EksklusifKakek Pandir Bisakah Pindahkan Gunung?【🌙Bulan Sudah Tertidur】 #小書包 #GanjingCampus #taskecil

TAS KECIL Siao Shu Bao Indonesia
203 pengikut
395 Tayangan video·13 Feb 2026
Video Mandarin:
https://ganjing.b3355.xyz/s/q68zXQMKXA
Cerita kami bukan sekadar cerita, puisi kami juga bukan sekadar rangkaian kata
Ibarat percakapan sambil saling menatap, setiap kisah kami selipkan dengn panduan yang lembut
Mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar
Dan menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli
Siao Shu Bao hadir menanamkan benih Asah-Asih-Asuh
Menjadi ruang bagi anak-anak untuk ber-imajinasi sekaligus belajar mengelola emosinya.
Seorang asisten yang baik membawa pengaruh halus pada karakter dan nilai moral
Sehingga selain mendukung proses pendidikan anak,
Siao Shu Bao juga menjadi sarana interaktif yang hangat bagi orang tua dan anak, serta bagi guru dan murid.
Adik-adik, kita janjian ya.
Selesai cerita ini, adik-adik.
Bobo ya.
Pada zaman dahulu kala,
hidup seorang yang sudah hampir 90 tahun.
Namanya kakek Pandir.
Kakek tinggal bahagia di sebuah desa yang subur dan udara bagus.
Sayangnya, tepat di depan desa mereka.
Ada dua buah gunung yang besar.
Gunung sangat tinggi, amat berbahaya jika menyebranginya.
Padahal cukup beberapa hari sudah bisa mencapai ke sisi lain gunung.
Tapi warga desa harus bulanan baru sampai karena jalannya nyetar jauh, terlalu melelahkan.
Suatu hari, sehabis makan malam kakek Pandir mengumpulkan para anak cucu.
Dia berkata,
jika membangun jalan yang menembus gunung besar depan desa,
agar warga desa tidak perlu bersusah payah untuk mencapai sisi lain gunung.
Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini?
Keluarga besar kakek setuju itu ide yang bagus.
Namun, nenek punya pendapat lain.
Patuhlah, hanya kita beberapa orang saja.
Satu bukit kecil pun kita sulit buatkan jalan.
Apalagi yang di depan desa, adalah dua gunung besar.
Sambil menggelengkan kepala nenek melanjutkan.
Lagipula, tak ada tempat menampung tanah dan bebatuan hasil kalian.
Hmm, nenek benar.
Jika tak ada tempat menampung tanah dan batu hasil kalian,
jalan bagi penduduk desa tetap akan terhalang.
Jadi, bagaimana baiknya kita ini?
Timbul suara ramai membahas.
Ada yang berkata,
Oh, ke tepi laut saja.
Laut sangat luas, semua bisa tertampung.
Hah, letak desa amat jauh dari laut.
Namun, semua sepakat hanya ini solusi yang terbaik.
Maka diputuskan, dijalankan saja.
Keesokan paginya, kakek pandir memimpin di depan rombongan
berangkat dengan membawa peralatan dan bekal.
Sampai di gunung, semua menyisingkan lengan baju,
mengambil sekop, mencabut rumput,
mendebang pohon, membelah batu, menggali tanah.
Hati-hati!
Ai, perhatikan jalanmu!
Batu dan tanah kalian dimasukkan ke dalam keranjang,
lalu diangkat turun dari gunung.
Ngomong-ngomong, saya ingin bertanya sesuatu.
Tahukah kalian jika setiap gunung dijaga oleh Dewa Gunung?
Dewa Gunung melihat apa yang sedang mereka lakukan dan berpikir.
Apa yang sedang dilakukan rombongan kakek pandir?
Mereka ingin memindahkan gunung,
mempermudah warga desa.
Dewa Gunung menganggap ini terlalu sulit, mustahil.
Dia hanya tersenyum, lalu mengabaikannya.
Ketika tanah batu galian diangkut turun gunung oleh orang-orang kakek,
seorang boca bertanya keheranan.
Apa yang akan kalian lakukan dengan tanah yang digali dari gunung?
Mau membuka jalan, menebus gunung,
jadi warga desa tak perlu memutar jauh.
Mendengar itu, si boca lari tanpa berkata sepatah kata put.
Ibu, ibu, saya ingin bergabung dengan kakek pandir pindahkan gunung membuka jalan, bu.
Ternyata si boca lari pulang ke rumah minta izin ibunya.
Mengetahui niat anaknya, ibu bicara sambil berjongkok.
Kau tahu, ini adalah hal yang sangat sulit, bukan?
boca mengangguk berkata.
Tahu, bu.
Ibu setuju, ini hal bagus bagi seluruh desa.
Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Dia memeluk si boca menatap putranya penuh kasih dan berkata.
Hati-hati kau, nak.
Saat bekerja perhatikan keselamatanmu, nak.
Iya, bu.
Karena ibu sudah merestui, si boca berlompatan gembira bergabung ke kelompok kakek.
Dan dia benar-benar bekerja sangat serius.
Mereka satu jalan, dua jalan.
Satu hari, dua hari.
Kerja keras, tidak hentinya menggali tanah.
Mengangkut tanah, terkadang bertemu angin kencang.
Terkadang teriknya matahari.
Terkadang dikuyur hujan deras.
Aduh.
Hati-hati, lihat jalan.
Hati-hati.
Walah, hujannya deras sekali.
Sementara ibu si boca di rumah sendirian.
Karena ayah si boca sudah tiada.
Sekalipun hanya ibu dan anak berdua saja hidup saling mengandalkan.
Namun ibu tetap mendukung putranya melakukan perbuatan baik.
Hari ini, seseorang datang dan menasehati kakek pandir.
Kau sudah sangat tua.
Meskipun sudah sekuat tenaga.
Kau bahkan takkan mampu mengubah sekecil apapun dari hutan ini.
Apalagi ada begitu banyak tanah dan bebatuan.
Hal ini mustahil berhasil.
Kau jangan buang-buang waktu mengerjakannya.
Yang berbicara adalah orang yang diakui terpandai.
Namanya kakek cerdas.
Mendengar perkataan kakek cerdas, kakek pandir mendesah halus.
Kau sudah terbiasa berpikir tentang masalah dengan cara begini.
Tidak lagi memahami orang-orang seperti tetanggaku.
Kebaikan yang sederhana.
Terbaik untuk orang lain dari ibu dan anak yatim.
Kakek menjelaskan.
Jika itu hal baik maka lakukanlah.
Tak harus berhasil selesai di tangan saya.
Andai tidak selesai di tanganku.
Masih ada putraku dapat melanjutkan.
Putraku masih ada putranya lagi.
Sedangkan gunung ini takkan bertambah tinggi, bukan?
Kita kerjakan turun-temurun.
Pada akhirnya hal ini pasti bisa berhasil.
Kakek cerdas terdiam tidak berkata apa-apa dan pergi.
Dewa gunung mengetahui hal ini.
Pikirnya.
Apakah kakek pandir benar-benar akan menggalit terus?
Haruskah saya coba menghentikannya?
Tapi dewa gunung merasa mereka ini kelompok orang yang sangat istimewa.
Maka dia memutuskan untuk melapor kepada Kaisar Langit.
Kaisar Langit adalah dewa tertinggi yang mengurus para dewa di alam ini.
Kaisar Langit sangat terharu setelah mengetahui kisah kakek pandir berkata.
Kakek pandir demi orang lain rela menderita turun-temurun.
Kebaikan, ketulusan hati dan semangat yang gigih ini patut didukung.
Kaisar Langit menitahkan dua dewa gagah perkasa ditahnya.
Kalian pergi dan pindahkan kedua gunung tersebut.
Dalam sekejap dua dewa telah memindahkan dua gunung besar depan desa.
Niatan kakek pandir menggeser gunung sudah terkapur.
Selesai sudah cerita tentang kakek pandir menggeser gunung.
Dua gunung besar telah ditindakan.
Si bocah kecil juga sudah pulang ke rumah menemani ibu dan sudah tertidur.
Bulan pun sudah tertidur.
