Kali ini ada kisah tentang teleportasi Kaisar Tang Xuan Zong. Kisah berasal dari “Catatan Luas Era Taiping” yang diadaptasi, disusun dan ditata kembali. Ye Fa Shan, salah seorang pendeta Tao di zaman Kekaisaran Tang Xuan Zong, mengajak sang Kaisar berjalan-jalan di tempat yang terpisah 1000 Li jauhnya. Cukup hanya dengan memejamkan mata! Kaisar tidak yakin, apakah Ye Fa Shan benar-benar bisa dan bukan tipuan?!
🎒 subscribe TAS KECIL - SIAO SHU BAO INDONESIAN. Tumbuhkan Ketrampilan Anak Melalui Cerita.
Cerita kami bukan sekadar cerita, tetapi mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar, menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli. Yuk, ajak anak bertumbuh melalui cerita!
Dari Chang'an ke Siliang berjarak lebih dari seribu li.
Dengan kapal terbang pun butuh waktu lama.
Di zaman kuno bagaimana mungkin begitu cepat sampai?
Buka tas kecil.
Hari ini ada cerita ajaib, syuuh, teleportasi.
Sinar mentari pagi menyinari Balai Siengceng.
Berkilauan memantul di atap gedung.
Para pejabat tertib berjalan ke gerbang aula,
masuk satu persatu ke ruang utama.
Liontin giyok yang tergantung di jubah mereka bersuara nyaring jernih.
Ruang istana dipenuhi wangi asap dupa.
Kaisar Tang Xianchong duduk di tahta.
Ia belum genap 30 tahun tapi sungguh tampak perwibawa.
Hari ini ada yang istimewa.
Utusan kekaisaran Tibet yang jauh mempersembahkan
benda berharga pada kaisar agung.
Kaisar Xianchong berkata,
Oh, baunya unik.
Kaisar Xianchong mengamati dengan seksama.
Kotak itu bertah-tahkan ornamen indah, sangat misterius.
Kotak ini berisi pusaka apa ya?
Kaisar Xianchong agak penasaran.
Ia menyuruh si utusan membukanya.
Si utusan berkata,
Raja kami sudah berpesan,
ini adalah kotak pusaka buatan pengraji nomor satu Tibet.
Di dalamnya terpasang sesuatu yang unik.
Harap Baginda membukanya sendiri untuk membuktikan keunikannya.
Kaisar Xiencong mengulurkan tangan bersiap membuka kotak itu.
Baginda tunggu, saya punya firasat buruk.
Biarkan utusan sendiri yang membukanya.
Yang berbicara bertubuh tinggi jangkung, berkulit putih bersih.
Di dahinya terdapat dua garis kerutan yang unik.
Ia bukanlah orang biasa.
Namanya Ye Fashan, seorang pendeta Tao yang amat ternama.
Kaisar Xuanzong berpikir,
Guru Ye sudah keluar masuk istana sejak zaman kakek saya.
Ilmu taunya luar biasa, sebaiknya aku ikuti sarannya.
Kaisar pun tidak jadi membuka kotak dan
menyuruh utusan membuka sendiri kotaknya.
Mendengar ini,
wajah utusan jadi pucat dengan gemetar ia membuka kotak itu.
Tiba-tiba, wush, sebatang anak panah melesat keluar dari kotak.
Apa yang terjadi? Tahu-tahu si Utusan sudah jatuh terkapar.
Para pejabat istana kaget luar biasa.
Cepat, lindungi Kaisar.
Kaisar Xianchong lolos dari pembunuhan.
Ia semakin percaya pada Ye Fasan.
Kaisar membangunkan kuil Tao dan menganugrahinya gelar Adipati Ye.
Setelah itu, Kaisar Xianchong mengubah
nama era Xianxian menjadi Kaiyuan.
Mendengar ini Yevashan tersenyum tipis.
Era kejayaan negara segera tiba.
Tidak ada yang tahu apa maksud perkataannya saat itu.
Pada perayaan Chongqiu pertama di era Kaiyuan,
Kaisar sedang menuju ke Istana Sangyang.
Di sepanjang pintu masuk istana,
Kaisar melihat obor besar menyala di kanan-kirinya
hingga istana terang bagaikan siang hari.
Kasim Kaulishe mengikuti di belakang Kaisar sambil melapor.
Baginda, tahun ini Kepala Pengrajin Kekaisaran
Membangun 20 menara lentera baru yang
masing-masing tingginya lebih dari 10 lantai.
Mendengar ini, Kaisar pun mempercepat langkahnya.
Ia pun bisa mendengar suara gemerincing lonceng angin yang merdu.
Ternyata di dalam menara yang baru dibangun,
Bergantungan hiasan emas, perak, mutiara, dan giyok.
Saat angin senja bertiup,
kemerincing perhiasan ini menghasilkan musik yang sangat indah.
Para pangeran pun sudah berdiri hormat menyambut Kaisar Siencong.
Setelah Kaisar duduk, orkestra langsung memainkan musik.
Ayah, lihatlah lampu-lampu di pohon ini.
Ini mirip sekali dengan naga yang bercangkrama dengan burung api.
Wah benar, naga terbang dan burung api menari seperti hidup.
Pangeran Bungsu menarik-narik Kaisar, berkata,
Ayah, lihat di sana, macan tutulnya seperti hidup.
Saat melompat, taring dan cakarnya menakutkan.
Kaisar menggendong Pangeran Bungsu, menikmati malam yang memukau.
Ia berkata dengan gembira,
Pengawal, panggil Guru Ye ke Istana Sangyang,
bersama-sama menikmati Pesta Lampion.
Tak lama, Yevashan hadir lalu berkata,
Sungguh indah pemandangan ini.
Bahkan lampion di Siliang pun kalah indahnya.
Siliang, tempat itu berjarak hampir seribu li dari sini.
Bagaimana Yevashan bisa melihat pesta lampion di Siliang?
Kaisar Xianchong bertanya,
Guru Ye malam ini sudah ke Siliang?
Yevfashan menjawab,
Hamba baru saja dari sana sebelum dipanggil menghadap Baginda.
Hah, perjalanan siang dan malam tanpa henti pun
butuh sebulan untuk bolak-balik dari Siliang.
Kaisar semakin penasaran, berkata,
Jika saya sekarang juga mau ke Siliang, apa bisa?
Yevfashan mengangguk, berkata,
Ini hal mudah.
Mendengar ini, Kaisar sangat gembira.
Sebelum berangkat, Yevfashan berpesan,
Mohon dipastikan Baginda pejamkan mata.
Jika melihat yang tidak seharusnya dilihat, Baginda bisa kaget.
Maka Kaisar Xianchong memejamkan matanya rapat-rapat.
Mengikuti guru Ye melompat dengan ringan.
Seketika keduanya melompat tinggi ke udara, menghilang ke dalam awan.
Dalam waktu singkat, Kaisar Xianchong merasakan kakinya sudah mendarat.
Benar saja, terdengar Yevfashan berkata.
Kita sudah di Siliang, tapi tidak boleh membuka mata.
Kaisar Xiancong membuka matanya.
Wah, pemandangan di depan mata sangat berbeda.
Ini benar di Siliang?
Kota Siliang diterangi cahaya lampion.
Bermacam-macam jenis lampion berderet sepanjang lima kilometer lebih.
Penontonnya sangat ramai.
Suasana amat meriah.
Kaisar Xiancong berkata,
Benar-benar tidak kalah dibanding istana Sang Yang.
Apalagi jika kita minum anggur berkualitas.
Maka Kaisar Xianchong menarik tangan Yevfashan,
membeli anggur di kedai anggur terdekat.
Namun saat ingin membayar, mereka baru sadar tidak membawa uang.
Akhirnya Kaisar mengeluarkan ruyi yang
dibawanya bertanya kepada pelayan.
Apa ini cukup untuk jaminan uang anggur?
Pelayan mana pernah melihat Ruyi yang begitu indah,
melihat dengan terpanah.
Kaisar pun tertawa.
Setelah anggur habis, Yevfashan mengingatkan,
Baginda, hari sudah larut, kita harus pulang.
Maka Kaisar Xianchong mengikuti Yevfashan, melompat lagi ke angkasa malam.
Ketika ia membuka mata, mereka sudah berada di istana Sangyang.
Hebatnya, musik yang sedang dimainkan sebelum mereka ke Siliang,
masih musik yang sama saat mereka kembali.
Kaisar melontarkan pujian setinggi langit.
Ilmu Tao Guru Ye sungguh tinggi dan mendalam.
Bolak-balik sejauh ribuan li,
makan waktu bahkan tidak sampai durasi satu lagu.
Setelah festival,
Kaisar Xianchong mengutus orang menebus kembali ruyi miliknya.
Ruyi ini benar-benar ada di kedai anggur Siliang?
Coba tebak berapa lama Kaisar Xianchong
baru bisa mendapatkan Ruyinya kembali?
Ada cerita menarik apa lagi ya antara Kaisar Xianchong dan
para pendeta Tao di sampingnya?
Kita lanjut cerita di episode berikutnya.