Cerita kami bukan sekadar cerita, puisi kami juga bukan sekadar rangkaian kata Ibarat percakapan sambil saling menatap, setiap kisah kami selipkan dengn panduan yang lembut Mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar Dan menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli Siao Shu Bao hadir menanamkan benih Asah-Asih-Asuh Menjadi ruang bagi anak-anak untuk ber-imajinasi sekaligus belajar mengelola emosinya Seorang asisten yang baik membawa pengaruh halus pada karakter dan nilai moral Sehingga selain mendukung proses pendidikan anak Siao Shu Bao juga menjadi sarana interaktif yang hangat bagi orang tua dan anak, serta bagi guru dan murid
Subscribe 🎒TAS KECIL Tumbuhkan Ketrampilan Anak Melalui Cerita
Kakak melindungi adik sangatlah lumrah.
Tapi dalam cerita ini, adik malah melindungi kakaknya.
Bagaimana kejadiannya? Mari kita simak.
Hari baru saja agak terang.
Bangun sekarang juga.
Wang Siang masih terkantuk-kantuk.
Ibu terinya sudah membangunkan dia.
Terdengar dengan ada suara yang dingin.
Wang Siang, pergi sana.
Kau bersihkan kandang sapi.
Wah, Wang Siang sambil menguap sambil berjalan menuju kandang sapi.
Banyak sekali kotoran sapi dalam kandang.
Baunya menyengat, sulit dibersihkan.
Wang Siang mengambil sapu bambu untuk garuk kandang.
Sambil menundukkan kepala membersihkan kotoran sapi dengan tekun.
Tak lama kemudian, peluh membasahi wajah Wang Siang.
Selesai membersihkan kandang sapi, dia kembali ke rumah.
Ibunya berkata, kau pergi ke pohon persik, jaga buahnya baik-baik.
Wang Siang lalu berjalan menuju pohon persik dan menjaganya.
Ternyata ibu Wang Siang telah lama meninggal dunia.
Ibu sambungnya tidak memperlakukan Wang Siang dengan baik.
Ibu tiri sangat suka makan buah persik dari pohon ini.
Wang Siang duduk di bawah pohon sambil menjaga sambil belajar dengan tekun.
Tak disangka langit tiba-tiba gelap dan hujan turun dengan deras.
Pikir Wang Siang dalam hati, hujan sederas ini buah persiknya akan jatuh.
Pohon ini berbuah hanya setahun sekali.
Jangan hujan lagi dong, please.
Tahun ini bunda tidak ada persik kesayangannya karena gagal panen.
Semakin dipikir, semakin merasa kasihan pada ibu tirinya.
Bahkan ia menangis sambil menelup pohon persik.
Sungguh Wang Siang anak yang baik.
Walau ibu tiri tidak baik kepadanya, ia tetap sayang tidak ada keluhan sedikitpun.
Perlakuan ibu tiri pada Wang Siang bahkan menghukumnya dengan tongkat bambu.
Suatu kali ibu tiri kembali memukuli Wang Siang dengan tongkat bambu.
Reaksi Wang Siang sama seperti sebelumnya.
Tidak mengelak juga tidak marah.
Tiba-tiba seseorang keluar dan memeluk Wang Siang.
Plak! Tongkat bambu menghantam tubuh orang itu.
Sambil memeluk Wang Siang, sambil menangis ia berkata.
Jangan pukul lagi.
Siapakah orang ini?
Wah dia Wang Lan adik tiri Wang Siang yang baru berumur lima tahun.
Ibu tiri berseru.
Aduh, aku memukul anakku sendiri.
Merasa tidak tega, ia langsung berhenti tidak memukul lagi.
Anakku, bunda tidak sengaja nak.
Tak disangka Wang Lan kecil-kecil begitu baik tahu cara melindungi kakaknya.
Beranjak dewasa, Wang Lan bertanya kepada ibunya.
Kakak orang yang sangat baik bu, mengapa ibu sering menghukumnya?
Ibunya terhenyak dan terus terang mengakui tidak menyukai kakaknya.
Tapi jangan khawatir nak, bukankah aku selalu baik kepadamu.
Tapi aku berharap ibu juga bersikap baik kepada kakak.
Wang Lan kecil menarik-narik lengan baju ibunya, menatap penuh harap.
Karena berulang kali Wang Lan memohon, hukuman ibu tiri kepada Wang Siang memang jadi berkurang.
Selang beberapa tahun, saat itu musim dingin, ibu tiri berkata kepada Wang Siang.
Nak, saya ingin sekali makan ikan karper.
Wah musim dingin di utara, air pun dinginnya sudah membeku jadi es.
Kalau cuaca begini, di mana bisa menemukan ikan karper?
Namun Wang Siang tetap keluar rumah menuju sungai.
Ia melihat permukaan sungai sudah membeku menjadi es.
Wang Siang melihat sekeliling tidak terpikir cara apapun.
Lalu dia melepas pakaian dan berbaring di atas es.
Wah sebentar saja Wang Siang kedinginan, iginya berbunyi gemeretak.
Dengan cepat dingin menyerang tubuh,
bagaikan jarum yang runcing menusuk ke tulang Wang Siang satu per satu.
Tubuh Wang Siang gemetar, wajahnya mulai pucat.
Wang Siang ingin melumerkan lapisan es dengan suhu tubuhnya.
Tetapi bagaimana mungkin es di permukaan sungai cair dari suhu tubuh seseorang?
Namun sesaat terdengar suara krak, permukaan es pecah.
Dua ekor ikan karper meloncat ke atas sendiri.
Ibu Tiri akhirnya bisa makan ikan.
Para tetangga yang mendengar kejadian ini,
mengatakan muzizat ini terjadi karena bakti Wang Siang telah menggetarkan langit dan bumi.
Seluruh penduduk desa semua memuji kepribadian Wang Siang.
Sebaliknya, Ibu Tiri malah semakin tidak senang.
Dia bahkan terpikir ingin mencelakakan Wang Siang dengan menyiapkan sepoci arak beracun.
Ini ada sepoci arak bagus Wang Siang.
Wang Siang saat itu 30 tahun usianya dan Wang Lan 18 tahun.
Kamu coba cicipi bagaimana rasanya.
Baru saja Wang Siang menuangkan arak dan hendak ditenggak,
sebuah tangan tiba-tiba menjulur ingin mengambil gelas arak tersebut.
Kak biar aku saja yang minum arak ini.
Adalah Wang Lan yang berbicara.
Dia sudah mengetahui rencana ibunya.
Wang Siang merasa aneh.
Tidak pernah adikku berlaku seperti ini.
Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran.
Mungkin kah arak ini beracun?
Terpikir ke sana, Wang Siang tidak mau melepas gelas yang dipegang.
Nelau hati ia berpikir, tidak boleh adikku minum arak beracun ini demi aku.
Jadi yang satu ingin ambil, yang lainnya tidak melepaskan.
Abang dan adik saling berebut gelas arak beracun.
Melihat ini ibu tiri mengambil kembali gelas dan poci yang berisi arak.
Sudah semua jangan minum.
Wang Siang baru luput dari bencana arak beracun.
Setelahnya setiap ibu tiri memberi Wang Siang makanan,
Wang Lan mencicipinya terlebih dahulu.
Selang beberapa waktu, ibu tiri baru mengurungkan niat mencelakakan Wang Siang.
Meski demikian, Wang Siang tetap tidak dendam sebersih pun pada ibu tiri.
Kepribadian kakak beradik ini sangat dihormati oleh semua orang.
Kelap, mereka diangkat menjadi orang kepercayaan raja.
Wang Siang yang bekerja seharian sudah tidur dengan nyinyak.
Wang Lan pun berjaga di sisi kakak dan sudah tidur sambil tersenyum.
Bulan pun sudah tertidur.