Saya baru saja menyimak sebuah obrolan yang "panas". Bukan panas karena cuaca Jogja, tapi karena isinya yang membakar nalar. Tempatnya di sebuah festival yang judulnya saja sudah bikin telinga penguasa mungkin agak gatal: Festival Melawan. Ada dua tokoh di sana, Mas Uceng (Zainal Arifin Mochtar) dan Gus Muh (Muhyidin M. Dahlan). Mereka bicara tentang sesuatu yang kita semua rasakan tapi kadang sulit kita rumuskan: oligarki dan otoritarianisme baru.
Gus Muh punya metafora yang sangat mencerahkan soal siapa sebenarnya lawan kita. Beliau menyebutnya **"Tiga Setan Kekuasaan"**. Ini diambil dari konsep Trinitas Setan yang abadi sejak zaman Nabi Ibrahim. Siapa saja mereka? Pertama, **Firaun**—sang pemegang otoritas politik. Kedua, **Qarun**—sang pemilik harta atau oligarki. Ketiga, **Hamman**—sang akademisi atau intelektual yang melacurkan ilmunya untuk melegitimasi kekuasaan.
Ketiga setan ini tidak pernah jalan sendiri-sendiri. Mereka satu paket. Di mana ada Firaun yang ingin berkuasa selamanya, di situ ada Qarun yang membiayai, dan ada intelektual yang sibuk mencarikan dalil agar tindakan mereka terlihat benar. Kalau di masa lalu mereka disebut nama individu, sekarang mereka menjelma dalam bentuk sistem yang rapi dan disiplin.
Mengapa ini penting? Karena saat ini kita sedang hidup dalam "Republik Eksperimen". Reformasi 1998 yang kita bangga-banggakan dulu, perlahan-lahan sedang dibunuh. Agenda-agendanya—mulai dari otonomi daerah hingga pemberantasan KKN—seperti sedang tahlilan malam pertama menuju kematiannya. Kita melihat kembalinya sentralisme dan militer ke ranah sipil, namun semua itu dibungkus dengan bedak yang cantik: **populisme**.
Mas Uceng mengingatkan kita tentang bahaya populisme ini. Penguasa sekarang sangat jago memoles diri agar terlihat "paling rakyat". Siapa yang mengkritik, langsung dicap sebagai antek asing atau suruhan George Soros. Strateginya licin. Mereka menggunakan mistifikasi—seolah-olah apa yang mereka lakukan selalu benar karena atas nama rakyat, meski proses menuju kekuasaannya menabrak konstitusi.
Salah satu "jualan" yang paling laris sekarang adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Metaforanya begini: ini adalah upaya "mengamputasi logistik" kesadaran rakyat. Rakyat disuruh kenyang perutnya agar otaknya berhenti bertanya. Padahal, di balik itu, ada konsolidasi kekuatan "Tiga O": **Otak (politik), Otot (senjata/militer), dan Ongkos (pendanaan)**. Inilah benteng-benteng baru yang sedang dibangun untuk menjaga kekuasaan tetap aman dari gangguan masyarakat sipil.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita harus menyerah karena sistem hukum sudah dikuasai mereka?.
Ada pelajaran menarik dari sejarah Jogja tentang **Surpranoto**, sang "Raja Mogok". Dia adalah seorang bangsawan yang bersumpah tidak akan pernah mengabdi pada pemerintah penindas. Senjatanya adalah **mogok**—sebuah tindakan *non-violence* yang paling ditakuti tiga setan tadi karena bisa memacetkan ekonomi. Mogok bukan sekadar berhenti bekerja, tapi sebuah pembangkangan sipil yang urgen untuk menarik garis tegas: kita tidak searah dengan penguasa yang curang.
Namun, perlawanan kita hari ini tidak bisa hanya mengandalkan semangat sesaat. Gus Muh memberikan nasihat yang sangat mendalam: lawanlah dengan **Hukum Berjalan 20 Mil**. Apa itu? Ini adalah tentang konsistensi. Perlawanan terhadap otoritarianisme bukanlah lari *sprint* 100 meter, melainkan **lari maraton**.
Kalau kita lari *sprint*, kita akan cepat lelah, stres, dan akhirnya putus asa lalu memilih "bergabung dari dalam" (yang biasanya berakhir jadi penjilat baru). Tapi kalau kita pakai prinsip maraton, kita tahu kapan harus lari cepat (interval), kapan harus lari santai (easy run), dan kapan harus mengatur napas. Kita harus memiliki daya tahan (endurance) untuk tetap **berisik** dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Berisik itu perlu. Jangan biarkan kekuasaan merasa nyaman dalam kesunyian. Kita harus terus mempertanyakan data. Kalau negara bilang ekonomi tumbuh atau swasembada pangan, tanyakan datanya. Jangan mau ditipu oleh jargon-jargon kosong. Kita harus berani mencari perspektif alternatif dan tidak terjebak dalam dikotomi politik yang itu-itu saja.
Satu hal lagi yang penting: kita harus memperkuat **institusi**, bukan orang. Kesalahan terbesar kita selama ini adalah sering terjebak dalam mistifikasi tokoh. Seolah-olah kalau sudah ada satu pemimpin populer, masalah selesai. Padahal, dalam demokrasi, kita tidak sedang memilih malaikat. Kita hanya memilih "setan yang paling kecil tingkat kesetanannya" (*lesser evil*). Begitu dia terpilih, detik itu juga kita harus menjadi oposisi yang paling galak untuk mengawasinya.
Kekuasaan itu seperti hantu—dia menakutkan karena kita tidak pernah mempelajarinya secara ilmiah di kampus-kampus. Kita dibuat takut untuk bereksperimen dengan gagasan baru, seperti sistem parlementer atau desentralisasi yang benar-benar adil, hanya karena "invisible hand" di belakang kepa
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AI
Diskusi dari Festival Melawan bersama Zainal Arifin Mohtar (Bung Uceng) dan Muhyiddin M. Dahlan (Gus Mu) membedah kemunduran reformasi di Indonesia. Mereka menganalisis anatomi kekuasaan modern yang didominasi oligarki dan strategi konsolidasi penguasa, serta menekankan pentingnya stamina politik jangka panjang bagi masyarakat sipil untuk menjaga demokrasi.
Halo semuanya, langsung aja nih kita bedah materi yang jujur aja, super tajam dan bikin kita mikir keras.
Kali ini kita bakal membongkar sebuah kerangka pemikiran dari forum diskusi Festival Melawan.
Di sana ada dua tokoh yang ngasih pandangan menarik banget,
yaitu Zainal Arifin Mohtar atau yang biasa dipanggil Bung Uceng, dan Muhyiddin M. Dahlan alias Gusmo.
Ingat ya, di pembahasan kali ini kita nggak lagi milih kubu atau ngambil sisi politik manapun.
Kita murni mau ngupas tuntas gimana sih kedua narasumber ini mendiagnosis anatomi kekuasaan modern di Indonesia saat ini.
Mereka ngajak kita melihat mundurnya reformasi, siapa aja aktor di balik layar, mesin yang mereka pakai,
dan pastinya, strategi apa yang bisa dilakuin sama masyarakat sipil.
Nah, coba deh kalian renungkan pertanyaan belak-belakan yang dilempar di awal diskusi mereka ini.
Agenda reformasi mana yang masih tersisa?
Bung Uceng ngasih argumen kalau cita-cita reformasi 98 itu kayaknya nggak cuma jalan di tempat,
tapi malah lagi putar balik alias mundur.
Pertanyaan ini benar-benar maksa kita buat ngeliat sekeliling dan nanya ke diri sendiri.
Pengorbanan masa lalu itu masih ada sisa-sisanya nggak sih di sistem tata negara kita sekarang?
Untuk ngebedah itu semua, agenda kita hari ini kebagi lima.
Pertama, mundurnya jarum jam reformasi.
Kedua, tiga setan kekuasaan.
Ketiga, mesin operasi 3O.
Keempat, jebakan sprint jangka pendek.
Dan yang terakhir, hukum berjalan 20 mil.
Oke kita masuk ke poin pertama, mundurnya jarum jam reformasi.
Di sini, Bung Uceng nyorotin sebuah kontras yang lumayan bikin miris.
Cita-cita awal reformasi kayak otonomi daerah yang luas dan pemberantasan KKN itu sekarang seolah nabrak tembok realitas.
Menurut pandangannya, otonomi daerah pelan-pelan ditarik lagi jadi sentralisasi kekuasaan di pusat.
Belum lagi semangat anti korupsi dan nepotisme yang rasanya makin pudar.
Apalagi kalau melihat fenomena pemberian gelar pahlawan buat figur orde baru.
Menurut beliau, ini tuh sinyal terang-benerang kalau jarum jam reformasi kita emang lagi ditarik mundur.
Lanjut ke poin kedua, tiga setan kekuasaan alias aktor-aktor di belakang layar.
Nah, Gus Mu pakai analogi historis religius yang enak banget buat memetakan kekuatan struktural ini.
Dia membaginya jadi tiga entitas yang dia sebut sebagai setan kekuasaan.
Pertama, Firaun, ini simbol dari penguasa politik yang mendominasi.
Kedua, Korun, yang mewakili para oligarki berharta atau pemilik modal gede.
Dan ketiga, Haman, yang melambangkan para akademisi, intelektual, atau ulama yang tugasnya ngasih stempel legitimasi buat kekuasaan itu.
Poin penting dari Gus Mu, ketiga kekuatan ini tuh nggak pernah jalan sendiri-sendiri.
Mereka selalu beroperasi barengan buat mengendalikan sistem.
Sekali lagi, mereka nggak beroperasi dalam ruang hampa.
Ketiga aktor ini, dengan pintarnya, meleburkan kepentingan mereka ke dalam program-program negara yang budgetnya raksasa.
Dalam diskusi tersebut, Narasumber ngasih contoh kayak Inisiatif Makan Bergizi Gratis atau Koperasi Merah Putih.
Di program-program mega inilah kekuatan politik, duit dari pemodal, dan omongan intelektual bersatu-padu secara strategis.
Tujuannya ya buat makin menancapkan cengkeraman kekuasaan dan ngamanin logistik mereka.
Masuk ke bagian ketiga, mesin operasi 3O alias taktik konsolidasinya.
Bong Ucang punya teori yang menarik nih.
Beliau mendiagnosis kalau penguasa yang naik ke puncak lewat cara-cara yang mungkin masih dipertanyakan publik, pada dasarnya bakal selalu ngerasa insecure.
Mereka merasa nggak aman.
Nah, karena rasa nggak aman inilah, mereka akhirnya ngerasa harus ngebangun sebuah mesin pertahanan yang supermasif.
Buat apa? Buat melindungi diri dari kritikan publik dan mastiin kalau dominasi mereka nggak bakal ada yang bisa nendingin.
Elemen pertama dari mesin pertahanan ini adalah otot.
Ini soal gimana penguasa memanjakan aparat keamanan, baik itu kepolisian maupun militer.
Bong Ucang ngambil contoh rencana penambahan kodam di setiap provinsi, sampai pembangunan komponen cadangan atau komcat.
Menurut beliau, ini nggak lain adalah upaya buat ngamanin dominasi secara fisik dan nekan potensi perlawanan dari bawah, dari level akar rumput.
Elemen huruf O yang kedua adalah otak.
Tapi tunggu dulu, ini bukan soal kepintaran intelektual ya, melainkan kelicikan dan kelihayan dalam konsolidasi politik.
Otak di sini maksudnya adalah strategi buat ngerangkul dan nyerap hampir semua partai politik yang tadinya jadi lawan.
Dengan masukin semua pihak ke dalam gerbong koalisi, penguasa mastiin mereka nggak bakal dapat perlawanan berarti di parlamen.
Oposisinya disingkirin pelan-pelan, jadi kebijakan apapun bisa lewat mulus tanpa hambatan.
Dan O yang terakhir pastinya, ongkos.
Buat bikin otak tetap kuat dan otak tetap nurut, jelas butuh biaya yang nggak main-main besarnya.
Ongkos ini merujuk ke penguasaan struktur ekonomi dan pemakaian dana negara secara besar-besaran.
Menurut Narasumber, dana inilah yang dipakai sebagai pelumas biar seluruh mesin kekuasaan neo-autoriter ini bisa terus jalan dengan lancar tanpa macet.
Disini Narasunder mewanti-wanti kita banget, masyarakat sipil, supaya nggak gampang baper sama romantisme revolusi instan, atau yang mereka sebut sebagai sprint.
Kenapa begitu?
Karena mesin penguasa yang kita bahas tadi itu jago banget mainin jargon populisme.
Mereka bisa bikin narasi seolah-olah mereka lah yang paling ngebela lakyat, yang akhirnya bikin para sprinter ini cepet capek dan bingung sendiri.
Kerakan protes yang cuma ngandelin emosi sesaat, bakal gampang banget dipatahin sama mesin sebesar itu.
Coba perhatikan angka 4 juta ini.
Ini bukan angka sembarangan, tapi estimasi jumlah anak putus sekolah di Indonesia sekarang.
Angka ini dikeluarin dalam diskusi buat ngasih tamparan realitas ke kita.
Bung Uceng pake data ini buat ngeritik kebijakan-kebijakan yang katanya sosialis.
Beliau nanya, masuk akal nggak sih kita sibuk mebanggain program populis di permukaan, misalnya sekedar ngasih makan siang,
sementara ada 4 juta anak putus sekolah gara-gara ketimpangan sistem pendidikan yang dibiarin gitu aja.
Buat beliau, ini cuma ilusi keadilan yang ditawarin sama mesin kekuasaan tadi.
Dan kita sampai di bagian kelima, hukum berjalan 20 mil.
Sebagai solusinya, Gus Mu ngenalin konsep yang namanya hukum berjalan 20 mil.
Ini tuh filosofi pergerakan yang fokusnya ke konsistensi jangka panjang.
Jadi daripada kita meledak-ledak marah di jalan tapi habis itu capek sendiri,
mending pake strategi kemajuan harian yang terukur dan nggak kena lelah.
Menurut mereka, daya tahan atau stamina politik itu adalah satu-satunya jara yang paling masuk akal buat ngelawan kekuasaan yang udah berurat berakar ini.
Biar kita kebayang gimana wujud maraton ini di dunia nyata, Gus Mu ngambil contoh yang super inspiratif dari sejarah kita sendiri.
Beliau cerita soal Nyi Ageng Serang.
Bayangin ya, pahlawan perempuan ini ngabisin seluruh hidupnya, dari dia masih muda sampai umurnya 70 tahun, cuma buat konsisten ngelawan kolonial.
Ini jadi pengingat buat kita kalau perlawanan sipil itu bukan lomba lari jarak pendek, tapi bener-bener komitmen seumur hidup.
Dari situ, Bung Uceng ngasih langkah-langkah konkret buat kita yang mau ikut maraton ini.
Pertama, teruslah berisik. Jangan pernah biarin penguasa ngerasa nyaman karena publiknya diem aja.
Kedua, pertanyakan data. Jangan asal nelan mentah-mentah angka atau jargon dari pemerintah. Kita harus terus nuntut transparansi.
Ketiga, perkuat institusi, bukan orangnya. Jangan gampang kejebak kultus individu, tapi belalah sistem yang adil.
Beliau nyebut ini kayak lari interval. Kita harus tahu kapan waktunya lari kencang, kapan harus jalan nafas dulu, tapi yang jelas, jangan pernah berhenti bergerak.
Kalau disimpulkan, inti dari semua obrolan ini adalah, demokrasi itu nggak pernah melahirkan malaikat.
Kata Bung Uceng, demokrasi maksimal cuma ngasih kita lesser evil, alias pilihan yang keburukannya paling mendingan.
Makanya, kita nggak bisa tuh habis nyoblos pemimpin terus pulang dan tidur nyenyak. Nggak bisa.
Demokrasi yang sehat itu mutlak butuh stamina dari warganya buat terus ngawasin tanpa henti dari hari pertama pemimpin itu dilantik.
Pembahasan kita dari sumber diskusi ini ditutup dengan satu pesan yang sangat kuat dari narasumber.
Teruslah berisik dan pertahankan kebenaran.
Ini kayak semacam permohonan terakhir mereka ke kita semua untuk terus ngejaga daya tahan sivil, berani nagi akuntabilitas dari negara, meskipun medannya berat banget.
Pada akhirnya, setelah kita tahu gimana jalinan kekuasaan tiga setan dan mesin tiga obor operasi, sekarang bolanya ada di tangan kita.
Ada satu tantangan personal buat kita semua, dan pertanyaan ini bakal saya biarkan menggantung biar kita pikirin sama-sama.
Sanggup nggak sih kita ngumpulin stamina, nolak godaan hasil instan, dan mulai komitmen buat berlari maraton sejauh 20 mil ini?
Terima kasih udah ngikutin sesi bedah materi kali ini sampai habis.
Tetaplah kritis, jangan capek buat belajar, dan sampai jumpa di pembahasan seru selanjutnya.