran dilaporkan pecah
Meski demikian, situasi di kawasan itu ternyata tetap memanas.
Menurut sumber militer Amerika, pada malam sebelum pengumuman tersebut
terjadi bentrokan baru antara pasukan Amerika Serikat dan Iran
di sekitar Selat Hormuz.
Pihak Amerika menuduh dua kapal cepat Meligarda Repulisi Iran
berusaha secara diam-diam memasang ranjau laut di jelur pelayaran strategis.
Aktivitas itu disebut berhasil terdeteksi oleh pesawat pengintai Amerika Serikat.
Setelah itu, sistem rudal darat ke udara di sekitar Pelabuhan Abas
dilaporkan mengunci jet tempur AS yang sedang melakukan patroli di kawasan tersebut.
Berdasarkan otorisasi dari CENTCOM,
militer Amerika kemudian melancarkan serangan balasan.
Amerika Serikat mengklaim berhasil menghancurkan dua kapal cepat Meligarda Repulisi Iran
serta menyerang posisi rudal yang dianggap terkait
dengan ancaman terhadap jelur pelayaran internasional.
Media Iran kemudian melaporkan bahwa beberapa anggota Meligarda Repulisi
tawas dalam insiden tersebut.
Washington menyebut operasi itu sebagai tindakan defensif
yang dilakukan di dalam zon operasi militer
demi menjaga keamanan pelayaran internasional.
Negosiasi AS Iran masuk fase sangat sensitif.
Di tengah meningkatnya ketegangan militer,
negosiasi antar Washington dan Teheran juga dilaporkan memasuki tahap paling sensitif.
Menurut berbagai laporan media Amerika,
Iran meminta pencairan dana sebesar 24 miliar dolar AS
sebagai salah satu syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Namun tim presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan menolak permintaan tersebut.
Washington menegaskan bahwa bantuan finansial baru akan diberikan
apabila Iran benar-benar menjalankan seluruh kewajiban
dalam perjanjian yang sedang dibahas.
Selain itu, Amerika Serikat juga meminta Iran
menghentikan seluruh program senjata nuklir
serta tidak melakukan pengendalian terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Perundingan kedua negara disebut berlangsung sangat alot
karena kedua pihak masih saling menekan dalam isu keamanan dan ekonomi.
Trump ngelarapat kabinet langka di Camp David
Di tengah situasi yang semakin panas,
Presiden Donald Trump dijadwalkan mengelarapat kabinet penting di Camp David pada Selasa,
27 Mei 2026.
Menurut laporan Vogue News,
seluruh anggota kabinet diperkirakan hadir dalam pertemuan tersebut.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Direktur Intelijen Nasional,
Tulsi Gebhardt,
yang dikabarkan segera mengundurkan diri.
Media Amerika juga mengungkap bahwa
sebelum operasi militer besar terhadap Iran pada Juni tahun lalu,
yang dikenal sebagai Operasen 5 Fake Hammer,
Trump juga sempat mengelarapat tertutup bersama pejabat tinggi di Camp David.
Hal itu memunculkan spekulasi bahwa pertemuan terbaru kali ini
kemungkinan berkaitan dengan situasi keamanan timur-tengah yang semakin tidak stabil.
Pemimpin tertinggi Iran disebut masih bersembunyi.
Dalam laporan lain yang juga dirilis Vogue News pada 26 Mei,
sejumlah pakar kontra-terrorisme menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran,
Mojdaba, saat ini masih menggunakan jaringan kurir rahasia
untuk menyampaikan dan menyetujui keputusan strategis terkait negosiasi dengan Amerika Serikat.
Mereka mengatakan bahwa tokoh tersebut tetap menjadi target utama operasi intelijen dan militer,
sehingga terus berpindah lokasi persembunyian demi menghindari pelacakan.
Laporan tersebut semakin memperlihatkan betapa sensitif dan rapuhnya situasi geopolitik di timur-tengah saat ini.
Dengan konflik Gaza yang terus berkobar, serangan Israel terhadap Hezbollah yang belum berhenti,
serta meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz,
dunia kini menghadapi risiko eskalasi yang semakin sulit diprediksi dalam beberapa hari ke depan.
Cukup sekian dulu, terima kasih atas perhatiannya.